—20—

"Jadi malam ini fix kan? Lagian kita udah janji sama Alex," Ciko mengambil kursi tepat di samping Gara yang sedang menghisap rokok.

Gara menganggukkan kepalanya mengingat janjinya bersama Alex malam nanti. Gara akan mengikuti balap liar lagi sebagai perwakilan dari team Alex. Uang yang diberikan cukup menggiurkan bagi Gara. Rencananya uang itu akan Gara sumbangkan ke beberapa panti dan anak-anak kurang mampu lainnya selebihnya Gara pakai mentraktir anggota the troublemaker lainnya.

Heri dan Rendi beserta anggota the troublemaker lainnya baru saja tiba di warung mang Supri, hari ini mereka akan membicarakan suatu hal yang penting mengenai perseturuan salah satu anggotanya dengan anggota geng rajawali yang selama ini selalu saja membuat masalah. Rencananya mereka akan membalas aksi pengkeroyokan terhadap anggota the troublemaker, mengetahui apa yang terjadi tentunya sebagai ketua Gara tidak akan tinggal diam apalagi tanpa sebab yang jelas anggotanya dikeroyok begitu saja.

Semua anggota telah berkumpul, mereka kini membuat sebuah formasi duduk membentuk lingkaran dan mata tertuju pada Gara yang telah bersuara lebih dulu menyusun siasat penyerangan.

Selama Gara menjelaskan strategi tak ada yang menyela atau bahkan berani membuka suara. Namun begitu, mereka tidak akan langsung menyerang melainkan akan menunggu beberapa hari melihat reaksi musuhnya saat Gara beserta anggotanya berpura-pura tenang seolah tidak ada masalah. Hal ini sengaja Gara lakukan sebab ia tahu jika musuhnya tidak akan tinggal diam pasti mereka akan terus membuat masalah dan memancing Gara untuk menyerang hal tersebut yang diinginkan musuh. Makanya semua anggota The troublemaker benar-benar menyimak apa yang Gara katakan. Hampir 15 menit lamanya suasana menjadi hening hanya suara Gara saja yang terdengar tapi kini telah menjadi riuh. Semua telah memahami apa yang Gara katakan tadi. Semua pandangan tertuju ke arah ambang pintu, di mana sosok Dea datang. 

"Gara, anterin gue dong, gue nggak bawa mobil," Dea berdiri tepat di samping Gara memasang wajah cemberutnya berharap Gara mengabulkan permintaannya.

"Ke mana?" tanya Gara singkat.

"Ke Mall, gue pengen nonton sih sekalian temanin gue yah?" pinta Dea penuh harap.

"Sekarang?"

"Iya lah yakali besok," jawab Dea gemas.

"Nggak bisa kalau hari ini, gue sibuk," tolak Gara santai.

Dea merengut sebal, gadis itu tidak rela begitu saja Gara menolak permintaannya. Dea bergelayut manja di lengan Gara seolah merajuk seperti anak kecil. Beberapa yang melihatnya ada yang mengumpat kesal melihat sifat kekanakan Dea dan agresif. Gara menepis tangan Dea sungguh sikap Dea membuatnya risih. Tentunya Dea tidak seperti biasanya, perubahan ini jelas Gara rasakan dan tahu betul penyebabnya. Gara sendiri masih diam berpura-pura tidak tahu segalanya lebih tepatnya bertingkah bodoh dan tak peka.

"Lo kenapa sih Gar? Lo berubah, gue rasa ada yang salah sama lo! Kenapa sih? Sekarang lo udah gak punya waktu buat gue," sungut Dea marah.

"Karena situasinya udah beda, De," jawab Gara.

"Bukan situasinya yang beda tapi emang lo berubah Gara," balas Dea kukuh dengan pendapatnya.

Gara menarik napas lalu membuangnya kasar, pria itu berdiri dari kursinya matanya tertuju pada Dea, "dengar gue berubah karena ada hati yang harus dijaga," ujarnya.

Dea melebarkan matanya serta mulutnya pun menganga. Dea mengerjapkan matanya berkali-kali, "maksud lo?" tanyanya ulang berharap ia tidak akan mendengar kabar aneh dari bibir Gara.

