—2– Gara?

Seorang cowok berseragam putih abu-abu baru saja keluar dari halaman sekolah menggunakan motor kesayangannya. Terasa getaran kecil di saku celananya, ia menepikan motornya sejenak untuk mengangkat telepon itu.

"Halo, kenapa kak?"

"Kamu udah pulang kan?"

"Iya, emang kenapa?"

"Singgah beliin kakak cilok di dekat sekolah kamu dong,"

"Hm, udah itu aja?"

"Iya, makasih yah, GPL yah dek,"

Belum sempat Arya berucap, sambungan telepon telah terputus. Arya mendelik sebal kakaknya mematikan sambungan secara sepihak.

"Untung gue sayang sama lo kak,"

Arya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Arya melajukan motornya dalam kecepatan standar. Kendaraan memadati jalanan ibukota terutama polusi udara yang mulai tercemar bukan hanya itu terik matahari yang begitu menyengat menembus kulit untung saja Arya memakai jaket walau ia sebenarnya tidak takut hitam.

Arya sebenarnya tidak suka pulang cepat tapi hari ini ia tidak memiliki kegiatan lagi di sekolah. Tapi Arya memiliki rencana lain, ia akan ke rumah salah satu temannya. Arya membelikan 2 bungkus cilok untuk kakaknya. Di pertengahan jalan motor Arya dihentikan secara paksa oleh 2 orang preman. Tubuh Arya di tarik agar turun dari motor, Arya melawan tapi pundaknya di cengkram erat oleh salah satu preman itu. Jalanan cukup sepi karena Arya sedang melewati jalan pintas namun, jalan itu memang lah cukup terkenal rawan perampokan. Arya harus melewati jalan itu sebab salah satu jalan yang selalu ia lewati ditutup maka dari itu tak ada pilihan lain bagi Arya.

Arya memukul perut preman yang berkepala plontos menggunakan sikutnya. Tubuh Arya sempat terlepas dari cengkraman preman tapi gagal karena preman satunya lagi mengambil alih dirinya.

Tak jauh dari arah Arya berada, ada seorang cowok baru saja keluar dari sebuah warung kecil untuk membeli rokok. Cowok itu memicingkan matanya dan matanya menangkap dengan jelas 2 orang preman sedang menjalankan aksinya. Cowok itu menghisap puntung rokoknya belum sempat ia menghabiskan satu puntung rokok cowok itu membuangnya begitu saja ke aspal.

Cowok itu menaiki motornya dan melajukannya mendekati preman. Saat motornya telah berada di belakang tubuh 2 orang preman itu, kaki jenjangnya menendang keras kaki preman itu secara bergantian.

"Anjing," umpatnya.

Arya bernapas lega ketika ada yang membantunya. Arya memerhatikan bagaimana cowok asing yang menolongnya itu sedang memberikan sebuah perlawanan kuat. Pukulan dan tendangan cowok itu selalu tepat sasaran sehingg kini 2 orang preman itu tumbang dan memilih pergi.

"Thanks bang," ucap Arya pada cowok misterius itu. Arya mengecilkan bola matanya memerhatikan dengan seksama wajah cowok yang menolongnya itu seakan dirinya pernah melihat wajah itu. Tak ada jawaban dari cowok itu. Arya jadinya bingung sendiri sembari menggaruk keningnya. Arya melirik ke plat motor cowok itu. B 64 RA.

"Gara?" gumam Arya menebak arti dari plat motor cowok itu.

"Lo tau nama gue?"

Arya menunjuk plat motor menggunakan dagunya yang diikuti oleh pemilik motor. Gara, cowok itu memang lah benar bernama Gara.

"Lo udah punya pacar atau belum?" tanya Gara.

Arya mendelik, pertanyaan Gara membuatnya bergidik ngeri. Dalam hati, Arya mengira jika Gara suka sesama jenis.

"Gue masih normal," seru Gara membaca ekspresi wajah Arya yang berubah.

