Malam menyapa, kini langit disinari oleh cahaya bintang dan bulan. Kedua benda langit itu secara kompak menyinari dunia. Gara menikmati wajah polos Syasa yang tertidur entah mengapa pria itu tak bosan sama sekali menikmati indahnya ciptaan Tuhan di depannya kini. Gara terus menemani Syasa. Gara masih menunggu Syasa bangun dan menuntut penjelasan dari gadis itu apa yang sebenarnya terjadi.
Arya mengetuk pintu secara pelan, Gara menoleh. Arya tersenyum sembari memasuki kamar.
"Gue nggak salah, lo emang pantas buat kak Syasa bang. Terima kasih," Arya duduk di pinggir ranjang dekat Syasa yang terlelap tanpa mengganggu gadis itu sama sekali.
Gara diam, namun begitu tanpa ia jawab pun Arya sudah tahu jika Gara memiliki perasaan lebih pada Syasa dan sangat baik bila Arya mempercayainya dengan begitu ia lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari kedua orang tua Syasa. Tak lama Arya berada di kamar, Arya hanya ingin mengecek Syasa saja apakah sudah bangun atau tidak. Arya pun kembali ke kamarnya sementara Gara tetap tinggal.
Selang beberapa saat, Syasa terbangun dari tidur. Ketika matanya pertama kali terbuka, wajah Gara lah yang ia lihat. Syasa memicingkan matanya dari sorot matanya seakan menanyakan mengapa Gara masih berada di kamarnya.
"Ke mana? Di mana? Kenapa?" tanya Gara terasa ambigu di telinga Syasa.
Tiga pertanyaan tapi Syasa tidak mengerti pertanyaan apakah yang Gara ajukan padanya. Syasa menukik alisnya seolah memberi kode jika dirinya tak mengerti.
Gara memutar bola matanya, kursinya pun dirapatkan ke ranjang. Kedua tangannya disilangkan dan memandang dua bola mata Syasa tajam.
"Lo ke mana aja? Di mana dan kenapa lo pulang sambil nangis?" jelas Gara.
Ekspresi wajah Syasa telah berubah menjadi panik. Namun begitu, Syasa menutupinya dengan sikap santainya.
"Bukan urusan lo," sergah Syasa.
"Sejak hari kemarin urusan lo akan jadi urusan gue. Apa lo lupa gue siapa?"
Syasa memutar bola matanya kesal, "gue gak amnesia kali. Lo Gara si pembuat masalah," jawabnya.
Gara melebarkan matanya, awalnya ia menyangka jika Syasa akan menjawab bahwa mereka telah pacaran. Tapi nyatanya tidak. Gara kesal bukan main. Gara menjitak kepala Syasa pelan sangat pelan namun dasarnya Syasa lebay, gadis itu mendramatiskan keadaan dengan merengek kesakitan walau begitu Gara percaya Syasa merasakan sakit.
"Hua sakit," rengek Syasa seperti anak kecil.
Gara terlihat panik segera ia berdiri dan mengecek kepala Syasa.
"Maaf," Gara mengelus bekas jitakannya di kepala Syasa.
Tanpa Gara sadari Syasa tersenyum mengejek dan dalam hati ia tertawa terbahak-bahak. Namun begitu, tersirat sebuah kehangatan ketika Gara memperlakukannya sangat lembut.
"Masih sakit gak?" tanya Gara.
Syasa menggelengkan kepalanya, "gue sebenarnya boong, kepala gue gak sakit kok," jawabnya jujur.
Gara mengembuskan napasnya, pria itu tidak marah. Karena ia tahu sifat Syasa yang jahil, Gara memilih kembali fokus pada pembahasannya tadi.
"Sekarang jelasin semuanya," tuntut Gara.
"Jelasin apa? Lagian tidak penting juga lo tahu," kukuh Syasa tidak ingin memberitahukan pada Gara.
"Penting. Karena lo pacar gue," ujar Gara penuh penekanan.
Syasa termangu mendengarnya. Ia baru ingat kejadian hari kemarin ketika Gara menembaknya.
"Eng—"
"Jangan sok lupa, atau gue perlu ingatin lagi?" Gara memasang ekspresi menggodanya.
"Pacar?" godanya membuat pipi Syasa merah seperti tomat.
Gara begitu gemas tak tahan ia menyubit kedua pipi Syasa dan hal ini tentunya pertama kali Gara lakukan. Syasa kaget bukan main, sedari tadi jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Syasa mati-matian menyembunyikan kegugupannya.
