" Nak bagas " kata handika.
" kenapa kau ingin menikahi putriku ?" tanya dini menatap bagaskara.
" Aku mencintai dari 2 tahun yang lalu "
" apa ? " kata tara yang terkejut begitu juga dengan daniel.
" bagaimana kalian mengenal ?" kata handika.
" aku melihatnya tapi dia tidak melihatku, selama 2 tahun aku selalu memimpikannya dan beberapa waktu yang lalu aku sadar dia wanita yang aku cari. "
" aku menemukannya di sebuah restoran daerah sedang bersama seorang pria yang mungkin saat itu jika dia takut dan tidak tegas mungkin dia akan dilecehkan didalam sana. "
" anna , bagaimana bisa dia datang kerestoran itu ?"
" aku tidak tau tanyakan pada yang lainnya "
" tara ?" ayahnya menatap tara dan memandangnya.
" a-ayah aku "
***
didalam kamarnya shandrianna dan tomi duduk dibawah ranjang dengan shandrianna yang menyender dipundak tomi.
" kau lebih kuat dari yang aku bayangkan , kau selalu menahan semuanya sendiri. aku pikir selain diriku kau juga bercerita kepada bibi atau paman " ungkap tomi.
" tomi .. tidak pernah sama sekali dalam diriku berpikir untuk membedakan diriku terhadap kakak, tapi terkadang rasa iri di hati tidak ingin pergi. apa salah jika aku ingin diperhatikan dan merasa dipedulikan oleh nya ? "
benar , dia ingin diperhatikan oleh kakaknya dan dipedulikan walau hanya palsu. tapi setidaknya dia merasa kalau dia benar - benar punya seorang kakak.
dia merasa dia adalah seorang kakak yang setiap saat harus mengalah kepada adiknya.
" masih ada aku yang tidak pernah iri denganmu , kau setiap hari terlihat cantik baik di dunia nyata maupun dunia social media. sedangkan aku ? mataku sipit dan kulitku langsat "
" tomi aku tidak ingin bercanda hiks..."
" hahah iya , iya maaf-maafkan aku. kau tidak salah sedikitpun tapi aku juga tau siapa yang salah dan siapa yang benar. terkadang rasa iri hati membuat manusia menjadi egois dan tak terkendali. "
" iri hati adalah penyakit manusia yang paling kritis saat ini " ujar tomi.
" Apa yang harus kulakukan setelah ini tomi ? kakak tidak akan pernah ingin melihatku lagi dan akan membenciku "
tok...tok...tok
tomi menoleh dan langsung berdiri berbeda dengan shandrianna yang sedang terduduk dilantai menyenderkan tubuhnya ke ranjang.
" pak "
bagaskara masuk kedalam kamar anna dan berjongkok dihadapann anna.
" Dengkulmu memar , obati dulu "
" kenapa kau bisa ada disini ? siapa kau yang berani masuk kedalam kamarku ?" kata anna dengan pelan.
" tanyakan nanti dan obati dulu kakimu " bagas menyentuh kaki anna namun anna langsung berdiri menatapnya tajam.
" kau suka memanfaatkan momen ini untuk menyentuhku bukan ? "
" anna sayang " ibunya datang menghampirinya tetapi anna masih menatap lekat bagaskara.
" jangan bicara seperti itu padanya nak. dia berniat baik , lihatlah kakimu lebam " ibunya medudukkannya di ranjang saat akan berjongok anna melarang ibunya.
" jika tidak mau dengan nak bagas lalu siapa ?"
" aku saja tante "
" tomi saja "
tomi mengambil obat yang dipegang oleh bagaskara dan mengoleskannya di dengkul anna.
" shh pelan - pelan tomi " dia mengiris menahan pedih terkena obat itu.
" ini sudah pelan shan "
" sayang , maafkan ibu .. ibu se.."
" tidak ibu. seorang ibu tidak boleh meminta maaf kepada anaknya sendiri. akulah yang harus minta maaf telah berkata kasar pada semuanya. maaf kan aku ibu " ucapnya tertunduk.
dini memeluk putri nya dari samping , anna kembali meneteskan airmatanya namun tidak ada suara yang terdengar.
" ibu telah gagal mendidik kakakmu menjadi seorang kakak yang baik. jangan salahkan kakakmu tapi salahkan ibumu nak "
" Dia kakak yang baik ibu, hanya saja dia sedang emosi lupakan saja "
dalam pandangan bagaskara kenapa bisa wanita ini begitu baik kepada kakaknya dia hanya saudara tiri dan menganggapnya seperti seorang dewi.
" shh aw tomi ! "
" hheh maaf tangannku reflek " tomi menyengir padahal dia sengaja tidak ingin mendengar shandrianna membela tara lagi.
" Anna " tara masuk kedalam kamarnya dengan daniel di gandengannya.
anna menatap tangan itu dan kemudian menatap ke arah lain.
" kau tidak suka melihatnya ? aku senang kau membenci kami sekarang. "
" kakak apa maksudmu aku tidak membencimu "
" baiklah jika tidak ingin aku benci, turuti permintaannku "
" apa ?"
" Menikahlah "
" apa ?" shandrianna terlonjak kaget dan langsung berdiri saat itu juga.
