—11— Akan kah?

---

Vote dulu baru baca yah. Kalau udah baca boleh dong di comment perasaan kalian setelah baca chapter ini.

Vomment kalian sangat berarti ❤

---

Syasa menarik napasnya secara perlahan dan mengembuskannya melalui mulut. Syasa mengontrol detak jantungnya yang sedari tadi berdetak kencang. Aliran darahnya seakan berdesir, dadanya sesak seakan kekurangan oksigen. Ok, mungkin ini cukup alay. Tapi ini lah yang dirasakan Syasa saat berdekatan dengan Gata entah apa yang terjadi pada dirinya.

Syasa mengayunkan langkahnya pelan, gadis itu berjalan dalam kesadaran yang setengah melamun. Kedua tangannya terlipat di atas dadanya. Jantungnya masih berdetak kencang rupanya. Syasa menghentikan langkahnya, ia menolehkan kepalanya ke belakang. Syasa melebarkan matanya, oh tidak rupanya Gara masih setia berdiri dan memandangnya dari jarak kejauhan.

Syasa segera memutar kembali kepalanya. Syasa mengembuskan napasnya lagi. Syasa melanjutkan langkahnya, ia tidak bisa berada lama-lama di dekat Gara.

"Gila, gue kenapa yah. Aduh, ya Tuhan jantung aku rasanya pengen loncat. Tuh cowok emang cocok namanya Gara. Iya gara-gara dia gue jadi aneh, dasar pembuat masalah. Awas aja kalau gue sampe masuk rumah sakit cuma gara-gara dia jantung gue jadi bermasalah," cerocosnya.

Dertt..

Ponsel berlambang apel digigit milik Syasa bergetar. Syasa merogoh tasnya mengambil ponselnya. Syasa membuka aplikasi whatsapp mengecek pesan masuk. Syasa membulatkan matanya, tangannya memukul jidatnya sendiri sembari bergumam tak jelas.

"Mati gue, aduh,"

Syasa menaruh kembali ponselnya ke dalam tas dan segera berlari menuju parkiran luar kampus. Sebuah mobil putih honda Jazz terparkir sempurna. Syasa membuka pintu mobil dan memasang senyumannya.

"Maaf tadi dosennya lama," bohong Syasa. Terpaksa ia berbohong jika tidak kekasihnya sudah pasti mengomel.

Jody tak membalasnya. Jody menyalakan mobil dan mulai melajukannya dengan kecepatan standar.

"Tumben diam gak ngomel," gumam Syasa pelan.

Jody mendengarnya. Ekor matanya bergerak ke samping melirik Syasa.

"Jadi kamu maunya aku ngomel?"

"Eh, nggak. Jangan dong. Ribet kalau kamunya ngomel,"

Syasa menyalakan radio. Gadis itu mengotak-ngatik radio mencari siaran yang ia sukai. Syasa menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Syasa memejamkan matanya sejenak, rasa kantuk menyerangnya.

Jody menangkap suatu keanehan di bagian leher Syasa. Jody memerhatikan lekat Syasa. Satu tangan Jody menyentuh leher Syasa yang ditutupi oleh kain kasa.

Syasa terkejut merasakan sentuhan Jody. Syasa membuka kedua matanya.

"Ini kenapa?" tanya Jody lalu mengalihkan kembali pandangannya ke depan.

"Oh ini, kayaknya aku kena pisau preman itu deh semalam. Jadinya kegores," jawab Syasa masih dengan nada santai.

"Makanya aku udah bilang kan diam aja nggak usah banyak bicara. Itu tuh, kalau kamu nggak dengar, keras kepala,"

Ok. Ini lah kata-kata cukup pedas Syasa dengar. Syasa sedih? Oh tidak, sudah sangat sering ia diperlakukan seperti itu. Jody selalu saja menyalahkan dirinya. Menurut Jody, Syasa itu gadis manja, ceweret, oon, nggak bisa diam alias pecicilan dan keras kepala. Syasa tidak memungkiri namun terkadang ia juga kesal kalau Jody selalu saja meremahkannya apalagi membentaknya.

Ingin putus? Hm, belum kepikiran bagi Syasa. Sayang, menjadi faktor utama Syasa bertahan. Lagi pula, Jody kadang kala bisa membuat Syasa melupakan sisi negatif Jody karena disuguhkan perhatian dan berbagai bujuk rayuan. Bodoh, semua orang pun menjuluki Syasa bodoh dan oon. Tapi apa boleh buat, tak ada yang bisa merubah Syasa sekali pun semua orang bersikeras menyuruhnya putus maka Syasa akan bertahan. Syasa selalu memberikan peluang dan kesempatan bagi Jody untuk berubah dan ia berharap itu berhasil.