"Jadi pacar cerita sekarang, jangan menyembunyikan apa pun apalagi hal yang membuat lo jadi beban, sekarang gue ada dan akan selalu ada baik lo senang apalagi sedih," Gara memegang tangan Syasa dan jari telunjuknya menyempatkan mengelus tangan Syasa.
Syasa sebenarnya malu menceritakan semuanya pada Gara. Syasa tertunduk sejenak sambil memainkan ujung-ujung jarinya menautkannya satu sama lain. Syasa menarik napasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan dari mulutnya.
"Jody selingkuh dan selama ini ternyata dia bohongi gue," lirih Syasa menahan air matanya tumpah.
Gara tidak kaget lagi karena ia pernah mendapati Jody bersama wanita lain hanya saja ia marah melihat kesedihan di wajah Syasa walau gadis itu mencoba menutupinya. Syasa mulai menceritakan seluruh kegundahan dan kesedihan hatinya akibat ulah Jody selama ini yang telah membodohinya.
"Sejak awal dia udah bohong dan bodohnya gue nggak pernah curiga sama sekali. Jody cinta pertama gue sekaligus pacar dan cowok pertama yang berhasil luluhin hati gue. Sakit, hati gue sakit kenapa bisa gue sebodohi bisa percaya gitu aja, dia brengsek," Syasa menyentuh dadanya ketika menyebutkan bahwa hatinya sakit.
Syasa merunduk. Tak tahan gadis itu pun menitihkan air mata membasahi kedua pipinya. Gara bangkit dari kursi, nalurinya berkata untuk segera memeluk Syasa memberikan sebuah kehangatan dan kekuatan bagi Syasa serta mengikis seluruh kesedihan yang dirasakan oleh Syasa.
Gara merangkul pundak Syasa sehingga kepala Syasa tepat di dada bidang Gara. Syasa menangis menumpahkan seluruh kesedihannya.
"Dia jahat. Dia selingkuh, dia patahin hati gue," gumam Syasa sedih.
Gara merasakan kaos yang ia pakai telah basah apalagi kalau bukan karena Syasa. Tak sadar di balik pintu, Anggun, Gunawan beserta Arya menyaksikan bagaimana Gara memperlakukan Syasa begitu lembut dan sangat perhatian.
"Jangan pernah menyembunyikan apa pun lagi dari gue dan mulai sekarang tidak ada yang bisa nyakitin lo termasuk gue sendiri. Namun suatu saat lo merasa gue nyakitin lo please, tell me atau apa pun itu yang buat lo sedih," tutur Gara lembut sembari mengelus punggung Syasa.
Arya tersenyum cerah karena pilihannya tak salah. Ia memandang kedua orang tuanya masih setia menyimak pembahasan Gara dan Syasa.
"Bang Gara emang pantas untuk kak Syasa, ma, pa," celetuk Arya.
Anggun dan Gunawan menoleh ke arah sang putra. Mereka tak tahu harus menanggapi apa ucapan Gara namun satu hal yang mereka tangkap dari sosok Gara, pria itu memperlakukan Syasa sangat baik dan sejauh ini bisa menjadi Syasa. Gunawan masih membutuhkan sesuatu yang bisa membuatnya makin percaya pada Gara termasuk dengan urusan hati. Gunawan khawatir bila Gara hanya mempermainkan hati putrinya saja, mengingat apa yang telah Jody lakukan kepada putrinya.
Anggun dan Gunawan memilih pergi namun tak lupa mereka memberikan perintah pada Arya agar mengingatkan Gara segera pulang bukannya mereka tidak suka hanya saja Anggun dan Gunawan tidak ingin membuat semua orang mempertanyakan keberadaan Gara di rumahnya sampai larut malam dan takut bila orang tua Gara mencari anaknya.
"Kenapa?" satu kata itu terlontar dari bibir Syasa.
Gara mengurai pelukannya dan kedua insan itu saling berpandangan satu sama lainnya.
"Kenapa lo kayak gini? Please, jangan datang kalau pada akhirnya lo bakal patahin hati gue untuk kedua kalinya, menaruh harapan dan pergi meninggalkan duka," ujar Syasa.
"Karena gue sayang sama lo," kata Gara mantap tanpa keraguan sedikit pun.
"Nggak. Lo bohong, lo gak mungkin punya perasaan sama gue secepat itu, kita baru kenal bahkan—nggak, nggak mungkin," Syasa menggelengkan kepalanya mengelak ucapan Gara barusan.
