Syasa berada di atas mobil bersama Jody. Syasa sedikit merasa cemas karena jalanan cukup macet. Ia takut bila papanya akan marah karena telat pulang. Jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Syasa hampir tidak menyadari waktu karena asik berdua bersama Jody.
Jody melirik Syasa, ia bisa melihat raut wajah kekasihnya mengisyaratkan sebuah kecemasan. Jody mengambil keputusan untuk melewati jalan lain.
Syasa mengernyitkan dahinya saat Jody memutar balik mobilnya. Belum sempat Syasa bertanya Jody telah mengatakan alasannya.
"Kita putar balik aja Dy, jalanan ini sepi banget, aku takut apalagi ini udah malam," Syasa mengedarkan pandangannya. Jalan yang Jody pilih untuk dilewati memang cukup sepi hanya beberapa saja kendaraan yang melewati jalan itu. Bahkan hanya mobil Jody saja yang melintasi jalan itu ketika Syasa menoleh ke belakang ada 2 motor tampaknya akan melewati jalan itu juga.
Tiba-tiba saja mobil Jody harus terhenti karena 2 motor menghalau jalannya. Masing-masing pengendara dan penumpang motor turun. Kini ada 3 orang pria berbadan besar mengelilingi mobil Jody salah satunya mengetuk pintu kaca menyuruh Jody turun.
Di dalam mobil Syasa mulai panik dan Jody juga ikutan panik.
"Mereka kayaknya orang jahat deh, gimana dong jalanan sepi banget nggak ada orang. Aku takut," rengek Syasa ketakutan.
Jody tidak tahu haru berbuat apa ia juga takut untuk menghadapi tiga orang itu. Jody mengakui dirinya tidak jago bela diri, maka dari itu ia memilih tinggal di dalam mobil berusaha mengabaikan ketukan yang semakin keras.
"Keluar atau gue pecahin kaca mobil lo," teriak salah satu preman.
Syasa berteriak ketakutan karena preman itu berada di tempatnya.
"Aku takut, kamu turun aja Dy, nanti mereka semakin gila gimana. Dy, please aku takut-AAAAAAA," pekik Syasa ketakutan tatkala terdengar suara tendangan keras di bagian belakang.
"Jangan berisik! Semakin kamu teriak mereka bakal gangguin kita!" hardik Jody.
Syasa menundukkan kepalanya, ia tidak kuat menahan tangisannya. Bukannya Jody menenangkannya justru pria itu malah membentaknya.
Jody memberanikan dirinya keluar mobil. Ketika tubuhnya telah muncul di balik pintu mobil, kerah bajunya langsung saja ditarik oleh salah satu preman. Jody menjadi sesak, ia mencoba mendorong preman itu tapi tenaganya tidak kuat melawan preman tersebut.
"NGGAK MAU! JODY TOLONG,"
Telinga Jody mendengar suara teriakan Syasa. Dan benar saja, Syasa ikut diseret keluar mobil. Satu tangan preman itu melingkar di leher Syasa.
"Tolong lepasin pacar saya," ucap Jody menahan sesak.
Ketiga preman tersebut tertawa keras. Entah apa yang lucu. Tubuh Jody di dorong keras hingga membentur mobilnya sendiri dan itu cukup keras membuat punggungnya terasa nyeri.
"Keluarin semua barang-barang lo," perintah preman itu pada Jody yang merintih kesakitan memegang dibagian punggungnya.
"JANGAN!!!! Mphhh," Syasa berteriak nyaring saat preman yang memegangnya berusaha menyentuh lehernya menggunakan pisau. Mulut Syasa kembali ditutup menggunakan tangan preman itu.
"BRENGSEK!"
Dug!
Tubuh salah satu preman tersungkur di lantai. Seorang pria datang menolong Syasa dan Jody. Pria itu menendang perut preman yang tergelak di aspal. 2 preman lainnya tidak terima dan menolong temannya melawan pria misterius.
Pria itu meladeni 3 orang preman sekaligus. Pukulan dan tendangan ia hadiahkan kepada tiga orang preman itu.
"Sial!" umpatnya saat wajahnya berhasil terkena pukulan.
Syasa menekuk tangannya memeluk dadanya. Ia takut. Syasa terkesima ketika ia bisa melihat wajah pria yang menolongnya. Syasa melirik plat motor pria itu.
B 64 RA
"Gara," gumamnya.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Satu persatu preman tumbang di tangan Gara. Yah, pria yang menolong Syasa dan Jody adalah Gara.