Syasa melirik ke arah sampingnya di mana saat ini mereka melintasi kawasan sekolah dan terdapat berbagai macam jajanan sekolah salah satu favorite Syasa adalah gulali. Dan kebetulan ada sebuah gerobak kecil yang menjual gulali. Syasa menjilat bibirnya membayangkan bagaimana manisnya gulali itu dan meleleh di lidahnya.

"Dy," panggil Syasa pada Jody.

Jody menoleh dan ekspresinya menunjukkan ada apa tanpa niat bersuara.

Syasa menunjuk ke arah luar sambil memasang wajah penuh harapnya.

"Jangan mulai Sya, bicara yang jelas," Jody belum mengerti apa yang Syasa inginkan.

"Itu, aku mau gulali. Beliin dong, yayayyaa? Please," Syasa mengangkat kedua tangannya memohon pada Jody agar menuruti keinginannya.

"Udah lewat. Lagian jalanan lagi macet banget, please, jangan bawel Sya," Jody tidak menuruti keinginan Syasa.

Syasa mengembuskan napasnya sebal. Syasa memalingkan wajahnya enggan menatap wajah Jody. Syasa ngambek, kenapa Jody tak pernah menuruti kemauannya sekali saja? Tanpa memohon seperti ini. Jody melihat perubahan raut wajah syasa. Tangan Jody terulur hendak memegang dagu Syasa tetapi gadis itu segera memalingkan wajahnya hingga terhindar dari jangkauan Jody.

"Sayang, jangan marah dong. Jalanannya itu macet susah kalau mau muter balik," Jody membujuk Syasa. Jody memegang tangan kekasihnya tapi ditepis oleh Syasa menghempaskan tangan Jody.

Syasa mengambil earphone dan memakainya enggan mendengar ocehan Jody atau pun bujuk rayunya. Kali ini, Syasa benar-benar sedang kesal dengan Jody. Syasa sengaja menaikkan volume suara hampir full. Jody menahan egonya mencoba menuruti keinginan pacarnya. Jody memutar balik mobilnya, dalam hati Syasa tersenyum puas ternyata rencananya berhasil memancing Jody agar menurutinya.

Jody memarkirkan mobilnya tak jauh dari pedangan gulali. Jody turun dari mobil ingin membelikan gulali untuk Syasa. Setelah Jody turun, Syasa melepas earphonenya. Syasa tak akan melewatkan moment itu, Syasa membuka aplikasi instagram mengarahkan ponselnya merekam kegiatan Jody.

Jody telah membelikannya gulali dan melangkah kembali menuju mobil. Syasa memasang earphonenya memasang ekspresi wajah cuek.

"Nih," Jody memberikan gulali itu pada Syasa tetapi gadis itu tak langsung menerimanya.

"Masih ngambek? Ini aku udah beliin," Jody melepaskan earphone di telinga Syasa.

Syasa memalingkan wajahnya enggan melihat wajah Jody.

"Yaudah aku makan yah, jangan nangis kalau aku habisin," Jody menjulurkan lidahnya mengambil ancang-ancang memakan gulali.

"No!" Syasa mengambil gulali dari tangan Jody, "enak aja. Ini punya aku kalau kamu mau yah beli lagi sana," delik Syasa.

Jody tertawa, "dasar tukang ngambekkan," timpalnya mengacak rambut Syasa gemas.

****

Gara baru memasuki warung mang Supri setelah punggung Syasa benar-benar sudah tak terlihat. Senyum dibibirnya mengembang kala mengingat tingkah konyol Syasa. Betapa kagetnya Gara, ketika Rendi, Heri dan Ciko muncul di balik pintu mengagetkannya. Gara terlonjak kaget.

Gara memukul pundak ketiga pria itu secara bergantian.

"***** lo pada," umpatnya. Gara memicingkan matanya memandang satu persatu sahabatnya dengan tatapan penuh selidik, "kalian ngapain sih?"

"Lagi ngintip orang nananina," jawab Heri spontan.

Pletak.

Gara menghadiahkan sebuah jitakan di jidat lebar Heri membuat empuhnya meringis. Rendi dan Ciko tertawa meledek Heri.

"Mang ada rinso kan?" tanya Gara pada mang Supri.

"Banyak, mau ngapain?"

"Bagus mau nyuci otaknya Heri," balas Gara menyeringai ke arah Heri.

