Syasa melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Jalanan seperti biasa cukup ramai di padati berbagai kendaraan. Pada hari ini, Syasa memiliki jadwal kuliah pagi hingga siang mulai dari pukul 9 pagi hingga jam 2 siang. Cukup padat, biasanya setelah pulang kuliah bila tak memiliki janji dengan Jody untuk bertemu maka Syasa akan langsung pulang beristirahat. Syasa bukan lah tipe cewek yang doyan jalan, ia lebih senang menghabiskan waktu di rumah.
Syasa memarkirkan mobilnya. Setelah terparkir sempurna, ia mematikan mesin mobilnya. Syasa mengambil cermin di tasnya, Syasa memandang wajahnya. Syasa mengoleskan sedikit bedak di wajahnya dan sedikit merah pipi agar wajahnya terlihat fresh. Syasa pun memoleskan lipstik berwarna nude ke bibir tipisnya.
"Perfect," Syasa menaruh kembali cermin ke dalam tasnya. Syasa membuka pintu mobil dan turun dari mobil.
Syasa melangkah kan kakinya, rambut panjangnya yang tergerai lurus bergoyang seiring langkahnya. Syasa membalas beberapa sapaan dari orang-orang yang mengenalnya. Wajah cantik Syasa sudah menjadi pujaan para kaum adam. Setiap kali Syasa datang, para kaum adam tak sungkan memberikan godaan. Syasa selalu mengabaikannya, namun itu Syasa hanya memberikan senyumannya. Membuat para kaum adam bergidik tak tahan disuguhkan senyuman manis oleh Syasa apalagi Syasa memiliki lesung pipit di pipi kirinya.
Syasa memasuki kelasnya. Suasana kelas ketika belum ada dosen begitu riuh. Ada sebagian yang asik berdiskusi, bergosip bagi para wanita dan berdandan. Syasa mendaratkan bokongnya tepat di atas kursi.
"Lo udah kerja tugas dari pak Bambang?" tanya salah satu sahabat Syasa. Cewek bertubuh sedikit berisi dengan rambut pendek sebahu memiliki tahi lalat tepat di bagian bawah bibirnya.
Syasa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Gadis itu, mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi bergetar. Tertera sebuah kata 'pacar' dengan emoticon love di layar ponsel Syasa—gadis itu mengangkat panggilan dari Jody.
"Kok jawabnya lama? Kamu di mana? Sama siapa? Sibuk banget yah jadi angkat telfonnya lama?"
Syasa menghela napasnya mendengar ocehan Jody, lewat telepon saja Jody begitu cerewet apalagi jika mereka bertemu secara langsung sudah pasti mulut Jody tidak akan berhenti mengomel.
"Maaf, aku nggak sempat angkat soalnya aku baru aja sampe kampus,"
"Oh, gitu ya udah aku matiin telfonnya dosen aku udah datang, kamu jangan selingkuh,"
"Iya,"
Syasa meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bertopang dagu memikirkan Jody yang tak pernah berubah. Posesif. Kadang Syasa juga merasa bosan dan lelah bila Jody selalu mencurigainya berselingkuh padahal, Syasa sama sekali bukan tipe cewek seperti itu. Jika hatinya telah memilih Jody maka tidak akan bisa merubahnya kecuali Tuhan merubah perasaannya pada Jody maka bisa saja Syasa akan berpaling.
"Gimana rasanya pacaran bertahun-tahun dengan cowok posesif kayak dia? Enak gak? Atau bahkan sebaliknya?" Winda melirik Syasa.
Syasa menyingkirkan tangannya yang menopang dagunya. Matanya melirik ke arah Winda. Ia menggelengkan kepalanya memasang wajah murung.
"Hm, lama-lama juga gue capek Win, apalagi kalau dia gitu terus. Nggak berubah," jawab Syasa lesu.
"Putusin aja udah. Dari pada lo gini terus, tertekan," timpal Winda.
