"Du du du du"
Lagi - lagi aku menyanyi tak jelas lagu apa. Masa bodoh, yang penting aku tak terlalu kedinginan selama bersentuhan dengan air.
Selesai merapikan peralatan masak, aku mengambil apel dari keranjang buah. Bekal pemberian dari ibu.
"Kruk"
"Krees krees"
Kumakan apel itu sambil berlalu. Sambil bermain ponsel, aku berjalan ke ruang depan. Semua barangku ada di sana.
"Pet"
Lampu tiba - tiba mati.
"Duk"
"AAAAAAAA"
"BRUUK"
"Aduuuh"
Karena Gelap, aku tidak bisa memperhatikan apa yang ada di bawahku. Dan aku terjatuh, karena tersandung sesuatu. Tapi apa ?
"Byar"
Tiba - tiba lampu menyala.
"Aduuuh, apa sih ini?" Gerutuku.
Kepalaku pusing terbentur lantai. Walau tidak keras, tapi tetap benjol.
"WAAAAA.... MAYAAAAAAATTT"
Tunggang langgang aku berusaha lari, setelah melihat apa yang menghalangi langkahku tadi.
"BRAAAKK... BRUUKKK"
Aku melompat ke depan, di balik tembok depan. Menyembunyikan sosokku dari sesuatu yang menakutkan tadi.
"Hffffttt, hhfffttt"
Matanya, bisa keluar begitu? Mukanya, kenapa ancur begitu? Kulit kepalanya, kenapa ngelupas begitu?
"Allohu la illaha ila huwal - khayyul - qoyyum..."
Dengan rasa takut yang teramat sangat, aku berdoa sebisaku. Berharap perlindungan dari Gusti Alloh.
"Wahuwal - 'aliyyul - 'adzim"
aku mencoba memberanikan diri untuk mengintip ke arah dapur.
"Hhhfffffttt, hhhhffffttt, hhhffffftttt"
"Loh, ilang?"
"Hhhffffttttt, hhhfffttt, hhhhffttt"
"Loh, kok?"
"Hhhffffftttt, hhhhfffftttt"
"LIR IL...."
"AAAAAAWWWW"
Aku terkejut bukan kepalang. Ternyata suara ponselku.
"Hhhhfffttt, hhhhfffftttt"
"Ibu?" Gumamku.
"Halo bu" sapaku.
"Halo, lis"
"Bu, ibu kesini pliiiss"
"Kamu kenapa mbak? Kamu ngerasain apa? Bukan sesak kan?" Tanya ibu terdengar panik.
"Enggak bu, bukan. Bukan soal itu"
"Hhhhfffftttt, hhhhfffftttt"
"Tapi napas kamu kok ngos - ngosan gitu?"
"Mayat, " jawabku
"Apa?"
"Mayat, bu. Lilis kesandung mayat. Ada mayat di deket dapur, bu. Cepet kesini, bu. Lilis takut" Jawabku berakhir menangis.
"Mbak, lilis, lilis. Tenang dulu, nduk. Ambil napas panjang!" Pinta ibu.
"Hhhhfffftttt, hhhhhfffft, hhhfffttt"
"Ambil napas panjang, mbak" ulang ibu.
"Hhhhuuuuufffffttttt" kucoba mengikuti perintah ibu.
"Buang perlahan dari hidung, nduk" pintanya lagi.
"Ffuuuuhhhh"
Perlahan, rasa takut dalam dadaku mereda. Aku jadi bisa sedikit tenang, sekarang.
"Kamu tenang dulu ya, mbak. Ibu ambil mantel dulu. Bentar lagi ibu sampe. Kamu yang tenang ya"
"Buruan bu, lilis masih takut"
"Iya sayang, ini ibu jalan ke situ. Senter mana senter? Itu"
"Tuuut"
Sambungan telepon dimatikan dari seberang sana.
"Peett"
Lampu mati lagi
"IBUUUUUUU"
Aku berteriak sekencangnya. Toh, tak ada orang lain di sini. Aku menangis sejadi - jadinya.
"DUAAAAARRR"
Suara petir menggelegar, bagaikan menyambar atap di atas kepalaku.
"IBUUUUUU"
Aku tak berani lagi untuk membuka mataku. Bayangan mayat tadi kembali menguasai hatiku. Sama sekali aku tidak berani beranjak. Apalagi dalam kegelapan yang pekat ini. Sekalipun aku ingat, aku bisa menggunakan flash ponselku, tapi rasa takut ini mengalahkan logikaku.
