Kembali ke Anggala dan Wulan Ayu, bersama baginda beserta Mayang Sari yang pergi ke goa kelelawar.
Seperti yang kita ketahui, Anggala telah berhasil menemukan ibundanya, Sesuai janji permaisuri, ia akan kembali ke istana mandalika, jika baginda Jaksana bisa mengalahkannya dalam pertarungan setahun sekali.
Atau sang putra mahkota, Anggala di temukan, kini Anggala telah kembali.
Baginda Raja Jaksana menagih janji Permaisuri Ratu Ratih untuk pulang ke istana.
Permaisuri Putri Ratih, menepati janji, ia akan kembali ke istana, sebagai seorang permaisuri sang raja kembali, tapi sang permaisuri belum mau kembali hari ini, ia masih mau bersiap siap.
Permasuri mengajak Anggala untuk bermalam di goa kelelawar, ia belum banyak tanya,sebelum keluarganya itu masuk ke dalam goa, tempat tinggal Ratu selama, tiga belas tahun ini.
Begitu mereka masuk ke dalam goa, mereka duduk di kursi batu di hadapan sebuah meja baru besar,r atu menyuguhkan minuman dan makanan untuk keluarganya yang baru datang itu.
Yang sangat di istimewakan adalah Anggala si Pendekar Naga Sakti.
"Makanlah ananda, hanya itu yang ada,dan yang bisa ibunda suguhkan," kata Permaisuri Putri Ratih pada sang putra Anggala.
"Ibunda, terima kasih, ananda cukup kenyang dengan makanan ini," jawab Anggala, begitu selesai makan makanan, yang di berikan Ibundanya.
"Perkenalkan ini Wulan Ayu, kekasih ananda ibunda," kata Anggala memperkenalkan gadis cantik, yang dari tadi diam bagai orang bisu.
Wulan ayu bangkit dari tempa duduk ya, ia bersimpuh di hadapan ratu putri ratih.
"Salam ibunda ratu,perkenalkan hamba, Wulan ayu," sembah Wulan ayu.
"Bangunlah Ananda, Kau cantik sekali," puji sang ratu, "Pantas kalau putra bunda jatuh hati padamu!" tambahnya lagi.
"Ibunda terlalu berlebihan," jawab Wulan ayu merendah, ia tersipu malu atas pujian ibunda Anggala itu.
"Kau juga seorang pendekar,siapa gurumu?" tanya permaisuri pada Wulan Ayu.
"Saya murid Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak, Bunda Ratu," jawab Wulan Ayu.
"Jadi kau adalah bidadari pencabut nyawa dari barat ya?" tanya permaisuri.
"Orang-orang dunia persilatan,memberi gelar itu bunda Ratu," jawab Wulan Ayu.
"Jadi pedang yang ada di balik punggunggmu, adalah pedang elang perak!" tanya permaisuri lagi.
" Ya Bunda. Bunda ratu tau dari mana gelar ananda?" tanya Wulan penasaran.
"Bunda sering berkeliling kampung dengan menyamar, di warung-warung, banyak pendekar yang membicarakanmu!" jawab Ratu Ratih, ia tersenyum ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
Mereka bercerita sampai larut, keluarga itu bercengkrama, kadang terdengar tawa, sang ratu mengguyoni cerita lucu.
Malam itu mereka menginap di goa kelelawar, ini malam perpisahan Ratu Ratih dengan goa kelelawar.
Pagi ini matahari terbit dari timur cukup cerah,sang ratu dan keluarganya berberes, mereka akan kembali ke kerajaan mandalika,
Wulan Ayu dan Mayang Sari, tampak sibuk membantu sang ratu menyiapkan sarapan pagi, sedangkan Anggala dan ayahanda Raja Jaksana, menyiapkan kuda mereka.
Setelah sarapan pagi, mereka mulai bergerak menuju ibu kota kerajaan mandalika.
Sang baginda raja dan Permaisuri ratih di depan, Anggala, Wulan Ayu dan Mayang Sari berada di belakang, mereka di belakang raja dan Ratu Mandalika itu.
Di tengah perjalanan di batas hutan jati, mereka di hadang sekelompok orang, para penghadang itu adalah penyamun hutan randu.
"Berhenti...! serahkan kuda kalian, jika kalian ingin hidup!" bentak pemimpin para penyamun.
Para penyamun tidak tau, sedang berhadapan dengan siapa, mereka hanya melihat pakaian bagus milik keluarga kerajaan. Mereka mengira yang lewat adalah para saudagar kaya.
Raja dan rombongan menghentikan kuda mereka, tanpa membuka caping mereka, mereka turun dari kuda.
"Cepat! serahkan kuda dan uang kalian!" bentak pimpinan penyamun lagi, para anggotanya mengelilingi mangsa yang ada di depan mereka.