"Nggak tertekan juga sih Win. Cuma kalau lama kelamaan gue juga bosan sendiri, gue mah bukan tipe cewek doyan punya banyak cowok, satu aja gue pusing apalagi banyak,"
"Gue sih saranin sama lo. Kalau emang lo udah nggak nyaman sama dia ya udah putusin aja,"
"Susah Win, gue masih sayang sama dia. Selain gue udah pacaran 3 tahun sama dia tapi dia juga cinta pertama gue dan lo tau kan cinta pertama itu susah buat dilupain,"
Jody adalah cowok pertama yang berhasil meluluhkan hati Syasa. Sudah banyak cowok yang berusaha mendekati Syasa tapi gadis itu selalu menolak dengan alasan tidak ingin pacaran. Syasa mengenal Jody secara tak sengaja saat Syasa sedang kehujanan. Syasa pada saat itu belum diizinkan mengendari motor atau pun mobil ke sekolah makanya ia akan di antar—jemput oleh sopir. Jody menawarkan tumpangan pada Syasa dan Jody jatuh cinta pada pandangan pertama, ia berusaha mendekati Syasa yang begitu sulit untuk di dekati namun perlahan Jody berhasil menaklukan Syasa.
Kegaduhan di dalam kelas terhenti ketika pak Bambang datang dan proses pembelajaran pun di mulai.
****
Di tempat yang berbeda, di sebuah kantin milik mang Supri menjadi tempat perkumpulan The Trouble Maker. Cowok yang paling berpengaruh adalah Ahyan Garasya. Siapa lagi kalau bukan Gara—cowok itu adalah pemimpin dari perkumpulannya. Mereka tidak memiliki nama khusus tetapi semua orang menjuluki mereka dengan sebutan 'The Trouble Maker' di mana artinya adalah pembuat masalah. Seperti julukannya, Gara dan kawan-kawannya sangat suka beradu otot dan kekuatan dengan para pencari masalah terhadapnya. Terutama bagi orang-orang yang semena-mena dan pecundang.
"Pokoknya hari ini kita harus habisin para banci itu," sahut sosok cowok gondrong yang di kuncir.
"Gar, lo mending munculnya belakangan aja, kita yakin bisa melawan mereka, ingat kondisi lo," kata Ciko salah satu anggota The Trouble Maker.
Gara memicingkan matanya mendelik tajam ke arah Ciko, "lo pikir gue apa? Luka gini doang nggak bisa halangin gue untuk lawan para banci itu," seru Gara tak suka mendengar perkataan Ciko seakan pria itu merasa di rendah kan.
"Sepertinya pasukan banci itu udah datang," Rendi—pria berambut cepak itu memicingkan matanya. Tatapannya mengarah ke segerombolan cowok memakai kaos hitam. Memasuki gerbang dengan menggunakan motor secara ugal-ugalan.
Gara membuang puntung rokoknya lalu mematikan apinya dengan menginjaknya. Gara mengangkat bokongnya, ia memasang tatapan tajam dengan tangan mengepal. Gara meraih jaket jeans kesayangannya bagaimana tidak Gara selalu memakai jaket itu tak peduli bagian lengan jaketnya telah sobek akibat salah seorang musuhnya menarik keras lengan Gara menyebabkan jaketnya sobek. Namun begitu, jaket dan sobekannya sudah menjadi ciri khas dari seorang Gara. Bila pria itu tak menggunakan jaket kesayangannya itu maka ia rasa kurang lengkap.
Kaki jenjang Gara tanpa ragu melangkah keluar. Ia telah bersiap, para anggotanya mengikut di belakang. Seketika kampus kembali menjadi riuh dan gaduh. Banyak para mahasiswa berlari menjauh bahkan ada yang hampir terjatuh karena panik. Gara tidak akan membiarkan seorang pun dapat mengacak kampusnya.
Gara berdiri tepat di depan musuhnya. Gara memasang wajah dinginnya memandang satu persatu musuh di depannya.
"Waw, Gara, pantas semua cewek klepek-klepek sama lo," Thio selaku pemimpin Tiger turun dari motor mengambil posisi berdiri di depan Gara memasang senyum remehnya.
Gara tidak bergeming, ia masih memasang wajah dinginnya tak tersentuh. Thio mengangkat tangannya hendak menyentuh dagu Gara tapi ditepis oleh Gara dan menghempaskannya begitu keras.
"Waw, atit," Thio meringis seperti anak kecil lebih tepatnya sedang mengejek Gara dan memancing emosi Gara.
Gara menelan ludahnya. Ia masih begitu tenang. Tidak terpengaruhi oleh ucapan Thio.
Di tempat yang sama namun berbeda lantai dan gedung. Syasa memerhatikan orang-orang yang berlari ketakutan. Winda berada di samping Syasa pun ikut penasaran mengapa mahasiswa berlari ketakutan. Winda menghentikan salah satu mahasiswa untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Kenapa semua pada lari?"
