Malam di Mandalika, ini adalah malam pertama bagi kedua pendekar merasakan kehidupan orang-orang kelas darah biru istana.
Anggala beristirahat di kamar sang adik, Pangeran Mayu Kencana, setelah mandi dan bertukar pakaian bersih, mereka berbincang-bincang sambil menunggu panggilan untuk berkumpul di Pendopo Kerajaan.
Mereka tampak akrab walau ini baru pertama kali mereka bersama.
Sementara Wulan Ayu di layani para dayang-dayang, begitu ia mau mandi para dayang juga ikut menuju pemandian.
Wulan Ayu termenung, gadis itu tidak biasa mandi di depan orang lain, jadi ia hanya terdiam tanpa berkata kata.
"Kenapa Tuan Putri tidak jadi mandi?" tanya salah seorang dayang.
"Saya tidak biasa mandi di hadapan orang lain," jawab Wulan Ayu. Ia hanya diam tidak melakukan apa-apa.
"Baiklah, kalau Tuan Putri malu. Kami akan menunggu di luar," ucap dayang itu.
Para dayang-dayang itu pun keluar dari tempat pemandian meniggalkan Wulan Ayu sendiri. Setelah para dayang itu keluar barulah Wulan Ayu beranjak untuk mandi.
Setelah selesai mandi ia kembali ke kamar
para dayang dayang itu telah menunggu,dan menyiapkan pakaian untuk Wulan Ayu.
"Putri, ini pakaian untuk Tuan Putri malam ini," sembah dayang-dayang itu.
"Tidak perlu saya bawa pakaian sendiri," jawab Wulan ayu, ia pun mengambil pakaian yang bawa di dalam buntilan yang di bawanya tadi.
Tidak lama muncul seorang gadis cantik, ia memasuki kamar yang di tempati Wulan Ayu, begitu ia masuk para dayang menghaturkan sembah hormat padanya, ia hanya tersenyum pada para dayang.
"Malam Kak, maaf saya baru kembali dari luar istana, jadi tadi saya tidak tau apa yang terjadi di istana," gadis itu tampak sangat muda umurnya baru sekitar enam belas tahunan.
"Kakak, kekasih kanda Anggala ya?" tanya Putri Mayang Sari.
Wulan Ayu hanya mengangguk malu, di bibirnya tersungging senyum manis.
"Saya Mayang Sari," ucapnya sambil menyalami Wulan Ayu, "Siapa nama Kakak?" tanyanya lagi. Putri Mayang Sari duduk di tempat tidur.
"Wulan Ayu, Dinda," jawab Wulan Ayu, ia telah selesai berdandan. Gadis itu tampak begitu cantik dengan baju biru kesayangannya.
"Kakak cantik sekali," puji Mayang Sari polos, ia memandangi wajah Wulan Ayu sambil tersenyum.
"Dinda juga cantik.!" jawab Wulan Ayu.
"Tapi tidak secantik Kakak," kata Mayang Sari merendah.
"Kandaku beruntung punya kekasih secantik Kakak. Aku belum pernah bertemu kanda Anggala," tambah Mayang Sari.
Tidak lama kemudian muncul seorang dayang, "Permisi, Tuan Putri. Hamba di perintahkan menjemput Aden-aden Putri," ucap dayang itu.
"Baiklah, Bik," jawab Mayang Sari, "Ayo Kak kita ke pendopo, aku sudah tidak sabar bertemu dengan kanda Anggala," Mayang Sari tampak bersemangat, mereka berjalan ke pendopo di ikui para dayang dari belakang.
Begitu mereka memasuki pendopo, rupanya semua orang telah berkumpul termasuk Anggala dan Pangeran Mayu Kencana.
Semua mata tertuju pada Wulan Ayu, mereka terpesona dengan kecantikan Bidadari Pencabut Nyawa itu.
Wulan ayu hanya membawa kipasnya, pedangnya di tinggal di kamar, ia tampak begitu anggun, terbias senyum manis di bibirnya sehingga kecantikannya semakin bercahaya.
"Kanda, kekasih Kanda cantik sekali," puji Pangeran Mayu Kencana sambil tetsenyum ke arah sang Kakak.
"Bagaimana, Kanda bisa dapat kekasih secantik Kak Wulan?" tanya Pangeran Mayu berbisik kepada Anggala.
"Nanti bila ada waktu kanda ceritakan," jawab Anggala sambil tertawa.
Semua pembesar kerajaan di kumpulkan malam ini, baginda raja Jaksana ingin memperkenalkan Anggala pada mereka.
"Semua yang ada di sini, aku ingin memperkenalkan pada kalian, Putraku Anggala yang telah lama hilang, ia baru pulang tadi siang, seperti yang kalian ketahui keributan tadi siang, dia datang dengan pakaian kependekaran dan tak dikenali, sehingga prajurit tak menganggapnya,!" kata baginda raja.