Tawa Rendi dan Ciko meledak. Rendi memukul-mukul punggung Heri sembari tertawa lebar.

"*****, itu otak apa baju di cuci hahaha pakai rinso segala nggak sekalian pake sunglight supaya kinclong," tambah Rendi sukses membuat orang-orang yang mendengarnya makin tertawa termasuk mang Supri dan istrinya.

Gara mendaratkan bokongnya di kursi plastik dan diikuti oleh Ciko sementara itu Rendi masih asik meledeki Heri. Gara mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana miliknya, Gara memasukkan password sebagai akses membuka ponselnya. Gara mendapati pesan mamanya.

Mama.

Bang, jemput adek kamu yah pak Kosim lagi sakit jadi nggak bisa jemput. Kakak kamu juga katanya lagi sibuk.

Gara melirik arloji di pergelangan tangannya, jam menujukkan pukul 11 siang. Gara akan menjemput adiknya sejam lagi. Gara meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Gara menyalakan puntung rokok dan menyesapnya nikmat.

Rendi sudah lelah tertawa. Saking hebohnya tertawa tenggorokannya mulai kering. Rendi meneguk air putih hingga tandas. Sedangkan Heri ikut bergabung bersama Ciko dan Gara.

Heri meraih ponsel Gara.

"Gue pinjam bentar," ujarnya.

Rendi menarik kursi plastik mendekati tempat duduk Heri lalu mendudukinya.

"Oh iya soal tadi, tuh cewek kenapa?" tanya Rendi mulai membuka suara membahas soal Syasa.

Ekor mata Gara bergerak melirik Rendi sekilas sembari menjawab pertanyaan Rendi singkat, "sakit."

Rendi mencibikkan bibirnya, jawaban Gara mengesalkan, "semua orang mah tau kalau dia sakit,"

"Nah terus ngapaian nanya kalau gitu?" Gara menukik alisnya mengelak ucapan Rendi.

"Nggak maksud gue itu, kenapa lehernya gitu? Lo menang banyak dong nyentuh leher cewek, mana putih lagi,"

"Jangan-jangan lo suka lagi sama cewek itu? Ya kan?" Heri menaik turun kan alisnya menggoda Gara.

"Lo tau ada yang sampe berantem gara-gara lo sama cewek itu. Yang satu pikir lo suka dia makanya lo nolongin dan satunya lagi ngotot kalau lo nggak ada apa-apa," giliran Ciko bersuara sembari melemparkan tatapannya pada Heri dan Rendi sebagai sindiran.

"Jadi gimana lo suka sama cewek itu?" Rendi terus memaksa Gara menjawab pertanyaannya.

"Belum," jawab Gara singkat.

Mendengar jawaban Gara. Rendi, Heri dan Ciko melebarkan matanya mencoba mencerna jawaban keluar dari bibir Gara.

"Belum?" tanya Heri memastikan pendengarannya sembari berpikir.

Rendi menegakkan tubuhnya dan memajukannya ke depan agar dapat melihat wajah Gara jelas.

"Belum, berarti ada kemungkinan lo bakal suka. Lo mulai tertarik kan sama cewek itu? Dan lo ada niatan buat dekatin dia? Boom! Benar kan?" tebak Rendi.

Gara tidak menjawab Rendi secara langsung tapi dari ekspresi wajahnya menunjukkan hal itu walau hanya segaris senyum yang Gara tunjukkan.

Heri bersorak, dugaannya benar. Heri menjulurkan lidahnya kepada Rendi.

"Gue bilang apa kan. Ada Something. Eh btw, tuh cewek namanya siapa sih?"

"Syasa," jawab Ciko.

"Risa Ardani Syaqilla," suara itu milik Gara-pria itu mengucapkan nama panjang Syasa tapi ketiga sahabatnya itu belum mengerti jika nama yang disebutkan Gara adalah nama asli Syasa.

"Pacar lo?" dengan tampang polosnya Heri mengatakan hal itu pada Gara.

Gara mengedikkan bahunya.

"Jadi lo udah punya pacar? Gila lo nggak bilang-bilang," Rendi ikutan memikir jika nama itu benar-benar adalah pacar Gara.

Heri berinisiatif memeriksa chat Gara tapi ia sama sekali tidak menemukan chat Gara bersama cewek kecuali Dea. Tidak sampai situ, Heri pikir Gara menyembunyikannya makanya ia membuka seluruh sosial media Gara salah satunya instagram. Heri mengecek following Gara tidak menemukan nama yang Gara sebutkan tadi. Oke, kali ini pikiran Heri berubah.

