—12— Selingkuh?

---

Maaf updatenya telat yah. Semoga kalian masih menunggu cerita ini.

Please, vote+comment

---

Arya baru saja keluar dari sebuah minimarket membeli minuman kaleng. Arya mengalami dehidrasi akibat cuaca yang begitu panas. Arya duduk di atas motornya memandang ke arah jalan raya. Mata Arya memicing ketika mendapati sebuah mobil yang ia kenali. Arya memfokuskan pandangannya. Mobil itu berhenti tepat di depan butik. Seorang pria turun dari mobil, mata Arya melebar kala melihat sosok itu. Ia semakin kaget saat pria itu membukakan pintu mobil dan keluar lah seorang wanita memakai dress selutut berwarna cokelat.

Arya berdiri, kakinya melangkah ke depan hingga seberang jalan memastikan bahwa ia tak salah liat. Arya mengepalkan tangannya kuat melihat dua manusia berbeda jenis kelamin sedang berpegangan tangan mesra. Arya hendak menghampirinya namun, ia urungkan. Arya berpikir sejenak, hal bodoh jika ia langsung menghampiri orang tersebut apalagi memaki dan mengklaim jika pria itu berselingkuh. Apa yang dilihatnya itu belum memberikan bukti kuat. Tapi ia yakin kalau pria selingkuh. Arya tidak akan membiarkan hal itu terjadi apalagi sampai menyakiti hati kakaknya.

Arya menaiki motornya dan melajukannya menuju rumahnya. Tak cukup waktu lama, Arya telah sampai. Kebetulan jarak minimarket yang ia singgahi lumayan dekat dengan rumahnya. Arya memarkirkan motornya di halaman rumah. Arya melangkah besar masuk ke dalam rumah, objek penampakan yang pertama Arya lihat adalah sang mama sedang asik menonton tv di ruang keluarga.

Arya memberi salam sembari mencium pipi mamanya.

"Kakak di rumah?" tanyanya pada Anggun.

"Iya lagi di kamar kayaknya, emang kenapa?"

"Nggak kok, Arya ke kamar yah,"

"Jangan lupa makan siang mama udah masak tuh ada di meja makan,"

"Iya ma," jawab Arya. Tanpa menyimpan tasnya terlebih dulu di kamarnya. Arya langsung memasuki kamar Syasa.

Arya mengetuk pintu. Di balik kamar Syasa berseru menyuruh Arya masuk saja. Syasa sedang asik menonton film di laptop. Arya ikut bergabung di atas ranjang bersama Syasa. Arya mengikut arah pandang Syasa ke layar laptop setelah itu Arya memandang wajah Syasa sembari memikirkan cara agar memberitahukan apa yang ia lihat 30 menit yang lalu.

"Kak?"

"Hm," gumam Syasa sebagai jawaban tanpa mengalihkan pandangannya. Ia masih fokus menonton film. Hari ini, Syasa tidak memiliki jadwal kuliah, maka dari itu ia bisa bersantai ria di rumah.

"Kakak nggak ada rencana keluar hari ini?" Arya berusaha membuka topik agar memudahkannya memberitahu Syasa mengenai hal itu.

"Iya, emang kenapa?" Syasa melirik sekilas ke arah Arya.

"Sama siapa?"

"Pacar lah, gimana sih. Nggak kayak kamu jalannya sendiri mulu. Nenek-nenek aja punya gandengan masa kamu nggak? Hahahhaha,"

"Idih receh banget," cibir Arya ketika Syasa berusaha melawak sembari meledeknya.

"Putusnya kapan sih kak? Aw—"

Syasa memukul pundak Arya kesal.

"Kak, aku pengen ngasih tau sesuatu. Tapi ini Arya serius soal si Judi,"

Syasa memicingkan matanya. Syasa menjeda sejenak film yang ia tonton dan melipat kedua tangannya memandang Arya penasaran.

"Tadi Arya lihat Judi ke butik bareng cewek kak, mana mereka mesra lagi. Arya yakin kalau dia itu selingkuh pokoknya kakak harus putusin Judi," tutur Arya.

Syasa menghadiahkan pukulan lagi di pundak Arya. Syasa mendelik kesal mendengar perkataan Arya yang menurutnya omong kosong saja.

"Kamu pikir kakak percaya? Gak mungkin Jody selingkuh, udah lah. Kamu ini terlalu sering berpikir negatif tentang Jody. Siapa tahu cewek yang kamu liat itu mungkin sepupu atau adeknya. Jangan suudzon sama orang,"

Arya memutar bola matanya, hal ini lah yang dipikirkan Arya. Syasa pasti tidak akan mempercayainya begitu saja. Entah apa yang Jody berikan pada Syasa sehingga sangat sulit membuat Syasa mempercayai omongannya. Syass bangkit dari ranjang berjalan keluar hendak mengambil air es agar tenggorokannya sejuk setelah merasa panas dan kering mendengar perkataan Arya.