"Gue udah punya pacar dan apa pun itu alasannya gue harus jaga perasaan dia termasuk membatasi waktu sama lo," tutur Gara makin menyakitkan bagi Dea.

"Konyol! Jadi berita itu benar? Gue kira itu cuma bohongan doang tapi—" Dea mengembuskan napasnya berat sungguh napasnya tercekat mendengar fakta yang terjadi. Beberapa hari yang lalu Dea sudah mendengar kabar tentang Gara dan Syasa tapi gadis itu mencoba tak mempercayainya karena menurutnya sangat sulit bagi Gara jatuh cinta pada Syasa dengan kurun waktu yang begitu singkat.

"Lo berubah dan ngejauhin gue hanya karena dia? Sumpah Gar, gue nggak percaya lo bakal berubah seratus persen cuma karena dia bahkan sampai ngejauhin gue. Hebat!" Dea bertepuk tangan menahan air matanya turun.

Heri berdiri mencoba menenangkan Dea tapi di tepis begitu saja. Gara memberikan kode pada Heri untuk kembali ke tempatnya. Ia membiarkan Dea mengeluarkan semua apa yang gadis itu rasakan. Walau Gara sudah mengetahui dengan jelas reaksi apakah yang Dea tunjukkan.

"Gue nggak tahu Gar, lo selama ini gak peka atau cuma pura-pura **** sama perasaan gue. Gue selalu berusaha melakukan apa yang menurut gue bisa buat hati lo milih gue tapi nyatanya usaha gue selama ini sia-sia Gar. Lo bahkan lebih milih cewek asing itu jadi pacar lo. Ingat Gar, gue jauh lebih dulu kenal sama lo bukan dia tapi kenapa lo pilih dia daripada gue, huh?"

Ini lah yang Dea rasakan. Semua yang mendengarnya cukup prihatin dengan Dea. Gara tidak patut disalahkan sepenuhnya, tidak ada yang bisa menebak sama siapakah hati kita akan berlabuh bukan? Jika itu terjadi maka semua orang tentu saja lebih mudah menentukan pilihan mereka sesuai keinginannya.

"Dea, dengerin gue du—"

"Apa lagi? Sudah jelas kalau lo nggak pernah peka sama perasaan gue," potong Dea menyeka cairan bening di sudut matanya.

Gara hendak meraih pundak Dea tetapi gadis itu secapat kilat menghindar dari jangkauan Gara.

"Udah Gar, gue sadar gue emang sama sekali dan nggak akan pernah bisa buat lo jatuh cinta sama gue, lo nggak usah repot-repot jaga jarak sama gue karena mulai sekarang gue nggak bakal lagi nemuin apalagi deketin lo," Dea membalikkan tubuhnya untuk pergi dari tempat itu tapi siapa sangka jika Syasa berada di balik pintu mendengar semuanya. Tidak ada yang menyadari kehadiran Syasa, sebab gadis itu bersembunyi di tembok.

Dea mendesis tajam melihat sosok Syasa dengan sengaja Dea menyenggol bahu Syasa keras hingga tubuh Syasa terbentur cukup keras di tembok. Hal itu sukses membuat Gara panik dengan gerakan cepat Gara melangkah mendekati Syasa mengecek kondisi Syasa apakah baik-baik saja atau tidak.

"It's okay," belum sempat Gara bertanya Syasa langsung berucap sebab ia sudah tahu apa yang Gara ingin katakan.

"Lo kejar dia, jangan sampai di kenapa-kenapa," tambah Syasa khawatir pada Dea. Bagaimana pun, Syasa juga seorang wanita tentu saja ia bisa merasakan kesedihan Dea. Gara sempat menolak tapi Syasa terus memaksnya jadi tidak ada pilihan lain. Syasa memutuskan untuk menunggu Gara di warung mang Supri. Heri memanggil Syasa untuk bergabung. Dengan baik hati Heri memberikan Syasa sebuah kursi plastik yang Gara pakai tadi.