Syasa mengalihkan perhatiannya sejenak dari Gara. Ia melangkah menuju Jody. Syasa membantu Jody berdiri.
"Kamu nggak papa?" tanya Jody cemas.
Syasa menggelengkan kepalanya.
Gara berdecih ketika perlahan tiga preman itu mulai pergi. Gara memalingkan wajahnya melihat dua orang yang berbeda jenis kelamin. Gara memasang wajah datarnya seperti papan.
"Jangan pernah berani bilang sayang sama cewek kalau lo nggak bisa jagain dia," ujar ambigu Gara.
Syasa tidak mengerti maksud ucapan Gara. Namun, Jody bisa menangkap makna ucapan Gara. Jody mengepalkan tangannya. Perkataan Gara sudah pasti menyinggungnya. Tanpa kata lagi, Gara memutar balik tubuhnya meninggalkan Jody dan Syasa.
****
Keesokan harinya.
Syasa membuka kedua matanya. Pagi telah menyapa. Matanya memicing tatkala sinar mentari masuk melali celah-celah gorden yang begitu menyilaukan. Syasa menguap kecil, lehernya digerakkan yang terasa pegal. Setelah kesadarannya telah terkumpul 100%, ia menurunkan kakinya menyentuh dinginnya lantai.
Syasa menyibakkan gordennya hingga sinar matahari sepunuhnya masuk. Syasa juga membuka pintu balkon. Ia melangkah keluar sejenak menghirup udara pagi. Syasa mengingat jadwal kuliahnya pagi dengan buru-buru ia kembali masuk dan mengambil handuk.
15 menit berlalu Syasa keluar dari kamar mandi. Ia menuju lemari baju dan mengambil satu kemeja blouse dan celana jeans denim. Syasa memakai pakaiannya dan tak lupa merias wajahnya senatural mungkin.
Setelah beres, ia keluar kamar dan menuruni anak tangga satu persatu. Di ruang makan mama dan papanya beserta Arya telah duduk di kursi.
"Pagi," sapa Syasa mencium pipi Wisnu dan Anggun ketika Syasa hendak mencium pipi Arya-adiknya itu menghindar.
Syasa mendesah pelan. Arya masih marah padanya karena semalam lagi dan lagi Syasa membela Jody. Arya begitu marah pada Jody sebab pria itu memulangkan Syasa larut malam apalagi Arya tahu bila Jody dan Syasa hampir saja dirampok. Seperti dugaan Arya, Jody sama sekali tidak bisa diandalkan. Arya telah mengetahui semuanya, itu pun karena ia terus memaksa Syasa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kamu masih marah sama kakak?" bisik Syasa.
Arya berpura-pura tidak mendengar. Arya masih sibuk dengan makanannya dan enggan meladeni Syasa.
"Pokoknya kamu tidak boleh keluar sampai pulang larut malam. Ini terakhir kalinya, papa tidak mau terjadi untuk ketiga kalinya. Sudah cukup, kalau kamu melanggar papa tidak akan menyetujui hubungan kamu dengan Jody," Wisnu bersuara. Pria itu mengangkat bokongnya dari kursi. Cangkir berisikan kopi telah habis.
Wisnu pamit pada istrinya, mencium kening Anggun. Wisnu harus segera ke kampus karena ia akan menjadi salah satu tim penguji bagi mahasiswa yang akan mengikuti ujian proposal.
"Cowok kayak dia nggak pantas jadi pacar kakak. Udah berapa kali Arya bilang, si Judi sama sekali nggak bisa jaga kakak," kini giliran Arya yang bersuara. Arya telah menyelesaikan sarapannya. Arya pamit pada Anggun dan pergi begitu saja.
Anggun mendekati putrinya, ia mengelus pundak Syasa.
"Ma," Syasa memeluk Anggun tak sadar ia meneteskan air mata.
"Masing-masing orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan mungkin kekurangan nak Jody adalah tidak pandai bela diri jadi dia sedikit sulit menjaga kamu saat harus berhadapan dengan preman atau pun perampok," kata Anggun tetap berpikir positif pada Jody. Lagi pula, ia tidak akan mengakatakan hal yang bisa membuat Syasa kembali sedih dan terbebani.
"Udah ah, sekarang kamu mending habisin sarapan setelah itu ke kampus nanti telat," Anggun mengurai pelukannya dan tersenyum lembut.
