Di teriknya matahari, Arya baru saja tiba di kampus Syasa. Hari ini, ia harus menjemput kakaknya. Seperti yang diketahui, mobil Syasa masih berada di bengkel dan mau tidak mau Arya harus menjemput Syasa apalagi kali ini jam pulang mereka hampir sama. Arya mengecek jam di ponselnya, nampaknya Arya harus menunggu sejam lagi. Karena Syasa baru keluar kelas pukul 1 siang sedangkan saat ini masih pukul 12 siang.
Arya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Cukup banyak orang yang berlalu-lalang. Mata Arya memicing ketika melihat seseorang cowok memakai jaket jeans sobek berjalan seorang diri. Secara kebetulan, kali ini Arya bertemu kembali dengan cowok yang menolongnya.
"Bang Gara," seru Arya memanggil nama Gara.
Sosok yang dipanggil oleh Arya menghentikan langkahnya. Mata Gara menyipit menerawang siapa yang memanggilnya. Arya turun dari motor berjalan mendekati Gara. Tepat di depan Gara, Arya memasang senyumannya. Gara mengerutkan dahinya melihat sosok anak SMA di depannya kini.
"Gue Arya bang, yang lo tolongin dari preman,"
Gara memasang raut wajah seperti seakan sedang berpikir. Walau sebenarnya Gara memiliki ingatan yang cukup tajam jadi tak sulit baginya mengenali Arya.
"Ngapain?"
Arya mengangkat jari telunjuknya sendiri dan mengarahkannya pada dirinya sendiri, "gue bang?" Gara tidak menjawab namun ekspresi wajahnya menandakan bahwa ia memang benar-benar bertanya pada Arya tadi.
"Gue lagi jemput kak Syasa," jawab Arya, "kakak gue bang, tapi masih ada sejam lagi sih kelasnya bubar,"
Gara menganggukkan kepalanya singkat.
Gara hendak melanjutkan langkahnya tapi Arya kembali menahannya.
"Hm, bang mau ke mana? Gue boleh ikut gak? Itung-itung gue nggak bosan nunggu," ucap Gara ragu sembari menggaruk tengkuknya walau tidak gatal.
Gara menaikkan satu alisnya setelah itu ia menggerakkan kepalanya seakan memberi kode pada Arya agar mengikutinya. Arya tersenyum lebar, dengan senang hati ia mengikuti langkah Gara dan menyesuaikan langkahnya dengan Gara.
Kedua terhenti di sebuah warung kecil di samping kampus. Gara mengajak Arya masuk namun begitu Arya tidak langsung masuk ke dalam. Ia berdiri di ambang pintu memerhatikan kondisi tempat itu walau tidak ada yang aneh sama sekali hanya saja banyak teman-teman Gara di sana.
"Si pembuat masalah udah datang," celetuk Rendi. Gara sudah terbiasa mendengar kata itu dari Rendi namun ia tidak merasa tersinggung sama sekali.
"Lo bawa siapa?" tanya Ciko mengarahkan pandangannya ke arah Arya yang berdiri di ambang pintu.
Gara baru menyadari jika Arya belum masuk ke dalam, "sampai kapan lo bakal berdiri di situ?"
Arya terpengarah, ia memasang senyum kikuknya. Perlahan dengan ragu ia melangkah ke depan.
"Arya," katanya pada semua orang yang berada di tempat itu.
Semua teman-teman Gara yang diam tak menjawab, mereka beralih menatap Gara seakan menuntut jawaban soal pertanyaan yang diajukan oleh Ciko tadi.
"Gue pernah nolongin dia dari preman dan tadi gue ketemu di parkiran mau jemput kakaknya, gue ajak dia ke sini dari pada dia nunggu di sana kan," jawab Gara.
Arya sempat berpikir kenapa Gara berbohong mengenai ajakan itu. Pada nyatanya, Arya lah yang menawarkan diri untuk ikut. Tapi sudah lah, itu tidak penting.
"Cowok kok gak bisa berantem, operasi kelamin aja lo sana, banci," sindir Heri.
Arya melebarkan matanya mendengar perkataan Heri yang cukup pedas. Namun begitu, Arya tidak menanggapi terlalu serius ucapan Heri.
"Hush, jangan ngomong gitu, nggak baik," tegur mang Supri—pria paruh baya itu sudah seperti orang tua bagi The Trouble Maker. Jika di antara mereka ada yang mulai berucap atau bertingkah aneh maka mang Supri akan menegurnya tapi satu hal yang tak bisa mang Supri rubah yaitu soal perkelahian atau tawuran. Mang Supri sangat tahu betul mengapa mereka tidak akan melakukan perkelahian jika tidak ada yang mencari masalah pada mereka.
Di tempat lain, Syasa tak hentinya melirik jam di ponselnya. Sejam rasanya seperti seakan 12 jam lamanya. Syasa sebenarnya kasihan pada Arya bila menunggu terlalu lama. Masih ada setengah jam lagi.
Winda melirik ke arah Syasa yang terlihat gelisah. Winda menenggakkan badannya, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Syasa.
"Lo kenapa?" bisiknya.
