Anggun—mama Syasa, wanita itu sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya. Setiap pagi dan sore Anggun akan menyiram tanamannya. Anggun menanam berbagai jenis bunga di halaman rumahnya. Anggun sangat suka dengan bunga apalagi bunga Anggrek. Tak khayal, ia pun tinggal di jalan Anggrek. Sebuah kebetulan yang cukup unik.
Terdengar decitan mobil. Anggun menoleh ke sumber suara. Ada sebuah mobil hitam baru saja tiba dan berhenti tepat di depan rumahnya. Seorang cowok turun dari mobil memakai kemeja berwarna hitam. Anggun tersenyum menyambut kedatangan Jody.
"Assalamualaikum, tante," salam Jody meraih dan mencium punggung tangan Anggun.
"Walaikumsalam," balasnya. "Ganteng banget, udah janjian sama Syasa?"
"Iya tante,"
"Masuk gih tunggu di dalam aja,"
Bip!!!!
Bunyi klakson terdengar begitu nyaring. Suara gas pun beradu menjadi satu dengan suara klakson. Anggun meletakkan gembor dan berjalan menuju pagar.
"Woi mobil lo halang jalan gue, pindah lo," teriak Arya.
Arya baru saja pulang sekolah. Arya telat karena habis latihan futsal. Arya melihat mobil Jody terparkir di depan rumahnya. Motor Arya tidak bisa masuk karena terhalang oleh mobil Jody.
"Arya kenapa mesti teriak sih, bising tau," tegur Anggun.
Jody menaiki mobilnya hendak menyingkirkannya agar motor Arya bisa masuk.
"Kalau parkir jangan di tengah jalan dodol," seru Arya.
Jody mengepalkan tangannya mendengar seruan Arya. Ia sangat mengetahui Arya tidak menyukainya. Bila mengunjungi rumah Syasa maka Arya akan menunjukkan sikap ketidaksukaannya kepada Jody.
Arya masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kesal. Syasa menuruni anak tangga berpapasan dengan Arya merengut bingung melihat tampang Arya. Syasa menahan lengan Arya hendak menanyakan apa yang terjadi.
"Kamu kenapa?"
"Arya kesel sama si Judi, pacar kakak itu ngeselin banget selain itu dia dodol. Yakali parkir di tengah jalan, kan motor Arya nggak bisa masuk. Cepet putusin gih, Arya nggak sudi punya kakak ipar kayak dia, eh nggak deng, sebelum kakak putusin mau nikah sama dia, Arya jadi orang pertama yang bakal gagalin rencana itu," Arya terlihat begitu kesal. Tanpa kata lagi Arya melanjutkan langkahnya meninggalkan Syasa yang terdiam.
Syasa tak mengerti kenapa Arya begitu membenci Jody padahal kekasihnya itu sama sekali tidak pernah membuat masalah dengan Arya. Syasa melanjutkan langkahnya menemui Jody di luar. Syasa yakin bila Jody akan menunggu di luar selama pacaran ketika Jody ingin menjemputnya lebih senang menunggu di luar dari pada di dalam. Alasannya tentu sangat jelas diketahui, Arya. Jody memilih menghindari Arya dari pada harus bercekcok dengan cowok remaja itu.
"Maafin Arya yah nak, dia emang kadang kala nyebelin," Anggun merasa tidak enak hati pada Jody atas sikap Arya kurang sopan.
"Iya tante gak papa," balas Jody memaksa senyumannya. Walau dalam hati ia marah dengan Arya.
"Ma, Syasa pamit dulu yah," Syasa datang langsung menyalami punggung tangan Anggun. Jody mengikuti apa yang dilakukan Syasa.
Jody membukakan pintu mobil untuk Syasa—gadis itu bergumam kecil mengucapkan terima kasih sembari tersenyum manis. Jody melajukan mobilnya sesuai kecepatan standar. Rencananya hari ini, mereka akan ke mall untuk menonton film di bioskop setelah itu mereka akan dinner di restoran favorite Syasa. Kedua sepasang kekasih itu akan menghabiskan waktu berdua.
