—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan

---

Vote dulu baru baca yah. Kalau udah baca boleh dong di comment perasaan kalian setelah baca chapter ini.

Vomment kalian sangat berarti ❤

---

"Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga, hai begitulah kata para pujangga. Hidup suram tanpa cinta,"

Heri asik memukul meja menghasilkan sebuah bunyi seiring alunan lagu yang dinyanyikan Rendi. Seperti biasa kantin mang Supri menjadi tempat perkumpulan 'The Trouble Maker. Namun kali ini, hanya ada Rendi, Heri, Ciko dan Gara. Keempat cowok itu memang lah paling setia berada di warung mang Supri. Lebih tepatnya, mereka sering sekali tidak memasuki kelas. Apalagi jika salah satu dari mereka sudah menebarkan virus kemalasan maka semua akan ikutan.

Gara menghisap rokok begitu nikmat. Menyesapi dan menimati setiap hisapan memberikan sensai tersendiri bagi Gara. Ada rasa manis saat ia menghisap puntung rokok. Asapnya mengepul di udara membentuk pola abstrak.

Sambala sambala bala sambalado

terasa pedas, terasa panas

sambala sambala bala sambalado

mulut bergetar, lidah bergoyang,

Cintamu seperti sambalado ah ah

rasanya cuma di mulut saja ah ah

janjimu seperti sambalado ah ah

enaknya cuma di lidah saja hoo ooo

"Tarik mang," Rendi bernyanyi sembari meliukkan badannya seperti cacing kepanasan. Heri dan Rendi serasa asik dengan dunianya sementara itu, Gara dan Ciko menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol duo jones.

Mang Supri baru saja tiba dari pasar bersama istrinya memasang ekspresi biasa saja karena penampakkan itu bukan suatu hal yang jarang sebaliknya hampir setiap hari Rendi dan Heri bernyanyi. Rendi mendekati bi Jum-istri mang Supri. Rendi menggenggam tangan keriput bi Jum dan mengangkatnya tinggi-tinggi dan meliukkan badannya. Rendi mengajak bi Jum berjoget bersamanya.

"Colak colek sambalado alamak oee

dicolek sedikit cuma sedikit, tetapi menggigit

ujung-ujungnya bikin sakit hati

ujung-ujungnya sakit hati,"

Rendi mencolek dagu bi Jum yang terkekeh geli. Mang Supri menggelengkan kepalanya menaruh berbagai sayuran ke dapur.

"Hati-hati encok tuh pinggang," celetuk Ciko.

Bagaimana tidak bi Jum ikut menikmati alunan musik bersama Rendi. Berbagai gaya mereka tunjukkan. Bi Jum menaruh tangannya di pinggang dan meliukkan pinggulnya. Mang Supri keluar dari dapur berdiri bertolak pinggang menyaksikan atraksi Rendi dan Bi Jum.

"Kalau kamu mengeluh sakit pinggang urut sendiri jangan panggil-panggil bapak," ujar mang Supri melewati bi Jum dan Rendi.

"Nah lho. Udah bi, tuh, si mang Supri udah ngambek nanti nggak bakal dapat pijat hot kan. Gak usah ladenin si jones, maklum aja nggak ada satu pun cewek jadinya gitu, emak-emak diembat juga," sindir Ciko mendapatkan lemparan pipet.

Bi Jum berhenti. Baru beberapa menit pinggangnya sudah terasa sakit. Sang suami hanya melihatnya cuek membuang muka ketika bi Jum mulai merengut.

"Udah pinggang bibi udah sakit, aduh," bi Jum melangkah masuk ke dapur.

Tangan Heri juga sudah pega memukul meja. Heri berhenti menyisihkan Rendi yang berdiri sembari melongo.

"Gini amat yah nasib gue," gumamnya.

Ciko dan Heri terkekeh. Heri berdiri dan merangkul pundak Rendi.

"Sini sama abang aja, abang cium nih," Heri memonyongkan bibirnya ke depan hendak mengarahkannya ke wajah Rendi.

"Setan. Jijik oi," Rendi menjauhkan bibir Heri.

Heri merajuk seperti wanita. Heri mengerucutkan bibirnya.

"Ih, jahat deh,"

Rendi bergidik geli melihat Heri seperti itu.

Tiba-tiba saja perhatian mereka teralihkan pada sosok gadis memakai setelan baju casual. Gadis itu kemeja blouse berwarna biru muda yang dipadukan dengan celana jeans denim. Rambut panjangnya tergerai lurus. Gadis itu terlihat canggung, matanya memandang lurus ke arah Gara.

"Mau beli apa, neng?" tanya Mang Supri pada sosok gadis itu.