Syasa tersentak, mendengar suara Winda dan deru napas gadis itu sangat terasa di kulitnya. Cukup merinding dibuatnya, Syasa memutar bola matanya.
"Hobi banget yah lo kagetin gue,"
"Lo sih gitu, emang ada apa?" Winda menarik turunkan alisnya.
"Adek gue ada di bawah mana lagi pak Darman keluarnya lama," jawab Syasa setengah berbisik.
"Yaelah gue kira apaan, adek lo gak bakal hilang kali, emang dia anak kecil,"
Syasa mendengus sebal mendengar perkataan Winda.
Selang beberapa saat kemudian, Syasa akhirnya bisa bernapas lega. Tepat di saat pak Darman telah melewati pintu kelas. Syasa berdiri dari kursinya dengan gerakan terburu-buru ia merapikan mejanya memasukkan pulpen dan ponselnya ke dalam tas. Setelah itu Syasa melengos pergi. Winda hanya menggelengkan kepalanya melihat Syasa.
Satu hal yang Syasa khawatirkan itu adalah Arya masih menggunakan seragam sekolah takut bila ada yang berbuat jahil pada Arya. Setibanya, Syasa di parkiran ia mendapatkan motor Arya tapi tidak menemukan adiknya itu. Syasa mengambil ponselnya guna menelepon Arya.
"Kamu di mana sih? Kakak udah ada di parkiran?"
"Ini kak aku ada di warung samping kampus kakak, sini aja Arya masih mau ngadem dulu panas,"
Syasa menggerutu setelah Arya menjawab telepon, cowok itu langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Syasa tak langsung melangkahkan kakinya, ia mengingat kembali perkataan Arya.
"Aku ada di warung samping kampus,"
Syasa menyadari satu hal. Itu adalah tempat nongkrong Gara. Syasa menggelengkan kepalanya saat ia mulai memikirkan hal yang aneh.
"Jangan sampai dia ketemu Gara sama teman-temannya. Kasihan Arya," gumam Syasa.
Syasa pikir jika Arya akan di bully oleh Gara dkk. Walau Gara telah menolong Arya tapi bagaimana dengan teman-teman Gara? Syasa berjalan sambil mulutnya tak henti komat-kamit. Sesampainya di depan warung mang Supri, Syasa mengambil napas terlebih dulu karena ia baru saja lari dari parkiran hingga ke warung milik mang Supri.
Samar-samar terdengar suara gelak tawa dari arah luar. Syasa pikir jika tidak terjadi apa-apa dan dari pendengarannya pun ia tidak menangkap suatu hal yang aneh. Syasa bernapas lega. Kakinya perlahan mulai melangkah ke depan. Syasa melebarkan matanya ketika kedua manik matanya melihat sosok Arya duduk dengan tangan yang memengang rokok.
"Arya!" serunya.
Semua orang yang berada di tempat itu mengalihkan pandangannya ke arah Syasa yang berdiri memasang wajah penuh kesal.
Syasa melangkah kan kakinya meraih tangan Arya yang memegang rokok dan menghempaskannya hingga sebatang rokok itu jatuh.
"Siapa yang ajarin kamu merokok? Huh? Jawab kakak!"
Arya menelan ludahnya. Dilihat dari raut wajah Syasa sudah sangat jelas bahwa gadis itu sedang marah.
"Kak—ini,"
"Apa?" Syasa mendelik tajam. Matanya beralih menatap sosok Gara duduk sembari merokok santai seakan tidak menyadari kehadirannya bahkan untuk menatap Syasa saja tidak.
"Dia yang ajarin kamu ngerokok?" tunjuk Syasa menggunakan dagunya ke arah Gara.
"Lo kalau ngomong jangan asal," bukannya Gara yang menjawab justru Ciko yang bersuara menentang perkataan Syasa yang menuduh Gara begitu saja.
Ciko menatap tajam Syasa. Ia tidak peduli dengan Syasa yang jelas, gadis itu telah lancang menuduh Gara.
"Lo pulang bawa kakak lo pergi," usir Heri mendorong bahu Arya.
"Kakak salah paham, bukan bang Gara tapi—"
"Tapi apa? Udah lah kamu nggak usah bela dia. Kamu takut sama dia?" Syasa masih kukuh pada pemikirannya mengenai Gara.
"Kak!" Arya meninggikan suaranya.
"Kamu ngebentak kakak?" Syasa semakin kesal dibuatnya. Baru kali ini Arya berani meninggikan suara di depannya. Syasa semakin marah dan menatap sinis Gara walau cowok itu sama sekali tidak melihatnya.
"Maafin Arya," kata Arya pada Gara dan teman-temannya.
"Ayo pulang," Arya menyerat tangan Syasa menuntun kakaknya keluar.
"Lepasin kakak bisa jalan sendiri," Syasa menghempaskan tangan Arya masih dengan raut wajah marahnya.
Gara yang sedari tadi diam, tapi tanpa Syasa sadari Gara mengamati apa yang terjadi. Gara mengangkat bokongnya membuang puntung rokoknya yang hampir habis dan menginjaknya agar apinya mati. Gara melangkahkan kakinya, tepat di belakang Syasa, ia memegang lengan Syasa.