"Untung tampang gue biasa aja, nasib orang ganteng emang gitu yah? Di rebutin cewek-cewek," celetuk Heri. Syasa terkekeh geli bahkan tanpa malu Syasa membalas perkataan Heri.

"Nah itu, jadi lo harus adain syukuran dong, setidaknya lo bebas dari jeritan cabe-cabean hahaha," perkataan Syasa mengundang gelak tawa sepertinya Heri dan Syasa memang cocok berteman sama-sama konyol dan jayus.

"Masih mending cabe-cabean dari pada terong-terongan kan? Pedang sama pedang dong kalau gitu, hahaha,"

"Mesum lo!" timpal Rendi melemparkan kulit kacang ke arah Heri.

                                     ****

"Ih, Mama Arya resek gangguin mulu!" teriak Syasa.

Di ruang keluarga, Syasa sedang bersantai menonton film di layar televisi sambil mengunyah keripik singkong dan segelas jus jeruk nikmat yang mana lagi Syasa harus protes?

Tapi malamnya yang indah diganggu begitu saja dengan Arya. Adiknya itu tak berhenti mengganggu Syasa mulai dari mencuil kripik milik Syasa, mencium pipi Syasa, bahkan menggigit tangan Syasa semua Arya lakukan dengan sengaja. Hidupnya tidak akan lengkap bila tidak mengganggu Syasa sehari saja Arya tidak menjahili Syasa sudah membuatnya stress makanya Arya akan menyempatkan waktu untuk membuat Syasa kesal. Hal itu menjadi kesenangan sendiri bagi Arya.

"Arya jangan ganggu kakak kamu dong," seru Anggun muncul dari arah dapur membawa sebuah nampan berisikan bubur ayam untuk Arya.

Arya baru saja sembuh dari demam yang melandanya selama 2 hari lamanya. Selama itu pula, Arya seakan menjadi raja dalam 2 hari itu, bagaiaman tidak setiap makan dan minum pasti selalu dibawakan atau disediakan dan Syasa selalu menjadi bulan-bulanan perintah Arya. Biasanya, bila Syasa menolak maka Arya akan berteriak mengadu pada Anggun dan jadilah Syasa mendapat amukan dari mamanya karena dicap sebagai kakak yang tidak becus mengurus adiknya sendiri. Syasa terkadang mendengus sebal bahkan tak jarang Syasa ikut membalas jahilan Arya. Di kala sakit pun mereka masih bisa bertingkah seperti tom and jery apalagi saat keduanya sama-sama sehat.

"Kakak yang pelit ma nggak mau bagi kripiknya," adu Arya memasang wajah cemberutnya.

"Syasa bagi dong sama adeknya nggak boleh pelit gitu sama adek sendiri ih," Anggun membela Arya kali ini dan sukses Membuat Arya tersenyum puas dalam hati namun begitu raut wajahnya masih menampakkan ekspresi wajah sedih.

Syasa memutar bola matanya kesal, "dia kan sakit jadi nggak boleh makan yang ginian nggak sehat, noh makan bubur aja lebih menyehatkan," balas Syasa tak ingin kalah dari Arya. Syasa menyunggingkan senyum liciknya meledek Arya.

"Ohiya bener tuh kata kakak mu, sekarang kamu makan bubur ini, habisin yah mama nggak mau lihat ada sisa di piring, ya udah mama tinggal bentar yah ke kamar," ujar Anggun pada Arya sembari pamit menuju kamar.

"Mama mau kangen-kangenan yah sama papa? Ih, awas aja kalau buat dedek bayi, Syasa nggak mau punya adek lagi, cukup Arya yang nyebelin," celetuk Syasa tanpa menyaring perkataannya lebih dulu.

Anggun melototkan matanya mendengarnya. Anggun menghadiahkan sebuah jitakan di kening Syasa.

"Terserah mama dong, malah mama sama papa niatnya mau buat kesebelasan kayak siapa tuh hm—ah ya gen halilintar, seru juga punya anak banyak hahaha," balas Anggun dengan nada candaan.

"Ih ogah! Awas aja yah!" seru Syasa tak terima.