"Ng-saya..." gagunya salah tingkah.

"Saya mau beli itu, plester obat ada?"

"Ada neng, nih," mang Supri memberikan sebuah plester bergambar kartun anak-anak.

Gadis itu membolak-balikkan plester di tangannya.

"Maaf neng, cuma ada plester bergambar yang polos udah habis," ujar mang Supri merasa bahwa gadis itu sepertinya kurang menyukainya.

"Eh nggak papa kok," gadis itu memberikan selembar uang. Setelahnya, gadis itu kembali keluar tapi ia sempat mencuri pandang ke arah Gara yang tak melihatnya sama sekali.

"Apa cuma perasaan gue aja kalau tuh cewek cuma modus doang?" tebak Heri mengutarakan pengamatannya. Heri merasa jika gadis tadi ingin menarik perhatian Gara.

"Maksud lo? Modus sama siapa? Sama lo? HAHA muka kayak lo mah, nggak yakin gue," timpal Rendi meledeki Heri.

Heri menoyor kepala Rendi mengabaikan umpatan Rendi.

"Bukan gue, tapi Gara oon. Lo tau kan setiap dia ke sini itu pasti selalu ada hubungannya sama Gara. Pertama, dia waktu itu emang cari Gara kan? Kedua, dia datang karena si adeknya ada di sini karena Gara dan ketiga, sekarang dia ada lagi dengan alasan beli sesuatu. Tapi gue yakin kalau itu cuma alasan doang buat ngalihin perhatian Gara," tutur Heri menyampaikan yang ada di kepalanya saat ini.

Ciko melirik ke arah Gara yang sama sekali terlihat santai tak terpengaruh atas penyimpulan Heri. Gara mengangkat bokongnya melangkah ke arah kulkas mengambil galeng minuman bersoda. Mata Gara menangkap sosok gadis sedang duduk di kursi kayu milik mang Supri. Gara memajukan sedikit badannya ke depan agar bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu sempat meringis pelan saat tangannya menyentuh bagian lehernya. Gara menyipitkan matanya, memfokuskan pandangannya.

Gara tidak bisa melihat dengan jelas, namun begitu ia tidak menangkap suatu hal aneh. Kaki jenjangnya melangkah keluar.

Syasa tersenyum cerah ketika Gara keluar. Syasa berdiri dari kursi kayu itu saking senangnya Syasa menjatuhkan plester untuk menutupi lukanya. Syasa mendesah kecewa, Gara tidak meliriknya sama sekali justru Gara pergi meninggalkannya.

Tujuan Syasa kemari adalah untuk mengucapkan terimakasih pada Gara. Syasa sebenarnya tidak begitu memperdulikan lukanya, menurutnya luka goresan itu hanya luka kecil saja. Membeli plester sebenarnya tidak ada list dalam perencanaannya kali ini. Ide itu tercetus begitu saja. Syasa kembali duduk di kursi kayu.

"Yah, jatuh, kotor kan," Syasa mengelap plester itu.

"Gila, ih, tau gitu gue nggak usah ke sini. Gimana pun gue malu, pasti mereka udah mikir macem-macem sama gue. Gue kan ke sini cuma pengen bilang makasih, ah. Bodo amat dah," gerutunya.

Syasa membuka kertas yang menutupi bagian perekat plester itu. Ketika Syasa hendak mengarahkan plester itu ke lehernya menutupi luka goresan. Pergerakan tangan Syasa terhenti begitu saja. Syasa mendongakkan kepalanya menghadap ke atas melihat sosok Gara berdiri tepat di depannya. Gara menghempaskan pelan lengan Syasa.

Syasa memandang lekat wajah Gara. Syasa mengigit bibir bawahnya, canggung. Syasa berdoa dalam hati semoga Gara tidak mendengar ocehannya barusan. Namun begitu, Syasa bingung dengan kehadiran Gara sekarang. Syasa mengalihkan pandangannya ke kantong plastik putih yang Gara pegang. Gara ikut mendaratkan bokongnya ke kursi kayu tepat di samping Syasa.

Gara memberikan kantong plastik itu pada Syasa yang mengerutkan dahinya bingung.

"Obat buat luka lo," ujar Gara. Suara berat keluar dari bibir Gara. Untuk kedua kalinya Syasa mendengar suara milik Gara. Syasa bengong.

Gara menggerakkan kantong plastik itu di depan wajah Syasa membuat gadis itu sadar. Syasa tersenyum paksa. Ia mengambil alih kantong plastik itu dan membukanya.

Terdapat sebuah botol kecil cairan antiseptik, salep antibiotik serta kain kasa. Syasa memegangnya menimang-nimangnya seakan sedang mengamati yang dibeli oleh Gara.