"Mulai hari ini aku ingin kalian semua, menghargainya sebagai Pangeran Kerajaan ini, dia Putra Mahkota! Kursi singgasana Kerajaan akanku serahkan padanya, bila waktunya sudah tiba nanti!" titahnya, penuh wibawa.
"Gadis cantik yang bersama Putri Mayang Sari adalah kekasihnya. Aku juga ingin mengatakan hargailah dia bagai Putri Kerajaan ini!"
"Baik, Baginda. Titah baginda akan kami laksanakan!" Jawab semua pembesar kerajaan serentak.
"Baiklah, karena hidangan sudah siap, mari kita makan bersama," ajak sang Baginda.
Mereka makan bersama, semua orang diam sambil menikmati makanan mereka, setelah selesai makan satu persatu pembesar kerajaan, pamit untuk kembali ke rumah mereka.
Kini tinggallah keluarga kerajaan yang berada di ruangan itu, baginda bersama ibunda Mayu dan mayang, yaitu selir pertama baginda ia bernama Putri Melati.
Anggala tampak tersenyum ke arah ibu tirinya, ia beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menemui sang ibu.
"Salam kenal, Bunda. Salam hormat Ananda," ucap Anggala mengambil tangan wanita itu dan menyalaminya.
"Kanda, tidak menganggap Dinda ya?" cerocos gadis cantik di samping Wulan Ayu, ia adalah sang adik bungsu Anggala, Mayang Sari.
"Kanda tidak mengenal dinda?" rengutnya, "dari kecil kita tak pernah bertemu, begitu bertemu Kanda mengacuhkan dinda!"
"Bukan begitu adikku, kanda belum sempat menyapa Dinda," jawab Anggala sambil tersenyum.
Mereka bercengkerama sampai larut malam, mereka saling bercerita, Anggala saling cerita bersama Ibunda Putri Melati, Baginda Raja dan Mayu Kencana
Sementara Mayang Sari asik bercerita dengan Wulan Ayu.
Setelah puas saling bercerita, mereka kembali ke kamar mereka masing-masing.
Pagi di mandalika, Anggala tampak berkeliling istana bersama Wulan ayu, mereka bercengkerama sambil berjalan.
"Kanda! Kak Wulan kita ke taman yuk!" ajak mayang.
"Baik, Dinda," sahut Anggala, "Tapi kanda ingin ke tempat para prajurit berlatih, setelah itu kita ke taman!"
"Baiklah, ayo!" Mayang sari lalu jalan duluan ke arena latihan para prajurit kerajaan.
Begitu mereka sampai di sana, Ayahanda mereka ada di sana ia sedang berlatih bersama para prajurit.
Melihat Anggala datang Baginda Raja menghentikan latihannya, ia menemui Anggala, Wulan dan Mayang.
"Kenapa kau kesini Ananda?" sang Baginda Raja bertanya.
"Maaf, Ayahanda. Ananda hanya ingin melihat prajurit berlatih," jawab Anggala.
"Sebenarnya ayahanda ingin menemuimu, tapi setelah berlatih," kata sang baginda. "Ayahanda ingin mengajak ananda pergi ke goa kelelawar, menemui ibundamu. Ibundamu bilang jika Ananda di temukan ia akan kembali keistana lagi,"
"Ibundamu pasti senang melihatmu, ayahanda ingin ananda lansung menemuinya," lanjut sang Baginda.
"Iya, Kanda. Kalau ibunda Ratih kembali ke sini, dinda tidak jauh-jauh lagi belajar kanuragan. Tidak perlu ke goa kelelawar lagi," Mayang Sari ikut bicara.
"Baik, Ayahanda. Kapan kita berangkat,"
tanya Anggala.
"Esok pagi, goa kelelawar jarak dari istana ke sana, setengah hari naik kuda," jawab Baginda.
"Mayang ajak kandamu berkeliling ke taman,"
"Baik, Ayahanda," jawab Mayang Sari, mereka pun berlalu menuju taman istana.
Setibanya di sana Mayang sari mengajak Anggala dan Wulan ke pendopo peristirahatan di taman itu.
"Dinda belajar silat sama ibunda permasuri ya?" tanya Anggala pada sang adik.
"Ya kanda, dinda juga menyukai ilmu silat seperti Kanda," jawab Mayang Sari.
"Memangnya, Dinda tau dari mana kanda suka silat," tanya Anggala.
"Ayahanda yang bercerita, katanya Kanda sangat suka berlatih silat," tutur Mayang Sari.
Wulan ayu terlihat hanya duduk di samping Anggala dan Mayang, kadang ia ikut mengangguk, sambil tersenyum mendengar cerocosan Mayang sari.
