Hari ini Syasa terlihat begitu loyo. Bagaimana tidak semalaman ia mengerjakan tugas resume sebuah buku yang di berikan oleh salah satu dosennya. Gadis itu harus menulis resume dengan tangannya sendiri sebanyak 15 lembar. Porsi tidurnya pun tersita karena harus menyelesaikan makalah tersebut. Syasa hanya tidur 3 jam lamanya. Kedua matanya terpaksa terbuka pada pukul 6 pagi. Syasa harus bersiap untuk berangkat kuliah. Syasa memiliki jadwal kuliah pagi jam 7.30 seperti anak sekolahan.
Syasa hanya mengambil selembar roti dan melahapnya di atas motor. Pagi tadi Syasa menaiki ojek online karena mobilnya sedang masuk bengkel. Tadinya, Syasa ingin Arya mengantarnya tapi adiknya itu tidak memiliki waktu banyak untuk mengantarnya apalagi jarak sekolah Arya dan kampusnya cukup jauh. Kasihan bila Arya harus bolak-balik.
Syasa menelungkupkan wajahnya ke atas meja dan menutupnya menggunkan kedua tangannya. Matanya terasa berat dan selalu ingin terpejam. Syasa sangat ngantuk. Syasa berseru pada Winda agar membangunkannya ketika dosennya datang. Syasa menggerutu sebab dosennya sampai sekarang belum datang padahal jam telah menunjukkan pukul 8 pagi. Syasa telah berusaha bangun pagi agar tidak terlambat namun nyatanya dosennya belum datang dan belum terlihat tanda-tanda kedatangan dosennya.
Pintu kelas terbuka dan menampakkan sosok pria berkepala plontos memasuki kelas sembari memegang tas berisikan laptop. Winda menggoyangkan lengan Syasa agar bangun.
"Sya bangun," serunya.
Syasa menggeliat. Ia membuka matanya perlahan, mulutnya terbuka lebar sembari menguap dan mengucek kedua matanya.
"Kumpul tugas yang saya berikan minggu lalu yang tidak mengerjakan silahkan keluar,"
Syasa mendengus. Pria berkepala plontos itu nyatanya tidak melupakan tugas yang ia berikan bahkan rasanya belum semenit berada di kelas hal yang pertama kali diucapkan adalah tugas. Anjas—ketua tingkat kelasnya berjalan mengambil satu persatu tugas teman kelasnya.
"Kusut amat muka lo," celetuk Anjas tertawa geli melihat wajah lesu Syasa.
"Capek dedek bwang," kata Syasa mengangkat kedua tangannya.
"Mau gue pijatin nggak? Tapi gue dapat bonus dong, plus+++ gitu?" Anjas memasang senyum penuh artinya.
Syasa memutas bola matanya malas dan memukul tangan Anjas keras.
"Ogah! Dasar omes,"
"Lo tuh yang mikirnya aneh-aneh. Plus++ belum tentu gituan doang. Maksud gue mah plus++ nya itu bonus makan traktir gue apa kek, nah kan kentara nih yang omes siapa," balas Anjas.
Syasa mendelik tajam. Sekali lagi, ia memukul tangan Anjas dan kini pukulannya lebih keras dari sebelumnya membuat Anjas meringis.
"Sakit ****,"
"Yah lo duluan yang resek!"
"Anjas kenapa kamu?" seru pak Bambang melihat Anjas meringis kesakitan.
"Ini pak tangan saya ditabok sama cewek setengah jadi," jawab Anjas masih mengusap lengannya.
Syasa melebarkan kedua matanya. Mulutnya bergumam mengatakan apa yang Anjas bilang mengenai dirinya. Pak Bambang mengerutkan dahinya tak mengerti maksud perkataan Anjas.
"Lo?" pekik Syasa tak terima.
Syasa mengangkat tangannya hendak memberikan pukulan ke Anjas tapi di cegah oleh pak Bambang.
"Silahkan selesaikan masalah rumah tangga kalian setelah jam mata kuliah saya selesai," seru pak Bambang makin membuat Syasa terkejut.
Tawa seluruh teman kelas Syasa pecah. Syasa mengerucutkan bibirnya kesal, bagaimana bisa pak Bambang mengatakan hal seperti itu. Syasa melirik ke sampingnya dan terlihat Winda ikut menertawainya. Syasa memberikan pukulan di lengan Winda.
"Sahabat terlaknat," desis Syasa melayangkan tatapan tajammya.
Winda tidak menanggapi perkataan Syasa. Winda hanya memeletkan lidahnya ke arah Syasa dan memasang tampang polosnya. Syasa sangat kesal rasanya ia ingin menarik rambut panjang Winda sampai botak. Syasa mendengus sebal memalingkan wajahnya. Dalam hati Winda tertawa jahat. Rasanya sangat bahagia melihat wajah kesal Syasa.
Pak Bambang mengambil alih kelas seluruh mahasiswa terdiam dan fokus pada sosok dosen berkepala plontos itu.