****
Rambut panjang Syasa tergerai indah. Helaian rambutnya mengayun seiring langkah kakinya. Syasa berlari kecil menuju gedung fakultasnya sembari mengejar waktu. Tersisa 10 menit, Syasa tidak boleh telat dalam mata kuliah pak Darman untuk ketiga kalinya jika itu terjadi maka Syasa pasti tidak akan diizinkan masuk.
Tubuh Syasa muncul di balik pintu. Pak Darman belum datang. Syasa melangkah santai menuju tempatnya. Di bangkunya, Winda asik tertawa keras bersama Fia. Syasa penasaran mengapa Winda bisa tertawa terpingkal-pingkal seperti itu. Syasa mendaratkan bokongnya di atas kursinya. Syasa memandang secara bergantian Fia dan Winda, ekspresi wajahnya mengisyaratkan seolah berkata apa yang terjadi.
"Gila tuh orang sadis cyn, aduh gak kebayang sih kalau lo juga gitu," ucap Winda disela-sela tawanya yang mulai meredam.
Fia menyeka air matanya saking kerasnya tertawa. Perutnya terasa tergelitik menceritakan suatu kejadian lucu menurutnya pada Winda yang ia lihat kemarin.
"Enak aja coy, ogah gue amit-amit dah," Fia mengangkat tangannya yang terkepal lalu di ketukkan di atas meja.
"Lo berdua kenapa, sih?" tanya Syasa penasaran.
Winda mengalihkan pandangannya memandang wajah penasaran Syasa. Winda mengatur napasnya yang memburu karena tertawa.
"Ok, jadi gini, si Fia tuh cerita katanya kemarin tuh dia liat emak-emak berantem gitu jambak-jambak rambut di trotoar jalan gila kan tuh," tutur Winda.
Syasa masih tidak mengerti apa yang lucu sehingga mereka begitu asik tertawa. Syasa menunjukkan ekspresi wajah bingung ia menggaruk keningnya tak mengerti.
"Salah satu emak-emak itu tuh gak tau sengaja atau nggak narik baju si emak satunya dan robek Sya, parahnya lagi bagian dadanya keliatan parah bahkan branya juga. Untungnya orang-orang cepat bantu buat nutupin bagian dadanya gila sih power emak-emak kalau marah sadis. Usut punya usut ternyata emak yang bajunya robek itu katanya sih pelakor. Sadis sih emang," jelas Fia yang menjelaskan secara lengkap kejadian yang ia lihat kemarin di depan matanya.
"Lo jahat ih ngapain diketawain sih kan kasihan," ujar Syasa.
"Lha, kita kasihan kok Sya, cuma lucu aja gitu berantemnya sampe bikin baju robek plus keliatan bagian dada kan agak serem," elak Winda.
Perbincangan mereka tak berlanjut lagi sebab pak Darman telah tiba dan semua mahasiswa fokus ke depan.
Hampir satu setengah jam pak Darman habiskan waktu mengajar di kelas. Setelah mata kuliah usai tanpa basa-basi pak Darman meninggalkan kelas dan memberikan sebuah pekerjaan kecil bagi para mahasiswanya. Syasa mendesah letih, lagi dan lagi tugas. Syasa rasanya belum bisa bernapas lega tugas kuliah menumpuk. Entah mengapa dosennya begitu kompak memberikan tugas.
Syasa bertopang dagu sambil menggigit bibir bagian dalamnya. Syasa sedang memikirkan sesuatu. Memikirkan kejadian semalam. Di mana untuk kedua kalinya, Gara menolongnya. Terbesit kata-kata Syasa yang menuduh Gara mengenai Arya.
Mata Winda menangkap Syasa sedang melamun. Winda menyenggol lengan Syasa keras agar gadis itu sadar dari lamunannya. Berhasil. Syasa terpengarah, ia melirik ke samping. Syasa memutar bola matanya jengah.
"Hobi banget kagetin gue, untung gue gak jantungan," sungutnya.
Winda mendengus, "lo sih melamun kesambet setan baru tau rasa lo,"
"Yah, lo kan?" cibir Syasa menaikkan satu alinya.
"Enak aja," dengus Winda tak terima melemparkan pulpen hingga mengenai leher Syasa.
Entah mengapa ada rasa perih saat pulpen itu mengenai lehernya seperti ketika ia mandi tadi namun begitu Syasa tidak sempat memeriksa lehernya. Winda merasa ada hal yang aneh, ia melihat sebuah goresan di leher Syasa yang mengeluarkan sedikit darah.