"LILIS"
Sebah suara memanggil namaku.
"Ahh"
Aku langsung mengangkat kepalaku. Seberkas sinar bergerak - gerak di luar rumah.
"IBUUU" teriakku.
Akhirnya, setelah entah berapa belas menit berlalu.
"LILIIS" panggilnya lagi.
"IBUU"
Aku menekan tombol di ponselku, dan aku kibas - kibaskan ponselku di udara.
"LILIS"
Syukurlah, ibu melihat sinar dari layar ponselku.
"Ceklek"
Ibu hendak membuka pintu
"Oglek oglek oglek"
Tapi usaha itu terhalang sesuatu. Aku baru ingat, kalau aku mengunci pintu itu.
"Lis" panggil ibu.
"Ibu" panggilku juga.
"Buka pintunya, nduk" pinta ibu.
"Tapi bu"
"Udah, jangan takut. Ada ibu di sini. Nggak papa sayang. Hayu" hibur ibu.
Perlahan aku bangkit, lalu berlari secepat yang aku bisa, menuju pintu depan.
"Braaakkk"
Sampai kutabrak pintu itu saking takutnya.
"Embak, kamu nggak papa?"
"Ceklek, ceklek"
"Greeekk"
"Ibuuuu"
"Embak"
Serta - merta aku peluk tubuh ibu. Tangisku membuncah saking takutnya diriku.
"Sudah, tenang mbak. Ada ibu di sini. Jangan takut ya" hibur ibu.
Ya Alloh, demi aku, ibu rela menerjang derasnya hujan. Tubuhnya sampai basah sekalipun sudah memakai mantel hujan. Inikah naluri seorang ibu?
"Mbak, kita masuk yuk. Terus terang, ibu merasa dingin" kata ibu.
"Astaghfirulloh, maaf bu, maaf" jawabku.
Aku langsung menjauh dari tubuh ibu, dan menggandeng beliau masuk.
"Ibu ganti baju ya bu. Pakai punya lilis, ya? Kayaknya kita seukuran" tawarku.
"Boleh" jawab ibu.
Senyum itu, menyejukkan hatiku. Rasa takutku sudah banyak memudar. Tertutupi oleh perasaan aman, dengan hadirnya ibuku.
"Astaga" celetukku.
"Kenapa, mbak?" Tanya ibu.
"Kan, lilis dalam masa karantina, bu. Harusnya lilis nggak boleh deket - deket ibu. Tapi tadi, "
"Nggak papa. Ibu mau kok kalo harus dikarantina juga. Lha wong sama anak ibu sendiri ini, nggak masalah"
"Tapi bu"
"Udah tenang, ibu sehat kok"
"Syukurlah. Ini bu"
Kuserahkan seperangkat pakaian pada ibu. Pastinya pakaian ibu basah luar dalam.
"Boleh ngadep sono dulu?" Pinta ibu.
"Ups, maaf" jawabku
Aku bisa tertawa kecil sekarang. Apakah ini yang dinamakan ikatan batin, antara ibu dengan anak?
"Dah"
Suara itu menjadi tanda berakhirnya proses ibu berganti pakaian. Saat aku membalikkan badan, ibu sedang ke depan. Beliau meletakkan pakaiannya di kursi teras, dibalut dengan jas hujannya. Beberapa saat kemudian, beliau kembali dan ikut duduk denganku di sofa panjang.
"Kamu kenapa, mbak?" Tanya ibu.
Beliau duduk di dekatku sambil membenahi posisi maskernya. Pertanyaan itu mengingatkanku kembali pada sesuatu yang mengerikan itu.
"Mbak?"
Ibu bingung melihatku ditanya malah berdiri. Hatiku kembali diselimuti perasaan was - was. Perhatianku tertuju pada lorong antara ruang depan dengan dapur. Kurasakan ibu ikut berdiri dan mengikuti langkahku.
"Mbak" tegur ibu lagi.
Lagi - lagi aku tidak merespon. Kunyalakan lampu flash ponselku. Kuarahkan ke arah dapur.
"Itu bu" celetukku.
"Apa?" Tanya ibu.
Nada suara ibu terdengar ikut tegang. Beliau berjongkok di sebelahku. Mengarahkan senternya ke lantai yang kutunjuk.
"Darah?" Tanya ibu
"Tu kan bu. Tadi, tadi, tadi ada mayat di sini bu" kataku.
