Beberapa jam kemudian, Diah Kencana membuka matanya, begitu matanya terbuka
tampak wajah tampan yang duduk di samping pembaringannya.
"Kau sudah sadar, bagaimana tubuhmu, apa dadamu masih sesak?" tanya Lesmana.
"Masih terasa sesak! Sedikit," jawab Diah kencana. ia berusaha duduk, ia malu berbaring di depan pemuda yang baru ia kenalnya itu.
"Makanlah obat ini!" Lesmana memberikan sebuah pil, pada Diah Ayu Kencana Wati atau dikenal orang dunia persilatan dengan gelar Bidadari Kuning, si Pedang Batu Bintang, ia memperhatikan wajah tampan yang duduk di sampingnya.
Terdengar suara orang berbincang bincang di teras pondok, ki Gading Mageli sudah selesai mengobati luka dalam ki Randu.
Diah Ayu Kencana begitu lekat memandangi, wajah tampan Pendekar Naga Sakti, matanya tak berkedip bagai tersihir ketampanan pemuda dua puluh tahunan itu.
Begitu Lesmana menoleh ke arahnya, ia kaget bukan main, wajah cantiknya memerah menahan malu.
"Namamu Diah Ayu Kencanawati kan? Bidadari Kuning, pedang Batu Bintang..!" sapa Lesmana, sambil tersenyum melihat wajah cantik itu memerah.
" I.. Iya," jawab Diah Kencana, tampak tergagap sambil menunduk menahan senyum, namun tetap saja lesung pipit di pipinya keluar.
"Lesung pipitnya manis di pandang mata, apalagi senyumnya tak di sembunyikan!" goda Lesmana, ia pun melirik suka pada gadis cantik di depannya,
"Kau siapa?" tanya Diah Kencana.
"Saya Lesmana.!" jawabnya, sambil menuang air yang ada di kendi di dekatnya, ke dalam cangkir bambu.
"Jadi kau Pendekar Naga Sakti yang kesohor tiga tahun ini?" tanya Diah kencana, sambil tersenyum manis pada Lesmana.
"Ya..! Orang orang dunia persilatan yang memberikan gelar itu," jawab Lesmana singkat.
Mereka berbicara panjang lebar, tak terasa hari pun sudah mulai gelap, siang memasuki malam.
Ki Randu dan ki Gading Mageli, beserta empat muridnya masuk ke dalam pondok, mereka saling pandang, melihat Lesmana dan Diah Kencana, asyik ngobrol berdua tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya mulai gelap.
"Ki Randu," bisik, ki Gading mageli.
"Tampaknya mereka berdua saling suka, lihat mereka asyik berbagi cerita, tanpa sadar hari sudah mulai gelap..,"
"Ya, aku juga melihat itu ki Gading," jawab ki Randu, atau Pendekar Pusaka Batu Bintang, orang tua itu,mengambil pelita dan menghidupkannya.
Ruang pondok berubah terang, karena cahaya pelita yang di hidupkan ki Randu.
Empat murid Perguruan Bambu Kuning membantu, mereka meletakkan pelita pada setiap ruangan.
Diah dan Lesmana kaget, ketika mereka sadar, mereka sedang jadi perhatian orang orang di dalam pondok.
Diah Kencana lansung lari ke kamarnya dan menghidupkan pelita dengan batu api yang ada di sana.
"Paman, maaf kami terlalu asyik mengobrol, hingga lupa waktu," ucapLesmana pada ki Gading Mageli, ia tampak tidak enak hati.
"Maapkan saya kek, dan kawan kawan," lanjut Lesmana, ia tampak malu.
"Tidak apa apa nak, kalian kan cuma ngobrol," kata ki Randu. "Kalian Sama sama muda, jadi itu hal yang biasa," lanjutnya.
"Kakek lihat Diah menyukaimu, tidak biasanya dia mau ngobrol dengan orang yang baru di kenalnya," kata ki Randu lagi.
"Diah siapkan makan malam, untuk kita makan malam ini," pinta ki Randu pada Diah Ayu Kencana, sementara Diah masih di kamarnya.
"Baik guru!" jawab Diah Ayu Kencana dari kamarnya, tak lama ia keluar ke arah dapur, sambil membawa pelita untuk masak makanan malam ini.
"Boleh saya membantu Diah Kek? Agar lebih cepat, kebetulan saya juga sudah lapar?" tanya Lesmana. Lesmana menawarkan diri pada ki Randu, untuk membantu Diah Kencana memasak.
"Silahkan kalau kau tak ke beratan?" jawab ki Randu. Lesmana lansung menuju dapur.
"Boleh di bantu?" Lesmana tampak muncul di pintu dapur, ia berdiri di sana.
"Eh Kak lesmana, boleh! Kalau mau bantu," jawab Diah Ayu Kencana sambil tersenyum ke arah Lesmana.
"Kak?" kening Lesmana berkerut heran, tiba-tiba gadis cantik itu memanggilnya Kakak, ia tampak bingung.
"Kok bengong! bolehkan?" tanya Diah Kencana lagi, sambil sibuk membersihkan ikan, untuk di panggangnya.
"Ya.! Ya, boleh," jawab Lesmana ,ia jadi salah tingkah di buat Diah Ayu Kencana.
Setelah Diah dan Lesmana memasak,mereka makan malam bersama, Diah Kencana tampak duduk di antara kakek gurunya ki Randu dan Lesmana.
Setelah makan mereka berbincang-bincang. Sementara Diah Kencana sudah masuk ke kamarnya ia permisi untuk tidur.