"Ayahanda, biar Mayang yang menghadapi mereka,!" ujar Mayang Sari, ia maju ke depan, menghadpi para penyamun yang berjumlah sepuluh orang itu.
"Dinda, kakak juga akan membantumu," Wulan Ayu juga maju dan mendekati Mayang sari.
Kipas elang perak tergenggam di tangannya, tanda ia siap bertarung.
"Hahaha...!" tawa penyamun itu pecah, melihat yang maju adalah para gadis, walau mereka tak melihat jelas wajah para gadis itu.
"Tertawalah sebelum kalian merasakan tinjuku!" tantang Mayang Sari, pada para penyamun.
"Beri mereka pelajaran anak-anak!" perintah sang pemimpin, begitu di beri aba-aba, mereka lansung menyerang dengan golok di tangan mereka.
"Hup...!" "heaa...!"
dik...! dik...! Duak!
Mayang Sari melesat ke depan, memakai 'Jurus Bidadari Turun Mandi'. yang ia pelajari dari Bidadari Putih.
Baru ia bergerak pukulannya sudah mengenai salah seorng penyamun.
Buak!
"Hia...!"
trang....! tring...!
Golok para penyamun beradu dengan kipas elang perak, lima penyamun mengeroyok Wulan Ayu dan empat lainnya mengeroyok Mayang Sari.
Tak bertahan sepuluh jurus, empat orang penyamun yang mengeroyok Mayang Sari, sudah berjatuhan dan tak bangun lagi.
"Hup...!" "Hia...!"
trang! Buk! Buk..!
Set..! Set....! Bret! Bret...!
"Aaaaa.......!"
Kipas elang perak di tangan Wulan ayu berkekebat menghajar para pengeroyok,kipas itu tanpa terbuka.
para penyamun tampak mengeliat di tanah mereka, rata rata sudah tak mampu berdiri.
Melihat anggotanya pada terluka pemimpin berteriak marah.
"Dasar kalian tak berguna!" pemimpin penyamun itu lansung menyerang Mayang Sari dan Wulan Ayu, dengan tombak merah di tangannya.
"Hih..!"
"Hia......!"
Tap.....!
Wulan Ayu menggeser tubuhnya ke samping. Begitu cepat Wulan Ayu menangkap tombak pimpinan penyamun itu dengan tangan kirinya yang berisi tenaga dalam tinggi.
Pemimpin penyamun yang tombaknya di tangkap Bidadari Pencabut Nyawa.
"Hup...!
Pimpinan penyamun itu berusaha menarik tombaknya, namun usahanya sia-sia tenaga dalamnya kalah jauh dengan tenaga dalam Wulan Ayu.
"Kau salah menghadang orang kisanak..!" kata Wulan Ayu, tanpa melepaskan peganganmya pada batang tombak musuh.
"Kau, Kau siapa...? Aakh...!" keluh pemimpin penyamun, wajahnya memerah karna berusaha menarik tombaknya, yang bagai tertancap di batu besar.
" Aku! Bidadari Pencabut Nyawa," bentak Wulan Ayu, mendengar Perkataan Wulan Ayu tersebut pemimpin penyamun itu lansung melepaskan tombaknya dan bersujud.
" Ampun...! Ampuni kami Bidadari biru," ia tampak ketakutan, tangannya tersusun di depan wajahnya, yang menunduk ke tanah.
"Hukuman kalian ku serahkan pada baginda raja!" ujar Wulan ayu.
" Silahkan Ayahanda," Wulan Ayu,memberi hormat pada sang calon mertuanya atau raja Jaksana.
"Terima kasih anakku," jawab baginda raja, sambil mendekati pemimpin penyamun
" Kenapa kalian merampok, apakah kalian tau hukuman bagi perampok?" tanya sang raja.
" Ampun...! Ampuni kami tuanku, kami merampok untuk mencari makan tuanku," jawab pemimpin penyamun sambil bersujud.
"Bagaimana dinda, apa yang harus kita lakukan pada mereka?" tanya baginda raja pada sang permaisuri.
"Hari ini kita maafkanlah dulu mereka, tapi apabila mereka mengulangi lagi jadi merampok atau menyamun lagi ,kita perintahkan Bidadari Pencabut Nyawa memenggal kepala mereka dengan pedang elang peraknya!" jawab permaisuri penuh kebijakan.
"Kalian dengar hari ini kalian beruntung, ini ada uang untuk kalian, jangan kalian ulangi lagi, jadilah petani, kalian bisa hidup dengan jadi petani!" titah sang raja, ia melemparkan sekantung uang di depan para penyamun.
"Terima kasih banyak Tuanku," ucap para penyamun sambil tetap bersujud. Rombongan Anggala dan Ayahandanya pun berlalu dari tempat itu.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Radiah Ayarin
Malaikat pemarah sulit di mengerti juga tapi kreatif
2023-02-15
1
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
jurus bidadari mandi
2023-02-08
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
2023-01-09
1