"Mungkin emang nggak punya ig atau nggak saling follow. Ah mending gue cari aja dah," pikirnya.

Heri mengetik satu persatu huruf hingga menyusun nama yang disebutkan Gara. Gotcha, Heri mendapatkannya. Mata Heri melebar tatkala melihat profile instagram yang ia temukan.

"Lho, ini kan-," gumam Heri. Karena kesal Heri menyentuh kata 'follow' sehingga kini akun Gara resmi mengikuti akun tersebut.

"Lo ngibulin kita yah, ini mah si cewek itu," kesal Heri.

Rendi mengintip ponsel Gara. Rendi merebut ponsel milik Gara. Reaksi Rendi persis seperti Heri tunjukkan saat pertama kali melihat foto yang terdapat di akun tersebut.

"Ini mah si Syasa, idih. Lo emang suka beneran yah?" tanya Rendi tapi matanya masih fokus pada layar ponsel Gara, "eh tunggu, dia udah punya pacar oi, jangan jadi pembinor deh lo,"

Rendi dan Heri membuka snapgram Syasa. Ternyata, Syasa membagikan sebuah video di mana menunjukkan sosok pria sedang membeli sesuatu dalam video tersebut Syasa menuliskan sebuah kalimat yang memperjelas siapakah pria itu tak lupa dengan emoticon love.

'Sayang pacar ❤'

"Yaelah, poor you abang," ejek Heri.

Ciko menegakkan tubuhnya menggesernya mendekati Gara.

"Sebelum janur kuning melengkung masih ada harapan, pepet terus gue dukung lo," bisiknya di telinga Gara.

****

"Ngapain lo ke sini?" sinis Arya-pria itu baru tiba sungguh sangat mengesalkan baginya melihat Jody ada di rumahnya.

Jody dan Syasa berada di ruang tamu bersenda gurau. Syasa memutar bola matanya malas. Syasa berdiri di depan Arya memberikan tatapan tajamnya seolah menyuruh Arya diam dan tidak membuat ulah.

"Cowok kayak lo nggak pantas jadi pacar kakak gue, pergi lo nggak sudi gue liat muka lo," usir Arya.

Jody masih terlihat tenang menutupi kemarahannya lagi pula ia tidak akan meluapkan kemarahannya itu di rumah Syasa itu akan memberikannya dampak buruk. Citra negatif sudah pasti akan tertuju padanya kelak kalau ia membalas Arya bahkan mereka akan berakhir dengan perkelahian.

"Gak boleh gitu, kamu ini nggak sopan sama tamu," Anggun datang menjewer telinga Arya.

"Aw, sakit ma," ringis Arya.

Jody tidak akan berlama-lama lagi. Jody tidak ingin semakin terpancing dengan sikap Arya. Jody berdiri dari sofa.

"Tante saya pamit pulang dulu. Sya, aku pulang yah," Jody mencium punggung tangan Anggun. Syasa mengikuti langkah Jody mengantar kekasihnya itu sampai pintu rumah. Sebelum pulang, Jody mengecup pipi Syasa singkat dan berlenggang pergi.

Syasa masuk ke dalam rumah. Tanpa aba-aba Syasa menerjang Arya memberikan pukulan di dada, pundak dan lengan Arya.

"Dasar yah! Kamu ini punya masalah apa sih? Heran deh, gimana pun Jody pacar kakak, nggak seharusnya kamu bersikap kayak gitu," cerca Syasa kesal.

Arya berusaha menjauh dari Syasa tapi kakaknya terus memukulnya tanpa ampun. Arya berteriak meminta tolong pada Anggun dan berhasil melepaskannya dari aksi brutal Syasa. Arya berlari menuju kamarnya dan menguncinya rapat-rapat agar Syasa tidak bisa masuk.

Syasa mengembuskan napas kasar. Syasa ikut pamit menuju kamar. Syasa menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya. Syasa memejamkan matanya sejenak tak lama setelah itu ia kembali membuka matanya. Syasa menarik tasnya guna mengambil ponselnya. Pergerakan mata Syasa terhenti ketika mendapatkan sebuah notifikasi yang mengejutkan.

'Ahyan Garasya started following you'

---

RA

---

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Aku sama Jody satu pemikiran tentang Syasa..

2024-03-21

0

Ney Maniez

Ney Maniez

knp c arya beci bgt ma c judi

2022-08-03

0

Ney Maniez

Ney Maniez

🤔🤔🤔🤔

2022-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!