"Nggak ada yang bisa menahan hati mereka untuk tidak jatuh cinta, termasuk gue. Hati melakukan apa yang menurutnya benar termasuk memilih seseorang sebagai pemiliknya yang akan mengisi ruang kosong di dalamnya," tatapan Gara tak terlepas dari bola mata Syasa.
Mendengar kalimat itu terlontar dari bibir Gara dengan tatapan begitu dalam memandangnya sangat sulit untuk menemukan cela atau menangkalnya. Gara terlihat serius dengan ucapannya itu. Sejak awal, Syasa menilai jika Gara bukan lah tipe cowok yang suka bercanda malah sebaliknya Gara sangat tidak suka hal itu.
Kini Syasa tidak tahu harus menjawab apa. Mulutnya seakan terkunci serta lidahnya terasa kaku untuk bergerak mengucapkan sepatah kata pun.
Gara merasa sudah jelas mengenai perasaannya. Apalagi, ia telah menyatakan itu secara jelas pada Syasa. Maka, saatnya Gara pulang. Gara pamit namun tak lupa menyempatkan mengecup kening Syasa dan hal itu berlangsung begitu saja tanpa sempat Syasa menghindar membuat tubuh Syasa terpaku.
"Selamat malam," bisik Gara lalu berlenggang pergi.
****
"BRENGSEK!" umpat seorang pria mengeluarkan seluruh emosinya pada seseorang yang telah menyakiti wanita yang ia cintai.
"Stop!" seorang wanita datang menghentikan aksi brutal salah satu pria di depannya tanpa henti memberikan pukulan pada pria yang telah terlihat tak berdaya.
"Lo apa-apaan hah? Lo siapa berani mukul dia? ********!" wanita itu murka.
"Gue nggak bakal ngelakuin ini kalau dia tidak menyakiti cewek yang gue sayang," jawab pria berjaket jeans.
"Siapa? Lo emang kenal sama dia? Gila!" seru wanita itu masih kesal.
"Tentu gue kenal, dia Jody, cowok brengsek yang udah nyakitin Syasa," ujar Gara. Yah, siapa lagi kalau bukan Gara—pria itu tidak bisa membiarkan Jody tenang sebelum membalaskan sakit hati Syasa. Gara berdecih melihat Jody lalu pergi begitu saja meninggalkan Jody bersama wanita misterius itu. Andai saja tidak ada wanita tersebut entah apa yang akan terjadi pada Jody.
----> Keesokan harinya.
Langit begitu cerah. Hari ini, Syasa menjalani harinya seperti hari sebelumnya. Sudah cukup ia bersedih sebab tidak ada gunanya bersedih meratapi semua yang telah terjadi karena tidak akan ada yang berubah.
Syasa memilih membuka hatinya kembali membiarkan seseorang mengobati luka dihatinya yang akan mengisi hari-harinya nanti. Syasa tidak berniat menjadikan Gara sebagai tempat pelampiasannya. Syasa akan menerima Gara setulus hatinya walau hatinya baru saja dipatahkan. Syasa percaya akan ada kebahagiaan setelah kesedihan sama seperti pelangi yang akan hadir usai langit diterpa hujan.
Syasa mendapatkan pesan singkat dari seseorang. Pesan itu berisi.
Ini gue, Sarah. Ada hal yang perlu gue omongin. Gue udah ada di samping kampus lo.
Syasa segera keluar kelas menemui Sarah. Winda dan Fia berseru memanggil nama Syasa tapi gadis itu tak menoleh sama sekali. Setibanya di depan kampus, Syasa mengedarkan pandangannya ke kanan-kiri mencari mobil Sarah.
Syasa menemukannya, ia berlari kecil menghampiri mobil milik Sarah. Di dalam mobil, Sarah melihat Syasa pun turun dari mobil. Syasa memasang senyum berbeda dengan Sarah—gadis itu justru menampakkan ekspresi wajah tak ramah.
Tanpa aba-aba, Sarah melayangkan satu tamparan keras di pipi kanan Syasa membuat empuhnya meringis kesakitan.
"Lo apa-apaan hah?" pekik Syasa tak terima.
Sarah berdecih, "ini nggak seberapa sama apa yang lo lakuin ke Jody,"
"Maksud lo apa?" tanya Syasa bingung sembari menahan sakit di pipinya.
Sarah terkekeh dan memasang senyum remehnya sembari berkata," lo gak usah pura-pura **** deh. Gue tahu lo sakit hati tapi lo nggak perlu nyuruh orang buat ngebukin Jody! Bukan hanya lo yang di sakitin, gue juga Sya, tapi nggak gini caranya. Lo tahu apa yang lo lakuin itu? Huh? Jody hampir mati gara-gara lo! Andai aja gue nggak tepat waktu semuanya habis, Jody nggak akan selamat," pungkas Sarah menggebu.