Otomatis langkah Syasa terhenti. Ia memutar tubuhnya dan satu hal yang pasti kini wajahnya dan wajah Gara begitu dekat. Mata hazel Gara berhasil ia lihat dengan jelas dan jarak yang begitu dekat. Syasa terdiam, Gara menatapnya lekat namun dengan ekspresi wajah datar. Detak jantung Syasa berdetak kencang. Reaksi tubuhnya seakan sedang tersengat listrik. Sulit untuk Syasa kendali kan.
"Jangan pernah menggonggong anjing karena dia akan mengejar dan tidak akan melepaskan musuhnya,"
Gara melepaskan lengan Syasa dan melangkahkan kakinya melewati Syasa. Bahunya pun tak sengaja menyenggol tubuh Syasa. Sedangkan Syasa menjadi bungkam seketika berusaha mengerti maksud dari ucapan Gara.
****
"Kak dengerin penjelasan Arya dulu," Arya turun dari motor mengejar Syasa masuk dengan langkah besar ke dalam rumah.
Syasa mengabaikan teriakan Arya tidak peduli jika Anggun akan mempertanyakan hal itu, lagi pula itu yang diinginkan Syasa. Arya harus mendapatkan hukuman, diam-diam Arya telah berani merokok. Tentunya, Anggun mau pun Wisnu telah memberikan peringatan kepada Arya agar menjauhi rokok. Wisnu sendiri pun sama sekali tidak pernah merasakan bahkan menghisap rokok. Karena menurutnya, rokok hanya akan mengganggu kesehatan.
Benar saja, Anggun keluar dari arah dapur. Telinganya terusik mendengar teriakan Arya. Anggun mengerutkan dahinya bingung mendapatkan kedua anaknya seperti sedang bertengkar. Arya terus mengejar Syasa yang tak menghentikan langkahnya sama sekali.
"Hei, ini ada apa?" Anggun mencegah langkah Arya.
"Syasa berhenti nak,"
Syasa menghentikan langkahnya sesuai perintah Anggun. Syasa memutar tubuhnya menghadap ke arah mamanya berdiri. Anggun menatap kedua anaknya secara bergantian dan sorot matanya menuntut penjelasan dari keduanya.
"Apa yang terjadi?"
Syasa menyilangkan kedua tangannya. Ia tidak akan menjawabnya lebih dulu sebab ia membiarkan Arya bersuara dan melihat reaksi adiknya akan kah berkata jujur atau sebaliknya.
"Ma, tidak ada terjadi apa-apa. Kakak kesal karena aku jemputnya lama jadi—"
Syasa memicingkan matanya. Sungguh jawaban luar biasa. Arya memilih berbohong. Arya beralih mendekati Syasa. Ia memegang lengan Syasa erat dan memberikan tatapan memelasnya agar Syasa tidak mengatakan apa pun.
Terdengar helaan napas ringan dari Anggun.
"Mama kira ada apaan. Ya udah mama mau lanjut masak dulu," Anggun berlenggang pergi menuju dapur.
Syasa menatap tajam Arya dan menggelengkan kepalanya tak percaya. Arya sudah berani berbohong sekarang.
"Aku bakal jelasin semuanya, please," pinta Arya.
Arya mengajak Syasa menuju kamar. Arya menutup pintu rapat-rapat. Syasa melepaskan genggaman tangan Arya. Ia duduk di atas ranjangnya.
"Sebelumnya Arya minta maaf karena Arya udah ngerokok—"
"Jangan minta maaf sama kakak. Ngomong di depan mama sama papa," potong Syasa masih kesal.
"Arya takut kak, tapi aku janji gak bakal ngerokok lagi. Dan soal bang Gara, dia sama sekali nggak salah. Bukan bang Gara yang nyuruh atau meracuni Arya untuk ngerokok ini pure dari kemauan Arya sendiri. Arya coba karena penasaran, tapi setelah ini Arya janji nggak bakal ngerokok,"
"Kakak seharusnya nggak boleh gitu. Bang Gara, dia orang baik dan kakak salah menilai bang Gara. Bahkan bang Gara bilang saat lihat Arya ngerokok gini, 'nggak usah sok ngerokok, jangan kayak gue cuma bisa ngabisin uang jajan dari bokap cuma beli rokok. Sia-sia mending lo beli makan' kakak tau kan Arya gimana jadi Arya tetap keras kepala nyoba ngerokok,"
Syasa masih tidak mempercayai itu. Ia tetap pada pemikirannya. Syasa melambaikan tangannya memberi kode pada Arya agar keluar dari kamarnya. Syasa tidak ingin mendengar apa pun lagi dari mulut Arya.
---
Jangan lupa vote+comment yah 😊
Mohon koreksi kalau ada typo.
Love ❤
---
RA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Ney Maniez🍒⃞⃟🦅
c mecin ny lebay🤭
2022-08-03
0
(`⌒´メ) HONEY BEAR ✧ 🦕
Bad boy idaman😍
2020-07-10
0
Ivon Pratama
Gara😘😘
2020-06-01
0