Ki Gading Mageli,dan ke empat muridnya, istirahat di kamar tamu pondok itu, walau sebuah pondok ki Randu membuatnya cukup besar, punya tiga kamar dan ada ruang besar untuk beristirahat dan duduk santai.
Sementara ki Randu masih tinggal di ruang depan
"Nak Lesmana, aki lihat Diah menyukaimu, tinggallah beberapa hari lagi di sini, karna orang orang golongan hitam itu, masih menginginkan Pusaka Batu Bintang itu," pinta Ki Randu.
"Aki ingin kau melindungi Diah, untuk saat ini kalau bisa selamanya, aki lihat Diah menyukaimu dan kau pun menyukainya, ya kan? jadi dia takkan menolak jika kau menjaganya.!" tambahnya lagi.
Ki Randu bercerita panjang lebar malam itu, sampai larut malam ia masih bangun bersama Lesmana.
Setelah cukup larut barulah mereka tidur, Lesmana tidur di ruang depan dan ki Randu tidur di kamarnya.
Pagi matahari bersinar terang di upuk timur, Diah kencana sibuk memasak di dapur untuk para tamunya.
Ki Gading Mageli dan ke empar muridnya sudah bangun, mereka duduk di dipan di teras pondok. Sementara Lesmana dan ki Randu belum bangun, karna mereka tidur sudah hampir pagi.
Diah Kencana telah selesai memasak, ia menuju kamar sang kakek gurunya, untuk membangunkan sang kakek.
"Kakek, Bangun, makanan sudah siap," Diah Kencana beruasaha membangunkan sang guru.
"Iya.! Iya kakek bangun," jawab aki tua itu, ia duduk tak lama, ia berkelebat menuju sungai
"Satu sudah bangun," kata Diah Ayu Kencana dalam hati, ia keluar dari kamar ki Randu menuju ruang depan.
"Kak Lesamana, bangun. Sudah siang!" kata Diah sambil duduk di samping Lesmana berbaring.
"Hmm... iya kakak bangun!" jawab Lesmana sambil mengusap matanya, ia memandang gadis cantik, yang duduk di sebelahnya.
"Diah sudah selesai masak di dapur.! Tapi kakak belum bangun," rungut Diah ia tersenyum simpul, lesung pipitnya menyembul di pipinya.
Setelah selesai sarapan, ki Gading Mageli beserta keempat muridnya, permisi meninggalkan tempat itu, mereka kembali ke Perguruan Bambu Kuning.
kini tinggal mereka bertiga di Bukit Sanggar Puyuh, ki Randu Pura pura istirahat, agar Lesmana dan Diah Kencana saling bertukar pikiran. Mereka duduk di dipan di teras pondok, mereka tampak berbincang bincang.
Tiga hari sudah Lesmana menemani, Diah Kencanawati di sini.
Pagi ini pagi ke empat, mereka berdua tampak semakin dekat.
Mereka duduk di depan pondok,di sebuah bangku bikinan ki Randu.
"Kak, berapa lama sudah kakak turun gunung?" tanya Diah Kencana sambil tersenyum, matanya lekat memandangi, wajah tampan di depannya.
"Tiga tahun lebih!" jawab Lesmana, ia menatap wajah cantik yang dari tadi memandanginya.
"Pernahkah Kakak bertemu gadis cantik," tanya Diah Kencana, penuh selidik.
"Pernah.!" jawab Lesmana, "Memangnya kenapa?"
"Tak ada yang kakak sukai?"
"Banyak yang Kakak sukai, makamya sampai saat ini kakak masih berkelana sendiri," jawab Lesmana sambil tertawa, menggoda Diah Kencana.
"Diah serius," rengut Diah Ayu Kencana, namun ia tersenyum, karna ia tau Lesmana hanya menggodanya.
"Ada! yang kakak sukai satu!" ucap Lesmana.
"Wajahnya cantik bagai bidadari, sesuai dengan namanya..!" Lesmana sengaja menghentikan cerita, ia sengaja membuat Diah penasaran.
"Jadi Kakak sudah menyukai seseorng ya.?" wajah Diah kencana berubah murung, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Sekarang di mana gadis itu?" tanya Diah Kencana tanpa menoleh ke arah Lesmana lagi, Lesmana tersenyum dalam hati,
Sekarang ia tau perasaannya tak bertepuk sebelah tangan.
"Hmm.. mau tau dia di mana? Dia ada disampingku" jawab Lesmana, tangannya perlahan meraih tangan Diah Kencana.
"Benarkah? Jadi gadis itu Diah..!?" ia berbalik menghadap Lesmana, tangan Diah Ayu Kencana mengenggam tangan Lesmana.
"Kakak tidak bohong kan.?!" mata Diah Kencana berkaca dan berbinar, ia menatap mata Lesmana, tak ada ke bohongan di mata itu.
"Tidak, kakak tidak bohong, kakak menyukai Diah dari pertama bertemu, waktu Diah mau memanggil Kakak dengan panggilan Kakak waktu itu, kakak gugup," jawab Lesmana
"Jujur..! Diah juga menyukai Kakak dari pertama bertemu," Diah Kencana tersenyum bahagia, ia menyandarkan kepalanya di bahu Lesmana.
Tanpa mereka sadari sang kakek guru memperhatikan dari dalam pondok.
Singkat cerita, Lesmana Akhirnya berkelana bersama sang kekasih Diah kencanawati, sedangkan ki Randu kembali ke pertapaan, karna tugasnya menjaga sang murid telah selesai.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Radiah Ayarin
Diah Ayu bagus namanya
2023-02-15
1
Manami Slyterin🌹Nami Chan🔱🎻
tetap semangat 🔛🔥kawan ku
2023-01-21
1
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
2022-11-29
1