—14— Aneh

Syasa menyambar kunci mobil di gantungan kayu yang tertancap di dinding. Syasa menggandeng tas beserta jaket jeans milik Gara. Syasa memakai kacamata untuk menutupi mata sendunya. Tentunya Syasa menangis ketika ia harus putus dengan Jody, tak terima? Sudah pasti iya. Syasa masih berharap akan semuanya akan kembali normal. Kemarahan Gunawan akan mencair kembali lagi pula sejauh ini Gunawan tak pernah berlama-lama marah pada Syasa.

Gara membuka matanya, sinar mentari menyilaukan matanya. Gara melirik jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Gara hari ini libur karena tak memiliki jadwal kuliah. Gara bangkit dan bersandar di kepala ranjang. Gara menguap kecil mengumpulkan nyawa. Gara memikirkan apa yang akan ia lakukan hari ini. Biasanya, Gara menghabiskan waktu di luar ketika hari libur namun hari ini rasanya sangat malas yang ada Gara ingin tidur sepuasanya saja.

Gara mengambil ponselnya tergelatak tak berdaya di sampingnya. Gara memasukkan password ponselnya. Gara satu persatu membuka notifikasi yang muncul. Ada sebuah pesan masuk dari Dea isi pesan itu adalah Dea meminta tolong pada Gara untuk menemaninya mencari buku sebagai referensi makalahnya. Gara merenggangkan ototnya, Gara tidak punya alasan untuk menolak lagi pula hari ini ia tidak memiliki kegiatan apa pun walau begitu ia memiliki jadwal kuliah itu tak memberi pengaruh Gara akan tetap pergi menemani Dea.

Gara segera bangkit dari kasur membersihkan diri dan menuju kampus. Dea memiliki kuliah jam 8 pagi dan rencananya Gara akan menjemputnya. Setelah beberapa menit berlalu Gara telah rapi. Ia berjalan keluar rupanya, mamanya masih berada di rumah beserta Bayu sedangkan papa dan kedua adiknya telah pergi.

Sang mama menyambut Gara dengan senyum ramah. Bayu meminum segelas air dengan pandangan mengarah pada Gara yang baru turun dari tangga.

"Gara, sarapan dulu nak," ujar mama Gara.

Gara menoleh ke arah mamanya, satu kakinya telah melangkah ke depan tapi ia menghentikannya saat matanya teralih pada Bayu. Gara mengurungkan niatannya, berada dalam satu rumah dengan Bayu membuat muak apalagi berada satu meja makan tak pernah Gara inginkan. Jikalau itu terjadi pun, Gara sudah pasti tidak akan berlama-lama dan tentunya ia terpaksa melakukannya.

Gara menggelengkan kepala lalu berkata, "tidak ma, Gara udah telat," pria itu mencium punggung tangan mamanya lalu pamit pergi.

Mama Gara hanya bisa mendesah pasrah. Bayu merasa kasihan, ia yakin bila mamanya sangat ingin sarapan bersama. Sifat keras kepala dan ego Gara terlalu tinggi. Bayu sendiri tidak tahu harus berkata apalagi.

****

Di dalam kelas, Syasa hanya diam dan

termangu mendengarkan penjelasan dosen. Dalam hati Winda bertanya-tanya apa yang terjadi pada Syasa sangat langkah bagi Syasa menjadi pendiam tapi satu hal yang Winda yakini adalah mata Syasa terlihat sembab.

"Baik lah saya kira hari ini cukup berhubung minggu depan saya tidak hadir sebagai absensi saya akan memberikan kalian tugas mencari satu buku dan kalian harus me-rievewnya ingat tidak ada yang boleh sama jika saya mendapatkannya maka tugas kalian tidak akan diperiksa,"

Winda mendengus kesal, "kalau gini mending gue alpa aja dah," matanya melirik Syasa masih setia terdiam bertopang dagu memainkan pulpennya.

Winda mengernyitkan dahi, tangannya menyentuh bahu Syasa.

Syasa tersentak, Winda menganggukkan kepalanya sorot matanya mengatakan apa yang terjadi.

"Lo kenapa sih? Galau yah lo?" selidik Winda.

Syasa mengedikkan bahunya cuek. Syasa enggan membahas itu. Syasa bangkit dari kursinya. Winda menahan lengan Syasa menuntut Syasa tetap duduk di kursinya. Syasa menghela napasnya lelah, bokongnya kembali menempel di kursi.

"Lo gak bisa gitu dong, Sya. Lo mesti cerita sama gue, jangan pendam masalah lo sendiri gak baik bisa-bisa jadi penyakit."

