—13— Putus?

Syasa mondar mandir menunggu Jody yang tak kunjung datang. Syasa menelepon Jody namun pria itu tidak mengangkatnya. Syasa kebingungan apalagi saat ini ia menunggu di persimpangan jalan. 15 menit yang lalu ia telah pamit pulang, ada yang menawarkannya tumpangan tapi Syasa menolak. Karena ia pikir Jody akan segera datang menjemputnya tapi apalah yang terjadi sampai sekarang Jody tak kunjung datang membuatnya letih.

Lengan Syasa yang terekspos diterpa angin dan bagian leher jenjang putihnya pun, ia tutupi menggunakan tangannya. Syasa mulai kedinginan. Syasa maju selangkah, tak ada angkutan umum yang lewat mengingat ini telah jam 10 malam. Syasa menelepon Arya tapi ponsel adiknya tidak aktif. Syasa takut menelepon mama atau papanya karena ia tahu mereka akan marah besar bila tahu Jody meninggalkannya sendirian.

Dan sialnya, aplikasi ojek online miliknya tak bisa digunakan. Entah apa yang terjadi. Syasa butuh bantuan, Syasa harus pulang secepatnya. Syasa mengecek ponselnya membuka kontak teleponnya siapa saja kiranya yang bisa membantunya saat ini. Syasa mendesah frustrasi ketika 3 kontak sahabatnya tak ada yang menjawab.

Syasa membuka instagram, satu hal yang membuat matanya berhenti bergerak adalah sebuah postingan terbaru menampakkan sebuah wajah tampan tanpa ekspresi dari pria yang beberapa akhir ini menolongnya. Syasa tidak punya pilihan lain, ia harus menahan rasa malu dan gengsinya. Ia sangat membutuhkan bantuan pria itu.

Syasa bergerak cepat mengirimkan pesan singkat melalu direct message ke pria itu. Syasa menggigit bibirnya menunggu balasan pria itu.

Di sisi lain, Gara berada di rumahnya. Ia baru saja tiba dari rumah Ciko. Gara kali ini ingin beristirahat sepuasnya mengingat besok adalah hari libur. Gara baring di atas kasur empuknya sembari mengotak-atik ponselnya. Gara pun baru saja meng-upload fotonya, entah mengapa kali ini ia ingin mengunggah fotonya padalah Gara sangat jarang melalukan hal itu. Tiba-tiba saja, Gara mendapatkan sebuah pesan di instagramnya.

Tanpa pikir panjang, Gara bangkit dari ranjang. Meraih jaketnya dan kunci mobil. Kaki jenjang Gara melangkah lebar keluar dari kamar. Di tangga, Gara berpapasan dengan Bayu.

Bayu menghalau langkah Gara, Bayu tentunya akan menyelidiki Gara terlebih dulu. Bayu memicingkan matanya memandang Gara yang memasang wajah tanpa ekspresi sama sekali.

"Lo mau ke mana malam-malam gini?" tanya Bayu.

"Bukan urusan lo, jangan sampai lo buang waktu gue lebih banyak," jawan Gara menggeser bahu Bayu agar menyingkir dari hadapannya.

Bayu mendesah melihat punggung Gara yang perlahan menghilang. Terdengar suara decitan mesin mobil, Bayu menggelengkan kepalanya dan membalikkan tubuhnya menuju kamarnya.

Tepat di sebuah persimpangan jalan di daerah senopati, Gara menghentikan mobilnya tepat di depan seorang wanita memakai dress berwarna hitam. Gara turun dari mobil, ia membuka jaket miliknya dan memasangkannya di tubuh wanita itu.

Tak ada kalimat keluar dari bibir wanita itu saking kagetnya. Wanita sungguh tak percaya jika pria itu benar-benar datang menjemputnya dan kali ini ia dipakaikan jaket pria itu. Di dalam mobil, bibir Syasa masih bungkam. Perilaku Gara membuatnya terpengarah. Seakan mengerti keadaan Syasa, tanpa mengeluh kedinginan Gara langsung menyelimuti bahu polosnya menggunakan jaket miliknya.

"Ehem," Gara berdeham keras guna memecahkan lamunan Syasa yang sedari tadi memandangnya.

Syasa tersentak kaget. Ia menggaruk keningnya salah tingkah. Gara memandangnya dengan alis terangkat. Syasa menyengir kuda dan memberitahukan alamat rumahnya pada Gara.

Gara melajukan mobilnya tak ada perbincangan terjadi. Kali ini, Syasa lebih diam lagi pula ia tidak tahu harus berkata apa. Sampai saatnya, mereka telah tiba. Syasa hendak turun namun dicegah oleh Gara. Syasa mengecilkan matanya seolah berkata 'ada apa'.

Gara turun lebih dulu dari mobil dan membuka kan pintu mobil bagi Syasa. Gara meraih pergelangan tangan Syasa sembari berjalan masuk. Syasa belum mengerti namun begitu ia tetap berjalan di samping Gara.

