Iblis Mata Satu yang terluka dalam begitu parah, namun ia masih berusaha bangun.
Tatapan matanya berubah sendu dengan bibir meringis, darah segar mengalir dari sela bibirnya.
Anggala diam melihat musuh yang sudah tidak berdaya itu.
"Kak Anggala, bunuh saja dia!" ujar Wulan Ayu tampak penuh kebencian.
"Jangan dinda, kita tidak boleh membunuh musuh yang sudah tidak berdaya, kita bukan orang jahat," sahut Anggala.
Iblis Mata Satu tertatih-tatih berusaha berjalan dengan tubuh sempoyongan. Anggala berbalik ke arah Wulan Ayu.
Tiba tiba.
"Awas, Kak..!" jerit Wulan Ayu sambil menghunus pedang elang perak dengan begitu cepat dari balik punggungnya.
Trang!
Pedang elang perak beradu dengan sebilah pisau yang di lemparkan Iblis Mata Satu dengan begitu cepat ke arah Anggala.
"Hiaaa..!"
Wulan Ayu melompat ke arah Iblis Mata Satu, dan secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa mengayunkan pedang elang perak ke arah leher Iblis Mata Satu.
Set!
Crasss!
Begitu pedang di tangan Wulan Ayu bergerak cepat menebas ke arah leher Iblis Mata Satu.
Pluk!
Kepala Iblis Mata Satu jatuh mengelinding ke tanah. Darah segar menyembur dari leher Iblis Mata Satu yang terbabat putus itu, di susul tububnya jatuh tertelungkup. Darah mengalir deras dari lehernya yang putus. Berakhir sudah petualangan tokoh hitam satu itu.
Orang-orang kampung menarik napas lega dengan hancurnya kelompok Perampok Tengkorak Merah.
Anggota Tengkorak Merah yang masih hidup tanpa pikir panjang langsung melarikan diri, meninggalkan mayat Iblis Mata Satu dan mayat kawan-kawannya.
Orang-orang kampung sangat senang, mereka berbondong-bondong menemui Anggala dan Wulan Ayu. Orang-orang kampung mengucapkan terima kasih.
Anggala dan Wulan Ayu yang berniat langsung meninggalkan kampung itu. Namun Sesepuh Desa dan para penduduk belum membolehkan mereka pergi.
Para penduduk menahan kedua pendekar, agar tidak segera meninggalkan tempat itu.
"Nak, jangan dulu pergi. Tinggallah semalam ini untuk menghilangkan lelah dulu!" pinta Ki Puhar.
"Ya, nak Anggala. Tinggallah dulu untuk istirahat.!" tambah nyi Omah.
"Baiklah, Ki. Kami akan tinggal semalam lagi," sahut Anggala.
Keesokan harinya Anggala dan Wulan Ayu, bersiap siap meninggalkan kampung itu untuk melanjutkan perjalanan mereka. Orang-orang kampung berbondong-bondong mengantar Anggala dan Wulan Ayu ke perbatasan Desa.
Setibanya di batas desa mereka bergiliran mengucapkan perpisahan dan terima kasih.
Setelah meninggalkan Desa Anggala dan Wulan Ayu berjalan menyusuri hutan.
"Kak, orang-orang kampung, baik-baik ya," puji Wulan Ayu sambil merangkul bahu kanan Anggala.
"Ya, mereka memang baik, hanya para perampok itu yang tak punya prikemanusiaan.!" sahut Anggala sambil tersenyum di tatapnya mata indah milik Wulan Ayu.
"Mata Dinda, indah!" puji Anggala. Pendekar Naga Sakti balas memeluk bahu gadis cantik yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa dari barat itu.
" Merayu ni," sahut Wulan Ayu, wajahnya cerah, bibirnya tersungging senyuman manis.
"Tidak! Itu yang kakak lihat," tukas Anggala sambil tertawa kecil menggoda Wulan Ayu.
"ih...! Kakak, nakal..!" rungut manja Wulan Ayu sambil mencubit kecil pipi Anggala.
"Sakit, dinda!" keluh Anggala sambil menatap mata Wulan Ayu, mereka menghentikan langkah karena asyik bertatapan mata.
Anggala membuka caping bambunya sambil membuka caping di kepala Wulan Ayu.
"Kenapa di buka?" tanya Wulan Ayu, sambil mengambil caping di tangan kanan Anggala.
"Mau melihat wajah cantik, Dinda!" sahut Anggala, mata mereka lekat saling beradu pandang, bibir mereka menyungging senyuman.
Tiba tiba Anggala mencium pipi Wulan Ayu. Setelah itu pemuda itu berlari menjauh karena malu.
Baru itulah Anggala berani menyentuh pipi gadis cantik kekasihnya itu
"Kakak....! Awas ya!" teriak Wulan Ayu sambil tertawa. Gadis cantik itu berlari mengejar Anggala dari belakang.
Wulan Ayu berhasil mengejar Anggala dan memegang tangan Anggala.
"Kenapa lari? Malu ya, atau takut dinda marah?" tanya Wulan Ayu sambil tersenyum, wajahnya masih merona merah karna di cium tadi.
"Takut, Dinda tampar," sahut Anggala sambil tertawa di peluknya bahu gadis cantik kekasihnya itu.
"Tidak, Kak, masa cuma karna itu dinda tampar Kakak. Dinda'kan kekasih Kakak," sahut Wulan Ayu sambil bersandar di bahu Anggala. Tidak terasa mereka sudah jauh memasuki hutan.
.
.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.
Terima kasih banyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
noName
wah goblok stenga mati ini pendekar Uda tau pnjhatnya Uda kyk gitu lngsung pancung saja😄😄😄🫣🫣♥️♥️🌿💙💙🌿♥️♥️
2023-02-08
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Jooosssssss...!! 👍👍
2023-01-09
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Semangat Thorr 💪💪💪
2023-01-09
1