"Luka lo harus diobati kalau nggak bakal infeksi," Gara mengamati wajah dan luka Syasa secara bergantian. Gara sudah selesai. Cukup sampai di situ Gara membantu Syasa. Gara pikir Syasa bisa mengobati lukanya sendiri. Gara melakukan hal itu untuk membalas kebaikan Syasa yang menolongnya saat tawuran tempo hari.

"Cara obatinya gimana ini. Yang pertama dipakai apa yah? Gila aja, aduh. Mama bantu Syasa,"

Syasa gelisah sendiri. Selama ini, Syasa tidak pernah mengobati lukanya sendiri, Anggun akan mengobati luka putrinya dan itu sudah ia lakukan sejak kecil hingga sampai sekarang. Bukan kah itu sudah kewajiban ibu merawat anak? Yes, seperti itulah di dalam pikiran Syasa. Walau begitu, Anggun pun tidak akan membiarkan anaknya memiliki luka sekecil apa pun itu. Anggun akan bergerak cepat mengobati luka Syasa dan hal tersebut menjadi faktor utama Syasa tidak bisa mengobati dirinya sendiri.

Mendengar rengekan Syasa, Gara menghentikan langkah kakinya. Ia memutar tubuhnya kembali berjalan mendekati Syasa.

Tanpa kata Gara mengambil alih kantong plastik itu. Satu yang Gara lupa yaitu kapas. Gara terpaksa masuk ke dalam meminta kapas pada mang Supri. Hal yang pertama Gara lakukan adalah membersihkan luka itu menggunakan air bersih setelah itu cairan antiseptik. Gara bergumam meminta maaf saat tangannya menjulur ke arah leher Syasa. Bagaimana pun, Gara pikir tidak etis baginya menyentuh seorang gadis apalagi ia baru mengenalnya.

"Ganteng tapi sayang gue udah punya doi," gumam Syasa tak menyadari ucapannya.

Gara mendengarnya.

"Aw," ringis Syasa merasakan perih.

Gara sengaja menekan kapas itu agar Syasa sadar. Gara tahu, Syasa sadar sedang melantur.

"Pelan-pelan kali. Kalau nggak ikhlas yaudah biar gue aja. Sini," Syasa mengangkat tangannya ingin mengambil alih kapas di tangan Gara namun pria itu menjauhkan tangannya dari jangkauan Syasa.

"Cantik tapi ngambekkan," Gara membalas perkataan Syasa tanpa gadis itu sadari. Gara menukik alisnya tajam, menaikkan sudut bibirnya membentuk segaris senyuman tapi Syasa tidak menyadarinya. Karena senyuman itu, nyaris tak terlihat.

Syasa salah tingkah. Syasa menggembungkan pipinya seperti sedang merajuk. Hati Syasa seakan disirami air membuat hatinya sejuk. Sama seperti bunga ketika disiram maka bunga itu jauh terlihat lebih segar.

Gara mengabaikan ekspresi wajah Syasa dan melanjutkan mengobati luka Syasa. Gara mengoleskan salep antibiotik untuk membuat luka tetap lembab sehingga mempercepat penyembuhan, serta mencegah infeksi. Tahap terakhir, Gara menutupi luka itu menggunakan kain kasa steril.

Syasa terkesima. Gara merawatnya seperti Anggun mengobati lukanya. Syasa memandang wajah Gara lekat. Wajah begitu tampan mampu mengikat seluruh wanita yang dibungkus dengan mimik wajah datar dan dingin. Dua ekspresi wajah yang selalu Gara tunjukkan adalah datar atau tanpa ekspresi sama sekali dan ekspresi marah. Keduanya, melekat di wajah Gara.

Namun begitu, para wanita tidak kapok untuk memuja wajah tampan seorang Gara apalagi mata hazel milik pria itu. Mata yang akan menyala ketika menghadapi seorang musuh dan akan berubah menjadi teduh dan sendu ketika sedang berhadapan dengan orang-orang yang dikasihinya.

Sejauh ini, hanya mama dan sahabat Gara saja yang menikmati tatapan teduh itu.

Di balik ambang pintu, Rendi, Ciko dan Heri memerhatikan Gara dan Syasa. Ketiga pemuda itu bertarung dengan pikiran mereka masing-masing. Heri yang sedari tadi menahan rasa gatal di lidahnya untuk mengutarakan pemikirannya pun tercetus begitu saja.

"Gara terjebak, gawat. Si Jerry terperangkap dengan umpan Tom," celetuk Heri.

Rendi mendelik tak paham. Sedangkan Ciko dapat menyerap makna ucapan Heri.