Arya menggelengkan kepalanya singkat menandakan bahwa cowok itu belum memiliki pacar.

"Lo punya mama kan?"

Arya mengerutkan dahinya.

"Eh maksud gue, nyokap lo masih hidup?"

Arya mengangguk.

"Lo punya kakak atau adek cewek?"

"Kakak cewek," jawab Arya cepat. Arya rasa saat ini ia seperti sedang di introgasi.

Gara memegang erat pundak Arya menatap lurus kedua bola mata Arya.

"Lo cowok kan?" Arya kembali mengangguk dengan pertanyaan Gara yang terkesan aneh dan konyol. Dari segi fisik sudah sangat jelas jika Arya adalah seorang cowok.

"Bagus sebelum pacaran mending lo belajar berantem yang bener, supaya lo bisa jaga dia terutama nyokap dan kakak lo, cowok itu tugasnya ngelindungin cewek," Gara memukul-mukul pundak Arya.

Gara meraih helm lalu memakainya. Gara menaiki motornya dan berlalu begitu saja. Arya berdiri mematung memerhatikan kepergian motor Gara yang mulai menjauh. Arya mengingat sesuatu, Arya mengingat wajah Gara. Ia pernah melihatnya di TV.

"Dia. . ."

                                    ****

Syasa—gadis itu sedang asik berbaring di atas ranjang empuk miliknya. Tubuhnya bergoyang-goyang seiring alunan musik menggema di telinganya. Sebuah novel setia menemani Syasa. Kini Syasa sedang membaca novel sembari mendegar musik.

Suara ketukan pintu tak didengar oleh Syasa. Arya merasa kesal, kakaknya itu tidak membukakan pintu memutuskan masuk begitu saja. Arya berdecak sebal melihat Syasa baring di atas kasur sambil membaca novel. Arya memaki Syasa dalam hati.

'Pantesan nggak dengar telinganya di sumpelin headset'

Arya loncat ke atas kasur membuat Syasa kaget dan terpekik.

"ALLAHUAKBAR ARYA,"

Arya memasang tampang polosnya seperti anak kecil. Arya memberikan bungkusan cilok sesuai pesanan Syasa.

Syasa mengelus dadanya atas sikap Arya yang sama sekali merasa tak berdosa telah mengagetkannya. Namun kekesalannya itu tak berlangsung lama saat memandang bungkusan cilok pesanannya. Tangannya meraih bungkusan itu dari tangan Arya.

"Lama banget sih," gerutu Syasa.

"Aelah, nggak bersyukur banget dah, itu tuh Arya hampir di kroyok sama preman,"

"O,"

Arya melebarkan matanya sempurna mendengar jawaban Syasa yang sangat tidak memuaskan.

"Heh, kakak jahat yah, bukannya khawatir aku kenapa-kenapa malah jawabnya gitu,"  sungut Arya kesal.

Syasa memutar bola matanya malas, "gini yah adek ku sayang, kamu sekarang kelihatannya baik-baik aja so? Kakak harus cemas? Coba aja kamu nggak balik-balik terus gak ada kabar baru kakak cemas," dengan santainya Syasa berkata sembari mengunyah cilok.

"Makanya cari pacar sana, supaya ada yang khawatirin selain mama, papa dan kakak," tambahnya.

"Arya nggak mau punya pacar sebelum Arya jago berantem," jawab Arya.

Syasa tersedak mendengar ucapan Arya. Syasa mengambil gelas di meja nakas yang berisi air. Syasa menelan air itu hingga menyegarkan kerongkongannya yang terasa pedis karena tersedak.

"Hahahaa, jago berantem, kamu pikir cewek-cewek suka sama cowok yang suka berantem," Syasa tertawa meledeki Arya.

