Tidak terasa sudah lima hari Anggala tinggal di bukit bambu, ia semakin akrab dan mesra dengan Wulan Ayu yang dalam beberapa purnama ini di kenal orang-orang dunia persilatan dengan gelar Bidadari Pencabut Nyawa.
Wulan Ayu semakin manja pada Anggala, ia seakan lupa kekerasan hidupnya selama ini. Wulan Ayu tampak begitu ceria dan tambah riang, Setiap pagi mereka latihan bersama.
Setelah selesai latihan mereka pulang ke pondok, mandi dan ambil air pun Wulan Ayu selalu minta temani Anggala.
Kedua Pendekar kawakan yang selalu bentak bentakan itu, karena watak mereka yang keras. Namun selama Anggala di sini mereka jadi lembut, karena merasa tidak enak hati dengan Anggala.
Mereka berdua diam-diam berencana meminta Anggala mengajak Wulan Ayu berpetualang di dunia persilatan.
Pagi ke enam Anggala pagi-pagi telah bangun, ia shalat subuh dan setelah itu Anggala pergi mandi.
Malaikat Pemarah juga telah bangun, Nyai Luh Mentari dan Wulan memasak makanan untuk pagi ini.
Anggala yang hendak ke sungai mandi tiba tiba mendengar suara langkah kaki menyusul, begitu Anggala melihat ke belakang terlihat Wulan Ayu menyusulnya dari belakang.
"Kak Anggala, tunggu!" seru Wulan Ayu sambil mendatari Anggala.
Tiba tiba gadis cantik itu memegang tangan Anggala, ia menghadang dan berdiri di depan Anggala. Matanya berbinar menatap mata Anggala, bibirnya bergetar seakan mau menangis.
"Kakak, jadi pergi hari ini?" tanya Wulan Ayu, "Kakak akan meninggalkan Wulan?"
"Kakak tidak meninggalkan Wulan. Kakak hanya akan meneruskan perjalanan ke Mandalika, memberi tau kedua orang tua kakak, bahwa kakak masih hidup," jawab Anggala tersenyum, jari telunjuknya menyentuh mesra hidung mancung si Bidadari cantik itu.
"Setelah semua urusan kakak selesai, kakak akan kembali ke sini,untuk meminangmu," tambahnya lagi.
"Kakak masih punya tugas dari kakek guru, mencari keberadaan paman Rangga yang menghilang dari dunia persilatan. Merebut dan membawa pulang kitab ilmu naga hitam yang di salah gunakan paman Fhatik," jelas Anggala.
"Kakak telah jatuh hati padamu, kau tidak usah takut kehilangan kakak. Selagi kakak hidup hati ini akan selalu jadi milikmu,"
Anggala memeluk erat tubuh si gadis yang suka pakaian warna biru itu. Wulan Ayu membenamkan wajahnya di dada Anggala.
"Kakak harus janji. Kakak tidak boleh jatuh hati pada gadis lain.!" kata Wulan Ayu, matanya berbinar seakan mau menangis, pandangannya penuh harap.
"Hari-hariku akan sepi lagi, baru beberapa hari aku merasakan kebahagiaan, mulai esok akan sepi lagi," ucapnya lirih menahan tangis.
"Sudahlah, ayo kita ke sungai, kakak mau mandi." bujuk Anggala sambil melepaskan pelukan Wulan Ayudan berjalan ke arah sungai, "Wulan, tunggu disana, jangan mengintip.!" ledek Anggala sambil tetawa.
"Kakak...! Awas ya.!" teriak Wulan Ayu, ia mencari tempat duduk. Sementara Anggala mandi di sungai.
Begitu selesai mandi Anggala lansung menuju tempat Wulan Ayu duduk. Gadis itu tampak melamun.
"Ayo, mandi sana," Anggala sudah berada di samping Wulan Ayu.
"Eh. Iya, kak," jawab Bidadari Pencabut Nyawa itu sambil tersenyum ke arah Anggala, lalu berlari ke arah sungai. Ia begitu tergesa-gesa.
Tidak lama Wulan Ayu sudah muncul, ia memakai baju panjang berwarna biru. Wajahnya terlihat segar setelah selesai mandi.
Begitu sampai ke pondok Wulan terkejut, begitu masuk kamar ia melihat pakaiannya sudah di dalam buntilan. Wulan Ayu merasa heran, lalu berjalan ke ruang depan, di sana kedua gurunya duduk.
"Guru, kenapa pakaian saya di masukin ke buntilan?" tanya Wulan Ayu keheranan.