Syasa terdiam sejenak, matanya melirik wajah Winda begitu penasaran.

"Gue putus," jawabnya enteng.

Mata Winda melebar, "putus? Lo serius?" tanyanya memastikan jika pendengarannya tak salah.

Syasa mengangguk lirih, bukannya sedih Winda justru sebaliknya terpekik senang. Winda memeluk Syasa, yang ada di pikiran Winda adalah Syasa terbebas dari Jody.

"Pokoknya lo harus traktir gue akhirnya lo udah putus astaga gue senang Sya,"

Fia memukul lengan Winda keras membuat empuhnya meringis.

"Buset lo, senang amat liat teman putus yang ada itu lo minta traktir kalau orang jadian," semprot Fia.

Winda mengerucutkan bibirnya. Merasa tak terima ia pun mengelak perkataan Fia dengan lantang.

"Eh tapi kasus ini berbeda. Ini lebih senang dari pada dengar orang jadian, kenapa? Karena Syasa emang harus putus sama si Jody itu, lagian buat apa pertahanin cowok brengsek kayak Jody,"

"Tapi Wind, lo gak bisa dong nilai orang gitu aja belum tentu kan apa yang lo pikirin itu benar, jatuhnya entar fitnah lho," balas Fia masih nada normal.

Winda menggeleng keras, "nggak, dia emang brengsek Fia,"

"Emang lo punya bukti?" tantang Fia.

Winda mengedipkan matanya, kalau itu ia memang tidak punya bukti tapi sejauh ini setiap kali Syasa cerita menurutnya Jody memang brengsek dan tidak pantas bagi Syasa.

"Tuhkan, jangan suudzon sama orang," timpal Fia.

"Idih gak pokoknya dia gak cocok sama Syasa udah lah, syukur Syasa sama Jody udah putus," kukuh Syasa.

Sudah cukup, Syasa tidak tahan melihat dan mendengar perdebatan Fia dan Winda. Syasa bangkit dari duduknya, ia akan pergi menemui Gara untuk mengembalikan jaket milik Gara. Winda dan Fia mengikuti Syasa dari belakang.

Syasa berjalan menuju warung mang Supri, hanya di sana lah ia bisa menemukan Gara. Syasa turun dari mobil, sedangkan Winda dan Fia tetap berada di dalam namun mereka membuka sedikit kaca mobil. Syasa celingukan memasuki warung karena banyak motor yang terparkir di pekarangan depan warung termasuk motor Gara.

"Kok gue deg-degan gini yah?" gumamnya pada diri sendiri. Syasa mengembuskan napasnya berkali-kali seperti sedang menghadapi sebuah masalah saja. Kaki kanan Syasa melangkah lebih awal, jantungnya berdebar saat perlahan tubuhnya masuk ke dalam warung.

Tubuh Syasa hampir saja terjungkal namun gerakan tangannya lebih cepat memegang pintu, seorang gadis masuk ke dalam warung dengan pecicilan.

"Astaga hampir aja gue jatuh," desahnya memperbaiki posisi berdirinya menjadi kembali tegak.

"Hati-hati dong gak liat kalau ada orang?" timpal Syasa kesal. Seketika mata Syasa membesar dan tangannya sontak menutup mulutnya yang cablak itu. Syasa tidak bisa menahan kekesalannya padahal ia berada di tempat perkumpulan Gara.

Bukan hanya gadis yang menabrak Syasa tapi semua orang yang berada di dalam situ ikut menoleh. Syasa mengumpat dalam hati meruntuki kebodohannya sendiri.

"Sial. Nah kan oon sih,"

Dea-gadis yang menabrak Syasa, berjalan mendekati Syasa. Dea tersenyum canggung, ia sadar telah berbuat salah seperti seharusnya ketika seseorang berbuat salah harus meminta maaf dan itu lah yang dilakukan Dea.

"Maaf gue nggak sengaja, lo nggak papa kan?"

Syasa menggelengkan kepalanya seraya membalas senyum Dea walau itu sedikit terpaksa tapi tidak etis bila Syasa bersikap sinis lagi pula Dea telah meminta maaf. Mata Dea memicing pada jaket berada di tangan Syasa, Dea seperti mengenali jaket itu. Dengan hati-hati ia meraih jaket itu.

"Ini seperti punya Gara," ujarnya pelan.

"Iya ini punya Gara," jawab Syasa. Langkah kaki Syasa maju selangkah tapi terhenti. Dea lebih dulu mengambil alih jaket itu dan memberikannya pada Gara padahal, Syasa ingin mengembalikannya secara langsung.