"Akan kah benih-benih cinta tumbuh?" Heri mencoba menerawang masa depan.

Rendi sudah mengerti sekarang. Ia bertolak pinggang mengggerakkan ke kanan dan ke kiri bola matanya seperti sedang berpikir.

"Lo tau kan Gara itu terkenal 'cowok anti baper' menurut gue si Gara cuma pure buat nolong itu cewek. Yah kalian juga tau kan Gara orangnya gak bakal tega liat cewek sengsara," ujar Rendi.

"Tapi beda, itu cewek kan asing maksud gue gini, Gara dan cewek itu nggak saling kenal. Kenapa Gara sampe segitunya peduli, ya nggak sih?" tambah Heri bermaksud memperjelas pemikirannya.

"Lo ingat kan, waktu cewek itu bawa Gara ke rumah sakit? Yah, mungkin Gara ngelakuin itu sebagai balas budi," Rendi tidak menyerah begitu saja, ia masih kukuh pada pemikirannya.

"Nggak beda. Pokoknya beda,"

"Lo apaan sih, beda-beda. Sama aja!"

"Idih sotoy amat lu,"

"Lo yang sotoy!"

Ciko memutar bola matanya malas. Berawal dari berbeda pendapat lalu beradu argumen dan diakhiri dengan perkelahian sungguh luar biasa. Ciko memukul pundak Heri dan Rendi secara bergantian.

"Kalian berdua kenapa sih malah berantem. Kalau pun Gara suka yah udah biarin aja kalau nggak ya udah kenapa kalian malah sibuk? Heran gue, udah kayak emak-emak lo," tukas Ciko membalikkan tubuhnya kembali ke tempat duduknya.

Sementara itu, Syasa menahan napasnya yang sedari tadi jantungnya berdetak kencang. Entah mengapa Syasa merasa gugup seperti ini. Syasa berdeham singkat guna merilekskan tenggorokannya.

Gara menaruh kembali obat-obat itu ke kantong plastik.

"Simpan ini, nanti kalau lo sampe rumah ganti perban lagi jangan lupa olesin salep," fix. Gara sudah seperti mamanya saja. Syasa tersenyum lebar.

Gara menaikkan satu alisnya, mempertanyakan senyuman Syasa.

"Gila," timpalnya.

Syasa mendengus sebal, "idih gila. Gak yah,"

"Terus?"

"Hm, apa yah. Lupa gue," Syasa menyengir lebar. Syasa berjinjit berusaha menyelaraskan tingginya dengan Gara.

"Btw, thanks yah," bisiknya.

Gara menggeser sedikit posisi kepalanya hingga kini wajahnya makin dekat dengan wajah Syasa. Cita-cita Syasa terwujud melihat manik mata hazel indah milik Gara. Waw, Syasa terkesima untuk kesekian kalinya.

"Aduh, kaki keram jinjit lama-lama," Syasa membenarkan posisi berdirinya seperti semula. Syasa tersenyum manis, senyuman itu yang selalu Syasa tunjukkan.

"Terimakasih untuk semuanya. Lo udah nolong gue untuk ke-wait," Syasa berpikir sejenak. Ia mengangkat tangannya dan menghitung berapa kali Gara menolongnya.

"Satu, dua-ah tiga, yah. Ketiga kalinya. Tapi gue juga minta maaf karena gue udah nuduh lo yang nggak-nggak. Arya udah jelasin semuanya. So, yah, gue minta maaf. Gue juga bakal janji nggak bawel lagi apalagi ngerepotin lo. Eh tunggu, ngerepotin, kan bukan mau gue juga nggak disengaja ya kan?"

Permintaan maaf yang ingin Syasa utarakan menjadi sangat lebar dan bertele-tele. Syasa meruntuki kebodohannya sendiri, memukul jidatnya berkali-kali.

"Eh, sorry lagi. Gue bawel banget deh. Oke, ini terakhir janji. Gue cuma mau bilang sekali lagi makasih dan maaf,"

Gara menganggukkan kepalanya saja tanpa bersuara.

"Hm, okay. Bye, gue pergi," Syasa melambaikan tangannya masih memasang senyuman bodohnya.

Gara terkekeh pelan. Apakah Syasa sadar telah membuat Gara menahan tawa sedari tadi. Menggemaskan, itu lah yang menggambarkan Syasa sejak awal bertemu dengan Gara.

---

RA

---

Terpopuler

Comments

Ney Maniez

Ney Maniez

💪💪💪💪

2022-08-03

0

Ney Maniez

Ney Maniez

🤭😁😁👍🤗

2022-08-03

0

Ney Maniez

Ney Maniez

🤗🤗🤗🤗

2022-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!