"Kau akan pergi menemani Anggala." jawab Bidadari Galak. Wulan ayu tampak bingung.
"Bukan begitu Anggala," tambah Malaikat Pemarah, "Kami telah membicarakannya dengan Anggala tadi malam," lanjutnya lagi.
"Bersama Anggala. Kau dan pedang elang perak akan aman, lagian kami tidak bisa melihat kau bersedih lagi. Baru berapa hari ini kami melihat kau begitu ceria, semenjak kedatangan Anggala," Malaikat Pemarah bicara panjang lebar.
"Biarlah Pendekar Naga Sakti yang akan menjaga Bidadari kecil kami, para tokoh hitam itu takkan datang ke sini lagi setelah tau kau pergi,"
"Kalau ada yang berhasil mengalahkan ilmu kedikjayaanmu, mereka akan berhadapan dengan kesaktian Anggala," ujar sang guru.
"Sebenarnya kami telah lama ingin menyuruhmu turun gunung, tapi kami masih ragu. Tapi sekarang saatnya kau turun gunung, melihat dunia yang luas ini," lanjut Malaikat Pemarah.
"Baik, Guru. Tapi bagaimana dengan kalian, dengan keadaan guru berdua?" tanya Wulan Ayu.
"Kami telah sembuh,dengan obat pemberian Anggala, tenaga dalam kami pun telah kembali." jawab Bidadari Galak penuh semangatnya.
"Namun bila nanti kalian akan menikah, kalian harus mengundang kami," kata Bidadari Galak.
"Guru, kami hanya teman kok," kilah Wulan Ayu, wajahnya memerah karena di goda sang guru.
"Wulan kami sudah tau semuanya. Anggala meminta izin mengajakmu turun gunung tadi malam,"
"Kami juga terkejut kalian begitu cepat jadi sepasang kekasih, tapi kami mengerti, karna kami dulu juga seperti itu," ucap Bidadari Galak.
"Anggala takut kejadian empat hari yang lalu terjadi lagi, karena kau terlalu percaya diri, kau bisa terbunuh di tangan musuh-musuhmu,"
Bidadari Galak memberikan sekantung kepeng emas kepada Wulan Ayu.
"Ini untuk biaya perjalananmu," ujarnya,
"Kau juga punya tugas. Kau harus kembali ke Kerajaan Galuh Permata, karena sebenarnya kau Putri Raja Kerajaan Galuh," jelas Malaikat Pemarah.
"Dulu ayahmu mengantarkanmu pada kami, karena kau di incar tokoh jahat. Mereka tau kau akan jadi pendekar yang cukup tangguh," Malaikat Pemarah menjelaskan.
"Kami merahasiakan semuanya padamu, sampai waktu yang tepat,
"Ini, tanda kau Putri Kerajaan Galuh," Luh Mentari memberika sebuah kalung emas bertanda kerajaan dan ada nama Wulan Ayu di sana.
"Kini kau tau, kau adalah Putri di sebuah Kerajaan, kembali jadi Putri atau jadi Pendekar, semua itu tergantung keputusanmu.
Kami telah mengajarkan semua yang kami punya, cuma kau masih terlalu muda, jadi kau belum bisa mengusai emosimu," jelas Malaikat Pemarah lagi.
"Kedua senjata itu punya urutannya masing-masing, gunakanlah pedangmu, begitu kau terdesak menggunakan kipas." nasehat sang guru.
"Baik, Guru. Kak Anggala juga mengajarkan hal yang sama," jelas Wulan Ayu.
"Satu pesan terakhir kami. Kalian jangan melakukan hubungan suami istri sebelum menikah," pesan Bidadari Galak.
"Baik ,Guru. Kami akan mengingat semua nasehat, Guru," jawab Wulan Ayu sambil memandang Anggala.
"Baiklah, kita makan. Setelah itu kalian bisa berangkat memulai perjalanan," ucap Bidadari Galak, ia pun berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan untuk mereka bersantap.
Setelah siap makan pagi dan bersiap-siap, mereka pun meminta izin untuk memulai perjalanan.
"Selamat tinggal, Guru," ucap Wulan Ayu pamit sambil melambaikan tangannya ke arah kedua gurunya. Begitu mereka sampai ke kaki bukit, kedua Pendekar Pemarah juga melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
Begitu keluar dari wilayah bukit bambu,
mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Wulan tersenyum manis ke arah Anggala.