Anggun hanya tertawa sebagai balasan. Tak lama terdengar suara ketukan. Syasa bangkit dari sofa walau pun ia mager alias malas gerak tapi tenaganya akan semakin terkuras bila menyuruh Arya yang pada ujungnya berakhir dengan perkelahian dan Syasa lah yang membuka pintu. Ketukan itu semakin tak berhenti Syasa pun kesal dibuatnya.

"Sabar elah, nggak capek tuh tangan ketuk pintu udah ada bel juga," gerutu Syasa kesal.

Ketika pintu telah terbuka, nampak lah sosok pria berjaket jeans dengan rambut yang acak-acakan namun masih terlihat tampan. Pria itu memasang senyum manisnya menyambut sang kekasih yang membuka kan pintu untuknya.

"Ngapain lo ke sini?" tanya Syasa tanpa basa-basi.

"Salah datang ke rumah pacar sendiri?" delik Gara.

"Salah lah, kalau mau bertamu itu ingat waktu dong ini mah udah malam kali dan rumah gue udah gak terima tamu sana pulang," usir Syasa tanpa dosa. Hubungan mereka memang tak seperti orang pacaran pada umumnya namun begitu sejauh ini mereka masih nyaman dengan hubungan yang dibangun senatural mungkin tanpa adanya rekayasa semata hanya untuk mendapatkan predikat sebagai couple goals.

"Yakin mau usir gue?" Gara menaikkan satu alisnya.

Syasa mengibaskan tangannya memberika kode bahwa Gara harus pergi. Namun pandangan Syasa teralihkan pada sebuah dos dan diyakini berisakan makanan khas italy. Pizza tentunya, baunya saja sudah menggiurkan. Rasanya sayang bila mengusir Gara tanpa mendapatkan pizza itu.

"Gak jadi, pizza buat gue kan? Aduh tahu aja kalau gue lagi lapar, hm pacar yang baik, kalau tahu gitu mah dari dulu gue pacarin lo, tapi sayangnya gue baru kenal lo," Syasa mengambil alih pizza itu dari tangan Gara.

Hanya Syasa yang bisa membuat Gara terlihat bodoh dan patuh begitu saja dengan omongan cewek.

"Udah sana pulang, nanti gue makan pizzanya sekali lagi thanks pacar," Syasa mengibaskan kembali satu tangannya mengusir Gara.

"Enak aja, main ngusir, untung sayang sini dulu," Gara tidak terima bila pergi dari rumah Syasa tanpa mendapatkan hadiah dari kekasihnya itu yah anggap lah sebagai bayaran atas kebaikannya membawakan pizza untuk Syasa.

Syasa menganggukkan kepalanya seolah berkata ada apa. Tapi Syasa tetap maju beberapa langkah mendekati Gara.

"Kurang deket, maju lagi," ucap Gara.

"Enak aja, lo mau ngapain? Awas yah, lo macam-macam gue aduin ke papa eh lama kalau ngadu kan papa ada di kamarnya buang waktu, teriak deng maksudnya,"

Gara menggelengkan kepalanya pacarnya itu sangat aneh dan konyol, lihat saja Syasa awalnya hendak memakinya berujung pada bicara pada dirinya sendiri. Ajaib bukan? Terkadang Gara berpikir mengapa hatinya berlabuh pada sosok cewek aneh bin ajaib kayak Syasa.

Kelamaan mendengar celotehan Syasa yang tak ada habisnya, Gara meraih pundak Syasa dan siapa sangka pria itu mengecup kening Syasa sembari membisikkan ucapan selamat malam. Hal itu sontak membuat Syasa termangu. Sudah cukup lama ia tidak diperlakukan seperti itu termasuk ketika masih bersama Jody.

---

RA

---

Terpopuler

Comments

Rerecaiqing Thecoulien

Rerecaiqing Thecoulien

sumpah ak baca senyum2 sendiri

2022-10-18

0

Ney Maniez

Ney Maniez

🤗🤗🤗

2022-08-03

0

Riry Setya

Riry Setya

next.....

2020-11-29

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!