Melihat Anggala dan Wulan Ayu mau membantu orang-orang yang terluka.
Kepala kampung itu mendatangi Anggala dan Wulan Ayu. Kepala kampung itu mengajak Anggala dan Wulan Ayu ke rumahnya.
"Mari silahkan masuk, Tuan," ajak kepala kampung itu.
"Baik, Ki. Terima kasih sudah mau menerima kami," ucap Anggala.
" Kalau boleh tau Aden-aden ini mau kemana?" tanya sesepuh Desa. Di sini kepala kampung di panggil Sesepuh.
"Kami adalah pengembara, Ki," jawab Anggala, Wulan Ayu hanya mengangguk membenarkan ucapan Anggala.
"Nyi, ambilkan tamu kita air minum," pinta Aki Sesepuh itu pada istrinya.
"Baik, Ki," jawab sang istri sambil pergi ke dapur mengambil air minum.
Anggala dan Wulan Ayu melepas caping mereka, alAki tua itu terkejut.
Rupanya tamunya adalah sepasang anak muda. "Kalau aki boleh tau siapa nama, Anak berdua?" tanya si Aki itu lagi.
"Nama saya Anggala Ki dan ini kekasih saya Wulan Ayu!" jawab Anggala.
"Kalau saya Aki Puhar, ini istri saya Omah," kata aki puhar memperkenalkan diri. "Maaf, Den. Kami tidak menghidangkan makanan, karena kami tidak punya makanan. Makanan kami habis di rampok tadi," ucap ki Puhar.
"Tidak apa-apa Ki, kami mengerti," jawab Anggala, ia mengerti keadaan Aki Puhar dan Nyi Omah, "Ki apa di dekat sini ada sungai?" tanya Anggala pada Aki Puhar.
"Ada, Den tidak jauh di dalam hutan di belakang rumah," jawab Aki puhar.
" Jangan panggil aden, Ki, panggil saja Anggala," ucap Pendekar Naga Sakti itu.
"Iya, Den... eh Anggala," jawab Aki Puhar.
"Banyak ikan di sana, Ki?" tanya Anggala lagi.
"Banyak, Nak Anggala," jawab Aki Puhar.
"Wulan, ayo kita ke sungai menangkap ikan untuk makan malam ini!" ajak Anggala.
"Ayo!" jawab Wulan sambil tersenyum manis. Mereka berdua lalu pergi ke sungai. Mereka menangkap ikan cukup banyak, persiapan untuk makan malam ini.
Bagi Anggala dan Wulan Ayu menangkap ikan tidak membutuhkan waktu lama, sekitar satu jam mereka berdua pergi, mereka kembali membawa cukup banyak ikan.
"Ki, ikannya cukup banyak, ambil untuk makan malam kita, sisanya berikan pada orang-orang kampung," pinta Anggala.
"Baik, Nak," jawab Aki Puhar.
"Ayo, Nyi. Bantu Aki,"
"Baik, Ki," jawab Nyi Omah, mereka berdua lalu membagi-bagikan ikan pada tetangga-tetangga mereka.
Malam itu Anggala dan Wulan Ayu, menginap di rumah Aki Puhar. Sambil menunggu makan malam di siapkan Nyi Omah mereka berbicang-bincang di teras rumah.
"Kalau boleh tau,tujuan anak berdua kemana?" tanya ki Puhar.
"Saat ini sebenarnya kami menuju selatan, mau ke Kerajaan Galuh Permata, Ki!" jawab Anggala.
"Galuh Permata masih lima hari perjanan Nak dari sini," jawab aki Puhar.
Mereka asyik berbagi cerita, Wulan Ayu duduk di samping Anggala menjadi pendengar cerita mereka, terkadang ia menyela sesekali pembicaraan tersebut.
"Ki, makanan sudah siap, ajak Anggala dan Wulan, makan," terdengar suara Nyi Omah dari arah dapur sambil menghampiri mereka.
"Baik, Nyi. Ayo, Nak kita makan," ajak ki Puhar pada Anggala dan Wulan Ayu.
"Baik, Ki," jawab keduanya berbarengan.
Mereka pun makan malam bersama, ikan bakar dan singkong rebus.
"Maaf, Nak, hanya ini yang kami punya, singkong rebus!" ucap Ki Puhar sambil makan.
"Tidak apa-apa, Ki. Saya besar dengan singkong rebus," jawab Anggala sambil menyantap makanannya.
"Ayo, Nak. Di makan ikannya, kalian sudah capek menangkapnya.!" tambah nyi Omah.