Anggala pun membalas dengan senyuman, wajah mereka membiaskan keceriaan.
"Ayo, Kak. Cepat! Aku ingin melihat dan berkenalan dengan keluarga Kakak di Mandalika," lajak Wulan Ayu tidak sabaran, ia menarik tangan Anggala.
"Sabarlah, kau selalu tidak sabaran," jawab Anggala. Pemuda itu menarik tangan Wulan Ayu sehinga bahu mereka bersentuhan.
Mereka berjalan menyusuri hutan dengan tangan berpegangan, sesekali mereka saling pandang sambil melempar senyum. Begitu menemui tempat lapang Anggala bersuit memanggil rajawali.
"Suuiiit..!" Suiiittt.......!"
Suitan Anggala membelah langit, tidak lama dari udara tampak burung raksasa menukik ke arah mereka berdua.
Wulan Ayu agak terperanjat melihat burung raksasa menukik ke arah mereka.
Gadis cantik itu bersembunyi di belakang Anggala.
"Aaakk....! Aaark....!"
Rajawali menghampiri Anggala. Rajawali mengangguk-angguk sambil menyodorkan kepalanya. Anggala mengelus leher burung raksasa itu.
"Kenalkan, ini Wulan Ayu," Anggala menarik tangan Wulan Ayu yang bersembunyi di belakangnya. Pelan pelan Wulan Ayu maju tampak wajah takutnya.
"Aaak..! Raarrk...!
Rajawali mengangguk dan tiba-tiba rajawali menyodorkan kepalanya ke arah Wulan Ayu. Tentu saja Wulan Ayu kaget.
"Aauu....!" pekik Wulan Ayu terkejut dan melompat mundur hampir satu tombak jauhnya. Melihat itu Anggala tertawa.
"Jangan takut Wulan, rajawali mengajakmu berkenalan," kata Anggala.
"Iiik.....! "Iiirrk.....!"
Rajawali meringkik sambil mengangguk-angguk lagi, membenarkan perkataan Anggala.
Mendengar perkataan kekasihnya barulah Wulan Ayu memberanikan diri mendekati rajawali putih.
Rajawali menunduk dan menyodorkan kepalanya ke arah Wulan Ayu pelan-pelan. Rajawali takut Wulan terperanjat lagi.
Perlahan keberanian Wulan Ayu timbul, ia mengusap leher rajawali. Tidak lama kemudian ia tertawa kecil kesenangan melihat burung raksasa itu cepat akrab padanya.
"Dia jinak, Kak," ucap Wulan Ayu sambil memeluk leher besar rajawali dan terus membelainya.
"Rajawali menyukaimu, Wulan," kata Anggala sambil tersenyum ke arah Wulan Ayu.
"Ayo, kita naik. Kita lansung ke kota Mandalika," kata Anggala sembari melompat ke atas leher rajawali. Anggala mendarat bagai jatuh di atas tumpukan kapas, lalu mengulurkan tangan ke arah Wula Ayu.
Wulan Ayu mengulurkan tangan menangkap tangan Anggala dan naik ke belakang Pendekar Naga Sakti itu. Rajawali mengepakkan sayapnya dan melesat ke udara bagai kilat.
"Kak, takut!" Wulan Ayu memeluk erat Anggala dari belakang sambil memandang sekelilingnya. tampak dari atas sebuah pemandangan yang begitu indah. Rajawali sengaja terbang pelan agar Wulan Ayu bisa melihat pemandangan dari atas sini.
Wulan Ayu mulai berani mengembangkan tangan nya, menikmati angin yang berhembus menerpa tubuh mereka berdua.
"Awas jatuh!" ledek Anggala sambil tertawa, tiba-tiba Wulan Ayu memeluknya karena takut.
"Awas ya!" balas Wulan Ayu sambil tersenyum, gadis cantik itu malah menyandarkan kepalanya ke bahu Anggala.
Cukup lama mereka saling diam menikmati sentuhan angin yang terasa cukup dingin di ketinggian yang sayup mata memandangnya ini.
"Kak, boleh Wulan bertanya?" Wulan memecah keheningan tanpa melepaskan pelukannya.
"Boleh,Wulan mau nanya apa?" Anggala balik bertanya, ia memegang tangan Wulan dan menggenggam jemari tangan yang lentik itu.
"Waktu Kakak menyelamatkanku. Kakak memakai jurus apa? Suara seperti pedang beradu tapi Wulan tidak melihat Kakak memakai pedang?" tanya Wulan Ayu.