Arya mendesah frustrasi, ia melirik mengamati isi kamar Syasa guna mencari ide agar memisahkan Syasa dan Jody. Arya terlanjur tak suka pada Jody lagi pula ia memiliki alasan kuat untuk itu. Arya merasakan getaran kecil, ia meraih ponsel Syasa yang bergetar. Arya tidak kesulitan membuka ponsel Syasa sebab ia mengetahui passwordnya.

Banyak pesan masuk dari grub kelas Syasa. Arya enggan membuknya. Ada satu notifikasi muncul membuat Arya membatalkan niatannya menaruh ponsel Syasa kembali.

"AhyanGarasya started a live video. Watch it before it ends!"

Nama itu menarik perhatian Arya—cowok itu, melihat siaran langsung dari akun yang bernama 'AhyanGarasya' mata Arya membulat. Ia mengenali salah satu wajah muncul di layar. Arya tersenyum penuh arti. Sebuah ide cemerlang pun melintas di otaknya.

                                     ****

Di warung mang Supri, The Trouble Maker sedang berkumpul seperti biasa. Warung mang Supri tidak pernah sepi, mang Supri beserta istrinya telah menganggap The Trouble Maker seperti anaknya sendiri.

Mereka saat ini sedang berdiskusi mengenai rencana besar yang akan mereka lakukan. Musuh bebuyutannya ternyata tak pernah puas membuat masalah. Kemarin salah satu anggota The Trouble Maker di kroyok oleh musuh. Dan anggota lainnya beserta Gara tentunya tidak terima. Gara tidak akan membiarkan temannya diperlakukan seperti itu. Dasar pengecut.

Rendi dan Heri hari ini tidak fokus memerhatikan Gara dan beberapa anggota lainnya menyusun rencana. Rendi dan Heri lebih tertarik mengotak-atik ponsel Gara selagi mendapat kesempatan memegang ponsel Gara sepuasnya. Lagi pula, kedua pria itu masih penasaran dengan hubungan Gara dan Syasa.

Heri dan Rendi Mencari-cari bukti apa pun mengenai hubungan Syasa dan Gara. Di whatsapp, line dan aplikasi chat lainnya tidak menemukan usaha Gara mendekati Syasa. Heri dan Rendi berbisik membicarakan Gara.

"Giliran perang, tawuran, adu jotos tuh anak jago, tapi kalau masalah cewek kalah sama gue hahahah," bisik Heri.

Heri merasa Gara tidak memiliki nyali mendekati cewek secara langsung. Sikap Gara kemarin seolah mengatakan akan mendekati Syasa tapi Gara belum menunjukkan usahanya dalam mendekati Syasa. Heri sebenarnya setuju-setuju saja apabila Gara ingin mendekati Syasa walau gadis itu telah memiliki pacar. Katanya, orang nikah aja masih bisa ditikung apalagi pacaran.

Bosan, Heri memutuskan melakukan siaran langsung menggunakan akun instagram Gara. Baru semenit mereka live telah di tonton oleh 30 orang dan terus meningkat. Mata Heri terbuka lebar, ketika sebuah nama ikut bergabung di siaran langsung. Dan akun itu melambaikan tangan.

"Eh neng Syasa. Hai cantik," kata Heri tersenyum lebar.

'Garanya mana?'

"Abangnya lagi sibuk tuh lagi meeting," jawab Heri melirik Gara sekilas yang sedang serius berbicara.

'Yah, nitip salam sama Gara'

"Widih, oke bebi bakalan di salamin tapi cium dulu dong," Heri tersenyum menggoda dan mengarahkan bibirnya ke depan sembari dimonyongkan.

Rendi memukul bahu Heri yang genit. Rendi memberikan pelototan tajam membuat Heri terkekeh dan mencolek dagu Rendi.

"Ih ayang cemburu,"

Rendi bergidik geli.

"Kita tidak akan menyerang sebelum mereka maju terlebih dulu. Tidak ada yang boleh keluar dari zona yang sudah ditentukan. Gue nggak mau ada gerakan tambahan. Jangan pernah melakukan hal tanpa instruksi atau pun arahan. Jangan sampai kejadian waktu itu terulang kembali dan kita menjadi kalah,"

Semua mengangguk mendengarkan penjelasan dari Gara—pria itu melirik ke arah Heri dan Rendi sibuk sendiri tanpa memikirkan kondisi dan situasi serius saat ini. Gara memicingkan matanya melihat layar ponselnya.

"Matiin," seru Gara.