"Kok jaket lo bisa ada di dia?" tanya Dea penasaran.

Gara tak menjawab, ia malas berkata apa pun. Menjawab pertayaan Dea akan semakin melebar karena Dea tidak akan berhenti sebelum ia puas. Lebih baik Gara diam.

Di ambang pintu, Syasa memainkan jari-jarinya bingung harus berbuat apa. Heri baru saja datang melihat suasan warung sedikit canggung dan aneh. Apalagi ia melihat Syasa berdiri seperti patung. Heri berdiri bertolak pinggang di depan Syasa. Heri mengedipkan satu matanya menggoda Syasa.

"Eh neng Syasa, cari abang yah? Nih abang udah datang maaf yah telat, aduh eneng tayang," Heri mencolek dagu Syasa.

Syasa merasa jijik, ia memundurkan kepalanya. Syasa hendak berbalik badan tapi di cegah oleh Gara.

"Tunggu," suara itu menghentikan Syasa. Gara bangkit dari kursi plastik yang ia duduki. Gara meraih pergelangan tangan Syasa dan menuntunnya keluar.

Gara memandang lekat wajah Syasa. Mata tajam Gara seakan menelanjangi wajah Syasa saat ini. Tatapan itu begitu lekat dan tajam. Ada yang berbeda dari wajah Syasa. Gara meraih kacamata yang bertengger di pangkal hidung gadis itu.

"Kenapa?" hanya satu kata yang keluar dari bibir Gara.

Syasa menggigit bibir bawahnya gugup, ia tak harus menjawab apa. Syasa mengerti maksud Gara tapi tidak mungkin jika ia menjawab jujur sangat konyol.

"Di marahin?" Gara menaikkan satu alisnya.

Syasa menggelengkan kepala, "nggak kok,"

"Terus?"

"Eh, itu-aku semalam pusing jadi kurang tidur," jawaban cukup masuk akal.

"Serius?" tanya Gara memastikan Syasa tidak berbohong.

Syasa harus mengalihkan pembicaraan jangan sampai Gara bertanya lebih jauh.

"Cie penasaran, ih awas lho berawal kepo jadi keterusan,"

Gara bergidik cuek. Ia tak menjawab hanya membalikkan tubuh kembali memasuki warung mang Supri. Syasa terkekeh geli sekaligus mendesah lega akhirnya jantungnya bisa berdetak normal. Sedari tadi jantungnya berdebar dan itu selalu ia rasakan setiap berada di dekat Gara.

"Gue kenapa dah, jangan sampai gue kena serangan jantung aduh, Gara harus gue hindari mulai sekarang gue nggak mau mati muda. Ih amit-amit," celoteh Syasa.

Tanpa Syasa sadari, Winda dan Fia berdiri di belakang Syasa dan itu menjadi salah satu alasan Gara meninggalkan Syasa.

"Si oon, lo bukan kena serangan jantung gila. Lo itu mulai ada hati sama Gara," celetuk Winda.

"Idih apaan lo! Sotoy!"

"Salah satu tanda orang jatuh cinta adalah jantung berdebar saat berada di sekitar seseorang yang kita suka dan sekarang lo sedang alami itu," jelas Winda mempertegas ucapannya.

"Kalau itu sih gue setuju, cuma nggak terlalu dini lo jatuh cinta Sya? Apalagi kan lo baru putus, jangan bilang lo suka sejak lama?" ujar Fia.

"Ih nggak yah! Kalian berdua sok tau ih," suara Syasa mulai melengking.

"Biasanya orang yang jawabnya ngegas berarti apa? dia itu sedang bohong dan lo ngelakuin itu, sampai kapan lo mengelak Sya. Jangan sampai lo baru sadar sama perasaan lo sendiri ketika si doi udah jalan sama cewek lain. Kalau soal mantan mah udah dibuang aja ke laut noh, kalau kata orang mah, 'mantan buang pada tempatnya',"

Syasa mengedikkan bahunya tak mengerti. Ia lebih dulu menaiki mobil dan disusul Winda dan Fia.

---

Hayo siapa yang berada di team Winda atau Fia? Ditunggu vote+commentnya yah makasih❤

---

RA

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

lama bgt c mecin liat c judi selingkuh.biar puas sklian

2022-08-03

0

raissa

raissa

lanjut

2020-09-19

0

Nathaliee huang

Nathaliee huang

aku mampir lagi kak semangat ya

2020-05-29

3

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!