"Oh, itu ya. Kakak memakai jurus 'Baju Besi Emas'. tingkat delapan belas," jawab Anggala.
"Bisa Kakak ajarkan padaku," pinta Wulan Ayu.
"Boleh, bila ada waktu nanti," jawab Anggala, "Tapi Wulan harus mempelajari dari ilmu 'Baju Besi dulu, baru ke tingkat baju besi emas," tambahnya lagi.
"Baiklah, Wulan akan mempelajarinya dari awal," jawab Wulan Ayu sambil tersenyum. Tidak terasa mereka telah sampai di pinggir kota Kerajaan Mandalika.
"Rajawali, turunkan kami di sini," pinta Anggala pada rajawali, burung rajawali raksasa itu turun perlahan pada sebuah padang rumput.
"Baiklah, putih, bila saya membutuhkanmu, saya akan memanggilmu," kata Anggala pada rajawali raksasa bernama si putih itu.
"Aark,...! Aaarrk...!"
Burung itu mengangguk menjawab perkataan Anggala, lalu melesat ke udara meninggalkan Anggala dan Wulan Ayu.
"Ayo, Kok ngelamun," goda Anggala sambil menarik tangan Wulan Ayu sembari berjalan.
"Ih, siapa yang nggak sabaran!" ledek Wulan Ayu sambil berjalan di samping Anggala. Mereka memasuki kota, hari sudah siang perut pun sudah bterasa kosong.
"Di depan ada warung makan, kita makan yuk," ajak Anggala, mereka tidak lagi berpegangan tangan. Mereka hanya jalan bergandengan.
"Boleh," jawab si cantik di samping Pendekar Naga Sakti itu, mereka menuju warung dan menempati sebuah meja.
Mereka memesan makanan dan makan, begitu selesai makan, istirahat sebentar, lalu melanjutkan perjalanan ke istana.
Begitu mendekati gerbang Istana mereka terhenti, serombongan prajurit mengawal seorang putri, rombongan para prajurit itu sedang menuju kota.
"Siapa itu yang barusan lewat, Ki?" tanya Anggala pada salah seorang warga yang berkerumun.
"Aden, bukan orang Mandalika ya? tidak mengenal Putri Mayang. Yang tadi itu tuan Putri Mayang Sari Putri Raja. Dia adik Pangeran Mayu, mereka anak Baginda dengan selir pertamanya," jawab laki laki itu.
Anggala pura pura bertanya tentang putra mahkota, "Putra Mahkota hilang tiga belas tahun yang lalu, Permaisuri juga pergi meninggalkan istana," tutur warga itu.
"kemana permaisuri, Ki?" tanya Anggala lagi pada laki laki itu.
"Kabarnya Permaisuri kembali ke Goa Kelelawar," jawab laki-laki itu.
"Terima kasih, Ki," ucap Anggala, begitu rombongan itu berlalu rakyat yang tadi berkumpul, kembali bubar.
Anggala dan Wulan Ayu mendekati gerbang Istana, begitu melihat ada orang yang mendekat prajurit penjaga maju mencegah mereka masuk ke gerbang.
"Tunggu! Kalian mau kemana?" tanya si prajurit. prajurit penjaga gerbang itu tidak melihat jelas wajah Anggala dan wajah Wulan Ayu karena mereka berdua memakai caping bambu. Wulan Ayu juga membeli caping di dekat warung tempat mereka makan siang tadi, agar mereka tidak begitu jadi perhatian.
"Saya ingin bertemu Baginda Jaksana," jawab Anggala.
"Apa maksudmu ingin bertemu Baginda?" bentak si prajurit.
Merasa tersinggung bentakan si prajurit Angala maju, "Saya sudah bicara baik-baik, bersuara lembut. Kalian malah bicara bentak-bentakan!" geram Anggala dengan nada suara sedikit meninggi.
"Kau berani bicara kasar dengan prajurit kerajaan hah!" bentak prajurit itu. prajurit itu mengayunkan tombak ke arah Anggala.
Wuk!
Tap!
Anggala dengan begitu cepat menangkap tombak prajurit itu, prajurit itu berusaha menarik tombaknya. Namun tidak bergeming sedikit pun, tubuh prajurit itu sampai berkeringat karena memaksa menarik tombaknya sekuat tenaga.
"Hup! Hup...!"
Prajurit itu terus berusaha menarik tombaknya tapi tetap saja tak berhasil melepaskan genggaman Anggala.
"Lepaskan atau aku akan memanggil prajurit yang lain!" gertak prajurit penjaga gerbang yang satunya.