"Iya Nyi, ini saja belum habis, ikannya besar," jawab Wulan Ayu sambil memperlihatkan ikan dalam piringnya.
Setelah selesai makan, Aki Puhar permisi pada Anggala untuk tidur, laki laki itu tampak lelah apalagi setelah hasil kerjanya di ladang habis di gondol rampok.
Anggala dan Wulan Ayu duduk di teras rumah, mereka bersiaga kalau perampok-perampok itu datang lagi.
Tidak terasa dua hari sudah Anggala dan Wulan Ayu di Desa ini. Namun belum ada tanda-tanda bahwa perampok Tengkorak Merah akan datang.
Hari ketiga tampak orang orang kampung mulai beraktivitas mereka mulai ke ladang dan ke kebun.
Menjelang siang kedamaian Desa tidak berlansung lama suara deru telapak kaki kuda terdengar menderu memasuki Desa Jati Putih.
"Perampok datang...!"
"Perampok datang....!"
Orang-orang berlarian ke dalam rumah dan menutup pintu rumah mereka, tampak orang-orang berwajah bengis di atas kuda.
Suara ringikan kuda memecah kesunyian, hanya Anggala dan Wulan Ayu yang tidak lari ketakutan. Wulan Ayu mengambil kipas elang perak di balik bajunya,
pertanda gadis itu bersiap akan bertarung.
Tampak seorang berbaju hitam dengan mata kiri tertutup di atas kuda di belakang rombongan perampok Tengkorak Merah itu.
Semua anggota Tengkorak Merah, memiliki baju bergambar tengkorak merah, kecuali Iblis Mata Satu.
Para anggota perampok Tengkorak Merah lansung mendobrak pintu-pintu rumah penduduk, melakukan penjarahan dan memaksa penduduk keluar rumah dan berkumpul.
"Ha ha ha.....! Cepat keluar kalau tidak ingin di bantai! Cepat..! Ha ha ha...!" tawa para perampok memekak kan telinga, suara tangisan anak kecil juga membahana. Mereka menangis ketakutan.
"Jangan ganggu mereka!" bentak Anggala. Anggala dan Wulan Ayu melesat bagai kilat ke depan para perampok itu.
"Sudah cukup kalian membuat orang orang kampung ini menderita!" bentak Anggala lagi penuh kemarahan melihat kelakuan para perampok itu.
Tawa para perampok terhenti, mereka memandang ke arah Anggala dan Wulan Ayu yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Siapa kalian? Sudah bosan hidup, hah..?!" bentak salah seorang perampok, ia adalah pimpinan lama perampok Tengkorak Merah.
Iblis Mata Satu hanya tertawa kecil, melihat ke arah Anggala dan Wulan Ayu.
Anggala dan Wulan Ayu terlihat marah, karena mereka melihat kekejaman para perampok itu.
"Kami hanya orang yang lewat, yang tidak suka perbuatan kalian!" jawab Anggala dengan nada tantangan.
"Heh..! Cari mati kalian!" bentak perampok yang dari tadi berbicara.
"Sebutkan nama kalian agar bisa kami tulis di batu nisan, kalian!" gertak perampok itu.
"Soal hidup mati bukan di tangan kalian!" jawab anggala sengit.
"Cincang! Mereka!" perintah Iblis Mata Satu.
Sret! Sret!
"Heaaah....!" para perampok lansung melompat menyerang Anggala dan Wulan Ayu, mereka menyerang dengan golok terhunus di tangan.
Crang!
Tring!
Mata golok beradu dengan kipas elang perak milik Bidadari Pencabut Nyawa.
Sedangkan Anggala bertarung dengan tangan kosong, pemuda itu meliuk-liuk menghindari sabetan dan tebasan golok para perampok itu.
Set! Set!
Wut! Wut!
Dik.! Duak..!
"Aakh..!" sambil menghindari sabetan golok Anggala menyarangkan pukulan telapak tangannya yang sudah berisi tenaga dalam tingkat tinggi ke tubuh musuhnya.
Perampok yang terkena pukulan jurus dasar 'Tapak Naga milik Anggala terlempar beberapa tombak. Para perampok itu tidak bangun lagi, tewas seketika.
"Bangsat!" teriak orang di atas kuda lansung ikut mengeroyok Anggala.
.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Radiah Ayarin
Kasihan
2023-02-21
1
Radiah Ayarin
lelaki Thor, hampir mata qu terkilir melihatnya🤣
2023-02-21
2
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
bagus 👍
2023-02-08
0