Gara mengetuk pintu. Selang beberapa saat, pintu terbuka menampakkan papa Syasa dengan ekspresi datar. Syasa menelan ludahnya dalam hati ia berdoa agar ia tidak mendapatkan amukan dari papanya.

"Maaf karena Syasa pulang malam,"

Rahang Gunawan mengeras, ka menajamkan matanya memandang Gara tanpa kedip. Syasa menggigit bibirnya takut, ia memikirkan kemarahan Gunawan bahkan bisa saja papanya akan memarahi Gara juga padahal Gara sama sekali tidak bersalah justru Gara menolongnya.

"Masuk!" titah Gunawan tak terbantahkan.

Syasa melirik Gara sekilas lalu melangkah masuk menuruti perintah papanya. Sedangkan Gara masih berdiri di depan pintu. Setelah Syasa masuk, tanpa kata lagi Gunawan langsung menutup pintu rumahnya.

"Pa—"

"Naik ke kamar. Besok kamu harus jelaskan semua ke papa," ucap Gunawan tanpa ingin dibantah.

Syasa mendesah pasrah lalu berlari menuju kamarnya. Syasa merogoh tasnya guna mengambil ponsel, ia lupa mengucapkan terima kasih. Syasa mengintip di balik jendela, rupanya Gara belum pergi. Syasa membuka jendela.

"Gara?" teriaknya.

Langkah kaki Gara terhenti. Gara menoleh ke atas dan menampakkan wajah Syasa muncul di balik jendela.

"Terima kasih," ucap Syasa lagi.

Gara tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Pria itu memutar tubuhnya kembali memasuki mobilnya. Syasa memonyongkan matanya karena tak mendapatkan reaksi apa pun dari Gara. Syasa menutup jendela beserta tirainya. Syasa melangkahkan kakinya lalu menaiki kasur empuknya. Syasa termangu mengingat kejadian beberapa menit yang lalu ia alami bersama Gara walau tak ada moment special namun perhatian Gara membuatnya merasakan seperti wanita special bagi Gara.

Spontan tangan Syasa menyentuh pundaknya yanh terbungkus jaket milik Gara. Syasa menepuk jidatnya lupa mengembalikan jaket itu.

"Astaga, bodo ih. Ya udah lah besok aja, eh tapi di cuci dulu deh," Syasa mencium jaket milik Gara nyatanya jaket itu sama sekali tidak bau justru jaketnya sangat wangi. Parfumenya telah bercampur dengan wangi parfume Gara. Wanginya sangat memabukkan.

Syasa terdiam, senyumnya mengembang tatkala mengingat Gara begitu peduli dan perhatian padanya. Sejak awal bertemu dengan Gara, rasanya ia selalu merasa aman bagaimana tidak Gara selalu menolongnya. Dan senyum itu memudar ketika ponselnya berdering dan menampakkan nomor ponsel milik Jody.

Syasa tidak mengangkatnya. Lagi pula Syasa marah pada Jody.  Syasa memilih membersihkan diri dan segera tidur. Malam ini, Syasa ingin tidur nyenyak tanpa gangguan siapa pun termasuk Jody.

Di sisi lain, Gara menghentikan mobilnya ketika melihat sebuah mobil yang ia kenali. Bagaimana tidak, ia pernah menolong pemilik mobil itu. Gara turun dari mobilnya dan berjalan mendekati mobil. Gara memicingkan matanya, ia bisa menangkap sosok dua anak manusia berbeda jenis kelamin sedang bercumbu mesra. Gara memandang jijik tanpa sepasang insan manusia tersebut sadari. Gara membalikkan tubuhnya tak ingin berlama-lama melihat adegan menjijikkan itu.

"Brengsek!" umpatnya.

                               

                                    ****

Keesokan paginya, Syasa bangun. Benar saja malamnya begitu nyenyak bagaimana tidak ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak diganggu oleh Jody. Syasa muak mendengar perkataan maaf dari Jody pada akhirnya akan mengulangi hal yang sama lagi. Malam itu, bukan kali pertama Jody meninggalkannya sudah sering Jody melakukan itu. Dan Syasa selalu memaafkan Jody yang terus merengek minta maaf padanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi tapi kenyataannya tidak.

Syasa menuruni ranjang berjalan menuju kamar mandi membasuh wajahnya. Hari ini, ia memiliki jadwal kuliah 10 pagi masih ada waktu untuk bersantai ria. Syasa kemudian keluar kamar. Di ruang makan semua anggota keluarganya telah berkumpul. Syasa mengambil satu kursi tepat di samping Arya. Syasa meneguk air putih. Tatapan Gunawan tertuju pada Syasa menyadari akan hal itu, Syasa tertunduk dalam hati menahan takut.

Selama beberapa menit terjadi keheningan. Semua menikmati sarapan mereka dalam diam tanpa berani bersuara. Pagi ini terasa tegang bagi Syasa. Arya melirik sekilas ke arah Syasa, semalam ia melihatnya di mana Gara mengantar Syasa pulang bukan Jody.

Arya penasaran mengapa itu bisa terjadi, bukan kah Syasa pergi bersama Jody tapi kenapa semalam Gara lah yang mengantar Syasa pulang. Usai sarapan, Gunawan langsung menyuruh Syasa mengikutinya menuju ruang keluarga. Sedangkan Arya sengaja melambatkan aktivitasnya sebelum ke sekolah agar bisa mendengar obrolan Gunawan dan Syasa.

Anggun menarik telinga Arya dan menyuruh anaknya segera berangkat.

"Cepat berangkat,"

"Bentar ma,"

Anggun memicingkan matanya, ada yang mencurigakan dari Arya tidak seperti biasanya. Setelah Arya sarapan biasanya Arya tidak akan berlama-lama di rumah namun sekarang Arya sengaja mengulur waktu.

Anggun menarik telinga Arya membuat anaknya melengking.

"Aduh maaa sakit," ringis Arya.

"Pergi sana!" titah Anggun.

"Iyaiya Arya berangkat, Assalamualaikum."

Arya mencium punggung tangan Anggun setelah itu beralih pada Gunawan. Arya mencium pipi Syasa sembari membisikkan sesuatu.

"Putusin aja," bisiknya.

Syasa menarik telinga Arya dan kedua kalinya Arya meringis.

Gunawan memandang lurus ke arah Syasa yang tertunduk sembari memainkan jarinya takut.

"Jelaskan pada semuanya!" seru Gunawan tanpa basa-basi sedikit pun.

Syasa mendongakkan kepalanya memandang takut sang papa. Lidah Syasa keluh untuk menjelaskan lagi pula ia juga bingung. Syasa yakin jika Gunawan mengetahui fakta sesungguhnya maka hubungannya bersama Jody akan terancam putus. Gunawan telah memberikan peringatan padanya.

"Ke mana Jody semalam? Kenapa kamu pulang bersama pria lain? Apa yang terjadi? Papa tidak pernah mengajarkan mu menjadi wanita seperti itu Syasa,"

"Jody—"

"Assalamualaikum," potong Jody. Pria itu datang ke rumah Syasa untuk meminta maaf pada Syasa dan Gunawan.

Mata Syasa melebar. Jody menatapnya namun Syasa membuang muka masih kesal pada Jody.

"Semalam saya lalai. Semalam saya mendapatkan telepon dari sepupu saya untuk menjemputnya dan sepupu saya merengek untuk ditemani jalan dan saya pun terpaksa meninggalkan Syasa. Saya minta maaf om atas kelalalian saya,"

"Dan membiarkan Syasa pulang bersama pria lain? Bagaimana kalau pria itu berniat jahat sama anak saya? Huh? Atau bagaimana tidak ada yang mengantar Syasa pulang? Apakah kamu memikirkan hal itu?"

"Pa—"

Gunawan menaikkan tangannya pertanda agar Syasa diam.

"Ini bukan kali pertama kamu lalai menjaga Syasa. Dan ini terakhir kalinya, saya tidak mau hal ini terus terulang. Mulai sekarang kalian tidak akan berhubungan lagi. Saya tidak akan pernah membiarkan Syasa menjalin hubungan bersama pria yang tidak bisa melindunginya sama sekali, sekarang kamu lebih baik pergi dari rumah saya!"

Syasa menutup mulutnya. Ini lah yang terjadi. Syasa sudah menduga. Syasa membalikkan tubuhnya berlari menaiki kamarnya tanpa bersuara. Sedangkan Jody melakukan hal yang sama namun sebelum itu ia masih berusaha menjelaskan dan meyakinkan Gunawan tapi apalah daya, Gunawan bersikukuh menginginkan Jody dan Syasa putus.

Di balik pintu, Arya tersenyum puas bahkan bersorak ria. Ini lah yang Arya tunggu dari dulu. Jika ia tidak berhasil membujuk Syasa putus dari Jody maka Gunawan bisa. Arya tertawa ketika Jody melewatinya membuat Jody berhenti.

Arya maju mendekati Jody. Ia memandang Jody tak suka. Ekspresi itu tak pernah berubah ketika melihat Jody.

"Lo emang gak pantes untuk kak Syasa. Cowok brengsek tukang selingkuh dan gak bisa jagain kak Syasa sama sekali,"

Jody mengepalkan tangannya kuat. Rasanya ia ingin memberikan pukulan keras di wajah Arya tapi ia tidak ingin merusak reputasinya di depan orang tua Syasa. Jody memilih diam dan pergi meninggalkan rumah Syasa dengan perasaan dongkol.

---

Big love ❤

---

RA

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Yeeezzzz...💪💪💪💪👏👏 Kenapa peran Syasa di sini BODOH banget ya,Heran aku,Pantesan senangndi kibulin, Ni anak oon kebangetan..

2024-03-21

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Wkwkwkwk Jody kan..

2024-03-21

0

Ney Maniez

Ney Maniez

yahh jd cwe jgn oon oon bgt lah

2022-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!