"Pokoknya sih lo harus tr kita! Titik gak pake koma!" seru Winda pada Syasa.
Mereka berada di kelas. Sejak kejadian Gara memeluk Syasa di depan kampus tempo hari membuat kampus menjadi riuh khususnya para kaum hawa. Beberapa orang pun mengambil kesempatan menangkap momen tersebut dan menyebarkannya di sosial media hingga menjadi bahan perbincangan beberapa hari ini.
Syasa menjadi bulan-bulanan para kaum hawa sebagian mencaci tapi sebagian pula memuji keduanya serasi. Winda yang dari awal yakin dengan Gara pun akhirnya bersorak ria mengetahui kabar gembira tersebut. Winda sangat mendukung hubungan Gara dan Syasa sedangkan Fia terlihat biasa saja tapi bukan berarti ia tidak senang hanya saja Fia sedikit khawatir bila Gara menyakiti Syasa lagi. Sebagai seorang sahabat tentunya wajar saja merasa cemas pada sahabatnya.
Syasa memutara bola matanya malas sudah berapa kali Winda menagih pajak jadian padanya.
"Idih, kenapa minta sama gue, noh sama Gara, yah kalau lo gak punya malu sih," kata Syasa mengangkat satu alisnya.
"Gak bisa dong, kan gue akrabnya sama lo bukan sama dia. Pokoknya lo harus traktir kita," tuntut Winda bersikeras.
"Udah lah, Wind, lo mah maunya gratisan dasar muka gratisan lo," timpal Fia mendapatkan pukulan kecil di pundaknya dari Winda.
Syasa terkekeh melihatnya sembari menggelengkan kepala. Syasa membuka aplikasi whatsapp dan nyatanya ada sebuah pesan masuk.
Gara
Kantin.
Syasa menggarukkan keningnya bingung. Pesan Gara membuatnya bingung apakah itu sebuah pernyataan bahwa Gara berada di kantin atau menyuruhnya ke sana? Syasa membalas pesan itu mempertanyakan maksud pesan tersebut.
Gara
Kantin sekarang!
Winda melirik ke arah ponsel Syasa karena pembawaan Winda kepo makanya ia penasaran pada Syasa.
Syasa mendapati Winda mencuri pandang melirik ke ponselnya sontak ia menjauhkannya dari jangkauan pandangan Winda. Syasa menjulurkan lidahnya ke Winda.
"Dasar lambe kepo amat lo,"
Syasa bangkit dari kursi, mengambil tas beserta ponselnya dab berlenggang pergi meninggalkan kelas. Winda dan Fia berteriak memanggil nama gadis itub tapi Syasa sama sekali tidak menoleh.
Syasa mengayunkan langkahnya menuju kantin. Beberapa orang memandangnya lekat dan tatkala secara spontan mencibirnya.
"Norak!"
"Gak cocok sama Gara"
Syasa tidak takut malahan ia membalas tatapan para orang-orang yang mencibirnya dengan tatapan sinis. Syasa bukan lah cewek yang terima bila di bully justru sebaliknya.
"Terus cocoknya sama siapa dong? Kalian? Haha, percuma cocok tapi kalau hatinya milih gue gimana?" balas Syasa mengejek.
Gadis yang mencibir Syasa melebarkan matanya pendapat balasan dari Syasa tak kalah pedis.
"Gue norak tapi gak senorak kalian, tahunya mencibir orang padahal gak liat sama diri sendiri," sergah Syasa membuat orang-orang itu bungkam. Syasa melanjutkan langkahnya yang terhenti akibat para hatersnya sepertinya mulai hari ini Syasa harus tahan banting mendapatkan cibiran dari orang-orang yang tak suka dengan hubungannya dengan Gara.
Tak jauh dari Syasa berdiri saat itu, Gara melihatnya. Gara berdiam diri karena sepertinya Syasa bisa mengatasinya. Gara tahu betul sifat Syasa, makanya ia tidak khawatir dengan cibiran beberapa orang yang menggosipi dirinya dan Syasa. Gara melambaikan tangan memanggil Syasa.