Pada malam itu, Sarah tidak sengaja melewati sebuah jalan di area taman dan ia melihat Jody sedang dipukuli oleh seseorang yang pada saat itu Sarah tidak mengenalnya. Sarah pun turun dari mobil dan menolong Jody. Bagaimana pun, Sarah masih mencintai Jody walau sakit yang ditorehkan oleh Jody padanya dan Syasa tapi Sarah tidak ingin melihat Jody sengsara apalagi dengan cara seperti itu.
Syasa sama sekali tidak mengerti. Ia bahkan tidak tahu jika ada seseorang yang memukuli Jody. Syasa bingung siapakah orang tersebut dan mengapa Sarah langsung menuduhnya begitu saja.
"Lo apaan sih, gue nggak mungkin ngelakuin itu. Jangan asal nuduh bisa nggak sih?"
Sarah mengepalkan tangannya marah. Untuk kedua kalinya Sarah hendak memberikan satu tamparan lagi tapi tangannya dicegah oleh seseorang.
"Jangan sampai gue lupa kalau lo itu cewek,"
Gara datang menahan pergerakan tangan Sarah. Gara tidak terima Syasa diperlakukan seperti itu. Sarah menarik tangannya sekuat tenaga dari cekalan Gara yang meninggalkan jejak merah di tangan Sarah.
Sarah memadang Gara dan Syasa secara bergantian. Tangannya menunjuk wajah Gara dengan ekpresi wajah marah.
"Dia, dia yang mukul Jody semalam," ucap Sarah penuh yakin tak salah liat.
Syasa menggelengkan kepalanya menatap Gara dengan tatapan kecewa. Syasa berbalik badan menarik tangan Gara menjauh dari Sarah.
"Lo apa-apaan huh? Siapa yang nyuruh lo buat mukulin Jody? Gue nggak pernah minta apa pun soal itu ke lo. Lancang!" Syasa memukul dada kiri Gara marah.
"Dengerin gue dulu, Sya," Gara berusaha menahan tangan Syasa yang terus memukulnya.
"Nggak! Lo salah Gar!" seru Syasa.
"Iya gue salah tapi dengerin dulu," Gara berhasil meraih tangan Syasa lalu Digenggamnya erat.
Gara mendekatkan tubuhnya mengikis jarak keduanya. Tatapannya pun lurus ke dua bola mata Syasa.
"Tidak ada yang nyuruh gue. Gue cuma nggak terima cewek yang gue sayang disakitin sama dia seperti yang gue bilang semalam," ujar Gara.
"Tapi nggak gini caranya! Lo sadar apa yang lo lakuin bisa buat dia mati? Asal lo tahu, gue udah coba buat lupain rasa sakit itu dan gue coba buat terima lo tapi apa? Sekarang lo buat gue kecewa. Gue tahu yang lo lakuin itu untuk gue tapi cara lo salah! Nggak semua masalah harus diselesaikan dengan kekerasan termasuk ikut menyakiti orang yang menyakiti kita. Hidup tidak mengajarkan kita untuk saling balas dendam tapi bagaimana kita memaafkan orang yang menyakiti kita," jelas Syasa.
Gara mendengarnya seksama serta mencerna kalimat panjang dari Syasa. Gara memang salah dan ia mengakuinya di depan Syasa.
"Maaf, gue hanya emosi dan nggak tahu harus memberi pelajaran apa untuk dia. Yang jelas gue nggak suka liat cewek disakitin apalagi lo, cewek yang gue sayang,"
Tatapan Gara dan Syasa beradu. Gara menggenggam tangan Syasa erat dan beralih memeluk tubuh gadisnya. Gara terus membisikkan kata maaf di telinga Syasa.
Di kejauhan, beberapa orang menyaksikan moment tersebut tak khayal ada sebagian yang mengabadikannya karena hal itu akan menjadi sesuatu yang heboh untuk diperbincangkan di kalangan kampus. Termasuk, sahabat keduanya.
"Sepertinya kita melewatkan suatu hal," ujar salah seorang teman Gara.
---
Don't forget to vote+comment guys!
---
RA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ney Maniez
💖
2022-08-03
0
Ney Maniez
🤗🤗🤗🤗
2022-08-03
0
Ney Maniez
👍👍👍👍
2022-08-03
0