"Ada tawuran di bawah,"
Syasa memutar bola matanya jengah, "tawuran, tawuran, tawuran terus. Kenapa sih suka banget tawuran. Nggak capek apa tawuran mulu emang ada prestasinya. Nggak kan, heran gue. Gini yah, gue berdoa semoga gue nggak pernah di dekatkan sama cowok yang suka tawuran, idih gila aja. Cowok yang suka tawuran mah nggak punya kerjaan," ocehnya tanpa henti.
Winda bertolak pinggang memerhatikan Syasa malas.
"Jangan gitu, entah lo kemakan omongan sendiri baru tau rasa lo,"
"Idih apaan, orang gue punya Jody kok," elak Syasa tak terima.
"Gue doain lo putus," cibir Winda mendapatkan jitakan dari Syasa. Winda mengelus keningnya bekas jitakan Syasa.
Ponsel Syasa berdering. Dan ia meyakini jika Jody sedang meneleponnya. Sesuai dugaaan, di layar ponsel miliknya tertera nomor ponsel Jody. Syasa mengangkatnya cepat takut bila Jody kembali mengomel.
"Udah pulang?"
"Iya ini baru aja,"
"Aku jemput,"
"Nggak usah, aku bawa mobil,"
"Ya udah aku tunggu kamu di cafe biasa,"
"Hm oke,"
Sambungan terputus. Syasa melihat sekelilingnya. Banyak mahasiswa berlari dan ada yang menetap tak berani turun. Mereka memilih menyaksikan moment seru melihat seorang Gara melawan musuh-musuhnya. Siapa yang tidak mengenal Gara? Hanya segelintir orang saja yang tidak mengenal sosok Gara dan sepertinya itu terjadi dengan Syasa.
Winda mencegah Syasa agar tidak turun dan menyuruh Syasa tetap tinggal. Menurutnya sangat bahaya bila Syasa pulang dengan keadaan seperti ini. Syasa keras kepala, ia tidak mengindahkan ucapan Winda. Syasa tetap pergi.
Syasa menaiki mobilnya, Syasa terdiam sejenak. Ia memikirkan bagaimana caranya melewati segerombolan orang itu. Apakah ia harus menerobosnya? Tapi bagaimana jika nanti ia melukai orang-orang itu atau bahkan dirinya? Syasa menjadi bingung sendiri. Ponselnya berdering kembali, Syasa melirik ponselnya itu. Jody meneleponnya. Syasa mengabaikan panggilan itu tapi ponselnya terus berdering tanpa henti. Syasa kebingungan tapi pada akhirnya ia nekad melajukan mobilnya hendak menerobos segerombolan cowok yang sedang tawuran.
Dalam pikiran Syasa, ia melajukan mobilnya tak peduli siapa yang ia tabrak nanti yang jelas mobilnya bisa lewat salah siapa yang menghalau jalan. Syasa menyalakan mesin mobil dan perlahan ia melajukan mobilnya. Syasa menutup matanya ketika mobilnya semakin dekat dengan segerombolan itu. Syasa meyakinkan dirinya sendiri bila ia akan baik-baik saja. Syasa mempercepat laju mobilnya dengan ragu sembari menutup mata. Ia takut bila aksinya itu menabrak orang dan ia tidak ingin melihatnya. Di luar dugaan, tangan dan kakinya bergetar hebat, Syasa menginjak rem hingga mobilnya berhenti. Syasa merasa tidak ada yang terjadi. Syasa mengembuskan napasnya lega, ia mengira telah berhasil melewati segerombolan cowok itu.
Syasa membuka matanya tapi detik kemudian matanya melebar secara sempurna. Mobilnya nyatanya belum melewati segerombolan itu. Justru kini, mobilnya berdiri tepat di tengah-tengah menjadi pengahalau antara Gara dan Thio.
Thio menangkap wajah Syasa dari arah luar. Thio sempat terkesima dengan wajah panik Syasa namun masih terlihat cantik. Sudut bibir Thio terangkat naik membuat sebuah senyuman. Thio mengetuk kaca mobil Syasa.
"Buka," seru Thio.
Syasa mendengarnya. Syasa kebingungan sendiri sekaligus panik. Syasa tidak bergeming memilih diam di atas mobil. Thio membuka pintu mobil Syasa, ia menyeret tangan gadis itu agar turun dari mobil. Syasa memberontak, tenaga Thio jauh lebih kuat. Thio memberi kode pada salah satu temannya untuk menyingkirkan mobil Syasa.