"Bukan gitu maksud Arya, kalau misalnya Arya gak jago berantem gimana mau lindungin pacar Arya nanti, Arya aja kesusahan lawan preman. Arya baru sadar, cowok itu tugasnya lindungin cewek, terutama mama, kakak dan pacar adek nanti,"

"Yang ngajarin gitu siapa sih? Papa yah?"

"Bukan,"

"Terus siapa dong?"

"Bang Gara," jawab Arya.

Syasa mengerutkan dahinya bingung merasa asing mendengar nama yang disebutkan oleh Arya.

"Gara? Siapa?" tanyanya walau Syasa tidak begitu penasaran dengan pemilik nama itu.

Arya memukul jidatnya pelan.

"Oh iya, Arya lupa kasih tau kakak. Masih ingat gak sama cowok yang waktu kita liat di tv itu?"

Kening Syasa membentuk lipatan-lipatan artinya ia sedang berpikir mengingat sesuatu.

"Yang mana?"

"Itu, lho yang mahasiswa ketangkep gara-gara dia tawuran, sekampus juga sama kakak, senior lah," jawab Arya.

Syasa mengingatnya. Ingatannya kembali mengingat ketika tahun lalu ia menonton tv yang pada saat itu terganggu oleh papanya dan mengganti siaran tv. Cowok yang wajahnya sedikit babak beluk akibat perkelahian. Syasa mengingatnya walau wajah cowok itu diingatannya samar-samar karena kejadian itu sudah sangat lama.

"Oh, emang kamu ketemu di mana?"

"Tadi, dia itu yang nolongin Arya dari preman, dia jago banget lho kakak, menurut Arya sih, dia tipe cowok ideal,"

"Idih, jangan-jangan kamu naksir yah?" Syasa bergidik geli jijik dengan Arya.

"Arya masih normal tau, orang Arya kagum aja liat bang Gara jago berantem, udah pasti tuh dia bisa lindungin mama dan pacarnya, kalau cari cowok tuh kayak gitu kak, jangan kayak si onoh, kalau ada preman eh dia panik bukannya melawan malah diam,"

Syasa terdiam. Ia tahu maksud ucapan Arya—adeknya itu sedang menyindir Jody—kekasihnya. Jody memang bukan lah tipikal cowok yang jago berantem, Jody tidak suka segala sesuatu yang bersifat kekerasan namun begitu terkadang Jody sangat suka marah-marah kesalahan sekecil saja suka dibesarkan. Satu sifat Jody yang tidak disukai oleh Syasa selain itu, Jody sangat posesif padanya dan membuatnya sedikit sulit untuk bebas. Syasa harus melaporkan kegiatan apa saja yang akan ia lakukan tak lupa di mana dan dengan siapa.

---

Yay or nay?

---

Tinggalkan jejak kalian!  🙏

---

RA

Terpopuler

Comments

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Ini pasti Gara kan..