****
Sejam berlalu, Syasa kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja. Sedangkan Winda sedang asik bergosip ria dengan salah seorang gadis berparas imut. Syasa mendongakkan kepalanya, tiba-tiba saja perutnya berbunyi keroncongan. Syasa lapar, ia baru ingat tadi pagi hanya selembar roti mengisi perut kecilnya.
Syasa membuka matanya, ia melirik Winda asik bergosip dengan Fia. Syasa mengembuskan napasnya, cacing-cacing di perutnya berteriak kelaparan. Syasa menggoyangkan lengan Winda memasang mimik wajah lesunya.
"Lapar," bibir Syasa bersuara dengan nada lirih.
"Nangis wae," celetuk Winda.
Syasa memberikan pukulan cukup keras di lengan Winda karena mendapatkan jawaban super dari Winda.
"Sakit ****,"
"Lo sih, gue lapar bukan sedih pengen nangis,"
"Lha, itu tau. Lapar yah makan ****," Winda mendengus membalas perkataan Syasa.
"Masalahnya nggak ada makanan yang bisa gue makan,"
"Yah si oon emang iya mana ada makanan di sini. Noh sono lo ke kantin tinggal nunjuk," kesabaran Winda rasanya terkuras menghadapi Syasa.
"Lo ngajak gue makan? Berarti lo yang traktir gue dong,"
Winda menepuk jidatnya. Sungguh Syasa keterlaluan. Cukup sudah. Winda menyentil jidat Syasa membuat empuhnya meringis.
"Lo yang lapar kenapa nyusahin gue. Enak aja traktir,"
Syasa mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil. Fia yang sedari tadi setia menyimak dan mengamati tingkah laku Winda dan Syasa menggelengkan kepalanya. Fia berdiri dari kursinya, gadis itu berdiri tepat di depan Winda dan Syasa.
"Kalian berdua kalau berantem di sini terus nggak bakal bikin perut kenyang," serunya.
"Makan yah ke kantin,"
Syasa dan Winda saling menatap keduanya menarik sudut bibirnya tersenyum penuh arti.
"Yes, Fia traktir," pekik Syasa dan Winda kegirangan.
Fia melebarkan matanya. Ia bertolak pinggang memasang ekspresi tak terima.
"Muka gratisan lo berdua,"
Syasa dan Winda mencengir kuda. Pada akhirnya ketiga gadis itu berjalan secara beriringan menuju kantin.
Sesampainya di kantin, tiada hari tanpa sepi pengunjung. Kantin selalu ramai diisi para penghuni manusia yang kelaparan termasuk Syasa. Ketiga gadis itu, memutuskan duduk di sebuah meja kosong tepat di tengah-tengah kantin. Syasa memesan nasi campur dan es teh manis sedangkan Winda dan Fia kompak memesan bakso.
Karena cacing-cacing di perut Syasa sudah menggonggong kelaparan. Tanpa menunggu waktu lama saat pesanannya sudah datang, Syasa memakan nasi campur itu dengan lahap. Winda dan Fia menggelengkan kepalanya dan menegur Syasa agar makan dengan pelan supaya tidak tersedak. Namun Syasa adalah tipe cewek keras kepala maka dari itu ia tidak mengindahkan ucapan sahabatnya dan Syasa mendapatkan getahnya sendiri.
"Uhuk," Syasa tersedak. Rasanya kerongkongannya terasa pedis. Gadis itu meminum es tehnya hingga tersisa setengahnya.
"Dablek sih kalau dibilangin," sembur Winda.
Syasa memonyongkan bibirnya.
Di sisi lain, Gara berada di dalam kelasnya mengepalkan tangannya kuat saat mendengar tangisan Dea—gadis itu, salah satu sahabat baik Gara. Bagi Gara mendengar dan melihat cewek menangis adalah suatu hal yang sangat ia benci. Gara tidak suka melihat cewek menangis apalagi karena ulah cowok ********. Dea mengadu pada Gara mengenai kesakitan yang ia rasakan. Dea memiliki pacar lebih tepatnya mantan pacar sebab baru saja ia memutuskan pacarnya itu karena pacarnya begitu kasar padanya.
Mendengar alasan Dea dan kondisi pipi Dea memerah sudah jelas Dea mendapatkan kekerasan dari Jefri dan hal ini Gara tidak bisa mentolerir Jefri—pacar Dea lagi. Gara menarik tangan Dea menuju tempat Jefri berada. Dea berusaha mencegah langkah Gara namun pria itu tidak memperdulikan rengekannya. Jantun Dea rasanya ingin copot saat itu juga. Dea tidak bermaksud apa pun, ia hanya menceritakan kesedihannya saja pada Gara tanpa ingin memberi balasan pada Jefri.
