Hampir empat belas tahun sudah, Liku Dana, Resa Dana dan Jaka Dana mengelilingi Pulau Andalas. Pencarian mereka belum juga membawakan hasil.
Mereka bertiga menjadi salah satu kelompok golongan putih yang di segani kawan maupun lawan.
Mereka tidak pernah berpisah jalan, Kehilangan Pangeran mereka, yang mereka anggap adalah kesalahan mereka bersama. Jadi pencarian pun di lakukan selalu bersama-sama. Kini perjalanan ketiga pendekar bersaudara itu telah mendekati Kerajaan Mandalika, bahkan saat ini mereka berada di wilayah Mandalika.
Sementara itu Anggala dan Baginda Raja Jaksana beserta rombongan telah selesai berurusan dengan para penyamun.
Mereka meneruskan perjalanan ke Kota Raja Mandalika, begitu memasuki sebuah desa mereka berencana beristirahat di sebuah warung pojok. Kuda-kuda mereka memasuki perkarangan warung.
"Kudanya di beri makan, Tuanku?" tanya seorang laki laki setengah baya menawarkan.
"Boleh, kebetulan kuda kami belum makan dari kemarin," jawab Baginda Jaksana.
"Baik, Tuan. Di belakang ada kandang kuda siap dengan rumputnya," ucap lelaki setengah baya itu lalu membawa kuda-kuda ke belakang warung.
"Ayo! Kita cari makanan dulu," ajak Baginda Raja.
"Baik, Ayahanda. Ayo! Wulan," ajak Anggala pada sang Bidadari Pencabut Nyawa.
"Jadi hanya kak Wulan yang diajak!" rungut sang Putri Mayang sambil tertawa.
"Ya, sekalian Dinda lah," jawab Anggala sambil tertawa menghadap sang adik bungsunya itu.
" Ayo! Kak Wulan!" ajak Mayang Sari sambil memeluk lengan kiri Wulan Ayu.
"Ayo!" jawab Wulan Ayu sambil balas merangkul bahu Mayang Sari, mereka berjalan menyusul Anggala dan kedua orang tuanya.
"Pelayan! Siapkan makanan paling enak di sini!" pinta sang Paduka Raja sambil membuka caping bambunya.
Mereka duduk di sebuah meja panjang, yang banyak kursinya, Ratu dan Wulan Ayu duduk berbaris sesama wanita dan Anggala duduk di samping ayahandanya.
"Baik, Tuan," sahut seorang wanita setengah baya yang adalah istri lelaki di luar tadi.
"Siapkan makanan untuk tamu kita," perintah wanita itu pada dua orang gadis yang tegak di sebuah meja di samping lemari kayu tempat makanan di simpan.
"Baik, mak," jawab keduanya, mereka pun lansung mengambil makanan dan memasukkan nya ke dalam piring dari tanah liat, yang di lapisi daun pisang yang sudah di layur.
Wanita setengah baya itu mengambil makanan yang sudah di siapkan putri-putrinya dan mengantarkan ke meja yang di tempati baginda raja dan keluarganya.
Begitu melihat orang di depannya. Wanita itu lansung berlutut, karena ia mengenali sang Baginda Raja.
"Maafkan hamba, Tuanku. Kami tidak mengenali Tuanku tadi," ucap wanita itu sambil bersimpuh dengan kedua tangan bersusun di depan wajahnya.
"Tidak apa-apa, Nyai. Bangunlah, kami sedang tidak mengadakan perjalanan kerajaan," titah sang Baginda, "Berdirilah dan bersikap biasa saja, nanti orang-orang malah sibuk karena kedatangan kami" titahnya lagi.
"Baik, Tuanku," jawab wanita itu, ia lansung kembali ke tempat makanan untuk mengambil makanan dan mengantarkannya ke meja baginda raja lagi.
Sang Raja makan, makanan yang telah di hidangkan. Mereka makan dengan lahap, karena mereka lelah setelah perjalanan tadi.
Keluarga Raja asyik makan. Tampak di luar tiga orang berkuda memasuki perkarangan warung.
Mereka adalah Tiga Pendekar. Mereka belum mengetahui sang Baginda Raja ada di dalam warung itu. Setelah memberikan kuda mereka pada laki-laki di luar tadi, ketiga pendekar pun memasuki warung itu.
Begitu mereka memasuki warung, barulah mereka melihat Baginda Raja dan Permaisuri, hanya mereka berdua yang di kenali Tiga Pendekar.
Mereka lansung mendekati meja sang Baginda dan berlutut menghaturkan sembah.
"Tuanku, maafkan kami. Kami tidak melihat Tuanku ada di sini," sembah Liku Dana. Liku Dana yang berbicara diantara Tiga Pendekar.
"Liku Dana! Sejak kapan kalian di sini?" tanya sang Raja tampak kaget melihat Tiga Pendekar ada di belakangnya.
"Kalian dari mana?" tanya beliau sambil tegak dan menghadap tiga pengawal pribadi putranya dulu.
"Kami ke sini berencana mau istirahat makan, Tuanku," jawab Liku Dana masih berlutut menghadap Baginda Raja, "Kami tidak menyangka bakal bertemu, Baginda Raja di sini,"
"Bangunlah, kita makan bersama," titah Baginda, "Kalian tidak mengenali pemuda di sampingku ini?" tanya Baginda sambil memeluk Liku dana dan kedua adiknya, Resa Dana dan Jaka Dana.
"Tidak, Tuanku?" jawab Liku Dana sambil memandang Anggala yang juga ikut berdiri.
"Inilah Pangeran yang kalian cari-cari selama ini," jawab Baginda sambil memegang bahu Anggala.
"Salam, Pangeran," ucap Liku dana menunduk memberi hormat pada Anggala, kedua adiknya pun ikut memberi hormat.
"Jangan sungkan, Paman. Saya tidak ingin di pandang sebagai pangeran, khususnya di depan, Paman bertiga," kata Anggala
"Maafkan saya yang selama ini membuat Paman-paman, susah!" ucap Anggala sambil memeluk Liku Dana, setelah memeluk Liku Dana Anggala juga memeluk kedua adik Liku Dana, yaitu Resa Dana dan Jaka Dana.
Anggala memang tidak mengenali wajah ketiga pengawal pribadinya itu, tapi ia telah di ceritakan Ibunda dan Ayahandanya di Goa kelelawar semalam.
Baginda Raja mengajak Tiga Pendekar makan bersama, akhirnya mereka pun makan bersama di warung itu.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
wah keren juga
2023-02-08
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Jooosssssss...!! 👍👍
2023-01-09
1
Mr Aw
Acara Reuni Keluarga
2022-02-09
2