****
Gara baru saja tiba di rumahnya. Semalam, ia tidak pulang melainkan menginap di rumah Ciko. Gara memang seperti itu, terkadang bahkan Gara tidak pulang hingga berhari-hari seakan lupa jikalau ia memiliki rumah.
Rumah Gara selalu sepi, mengingat kedua orang tuanya bekerja dan mereka hanya terlihat ketika malam hari saja. Sedangkan kakaknya sibuk di kampusnya apalagi Bayu adalah ketua BEM serta berbagai kegiatan yang dilakukan Bayu di luar kampus. Dan kedua adik kembarnya, bersekolah pada siang hari mereka baru lah berada di rumah.
Kaki Gara menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai 2. Rumah Gara cukup besar dan terdapat banyak kamar di rumahnya. Total kamar yang terisi adalah 6 dan dua kamar lagi kosong. Ada 3 kamar di lantai dua dan 3 kamar berada di lantai dasar.
Di lantai dua masing-masing kamar diisi oleh Bayu, Gara dan kedua adiknya. Sedangkan di bawah diisi oleh orang tua Gara dan kamar untuk pembantu rumah tangga serta yang satunya adalah kamar tamu atau sewaktu-waktu jika kedua adiknya menginginkan kamar terpisah maka salah satunya bisa mengisi kamar tersebut.
Langkah Gara terhenti tepat di depan lorong yang menghubungkan kamarnya. Gara memasukkan kedua tangannya ke saku celana yang ia pakai matanya memandang malas ke arah kakaknya yang sedang berdiri di depannya menghalau jalannya.
"Lo dari mana?" tanya Bayu penuh selidik.
Gara sangat malas menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting. Jika wajah Gara mewarisi lekuk wajah ayahnya bahkan sikap dan sifat mereka hampir sama. Berbeda dengan Bayu—cowok itu mewarisi wajah mamanya. Namun, Gara dan Bayu memiliki senyum yang hampir sama.
"Mending lo minggir gue mau lewat," Gara mengalihkan pembicaraan. Ia sungguh tidak berniat menjawab pertanyaan Bayu.
"Nggak sebelum lo jawab," Bayu kukuh tidak akan menggeser tubuhnya sebelum Gara menjawab.
Gara menghela napasnya kasar, "apa pentingnya buat lo? Mending lo pergi sebelum gue hajar muka lo,"
"Gue kakak lo dan gue berhak tau lo ke mana semalam sampai nggak pulang,"
"Good job Bay, lo nggak cocok kayak gitu mending lo fokusin jadi anak terhebat yang nyokap bokap punya nggak usah jadi kakak yang baik karena menurut gue lo udah gagal dalam hal itu," Gara melangkahkan kakinya tak peduli dengan Bayu yang tak ingin menyingkir.
Terpaksa Gara mendorong bahu Bayu keras agar tidak menghalau jalannya lagi. Gara menutup pintu kamarnya. Bayu menghela napasnya dalam-dalam nyatanya Gara belum melupakan kejadian itu. Perhatian Bayu teralihkan mendengar teriakan bibi yang memanggil namanya.
"Den, ada non Hana,"
Di kamarnya, Gara menghempaskan badannya ke atas kasur. Badannya begitu terasa pegal. Suara wanita yang Gara kenali terdengar. Gara sangat membencinya, andai saja Gara mengetahui hal itu maka Gara tidak akan pulang. Gara bangkit dari kasur, ia mengunci pintunya dan menutup gorden matanya sempat menangkap sosok Bayu menggandeng bahu seorang wanita. Gara berdecih. Gara tidak akan membuang waktunya hanya untuk menatap kemesraan Bayu dan wanita itu. Gara kembali ke kasurnya, ia membutuhkan tidur karena malam nanti Gara akan kembali keluar.
