—17— Mendua?

"Lo ngapain di sini?" pekik Syasa tak suka melihat sosok pria di depannya.

"Seharusnya gue yang nanya sama lo. Ngapain lo ke rumah gue?" balas pria itu.

Gusti merengut bingung mengapa Syasa mengenal pria itu. Gusti menarik lengan Syasa agar mundur selangkah lalu berbisik, "lo kenal Thio?"

"Gimana gue gak kenal, dia itu cowok yang pernah hampir nyelakain gue," jawab Syasa dengan nada yang sengaja ditinggikan agar Thio mendengarnya.

"Kok bisa?" tanya Gusti penasaran.

"Bisa lah. Intinya gue nggak suka sama si cowok itu," rungut Syasa sebal menunjuk wajah Thio.

"Eh, Gusti long time no see," tiba-tiba saja Sarah datang dan memeluk Gusti. "Eh Syasa kan? Apa kabar?" Sarah beralih pada Syasa.

Syasa merasa canggung saat ini. Sarah mengajak Gusti dan Syasa masuk saat melewati Thio, Syasa menjulurkan lidahnya meledek Thio. Sarah menyambut hangat kedatangan Gusti dan Syasa.

"Gue senang lho di datangin kalian. Apalagi Syasa, udah lama banget gue pengen ngobrol sama lo. Sepupunya Jody kan? Jody gak tahu yah kalau lo mau ke sini? Soalnya dia ngajak gue jalan," perubahan ekspresi di wajah Syasa terlihat jelas menjadi datar.

Gusti menyenggol lengan Syasa. Pria itu mengerti perasaan Syasa tapi tidak mungkin gadis itu menangis di depan Sarah saat ini.

"Hm, sebenarnya gue ke sini pengen ngomongin sesuatu sama lo, ini soal Jody," ucap Syasa berhati-hati.

"Oh ya ada apa?" tanya Sarah mulai penasaran.

Syasa memainkan jari-jarinya sebab tak tahu harus memulai dari mana. Gusti berada di sampingnya memegang pundak Syasa dan menganggukkan kepalanya seakan memberi kode jika semua akan baik-baik saja.

"Hubungan lo sama Jody udah berapa lama?" tanya Syasa.

"Lho, emang Jody gak cerita sama lo?" Sarah mengernyitkan dahi.

Syasa menggelengkan kepalanya lemah, matanya sayu memandang Sarah.

"Gak mungkin dia cerita sama gue, kalau iya pasti udah lama gue putus sama Jody," jawab Syasa menggemparkan Sarah.

"Maksud lo? Tunggu—" Sarah masih tak mengerti apa yang dikatakan Syasa. Ia mencoba mencerna kembali maksud ucapan Syasa.

"Gue pacar Jody, ah tidak lebih tepatnya sekarang mantan pacar," jawab Syasa.

Sarah menutup mulutnya tak percaya. Gusti mulai mengambil langkah untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya melihat reaksi Sarah dan ekspresi wajah Syasa mulai tak sanggup.

"Jadi gini, Syasa juga pacar Jody pada saat lo menjalin hubungan juga dengan Jody. Lebih tepatnya, Syasa jadian dengan Jody ketika lo belum memberikan jawaban pada Jody dan tanpa kalian ketahui Jody mengkhianati kalian berdua," pungkas Gusti.

Sarah paham sekarang tapi bagaimana bisa Jody berbohong dan mengkhianatinya sekejam ini. Apakah Jody tak punya hati menyakiti dua wanita sekaligus. Syasa sendiri pun tak bisa berkata-kata lagi selain menangis dalam diam.

Di tempat yang berbeda, Gara menaiki kain selimut yang digunakan Syasa pada saat keluar dari kamarnya. Gara sudah menduga jika Syasa pasti tidak ada di kamarnya tapi Anggun bersikeras menyuruhnya mengeceknya. Gara berhasil naik ke kamar Syasa dan seperti dugaannya batang hidung Syasa tak terlihat. Gara membuka kunci pintu kamar.

Kondisi kamar Syasa terlihat biasa saja seperti biasanya tak ada hal aneh yang mencurigakan. Pakaian Syasa pun masih berada di dalam lemari tersusun rapi. Gara pikir jika Syasa tidak kabur atau berniat meninggalkan rumah dalam jangka waktu panjang. Mungkin, Syasa ingin menenangkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja kepergian Syasa diam-diam mengundang kekhawatiran dari orang-orang disekelilingnya.

"Di mana kakak mu, Arya. Mama khawatir kalau terjadi sesuatu padanya," Anggun mulai mencemaskan putrinya yang hilang. Arya memeluk sang mama berusaha menenangkan mamanya dan meyakinkannya Syasa baik-baik saja.

Selang beberapa saat, terdengar suara decitan mobil. Gara keluar balkon dan melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah. Syasa turun dari mobil itu, ketika Syasa berbalik tak ada ekspresi sama sekali tercipta di wajah gadis itu. Gara memerhatikannya dari atas. Syasa berjalan lesu memasuki rumah tanpa pikiran bersalah meninggalkan rumah.

"Syasa sudah datang," ucap Gara.

Anggun segera keluar dari kamar dan turun menemui Syasa.