Seluruh teman Gara melirik satu sama lain walau ini bukan kali pertama mereka melihat Syasa tapi kali ini status Gara dan Syasa berbeda. Mereka berniat menggoda Syasa melihat reaksi Gara seperti apa hanya sekedar bermain saja.
"Aduh calon ibu dari anak-anak aku datang," celetuk Heri menggoda Syasa.
Gara mendengar celetukan Heri melayangkan tatapan tajam seakan siap menerkam Heri.
Rendi menepuk pundak Heri memberi peringatan keras menambah suasana seakan semakin mencekam bagi Heri.
"Berani goda bu bos lo bakal dipenggal Her," bisik Rendi.
Syasa merasa canggung dengan suasan seperti ini. Gara bangkit dari kursinya, pria itu menuntun pundak Syasa agar duduk di tempatnya tadi. Tanpa bertanya Gara langsung memesankan makanan dan minuman untuk Syasa. Heri menggeser kursinya semakin dekat dengan Syasa. Heri menoleh ke belakang ke arah Gara sekilas memastikan pria itu tidak melihatnya. Syasa merasa risih apalagi Heri mengedipkan satu matanya menggoda Syasa.
"Kenapa milih si tukang cara masalah sih? Nggak sama gue aja. Gantengnya lebih jelas, bisa buat lo awet muda gue jamin tiap hari lo bakal ketawa mulu nggak kayak si onoh bisa bikin lo cepat tua," ujar Heri mempengaruhi Syasa.
Rendi dan Ciko mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala berdoa agar Gara tidak mendengarnya jika itu terjadi maka Heri akan diberi pelajaran.
"Gak ah kalau ketawa mulu mah ntar gue dikira gila lagi, tapi iya juga sih kalau sama dia bawaannya mau marah terus," balas Syasa sembari menggumam.
Balasan Syasa membuat gelak tawa. Heri memasang wajah cemberutnya.
"Dari pada lo dibilang tuir kan. Sama gue aja udah," tuntut Heri tidak menyerah begitu saja.
Tanpa Heri sadari, Ciko dan Rendi sengaja diam itu pun perintah seseorang berdiri di belakang Heri. Yah dia, Gara—pria itu memberi kode kepada Ciko dan Rendi untuk menutup mulutnya. Ia ingin mendengar seluruh perkataan Heri tanpa dicurigai.
"Kan masih bisa perawatan, jadi tetap awet muda dong," karena dasarnya Syasa cerewet jadi tidak lah sulit baginya beradapsi dengan teman-teman Gara termasuk Heri yang notabenennya memiliki karakter hampir sama dengannya.
"Yah, kalau itu sih gue mundur, kost-kostan gue aja nunggak apalagi mau bayarin lo perawatan aduh. Kagak jadi, kalau gitu gue dukung lo porotin Gara. Dia uangnya banyak tujuh turunan pun kagak habis-habis,"
Syasa terkikik geli, "nah ide bagus, nanti kapan-kapan kita porotin dia bareng-bareng," ujar Syasa membuat sebuah konspirasi bersama Heri.
Gara berdeham keras, Syasa dan Heri menoleh. Keduanya kompak memasang ekspresi salah tingkah.
"Eh, abang Gara, sini nih duduk," Heri berdiri dari kursinya membersihkan kursi itu seakan kursinya sangat kotor sembari menyuruh Gara duduk.
"Aduh kayaknya dosen gue udah ada deh, gue duluan yah sob," Heri memilih pergi dari kantin dari pada harus mendapatkan omelan atau kemarahan Gara. Belum sempat Gara berucap Heri telah berlari meninggalkannya.
Ciko dan Rendi tertawa keras.
"Sohib gue kenapa konyol banget dah, gue juga duluan deh, gue masih ada urusan," kini giliran Rendi pamit pergi duluan.
Tinggal lah Ciko satu-satunya bertahan. Ciko tidak memiliki masalah apa pun atau urusan jadi ia akan tinggal lebih lama. Lagi pula Ciko ingin mengenal Syasa lebih jauh sosok kekasih sahabatnya.