Heri dan Rendi mendongakkan kepalanya memandang wajah Gara. Heri menyengir lebar tanpa dosa dan segera mematikan siaran langsung.

Heri memberikan ponsel milik Gara dan memokuskan pikiran mereka pada diskusi. Gara mengecek ponselnya dan gerakan matanya terhenti ketika melihat sebuah pesan masuk melalui direct message instagramnya. Gara membukanya keningnya mengernyit sembari membaca pesan tersebut.

Satu senyuman tersungging di bibirnya membuat orang-orang yang melihatnya bertanya-tanya namun begitu bagi Heri dan Rendi, keduanya bisa menebak apa yang sedang terjadi dengan Gara.

'Hi. Boleh kenalan gak?'

'Ganteng'

'😘'

'082188774502 save nomer aku yah!'

'I love youuu ❤'

Tanpa pikir panjang Gara menyimpan nomor ponsel Syasa dan otomatis telah menjadi teman kontaknya di whatsapp entah apa yang mendorong Gara menyimpan nomor Syasa.

'Eh sorry, hp gue dibajak'

'Si kunyil resek!'

'Maaf yah'

Tanpa sadar kini Gara menjadi pusat perhatian. Aura dingin yang Gara tunjukkan kini seakan mencair dan hilang. Raut wajahnya berbinar. Gara mendelik tajam saat menyadari teman-temannya memandangnya aneh. Ada yang menatapnya penuh tanya, senyum penuh arti dan tatapan jahil secara terang-terangan meledeknya siapa lagi kalau bukan Heri dan Rendi.

Gara berdeham keras agar semuanya kembali fokus.

Sementara itu, Syasa tak hentinya menarik telinga dan memukul Arya karena sudah membajak ponselnya. Arya telah membuat Syasa malu. Arya memohon agar Syasa berhenti memukulnya tapi kakaknya itu tak berhenti sama sekali malahan terus memukulnya.

"Aw—maaaaaaa, kakak lagi ngamuk. Tolongin Arya. Maaaa—" Arya berteriak kencang agar Anggun datang menolongnya.

"Nggak! Pokoknya kakak marah sama kamu! Jahat yah udah buat kakak malu!"

Anggun membuka pintu kamar Syasa, matanya terbuka lebar tatkala melihat kedua anaknya sedang bertengkar. Apalagi posisi Arya sangat tidak diuntungkan karena itu Syasa dengan leluasa menumpahkan kekesalannya pada Arya.

Anggun memisahkan kedua anaknya. Ia menarik Syasa menjauh sementara itu, Arya segera memperbaiki posisinya dan memeluk tubuh Anggun agar Syasa tidak menerkamnya lagi.

"Mama minggir, Syasa masih kesal sama Arya. Dia udah buat Syasa malu ma," Syasa berusaha menggapai tubuh Arya yang berada di belakang Anggun.

"Sayang udah ah, Arya kamu minta maaf sama kakak, ayo," Anggun menarik lengan Arya agar melepaskan pelukannya.

"Maaf yah kak," ujar Arya sembari berlari keluar kamar.

Syasa hendak mengejar Arya namun ditahan oleh Anggun—wanita itu mengelus lengan Syasa agar tenang.

"Nggak boleh gitu atuh sama adek, jadi kakak itu harus sabar dan nggak boleh jadi brutal gitu dong sayang. Lemah lembut," tuturnya pada sang putri.

"Iya banyakin sabar punya adek macam dia," dengus Syasa kesal. Perhatian Syasa teralih pada ponselnya yang berdering. Jody meneleponnya dan mengatakan akan menjemput setengah jam lagi. Syasa segera bergegas bersiap-siap. Sedangkan Anggun kembali melanjutkan aktivitasnya merapikan pakaian sang suami.

                                    ****

"Maaf lama," Syasa masuk ke dalam mobil. Hampir 15 menit lamanya, Jody menunggu sedangkan Syasa baru usai berdandan. Mereka akan pergi ke acara ulangtahun salah satu teman Jody.

Semalam, Jody telah mengabari Syasa untuk menemaninya ke sebuah acara dan untung saja Syasa tidak memiliki jadwal kuliah. Acara itu berlangsung pada pukul 5 sore hingga malam hari. Syasa terlihat cantik memakai dress selutut berwarna hitam polos memiliki potongan leher berbentuk 'v' rambutnya diurai namun bagian ujungnya di curly dan setengah rambutnya disatukan ke bagian tengah lalu dijepit dengan jepitan kupu-kupu.

Syasa melihat sebuah gelang di dashboard mobil. Syasa meraih gelang itu, matanya memicing memerhatikan benda di tangannya. Gelang itu bukan miliknya lalu milik siapa kah? Pikiran Syasa mulai aneh, perkataan Arya pun terlintas di benaknya. Jody selingkuh?