"Sayang kamu dari mana aja?" Anggun meraih tangan Syasa. Matanya meneliti wajah Syasa yang sendu. "Apa yang terjadi sayang? Hm?" Anggun mengelus wajah Syasa.

Syasa tidak menjawab justru gadis itu langsung memeluk erat mamanya sembari menangis. Anggun tidak mengerti apa yang membuat putrinya seperti ini. Anggun membalas pelukan Syasa tak kalah erat. Usai menumpahkan kesedihannya di pelukan sang mama, Syasa melepaskan pelukannya dan memaksa mengukir senyum di wajahnya seolah mengatakan jika ia baik-baik saja. Syasa pamit ke kamarnya, Syasa berhenti sejenak ketika ia melihat sosok Gara di rumahnya. Syasa memandang bola mata Gara beberapa menit saja setelah itu berlenggang pergi.

Gara diam saja tidak menahan atau mencegah Syasa sama sekali. Mereka semua membiarkan Syasa beristirahat. Gara bergabung bersama Arya di kamarnya. Arya mengajak Gara bermain ps tapi Gara menolak saat ini pria itu tidak dalam mood yang baik apalagi melihat keadaan Syasa sekarang.

Karena pintu kamar Arya terbuka lebar makanya Gara dan Arya bisa melihat siapa pun yang lewat dan kini terlihat Anggun berjalan sembari membawa nampan berisikan makanan. Anggun membuka pintu kamar dan terlihat Syasa sedang berbaring memeluk guling. Anggun mengusap pipi Syasa lembut, perlahan gadis itu bangun.

"Makan yah, kamu belum makan sama sekali nak," bujuk Anggun tapi Syasa menggelengkan kepalanya lemah.

"Nanti," jawab singkat Syasa.

"Sayang ayo lah, makan sedikit saja,"

Usaha Anggun sia-sia Syasa terus menolaknya. Di balik pintu nyatanya, Gara melihat semunya. Ketika Anggun telah letih membujuk Syasa, Gara malah sebaliknya menawarkan diri untuk membujuk Syasa makan. Anggun awalnya tidak yakin tapi tak ada salahnya memberi kesempatan bagi Gara.

Kaki jenjang Gara perlahan memasuki kamar Syasa. Pria itu mengambil kursi kayu dan mendekatkannya ke ranjang milik Syasa. Gara diam sejanak memandang wajah polos Syasa tertidur pulas. Gara tersenyum simpul mengingat ketika ia bertemu Syasa, gadis itu sangat identik dengan mulutnya tak berhenti berceloteh. Namun kali ini, Syasa terlihat murung dan bersedih.

Tangan Gara terulur menyentuh kepala Syasa. Disingkirkannya helaian rambut milik Syasa yang menutupi sebagain wajah gadis itu. Syasa merasakan sentuhan itu membuatnya terbangun. Syasa begitu kaget mendapati Gara di kamarnya. Syasa hendak memekik tapi Gara langsung membekap mulut Syasa agar tidak berteriak. Syasa melebarkan matanya.

"Hmphh," Syasa berusaha berucap ingin dibebaskan dari Gara.

"Jangan berteriak dulu, gue gak bakal macam-macam," ujar Gara.

Syasa memutar bola matanya dan menganggukkan kepalanya setuju pada ucapan Gara.

"Lo ngapain di kamar gue?" sengit Syasa.

"Makan," bukannya menjawab Gara justru menyuruh Syasa makan.

"Gue nggak lapar, jangan maksa!" tolak Syasa.

"Kalau lo gak makan, gue yang makan lo," Gara menaikkan satu alisnya. Syasa tidak mengerti ucapannya.

"Maksud lo? Gila lo pengen makan gue? Emang bisa? Sumanto kali ah," sepertinya Syasa kembali cerewet. Dan Gara tidak menyangka gadis itu akan pulih secepat itu.

Gara tersenyum simpul. Syasa mendelik melihat Gara tersenyum.

"Fix lo udah gila. Sana lo keluar dari kamar gue," usir Syasa. Ketika gadis itu hendak berbaring Gara langsung mencegah lengan Syasa erat.

"Makan, makanan itu atau lo yang gue makan?" ancam Gara, mata Gara menyipit memandang Syasa penuh arti.

Alarm darurat seakan menghampiri Syasa melihat aura berbeda dari Gara.

"Mak—sud lo? Jangan macam-macam atau gue bakal teriak?" tantang Syasa.

Gara tersenyum mengejek. Perlahan ua memajukan wajahnya mendekati Syasa. Alarm itu semakin mencekam. Sangat tidak baik bila terus membiarkan Gara apalagi Gara semakin dekat dengan wajahnya.

Syasa mendorong bahu Gara sekuat tenaga.

"Oke, gue makan," Syasa menyerah. Lebih baik jika ia makan sekarang.

Usai makan, Gara membantu Syasa baring di atas kasur. Ia akan membiarkan Syasa beristirahat lebih dulu setelahnya ia akan menanyakan beberapa hal pada Syasa.

---

Maaf, updatenya sedikit telat. Jangan lupa vote+commentnya guys ❤

---

RA

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

🤔🤔🤔🤔

2022-08-03

0

Ney Maniez

Ney Maniez

😲😲😲😲

2022-08-03

0

Riry Setya

Riry Setya

lophe" bang gara😍

2020-11-29

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!