2024-03-21

0

Ney Maniez

Ney Maniez

💪💪💪💪

2022-08-02

0

Ney Maniez

Ney Maniez

👍👍👍

2022-08-02

0

lihat semua
Episodes
1 —1— (Begining)
2 —2– Gara?
3 —3– First Meet
4 —4– Risa Ardani Syaqilla?
5 —5— Syasa si cewek ajaib
6 —6— Dia adalah Gara
7 —7— Memandang Sebelah Mata
8 —8— Arya Vs Jody
9 —9— Bimbang
10 —10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11 —11— Akan kah?
12 —12— Selingkuh?
13 —13— Putus?
14 —14— Aneh
15 —15— Cinta?
16 —16— Mulai Terungkap
17 —17— Mendua?
18 —18—
19 —19—
20 —20—
21 —21— kekonyolan Syasa
22 —22—
23 —23—
24 —24—
25 —25—
26 —26—
27 —27—
28 —28_
29 —29—
30 —30—
31 —31—
32 —32—
33 —33—
34 —34—
35 —35—
36 —END— (Sesion 1)
37 —Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38 —Satu—
39 —Dua—
40 —Tiga—
41 —Empat—
42 —Lima—
43 —Enam—
44 —Tujuh—
45 —Delapan—
46 —Sembilan—
47 —Sepuluh—
48 —Sebelas—
49 —Duabelas—
50 —Tigabelas—
51 —Empatbelas—
52 —Limabelas—
53 —Enambelas—
54 —Tujuhbelas—
55 —Delapanbelas—
56 —Sembilanbelas—
57 —Duapuluh—
58 —Duapuluhsatu—
59 —Duapuluhdua—
60 —Duapuluhtiga—
61 —Duapuluhempat—
62 —Duapuluhlima—
63 —Duapuluhenam—
64 —Duapuluhtujuh—
65 —duapuluhdelapan—
66 —Duapuluhsembilan—
67 —TigaPuluh—
68 —Tigapuluhsatu—
69 —Tigapuluhdua—
70 —Tigapuluhtiga—
71 Promosi dulu yah
72 —Tigapuluhempat—
73 —Tigapuluhlima—
74 —Tigapuluhenam—
75 —Tigapuluhtujuh—
76 —Tigapuluhdelapan—
77 —Tigapuluhsembilan—
78 —Empatpuluh—
79 —Empatpuluhsatu—
80 —Empatpuluhdua—
81 —END (Season 2)—
82 —Extra Chapter 1—
83 —Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84 —My Stupid Wife (1)—
Episodes

Updated 84 Episodes

1
—1— (Begining)
2
—2– Gara?
3
—3– First Meet
4
—4– Risa Ardani Syaqilla?
5
—5— Syasa si cewek ajaib
6
—6— Dia adalah Gara
7
—7— Memandang Sebelah Mata
8
—8— Arya Vs Jody
9
—9— Bimbang
10
—10— Kata Maaf Berujung Pertolongan
11
—11— Akan kah?
12
—12— Selingkuh?
13
—13— Putus?
14
—14— Aneh
15
—15— Cinta?
16
—16— Mulai Terungkap
17
—17— Mendua?
18
—18—
19
—19—
20
—20—
21
—21— kekonyolan Syasa
22
—22—
23
—23—
24
—24—
25
—25—
26
—26—
27
—27—
28
—28_
29
—29—
30
—30—
31
—31—
32
—32—
33
—33—
34
—34—
35
—35—
36
—END— (Sesion 1)
37
—Take Me Back!— Gara(Sya) Sesion 2
38
—Satu—
39
—Dua—
40
—Tiga—
41
—Empat—
42
—Lima—
43
—Enam—
44
—Tujuh—
45
—Delapan—
46
—Sembilan—
47
—Sepuluh—
48
—Sebelas—
49
—Duabelas—
50
—Tigabelas—
51
—Empatbelas—
52
—Limabelas—
53
—Enambelas—
54
—Tujuhbelas—
55
—Delapanbelas—
56
—Sembilanbelas—
57
—Duapuluh—
58
—Duapuluhsatu—
59
—Duapuluhdua—
60
—Duapuluhtiga—
61
—Duapuluhempat—
62
—Duapuluhlima—
63
—Duapuluhenam—
64
—Duapuluhtujuh—
65
—duapuluhdelapan—
66
—Duapuluhsembilan—
67
—TigaPuluh—
68
—Tigapuluhsatu—
69
—Tigapuluhdua—
70
—Tigapuluhtiga—
71
Promosi dulu yah
72
—Tigapuluhempat—
73
—Tigapuluhlima—
74
—Tigapuluhenam—
75
—Tigapuluhtujuh—
76
—Tigapuluhdelapan—
77
—Tigapuluhsembilan—
78
—Empatpuluh—
79
—Empatpuluhsatu—
80
—Empatpuluhdua—
81
—END (Season 2)—
82
—Extra Chapter 1—
83
—Trilogi Gara(Sya) My Stupid Wife—
84
—My Stupid Wife (1)—

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!