"Mobil gue, lo mau bawa ke mana? Lo mau nyulik mobil gue yah?" mulut Syasa berkomat-kamit Thio mengusap telinganya mendengar ocehan Syasa.
"Berisik banget deh,"
Syasa mendelik tajam, "berisik gimana, siapa suruh nahan gue? Mobil gue di bawa segala,"
"Tenang gue nggak bakal culik mobil lo, gue masih mampu beli mobil lebih bagus dari mobil lo," Thio menyombongkan diri.
Syasa berdecih. Tangannya masih di pegang erat oleh Thio. Kini tak ada lagi penghalau. Mobilnya telah di bawa oleh seorang cowok. Syasa bergumam lirih melihat mobilnya menjauh.
"Yah, mobil gue,"
Tapi Syasa tidak cemas sebab mobilnya berhenti tak jauh dari jaraknya berdiri. Thio mengarahkan kepala Syasa menghadap ke depan. Syasa memukul lengan Thio cukup keras.
"Lo apaan sih," serunya.
Thio tidak menanggapi perkataan Syasa.
Syasa menatap lurus ke arah seorang cowok dengan tatapan dinginnya, mata itu menatapnya. Sorot mata itu mampu membuat Syasa menciut namun terpaku seketika saat menatap lekat manik mata cowok itu yang berwarna hazel. Mata itu seakan bersinar terkena paparan sinar matahari. Tanpa sadar dalam hati Syasa memuja cowok itu.
"Sepertinya gue tidak akan melanjutkan perang hari ini, karena gue punya mainan baru," Thio melirik Syasa.
Syasa belum mengerti ucapan dari Thio. Gara masih terlihat tenang.
Thio mengangkat tangan Syasa tinggi-tinggi, ia mendekatkan bibirnya hendak mencium punggung tangan Syasa.
Syasa menepiskan tangannya. Ia melemparkan tatapan tajamnya pada Thio.
"Lo?"
Syasa menunjuk wajah Thio tanpa rasa takut. Emosi Syasa sudah tak terkendali, Thio berhasil membuat emosinya naik. Pertama, Thio memaksa dirinya turun. Kedua, Thio menyuruh seseorang membawa mobilnya. Ketiga, Thio memegang tangannya tanpa izin. Dan yang keempat, Thio ingin mencium tangannya. Sangat lancang.
Di luar kesadaran, Syasa menampar pipi kanan dan kiri Thio membuat semua orang yang menyaksikannya terkejut bukan main. Bagaimana bisa, seorang cewek sangat berani melawan Thio. Gara masih memerhatikan gerak-gerik Syasa dalam diam, ia enggan menghentikan Syasa.
"Lo pikir gue bakalan diam aja atas sikap lo yang lancang ini. Lo udah ganggu gue, pertama lo nyuruh gue turun dan bawa mobil gue. Lo pikir gue ada urusan sama lo dan orang-orang ini? Kalau lo mau ribut yah ribut aja, jangan bawa-bawa gue, emang lo kenal gue? Gue aja nggak kenal sama lo. Lagian gue heran, lo kalau mau berantem itu tau tempat dong, jangan di jalanan apalagi di kampus emang kampus ini punya nenek moyang lo apa? Ganggu, awas gue mau lewat, gue sama sekali nggak punya urusan sama kalian,"
Syasa mendorong tubuh Thio menjauh agar tak menghalau jalannya. Thio merasa di hina atas sikap Syasa. Thio menarik tangan Syasa menghentikan langkah gadis itu.
"Mulai sekarang lo punya urusan sama gue dan lo akan jadi pawang buat gue dan Gara. Lo bakal lepas kalau Gara sendiri yang berusaha lepasin lo dari gue tanpa bantuan antek-anteknya," Thio menaikkan satu alisnya memasang senyum 'setan' mencoba menantang Gara.
Thio tahu salah satu kelemahan Gara adalah wanita. Gara tidak suka jika seorang wanita terluka apalagi menjadi korban atas perkelahian mereka. Saat Gara maju maka Thio dan pasukannya akan menyerang Gara seorang diri. Walau Thio tahu, Gara bisa melawannya tapi akan sedikit kesulitan jika dia hanya sendiri saja berbeda dengan Thio yang di belakanganya ada 15 orang siap menyerang Gara.