Wulan Ayu mendekati prajurit itu, tangan nya menggenggam kipas elang perak. Pertanda Bidadari Pencabut Nyawa itu siap bertarung. Prajurit itu mundur ke arah gerbang, tiba tiba ia menjatuhkan tombaknya lansung menabuh kentongan tanda bahaya.
Tong! Tong! Tong!
Namun prajurit itu tidak mengeluarkan suara, hanya suara kentongan yang terdengar. Tidak lama kemudian gerbang terbuka tampak para prajurit keluar lansung menghadang Anggala dan Wulan Ayu.
Bagi dua orang pendekar muda itu prajurit berjumlah lebih kurang lima puluh orang itu bukanlah halangan. Anggala bergerak bagai kilat dengan jurus 'Langkah Malaikatnya. Semua prajurit itu jadi patung hidup penunggu gerbang tanpa sempat menyerang.
Anggala dan Wulan Ayu melangkah masuk ke gerbang yang terbuka, mereka melangkah di antara patung hidup dari para prajurit itu.
Begitu mereka berdua memasuki halaman Istana muncul prajurit sekitar lima ratus orang dan lansung mengepung dari segala penjuru.
Tidak lama muncul Senopati Agung Kerajaan Mandalika bersama Pangeran Mayu Kencana.
"Apa yang terjadi, kenapa dengan kedua tamu kita itu?" tanya Pangeran Mayu. Pangeran Mayu Kencana melangkah maju ke halaman bersama Senopati Agung Diaksa.
"Kenapa dua pendekar dunia persilatan datang ke istana dan ada keperluan apa?" Pangeran Mayu kembali bertanya.
"Saya ingin bertemu tuanku Baginda Raja, tapi prajurit penjaga gerbang itu terlalu congkak dan sombong." jawab Anggala tenang, ia dan wulan masih memakai caping sehingga Pangeran Mayu tidak melihat wajah di bawah caping itu mirip dengannya.
"Kak Anggala, dia mirip denganmu," kata Wulan Ayu.
"Kau bisa bertemu Baginda, tapi dengan satu syarat, kau harus mengalahkanku dalam dua puluh jurus," tantang Senopati Agung Diaksa.
"Baik, kalau itu maumu,!" sahut Anggala lantang menjawab tantangan senopati itu. Para prajurit yang mengepung tanpa di perintah bergerak mundur, mereka memberikan ruang untuk pertarungan.
"Hup!" Senopati Diaksa melompat ke depan Anggala. Laki-laki itu lansung mengukur tenaga dalam Anggala dengan tendangan bertenaga dalam tinggi.
Wuk!
Seet!
Duak!
Kaki mereka beradu di udara, satu dari arah atas dan satunya berdiri di tempatnya tanpa bergeming, hanya kaki Anggala yang tegak menghadang tendangan Senopati Diaksa itu.
Senopati Diaksa terjajar mundur dua langkah, ia menyadari tenaga dalamnya di bawah tenaga dalam lawannya.
Senopati Diaksa tidak mungkin mundur, nasi telah jadi bubur, terpaksa memakannya. Seperti kata pepatah itu, ia harus tetap bertarung atau malu mundur sebelum bertempur.
Senopati Agung Diaksa merapal jurus-jurus tinju dan tendangan, namun semua itu di halau Anggala dengan jurus dasar tapak naganya.
"Siapa orang ini? kenapa dia memakai jurus milik Pangeran Lesmana?" gumam Diaksa dalam hati, ia terus menyerang Anggala dengan jurus-jurus tangan kosong, sampai akhirnya.
Dik!
Desss!
Duak!
Pukulan jurus 'Tapak Naga' tingkat dua milik Anggala berhasil mengenai dada senopati Diaksa. Senopati itu terpental tiga tombak ke belakang, ia berusaha berdiri, hanya sedikit darah mengalir di sela bibirnya. Pertanda ia mengalami luka dalam ringan.
"Kenapa orang itu? Dia menahan pukulannya, melihat dari jurus-jurus yang dia pakai dia golongan putih," gumam Senopati Agung Diaksa dalam hati.
Pangeran Mayu melompat ke samping Senopati Diaksa, "Paman tidak apa-apa?" tanya pemuda berumur tujuh belas tahun itu.
"Tidak. Paman tidak apa-apa, Pangeran. Hanya luka dalam sedikit," jawab Senopati Diaksa.