****
Jody menggandeng pinggang Syasa mesra. Jody sesekali memberikan kecupan di kening Syasa. Keduanya jalan secara beriringan menuju parkiran mobil. Usai menonton rencananya, sepasang kekasih itu akan makan malam terlebih dulu sebelum Jody mengantar Syasa pulang.
Jody melajukan mobilnya menuju sebuah restoran langganan mereka. Syasa yang duduk manis, merasakan sebuah getaran kecil di dalam tasnya. Syasa mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan masuk. Syasa membuka aplikasi whatsapp guna mengecek pesan dari siapakah.
Sikunyil
PULANG UDAH JAM BERAPA INI! AWAS YAH KALAU KAKAK PULANGNYA LEWAT DARI JAM 9! POKOKNYA ARYA BAKAL NUNGGU DEPAN PINTU SAMPE KAKAK PULANG!
Syasa mendesah pelan sembari menggelengkan kepalanya. Syasa tidak membalas pesan dari adiknya itu. Selang beberapa menit nyatanya Arya kembali mengirimkannya sebuah pesan namun kali ini adalah pesan suara.
"WOI JUDI PULANGIN KAKAK GUE AWAS LO KALAU LO KEMALAMAN BAWA KAKAK GUE KELUYURAN SIAP-SIAP GUE KASIH LO BOGEMAN,"
Syasa menutup matanya, suara Arya begitu nyaring dan melengking. Jody mendengus mendengarnya. Jody sama sekali tidak takut dengan Arya, lagi pula Syasa pasti akan membelanya itu sudah pasti. Karena setiap Arya bercekcok dengan Jody maka Syasa tetap membela Jody dan hal itu tentunya membuat Arya kesal.
Jody tidak menggubris mengenai voice note Arya. Ia memilih tetap diam dan bersikap santai, lagian hal itu sudah terbiasa dilakukan Arya. Sedangkan Syasa juga ikut diam tak ingin mengeluarkan suara membahas Arya karena bisa saja akan membuat masalah baru.
Sesampainya di restoran, Jody membukakan pintu mobil dan merangkul pinggang Syasa memasuki rumah makan.
Di sisi lain, Gara bersiap mengambil jaket serta kunci motornya. Gara akan keluar malam ini. Satu persatu kaki Gara menuruni anak tangga hingga tangga keterakhir langkahnya terhenti. Gara berpapasan dengan mamanya.
Arlina—mama Gara, wanita itu memandang wajah Gara lembut. Gara membalas tatapan mamanya sembari memasang senyumnya. Gara memeluk singkat tubuh Arlina erat sudah sangat lama Gara tidak memeluk mamanya karena aktivitas keduanya apalagi Arlina. Gara hanya akan bertemu dengan mamanya setiap malam dan hari weekend namun begitu di hari weekend Gara biasanya akan menghabiskan waktunya di luar.
"Kamu mau ke mana? Ini udah malam, lho,"
"Aku mau keluar bentar ma, Gara mau nyari mantu buat mama," jawab Gara tersenyum geli.
Arlina memukul pundak Gara, "bisa aja kamu, tapi mama serius nanya sama kamu,"
Gara memegang pundak Arlina dan memandang wajah sendu mamanya yang terlihat capek.
"Aku mau pergi bentar kok, Gara pasti pulang, mama mending istirahat Gara tau mama pasti capek,"
Arlina mendesah, ia tahu bagaimana pu. Ia bersikeras menanyakan dan berusaha menahan Gara tetap saja putranya akan tetap keluar. Sifat keras kepala diturunkan dari suaminya.
"Janji yah pulangnya cepat awas kalau lama mama bakal marah,"
"Iyaiya ma," Gara mengecup pipi Arlina dan berlenggang pergi.