Gara mengepalkan tangannya kuat. Para teman Gara memberikan masukan pada Gara agar segera pergi dan mengabaikan perkataan Thio.
"Lo mending pergi dari sini, biar kita yang urus Thio dan nyelamatin tuh cewek," bisik Ciko tapi tak berpengaruh sama sekali. Gara dengan keras kepalanya akan menerima tantangan Thio. Gara maju ke depan.
Thio tersenyum puas, ia tahu rencananya akan berhasil buktinya Gara telah maju selangkah itu artinya Gara menerima tantangannya. Thio memberikan Syasa ke tangan salah satu pasukannya. Thio akan melawan Gara terlebih dulu, rasanya sangat menarik. Gara membela seorang wanita asing dan mencari mati karena harus melawan Thio seorang diri.
Thio memberi kode kepada para pasukannya untuk mengepung Gara. Thio tersenyum licik melihat tampang Gara yang terlihat begitu tenang. Thio berdecih tepat di depan wajah Gara. Dalam hatinya, Thio merasa terhina akan sikap tenang dari Gara.
Thio dan pasukannya kini mengepung Gara dan masing-masing di antaranya mulai memberikan perlawanan pada Gara. Thio memberikan sebuah pukulan keras tepat di rahang Gara. Yang pada saat itu situasinya Gara hanya seorang diri, mendapatkan serangan hampir saja tumbang. Ciko, Rendi, Heri dan lain-lain berang dibuatnya. Mereka hendak maju namun di tahan oleh Gara sendiri. Gara menyuruh mereka tetap diam di posisinya.
Gara mengepalkan tangannya, Gara masih memasang wajah datarnya namun sorot matanya memancarkan aura mematikan. Gara maju tanpa persiapan, Thio mendapatkan pukulan keras di bagian wajahnya. Gara mengangkat kakinya tinggi-tinggi, mengarahkannya tepat di depan wajah salah satu pasukan Thio yang berdiri di sampingnya. Kaki Gara bergerak seperti arah jarum jam dan berhasil mengenai wajah satu persatu pasukan Thio.
Emosi Gara sudah naik pitam. Ia tak bisa mengendalikannya lagi. Gara kembali menarik kerah baju Thio. Dan memberikan bogeman keras di perut dan dada Thio. Dari arah belakang tubuh Gara ditarik secara keras hingga tangannya terlepas dari kerah baju Thio. Tiga kaki tersaji di depan wajah Gara hendak menyerah wajah dan tubuhnya. Gara menepis kaki-kaki itu menggunakan tangannya.
Thio memukul leher Gara hingga pria itu hampir saja tumbang. Pasukan Thio tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka secara bersamaan menyerang Gara dengan pukulan keras.
"Anjing, mereka tidak bisa dibiarin, Gara bisa mati kalau gini," gumam Rendi.
Ciko, Rendi, Heri dan yang lainnya maju membantu Gara. Ciko menarik baju seseorang yang memukul Gara.
"Banci lo semua berani main keroyokan,"
Ciko mendorong tubuh Gara menjauh. Tubuh Gara tergeletak di aspal. Cowok yang menahan Syasa pergi. Hingga kini tubuh Syasa bebas. Syasa melihat Gara mengerang kesakitan di aspal. Syasa tidak tega melihatnya. Syasa berlari mencari bantuan. Syasa bernapas lega saat satpam dan pihak kepolisian datang. Syasa berlari ke arah Gara. Entah kenapa ada sebuah dorongan menyuruhnya untuk menolong Gara.
Syasa memangku wajah Gara. Syasa menepuk pipi Gara agar pria itu tetap membuka matanya.
"Lo harus bertahan,"
Mata Gara terbuka setengah, ia melihat wajah Syasa yang panik. Syasa memalingkan wajahnya melirik ke arah kiri dan kanan mencari bantuan. Tanpa Syasa sadari, satu sudut bibir Gara tertarik ke atas. Garis senyuman Gara begitu tipis hingga Syasa tidak menyadarinya. Gara mengerang kesakitan hingga matanya tak sanggup lagi terbuka dan penglihatannya menjadi gelap.
---
Vomment dong guys! Big love ❤
---
RA
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Syasa keras kepala..
2024-03-21
0
Ney Maniez
💪💪💪💪
2022-08-02
0
Ney Maniez
🤔🤔🤔🤔
2022-08-02
0