Tak kuasa aku menahan air mataku. Rasa takut ini mendera lagi bagai air bah.
"Bu, lilis isoman aja di rumah ibu ya. Lilis takut bu" pintaku.
Aku ikut jongkok di sebelah ibu, dan kupeluk beliau dari samping.
"Halah, oli" celetuk ibu.
"Ha?" Tanyaku
"Oli, mbak. Bukan darah" jawab ibu.
"Tapi bu, tadi, tadi, "
"Iya. Udah, kita ke depan lagi, yuk" ajak ibu.
"Bu, lilis takut bu"
"Kok masih takut? Kan ada ibu" hibur ibu.
"Ibu temenin lilis ya, malam ini" pintaku.
"Iya, sayang" jawab ibu.
Sedikit lega hatiku mendengar jawaban itu. Paling tidak, aku tidak perlu pingsan ketakutan. Tidak terebayangkan kalau harus semalaman sendiri tanpa teman, dengan gangguan semacam tadi sepanjang malam.
"Mending kita ke kamar aja, mbak. Biar kamu bisa istirahat" saran ibu.
"Tapi bu"
"Tenang, kan ada ibu"
"Kita sekamar aja ya bu" pintaku.
Ibu tersenyum saat melihatku menggelayut takut di lengan kirinya.
"Cuman ini bawaanmu, mbak?"
"Iya bu" jawabku.
Aku memilih kamar di ujung. Kalau dari pintu depan, ya tinggal lurus saja.
"Ceklek"
"Wow"
Aku tertegun melihat isi di dalam kamar ini. Semua serba vintage. Ranjangnya, dari besi cor padat, dengan beberapa ukiran dari besi juga. Kasurnya sih sudah memakai springbed. Tapi sprei yang melapisinya, merah merona, dengan batikan berwarna putih. Khas sekali sprei jaman dulu. Sarung bantal dan gulingnya juga senada. Ada kelambu anti nyamuk mengelilingi ranjang. Membawaku bernostalgia ke masa lampau.
"WHAAAA"
Aku terkejut saat mengarahkan flash ponselku ke arah kanan.
"Kenapa mbak?" Tanya ibu kaget.
Aku belum bisa menjawab, hatiku masih diselimuti dengan rasa kaget. Hanya lampu flash ponselku yang berbicara.
"Cuman ukiran, mbak" kata ibu.
"Hhfffff... Fuuuhh"
Aku menghela nafas panjang. Sekalipun ukiran, tapi bentuk ukiran di pintu lemari itu, cukup menakutkan. Aku pikir, mungkin itu ukiran bali. Semacam yang suka keluar dalam pementasan tari kecak. Tapi ukiran ini lebih ekstrim. Kalau aku bilang, ini benar - benar merepresentasikan wujud dari sesosok iblis. Dengan pewarnaan yang dominan warna merah dan hitam. Dengan aksen putih di beberapa tempat.
"Kayaknya bakal lama deh, mati lampunya. Mending, kamu istirahat dulu. Pasti capek, abs perjalanan jauh" kata ibu.
"Eee, iya. Tapi ibu di sini aja ya, temenin lilis" pintaku.
"Iya. Ya udah, istirahat gih. Ibu mau naruh lampunya dulu" saran ibu.
Ibu melangkah ke pojok ruangan, dekat lemari besar itu. Beliau letakkan lampu senter yang beliau bawa itu di atas meja. Dengan mode lampu darurat. Sinarnya lebih lebar dan menyebar.
"Yuk" ajak ibu.
"Iya" jawabku.
Meski perasaanku masih belum sepenuhnya tenang, aku mengikuti ajakan ibu untuk istirahat. Tubuh ini sudah cukup penat setelah perjalanan jauh hari ini. Bahkan, baru sebentar saja aku memeluk tangan ibu, aku sudah tak ingat apa - apa lagi
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
Yurnita Yurnita
banyak krasak krusuk nya
2023-11-15
0
Hiatus
"Kruk"
"Kress kress"
ganti jadi
Kruk (italic atau huruf miring)
Kress ... Kress ... (italic)
krn mereka bukan dialog, melainkan onomatope (tiruan bunyi pada benda2).
krn dikomen ga bs di italic jd aku pk keterangan aja ya..
ada beberapa hal yg biasanya di italic selain onomatope, yaitu: bahasa asing dan jg dialog dalam hati.
semoga membantu. maaf klo penjelasannya belibet ya.
semangat trs 😁💪
2021-11-13
4