Arlina menatap punggung Gara. Air mata mengalir begitu saja. Arlina segera menyeka cairan bening itu. Muncul sebuah rasa bersalah di hatinya, bagaimana tidak waktunya seakan terkuras karena pekerjaannya sehingga tugasnya menjadi seorang ibu tidak ia jalankan secara sempurna. Waktu yang seharusnya ia habiskan bersama anak-anaknya sangat jarang ia miliki. Wanita itu meringis sedih ketika mendengar berita perkelahian Gara. Tapi, ia berusaha berpikir positif pada anaknya. Ia yakin, Gara adalah anak yang bertanggung jawab dan tidak akan melakulan suatu hal yang tidak memiliki alasan yang kuat.
Sejauh ini, Arlina berusaha menutup rapat-rapat telinganya atas omongan orang-orang mengenai Gara yang terkenal akan 'kenakalannya'. Tak jarang hal itu juga membuatnya acapkali bersitegang dengan Haris—papa Gara.
Haris selalu saja membandingkan Gara dan Bayu dan Arlina selalu mengingatkan suaminya agar tidak melakukan hal itu. Arlina tidak pernah membedakan anak-anaknya, baik itu Bayu, Gara dan kedua anak perempuannya. Haris selalu menyalahkan Arlina mengenai kelakuan Gara karena tidak berhasil mendidik anaknya itu.
Gara menghentikan motornya di sebuah tempat yang memiliki jalanan yang begitu besar namun sepi. Gara disambut meriah oleh teman-temannya. Gara turun dari motor membalas jabatan temannya satu persatu.
"Gimana udah siap?" tanya Rendi pada Gara.
Gara hanya menjawabnya dengan anggukan kepalanya begitu mantap. Sebuah mobil sport dan berhenti tepat di samping 'The Trouble Maker' .
"Gara gimana kabar lo? Udah lama kita nggak ketemu," seorang cowok berperawakan blasteran turun dari motor. Cowok itu tersenyum ramah dan Gara menyambutnya.
"Gue baik,"
"Gimana malam ini, udah siap? Gue harap lo bakal menangin balap malam ini dan sesuai janji, lo bakal dapat bonus dari Antonio,"
"Lo udah kenal lama dengan Gara, Lex, jadi lo pasti udah tau kalau Gara pasti bakal menangin balap malam ini," celetuk Ciko mendekati Alex—pria blasteran bertampang gagah.
Alex tersenyum dan menyetujui perkataan Ciko. Kemampuan balap Gara sudah tidak perlu diragukan lagi. Selain memiliki kemampuan bela diri nyatanya Gara juga jago balap. Dan hal ini hanya diketahui oleh para orang-orang disekelilingnya saja.
Tiba saatnya, Gara telah bersiap menjalankan aksinya. Di sampingnya pun, telah bersedia lawan balapnya kali ini.
Di depan keduanya, telah berdiri seorang wanita memegang sebuah bendera.
"1...2...3 Go..."
Gara melajukan motornya begitu kencang. Gara tidak akan membiarkan lawannya menang, Gara harus memenangkan balap malam ini selain mendapatkan uang banyak Gara juga akan mendapatkan kepuasan melihat wajah lawannya itu kalah. Salah satu lawan yang cukup sulit Gara kalahkan namun begitu Gara akan memenangkan balap.
Seperti biasanya, Gara memenangkan pertandingan balap malam itu. Gara telah melewati garis finish. Ia melepaskan helmnya dan di sambut meriah oleh para sahabatnya.
"Gokil si abang Gara, gimana cewek-cewek gak klepek-klepek," Rendi menepuk pundak Gara.
Lawan Gara, membuka helmnya dan memandang wajah Gara. Ia menatapnya datar, sedangkan Gara membalas tatapan lawannya dengan senyum mengejek. Dari ekskresi wajah lawannya sudah jelas jika ekspresi datar hanyalah topeng saja menutupi kekalahannya.
---
Vote+comment please. Minimal jangan jadi silent readers lah. Please, setidaknya kalian memberikan aku semangat melalui vomment kalian.
Big love ❤
---
RA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ney Maniez
🙄🙄🙄
2022-08-03
0
Flamingo
1
2020-08-06
0