Dea melupakan salah satu sifat Gara. Padahal ia sangat tahu betul apa yang akan Gara lakukan setelah mengetahui bila Jefri menamparnya. Hal ini sebenarnya sudah sering ia dapatkan dan Gara selalu mengetahuinya tapi Dea selalu berhasil menahan Gara tapi kali ini sepertinya ia tidak berhasil.
Gara melangkahkan kakinya menuju kantin. Sorot matanya terlihat kemarahan, wajahnya begitu menyeramkan. Rahangnya mengeras seiring kemarahannya. Dea masih memohon pada Gara agar mengurungkan niatannya. Kaki jenjang Gara melangkah mendekati sebuah meja yang diisi oleh beberapa orang cowok yang sedang mengobrol di selingi canda tawa.
Gara melepaskan tangan Dea. Tanpa pikir panjang Gara menarik kerah baju Jefri. Satu pukulan keras mendarat sempurna di rahang Jefri. Gara mendelik tajam, ia mendengus menatap wajah Jefri.
"Anjing, satu sentuhan gue bayar ribuan kali," desis Gara.
Gara menarik kerah baju Jefri agar lebih dekat padanya. Ia menariknya tinggi-tinggi. Jefri merasa sesak, ia mencoba mendorong bahu Gara namun sayangnya tenaga Gara terlalu kuat. Gara memberikan pukulan lagi ke wajah Jefri tanpa ampun.
Dea menutup mulutnya, Dea meringis menatap sekelilingnya tak ada yang berani melerai Gara. Siapa yang tidak mengenal Gara. Sebagian dari mereka memilih tidak ikut campur dari pada mereka yang terkena imbasnya. Dea tidak bisa tinggal diam, Jefri bisa mati kalau Gara tidak berhenti memukul Jefri.
Dea memeluk Gara dari belakang. Ia menangis di balik punggung Gara.
"Please, berhenti," lirihnya.
Gara menghentikan gerakan tangannya. Gara merasakan tangan Dea memeluk pinggangnya erat. Gara melirik tangan Dea, punggungnya pun telah basah karena air mata Dea mengalir deras. Gara memutar tubuhnya, ia melepaskan tangan Dea yang melingkar di punggungnya. Dea menangis tersendu-sendu. Gara menyeka air mata Dea.
"Jangan pernah menangis, gue nggak suka liat lo menangis apalagi karena cowok ******** itu," Gara menatap tajam ke arah Jefri yang mengerang kesakitan.
Dari arah tak jauh dari tempat Gara dan Dea. Nyatanya, Syasa, Winda dan Fia ikut menyaksikan aksi brutal Gara. Syasa melongo dibuatnya, ia hanya bisa menelan ludahnya. Sungguh mengerikan melihat Gara marah.
"Sumpah kalau gue jadi cewek itu melting gue, Ya Tuhan sisahin cowok kayak dia," Winda menatap Gara penuh kekaguman.
"Dea emang beruntung punya Gara. Tapi sayang Gara tidak pernah menganggap Dea lebih dari sahabat," kini Fia yang bersuara.
Winda mendengarnya pun menjadi penasaran, "lo tau lebih soal Gara?"
"Siapa yang nggak tau dia sih. Sejak awal masuk kampus nama dia yang pertama kali gue dengar. Gara dan Dea adalah sepaket. Banyak orang-orang yang dukung mereka jadian tapi sayang Gara tidak mempunyai perasaan lebih ke Dea walau sebaliknya Dea punya perasaan lebih ke Gara. Dea menutupi itu dengan cara pacaran sama Jefri sebagai pelampiasannya doang supaya Gara nggak curiga,"
"Lo tau dari mana? Jangan-jangan lo titisannya lambe turah? Wah, bahaya nih," Winda menggelengka kepalanya tak percaya Fia bisa mengetahui segalanya tentang Gara.
"Hahaha lambe turah. Berkat hengpong jadul cekrek-cekrek yes," Fia terkekeh geli mendapatkan julukan dari Winda.
Dea menarik tangan Gara agar pergi dari kantin. Gara merangkul pundak Dea. Keduanya secara serempak melangkah kan kakinya. Ekor mata Gara menangkap sosok gadis yang menatapnya lekat. Dea tertunduk karena malu mendapatkan tatapan dari semua orang.
"Anggap mereka sampah, nggak pantas untuk dilirik," bisik Gara.
Tubuh Syasa mematung. Matanya masih memerhatikan Gara sampai punggung kekar Gara tak terlihat lagi. Winda menyenggol lengan Syasa mengagetkan gadis itu.
"Sampai segitunya, awas naksir," Winda mengedipkan matanya.
"Ngaco nggak mungkin lah," elak Syasa.
---
Please, vote+comment lagi yah:)
---
RA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Waaahh jangan sampe Dhea jadi pebinor saat Gara jadian sama Syasa..
2024-03-21
0
Ney Maniez
shbt jg gk gt2 amt x🙄🤦♀
2022-08-03
0
Riry Setya
makin seru aje....
2020-11-28
1