"Leher lo berdarah, maaf Sya, tapi kok bisa?" Winda mengerutkan dahinya. Ia mencoba memeriksa goresan luka di leher Syasa, "kalau gara-gara pulpen sih, gue rasa nggak mungkin Sya, ini kayaknya goresan benda tajam deh," Winda memerhatikan goresan itu.
"Mungkin karena semalam nih," jawab Syasa mengingat kembali kejadian semalam yang hampir saja membuatnya dan Jody menjadi korban perampok.
"Selamalam?" Winda mengulangi kata itu yang terucap di bibir Syasa seolah menanyakan maksudnya.
Syasa menganggukkan kepalanya, "iya semalam, gue sama Jody hampir di rampok sama preman,"
Winda membulatkan matanya, "serius? Terus? Astaga Sya, jadi gimana? Lo kok gak bisa tahu kalau lo kena, sih? Tuh leher lo sampe luka. Si pacar lo lawan tuh preman kan? Apa jangan-jangan dia cuma diam doang?" cercanya.
Syasa menutup mulut Winda. Sangat berisik, bahkan orang-orang yang masih berada di dalam kelas sempat menoleh namun setelah itu kembali fokus ke kegiatan mereka masing-masing karena Syasa berucap tidak terjadi apa pun sebelum para temannya bertanya padanya. Tapi tidak bagi Fia-gadis itu justru membalikkan kursinya menghadap ke Syasa dan memasang wajah penuh penasaran.
"Cerita!" tuntut Winda.
"Iyaiya gue cerita tapi jangan ribut awas lo," Winda dan Fia mengangguk patuh.
"Jadi gini-" Syasa mulai menceritakan kejadian semalam bagaimana ia bisa terjebak di jalanan sepi dan beruntut hampir saja menjadi korban perampokan hingga datanganya sosok Gara menolongnya.
Winda dan Fia mendengar penjelasan Syasa seksama. Mata keduanya melebar saat mengetahui Gara yang menolong Syasa dan Jody. Sebuah kebutulan yang rasanya begitu mengejutkan.
"Pokoknya lo harus ngucapin terima kasih sama Gara! Gila aja dia udah nolong lo dua kali. DUA KALI SYA!" Winda mengulangi kalimat itu dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya tepat di depan wajah Syasa.
"Wow, bisa banget yah timingnya. Gara seorang pahlawan bagi sepasang kekasih yang diselamatkan dari preman," Fia menggelengkan kepalanya takjub sekaligus miris dengan Jody yang tak bisa berbuat apa-apa.
"Lo keterlaluan sih Sya kalau nggak ngucapin terima kasih," imbuh Winda.
Syasa terlihat lesu dan bingung. Mengingat kejadian di mana ia menuduh Gara hal yang tidak-tidak dan jelas Gara tidak melakukannya. Syasa merasa tidak enak dan canggung. Apalagi memikirkan bagaimana caranya ia mengucapkan terima kasih pada Gara. Melihat wajahnya saja Syasa sudah sangat malu. Bahkan Syasa berharap tak bertemu lagi dengan Gara.
"Gini yah Sya, seorang cowok yang udah berani pacarin anak orang harus bertanggung jawab dong. Kan dari awal pasti tuh cowok iming-imingnya cinta sama lo dan bakal jagain lo iya kan? Nyatanya apa, bahkan dia sempat bentak lo kan? Gila aja sih, cowok sih cowok tapi kok letoy," ujar Winda sekaligus memberikan sindiran atas kekesalannya pada Jody.
"Aku cinta sama kamu. Aku janji bakal jagain kamu, please be my girl," tambah Winda menirukan gaya sebagian pria ketika mengungkapkan perasaannya pada seorang wanita. Yang sebagian besarnya pasti mengatakan hal itu.
"Jangan pernah berani bilang sayang sama cewek kalau lo nggak bisa jagain dia,"
Kata-kata itu terngiang di benaknya. Kalimat itu muncul begitu saja setelah mendengarkan perkataan Winda. Syasa terdiam. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali. Syasa sudah memahami maksud ucapan itu. Syasa membayangkan bagaimana wajah datar tanpa ekspresi dari seorang Gara lalu diselingi dengan wajah Jody ketika menyatakan cinta padanya. Dan benar, Jody mengatakan persis apa yang dikatakan Winda. Syasa menghela napasnya pelan.
---
Vote+comment please!
Big Love ❤
---
RA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ney Maniez
🤔🤔🤔🙄😒
2022-08-03
0
Ney Maniez
l🤔🤔🤔
2022-08-03
0
Flamingo
1 lagi yay
2020-08-06
0