Tidak terasa hari telah siang mereka pun kembali ke istana.
Keesokannya pagi-pagi Baginda dan Anggala telah bersiap-siap untuk berangkat, para prajurit telah menyiapkan kuda untuk mereka.
Wulan Ayu dan Mayang Sari juga telah bersiap, mereka berdua memakai baju kependekaran mereka.
"Ayo, kita berangkat, nanti keburu siang," ajak Baginda Raja.
"Baik, Ayahanda," jawab mereka.
"Mayu, Ayahanda pergi dulu. Istana ayahanda serahkan padamu,"
"Baik, Ayahanda," jawab Mayu Kencana.
Mereka mengebah kuda meninggalkan istana menuju goa kelelawar. Hampir setengah hari mereka berkuda, mereka pun sudah hampir sampai ke tempat tujuan.
Tidak lama mereka pun sampai ke depan sebuah hutan jati, mereka memasuki wilayah goa kelelawar. Tidak seberapa jauh masuk ke hutan jati.
Mereka melihat sebuah goa, itulah goa kelelawar, mereka menghentikan lari kuda dan menuju goa itu.
Sesampainya di depan goa, Baginda Jaksana berteriak memanggil permaisurinya
"Dinda..! Dinda....Ratih... Keluarlah...!" seru Baginda Raja.
"Ada apa? Belum waktunya kita bertarung, masih ada waktumu berlatih enam bulan lagi....!" terdengar suara menggema dari dalam gua, suara itu di kirim dengan tenaga dalam.
"Lihat lah siapa yang datang menemuimu...!" teriak Baginda lagi. Baginda pun memakai tenaga dalam mengirim suaranya ke dalam goa itu.
Wuss! Jlek.!
Tampak bayangan putih keluar dari goa mendengar seruan tadi, bayangan putih itu mendarat di hadapan Baginda Raja, tapi ia mengacuhkan Baginda Raja Laksana.
"Siapa yang Kanda maksud orang yang ingin menemuiku?" ujar Permaisuri lantang. Ia melihat ke arah Anggala dan Wulan Ayu yang berdiri tidak jauh di belakang Baginda Raja.
"Buka caping kalian," ujarnya nada suara sang ratu agak merendah kepada orang lain di banding suaminya sendiri. permaisuri bersikap seperti itu semenjak kehilangan Anggala tiga belas tahun lalu.
Anggala dan Wulan Ayu membuka caping yang mereka pakai, begitu melihat dua orang di depannya membuka caping,
mata sang ratu tertuju pada Anggala.
"Mayu... Apakah ini Mayu?" mengapa dia lebih dewasa dan lebih tampan dari biasanya?" gumam sang Ratu dalam hati.
"Padahal baru beberapa bulan yang lalu ia kesini, dia banyak berubah tubuhnya tegap dan berisi," Ratu berpikir dan bicara dalam hati, namun matanya masih memperhatikan Anggala.
"Siapa kau? Apa kau Mayu kakaknya Mayang," tanya Permaisuri penuh selidik.
"Dia putramu, Dinda. Anggala, dia memang mirip dengan Mayu!" Baginda Raja yang menjawab pertanyaan itu.
Putri Ratih mendekati Anggala.
"Benarkah, kau Putraku Anggala?"
Anggala mengangguk pelan, Ratu seakan tidak percaya, "Lihat lengan kirimu!" ujarnya.
Anggala menyingkap lengan baju sebelah kirinya, terlihatlah tato gambar naga di lengan kirinya.
Melihat itu Ratu lansung menangis memeluk sang putra, ia menangis sambil menciumi Anggala. Kedua pipi putranya di cium, pelepas rindu, rindu bertahun tahun pada sang putra.
"Anakku, kemana saja kau selama ini, bunda sangat kehilanganmu, sehingga bunda menyalahkan Ayahandamu dan pergi meninggalkan istana," kata sang Ratu sambil menangis.
Begitu lama Bidadari Putih memeluk sang putra, ia bercerita sambil menangis, Anggala yang juga merindukan kasih sayang seorang ibu, juga terlihat mengeluarkan air mata sambil memeluk Ibundanya.
Baginda Raja mendekati putra dan sang Permaisuri, ia memegang bahunya dari samping, permaisuri pun menarik suaminya mendekat sehingga mereka bertiga saling berpelukan.
Wulan Ayu dan Mayang Sari terlihat tersenyum melihat ke arah Ayanda, Bunda Ratu dan Anggala, mata Wulan dan Mayang tampak berbinar tanda mereka ikut terharu.
.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Radiah Ayarin
panjang bgt babnya
2023-02-08
0
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Semangat Thorr 💪💪
2022-11-21
0
Mr Aw
Kayak Sinetron judulnya Anak Yang Hilang Tlah Kembali hihihi
2022-02-09
1