Syasa melirik Jody sedang fokus menyetir.

"Gelang ini punya siapa?" tanya Syasa selidik sembari mengangkat tinggi-tinggi gelang itu di depan wajah Jody.

Ekspresi wajah Jody terlihat kaget. Syasa semakin mencurigai Jody.

"Eng—itu," gagu Jody.

Syasa mengecilkan matanya memandang curiga Jody.

"Ah, iya itu milik sepupu aku, dia baru balik dari Singapore dan tadi aku temenin dia ke butik," jawab Jody.

"Yakin?"

Jody menganggukkan kepalanya mantap.

"Nggak percaya? Mau aku telfon dia dan bicara langsung sama kamu? Hm?"

Syasa menggelengkan kepalanya, Syasa tidak ingin berpikiran negatif lagi pada Jody. Syasa mendesah lega semoga saja Jody tidak berbohong dan menyembunyikan suatu hal padanya. Sejak awal, Syasa percaya jika Jody tidak akan melukai hatinya.

Sesampainya di tempat acara, Jody menggandeng tangan Syasa. Di sana banyak teman-teman SMA mereka. Jody dan Syasa menyapa para sahabatnya sewaktu SMA dulu. Syasa pamit pada Jody untuk menemui temannya.

"Gila, makin cantik aja lo," ujar seorang pria memakai kemeja biru laut bermotif garis vertikal.

"Ya iyalah, gimana masih betah amat jomblo," Syasa memukul pundak temannya itu.

"Males Sya, semua cewek sama aja,"

"Sorry yah, jangan bilang gitu dong, gini-gini gue cewek juga. Dasar lo, jangan-jangan lo emang udah gak minat sama cewek? Ya Tuhan, teman gue kok jadi gini," Syasa mulai mendramatiskan keadaan. Mulutnya mulai berceloteh membuat telinga Gusti sakit.

"Aelah, diam oi. Gak berubah masih sama. Oon, cerewet, konyol pantesan langgeng sama si onoh gampang dikibulin sih,"

Syasa membulatkan matanya sempurna. Perkataan itu pernah ia dengar dari mulut Winda.

"Maksud lo apa sih?"

"Dengar yah sayangku Syasa anaknya bapak dosen tapi anaknya nggak pintar. Gini yah, kalau gue bilang si onoh selingkuh lo percaya?" Gusti mendekatkan wajahnya menaik turunkan alisnya.

Syasa terpengarah. Ia menggelengkan kepalanya cepat.

"Iya, nggak lah, Jody itu cowok baik yah. Lagian gue udah pacaran lama sama dia jadi nggak mungkin dan selama ini kita selalu bareng kok jadi, mustahil lah. Lo jangan aneh deh,"

"Gue kasih tau satu hal sama lo, cowok itu punya seribu akal. Walau pun dia selalu bareng sama lo bukan berarti dia nggak punya celah untuk selingkuh. Gimana kalau dia sejak awal sudah bohong sama lo?"

"Stop!" Syasa sudah tidak kuat mendengar perkataan Gusti yang menjelekkan Jody. Bagaimana bisa Gusti berbicara seperti itu padahal, Syasa lebih tahu Jody dibandingkan Gusti.

"Gue nggak mau dengar apa pun lagi dari mulut lo, gimana pun Jody pacar gue. Dan gue jauh lebih tahu Jody kayak apa, lo bukan siapa-siapa bahkan kalian nggak saling akrab," desis Syasa menjauh meninggalkan Gusti.

Syasa mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan. Ia tidak menemukan Jody. Syasa pun bertanya pada teman Jody.

"Tadi dia bilang mau keluar bentar tapi balik lagi kok,"

Syasa menggaruk keningnya. Sangat aneh, ke mana Jody pergi. Syasa berusaha menelepon Jody tapi pria itu tidak mengangkatnya. Syasa akhirnya menikmati pesta itu tanpa Jody, padahal Jody yang mengajaknya ke sini. Syasa bahkan tidak mengetahui jika salah satu temannya mengadakan pesta.

---

RA

---

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Dasar Bodoh..udah di bilangin juga,gak percaya..saat liat dgn mata kamu sendiri,ntar nangis kejer2..🙄🙄🙄

2024-03-21

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Udah ku duga Jody pastinpunya pacar lain selain Syasa..Syasa nya aja yg Bodoh mau2 nya masih bertahan dgn kelakuan Jody,VINTA BOLEH, BODOH JANGAN,SAYANG BOLEH BEGO JANGAN..
Harusnya Arya videoin aja sebagai bukti..Ntar Syasa gak bakal percaya kalo ngomong tanpa bukti..

2024-03-21

0

Ney Maniez

Ney Maniez

😒😒😒😒

2022-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!