"Apa hubungan Pendekar dengan Lesmana, Pendekar Naga Sakti?" tanya Senopati Diaksa dengan lantang.
"Dia, guruku!" jawab Anggala.
"Baiklah, Pendekar. Kau bis masuk istana temanmu menemui Baginda di dalam istana," kata Senopati Diaksa sembari mempersilahkan Anggala dan Wulan Ayu menuju ruangan Baginda Raja.
"Ampuni hamba, Tuanku!" Senopati Agung berlutut di hadapan Baginda Raja, "Kedua Pendekar ini meminta bertemu Tuanku. Mereka sempat berseteru dengan prajurit penjaga gerbang yang laki laki mengaku murid Pangeran Lesmana!" sembah senopati Agung itu tanpa berhenti berlutut.
"Bangunlah, Diaksa!" titah Baginda Raja Jaksana.
"Pendekar. Tolong di buka caping kalian!" pinta sang Baginda. Anggala dan Wulan Ayu membuka caping mereka, semua mata pembesar kerajaan terkesima melihat dua sejoli yang begitu cantik dan begitu tampan.
"Pemuda itu mirip Pangeran Mayu, Tuanku," bisik Patih Reksa kepada Baginda Raja.
"Anak muda. Apakah namamu Anggala lesmana?" tanya sang baginda jaksana.
Anggala hanya mengangguk mengiyakan, tangannya memberikan sebuah kalung tanda kerajaan bertuliskan nama Anggala, kepada Baginda Raja.
"Kau memang putraku!" Baginda tanpa sungkan lansung nemeluk erat sang putra,
setelah sekian lama tidak bertemu Semua yang ada di ruangan itu ikut terharu,
pertemuan ayah dan anak itu.
"Ibumu pasti senang mendengar kau masih hidup, Nak," kata Baginda Raja sambil tetap memeluk erat tubuh kekar sang putra. Pangeran Mayu mendekat, ia memegang bahu sang ayahanda sambil tersenyum kepada sang kakak.
"Kanda!" saoa Mayu sambil tersenyum dan memberi hormat, terlihat matanya juga berbinar karna terharu. Tampak di belakang, Wulan Ayu menyeka air matanya. Gadis itu ikut menangis terharu melihat pertemuan pertama kekasihnya dengan ayahandanya.
"Siapa gadis cantik yang bersamamu itu nak, apakah dia kekasihmu?" tanya baginda Jaksana pada Anggala sambil tersenyum.
"Ya, Ayahanda. Dia Kekasih Ananda," jawab Anggala sambil memandang ke arah Wulan Ayu yang dari tadi berdiri sendiri di belakang.
"Wulan, sini," panggil Anggala pelan. Wulan Ayu meletakkan capingnya di lantai dan maju ke dekat Anggala. Baginda Jaksana melihat ke arah Wulan Ayu.
"Assalanualaikum, Paman," ucap Wulan Ayu sambil berlutut di depan Baginda Raja.
Waalaikum salam!" jawab sang Baginda.
"Bangunlah, Nak. Siapa namamu?" tanya Baginda Raja sambil memegang bahu Wulan Ayu mengajaknya berdiri.
"Wulan Ayu, Paman," jawab Bidadari Pencabut Nyawa.
"Kau, calon menantuku. Jadi jangan terlalu sungkan," kata sang Raja sambil tersenyum.
"Kalian pasti lelah setelah berjalan jauh, istirahat dan bersihkan badan kalian, kita bertemu di pendopo nanti malam," titah sang Baginda.
"Baik, Ayahanda," jawab Anggala dan Mayu, Wulan Ayu hanya ikut menunduk, karena bingung harus ikut panggilan apa.
"Dayang antar Putri Wulan ke kamarnya, layani dia!" titah Pangeran Mayu pada dayang-dayang istana.
"Ayo! Kanda kita ke kamarku saja," ajak Pangeran Mayu mengajak Anggala ke kamarnya.
"Ayo, Den Ayu," ajak para dayang, "Kami antar ke kamar, Tuan Putri," sembah dayang-dayang itu. Hari pun mulai sore ruang raja pun akhirnya sepi di tinggal penghuninya.
.
.
Bersambung...
Maaf buat pembaca novel ini,saya lama baru Upload,karna saya bekerja di dunia nyata,🙏🙏🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Radiah Ayarin
kok mw nangis?
2023-02-08
1
glanter
kesandung dimana thor....
baru kenal lsg pinang....
2022-12-12
3
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞༄⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Pertemuan kembali..👍👍💪💪
2022-10-18
1