Pesanan bakso dan greentea yang Gara pesankan untuk Syasa pun datang. Gara menyodorkannya langsung kepada Syasa sembari menyuruh gadis itu makan.
"Gue masih kenyang," Syasa tidak bohong, sebelum ke kampus ia menyempatkan makan lebih dulu di rumahnya.
"Makan aja, dosa buang-buang makanan," balas Gara memaksa.
"Tapi—"
"Makan!" titah Gara.
"Ih, maksa banget deh. Kan gue kenyang," rengek Syasa.
Gara mengembuskan napasnya, "makan aja nanti kalau udah kenyang gue yang habisin," putus Gara tanpa bantahan lagi.
Syasa pun mulai memakan bakso itu. Gara beralih pada Ciko, keduanya pun asik mengobrol membahas kegiatan mereka malam nanti. Syasa setia menyimak obrolan dua pria itu.
Merasa kenyang, perutnya tak lagi sanggup menampung makanan lagi pun akhirnya menyerah. Syasa mencolek lengan Gara menggunakan jari telunjuknya. Gara menoleh, menaikkan satu alisnya.
"Kenyang," kata Syasa.
Gara mengambil alih mangkuk yang berisikan 4 buah bakso. Tanpa jijik, Gara memakan bekas Syasa. Dipikiran Syasa sendiri bertanya-tanya akan hal itu mengapa Gara sangat santai memakan bekasnya hal ini pertama kali syasa lakukan dan lihat sebelumnya bersama Jody tidak pernah sekali pun Jody memakan atau meminum bekasnya begitu pun sebaliknya. Tapi sekarang Gara melakukannya.
Tanpa di duga, sosok Dea datang dan memeluk pundak Gara tanpa izin.
"Gara gue kangen, sumpah gue nggak sempat ngabarin lo soalnya di Padang gue sibuk banget," ujar Dea semakin mengeratkan pelukannya di pundak Gara.
Gara menghentikan gerakan tangannya, melepaskan sendok. Gara melepaskan tangan Dea dari pundaknya.
Dea mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Dea mengambil kursi kosong dan menaruhnya tepat di samping Gara.
"Btw, gue nggak bawa oleh-oleh sama sekali, sorry yah," Dea masih tidak menyadari kehadiran Syasa di sana.
Gara hanya tersenyum saja. Ciko melihat keadaan ini sedikit menyulitkan Gara. Ciko pun mengambil alih Dea menyuruh gadis itu duduk di sampingnya tapi Dea menolak keras justru semakin mendekatkan dirinya dengan Gara.
Syasa sendiri merasa biasa saja tapi ada gelenyar aneh yang ia rasakan saat Dea mencoba mendekati Gara berlebihan. Syasa diam saja karena Dea adalah sahabat Gara jadi menurutnya wajar saja dan Dea lah yang duluan mengenal Gara dari padanya.
Syasa memilih pergi lagi pula ia masih memiliki jadwal kuliah.
"Gue duluan yah, masih ada mata kuliah lagi," Syasa bangkit dari kursinya. Gara menahan tangan Syasa dan melepaskan tangan Dea yang melingkar di lengannya.
"Gue antar," ujar Gara meraih tangan Syasa.
"Ngapain di antar sih, emang dia siapa? Bisa jalan sendiri kan? Lagian dia nggak bakal kesasar juga, jangan lebay," ujar Dea dengan nada cukup sinis.
Gara memandang tajam Dea. Untuk pertama kalinya, Dea mendapat tatapan itu dari Gara dan Dea benci akan hal itu. Tanpa sepatah kata, Gara pergi bersama Syasa meninggalkan Dea begitu saja makin membuat gadis itu semakin kesal.
"Ih, dasar cewek gatal," umpat kesal Dea.
"Jangan pernah bilang seperti itu di depan Gara kalau lo masih mau di dekatnya," Ciko ikut berdiri dan berlenggang pergi.
--
RA
--
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ney Maniez
ulat keket ceritany
2022-08-03
0
Ney Maniez
iyuhhh
2022-08-03
0
Rinnie Erawaty
yang gatel itu kamu Dea sini tak garukin pake cangkul😀😀😀😀😀
2022-07-21
0