" kau barusan dengarkan kalau aku tidak ingin melihat wajahmu dan akan terus membencimu sebelum kau menikah. "
" aku tidak bisa menikah secepat itu kakak "
" umur berapa kau akan menikah ? kau sudah meluluskan pendidikanmu. agar aku yakin kau tidak mencintai suamiku lagi dan aku tidak membencimu , maka menikahlah "
" kakak aku bisa menuruti yang lain tapi tidak dengan yang satu itu. jika perlu aku akan kembali ke tempatku dan tidak akan kembali lagi tapi untuk sekarang aku tidak akan menikah secepat itu . "
" sudah ayah putuskan , kau akan menikah nak " ayah nya tiba - tiba datang begitu saja. anna langsung menghampirinya walau kakinya sakit.
" ayah apa maksud ayah ?" dia menyentuh ayahnya meminta penjelasan.
" Menikahlah dengan Bagaskara , ayah yakin kepadanya "
" apa ?" gumamnya yang langsung melepaskan cekalan tangannya .
" tidak ayah , aku masih tidak ingin menikah. sungguh aku bisa melakukan hal lain tapi tidak menikah dengannya "
" ayah dan ibumu menerima lamaranku dibawah terhadapmu. cincin yang ada di tangan ayahmu adalah cincin tunangan kita. " saut bagaskara.
" hei ! kau suka sekali menakutiku " katanya pada bagaskara.
" maafkan ayah nak , tapi itu benar "
" ayah " katanya lirih dan tangannya diambil ayahnya dibagian tangan kiri di jari manis dipasangkannya cincin itu.
***
malam hari suasana rumah itu tampak tak seceria sebelumnya , memang dari pagi semuanya yang datang ke rumah itu belum pulang.
suasana makan malam dirumah itu tampak sunyi hanya suara dentingan sendok dan piring yang beradu.
saat makan dan memegang sendok mata shanrianna terus saja menarik untuk melihat cincin yang dipakaikan ayahnya tadi.
ibunya tau bagaimana perasaan shandrianna dia mengerti ini akan sulit untuknya. akan tetapi dia harus menerimanya dibanding kehilangan anaknya.
drrtt....drrrtt
shandrianna berdiri membuat semua orang menatapnya.
" mau kemana nak ?" tanya ayahnya.
" ada telpon , aku permisi sebentar " jawabnya dengan lesu.
" tomi makanlah yang banyak apa kau ingin menginap disini ?" tanya ayahnya shanndrianna.
" terima kasih paman , sebenarnya... kemarin saat pulang ke palembang aku mengambil kunci apartemen milik ayah. "
" oh begitu yasudah "
tak lama shandrianna kembali ke meja makan, tomi melihatnya dan shandrianna hanya mengangukkan kepalanya.
" apa katanya ?" bisik tomi.
" entahlah aku masih memikirkannya " jawab nya yang ikut berbisik.
bagaskara memperhatikan keduanya , begitu dekat seperti tidak ada batas.
" mari kita bicara berdua " kata bagaskara.
shandrianna yang makan dan tidak tau siapa yang diajak bicara hanya fokus makan.
" Anna , nak bagas ingin bicara berdua " kata ayahnya.
" sekarang ? "
" makanlah dulu "
***
diluar halaman dekat pohon yang kemarin itu keduanya berdiri bersejejer , namun kepala bagaskara melihat terus kearah shandrianna.
" kau baik-baik saja ?" tanya bagaskara yang memulai percakapan diantara kedua.
" iya " jawabnya cepat tanpa menoleh.
" cincin itu jangan pernah melepasnya "
anna melihat cincin yang ada di jari mania sebelah kirinya, " aku tidak mungkin memakainya di perusahaan. " jawab anna.
" tidak akan ada yang melarangnya. aku tidak suka kau melepaskannya. dan ... kau boleh dekat dengan tomi tapi jagalah batasan , sebentar lagi aku akan menikahimu. "
shandriana kini berubah arah dan menatap lekat bagaskara.
" kau tidak bisa membatasi hubunganku dengannya. aku tidak suka ada orang lain mengatur hidupku , dia sahabatku bukan orang lain ! " tegas shandrianna.
bagaskara tidak memperdulikannya marah atau tidak anna yang penting saat ini sekarang anna tidak bisa pergi darinya , walau belum terikat pernikahan tetapi setidaknya mereka bertunangan.
" baiklah aku tidak akan mengomentarinya sekarang. lihat aku "
shandrianna tidak menggubrisnya malah menatap arah lain.
" tatap aku Shandrianna La zheira ! "
anna baru menatapnya namun tatapannya seakan ingin membunuh " suka atau tidak kita sudah bertunangan. tidak lama lagi aku akan memutuskan kapan kita akan menikah dan sebelum pernikahan , jangan bicara pada Tara terlebih dahulu. jauhi dia untuk sementara waktu , atau .. kau bisa ikut denganku tinggal di apartemen. "
" tidak mau , aku akan tinggal disini. aku mengantuk selamat malam pak bagas "
" dan jangan panggil aku pak saat sedang berdua. "
" selamat tinggal pak bagasss " katanya dengan melambaikan tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments