Setelah sampai kebarat, Anggala turun dari punggung rajawali, ia berhenti makan di bawah sebatang pohon.
Setelah istirahat sejenak, Anggala meneruskan perjalanannya, di perjalanan Anggala bertemu seorang petani, yang menjual caping bambu.
"Caping bambu! Caping bambu!"
"Caping bambu, Nak?" petani itu menawarkan dagangannya pada Anggala.
"Ya, saya beli satu, Ki," kata Anggala,
"berapa, Ki?".
"Dua kepeng, Nak," jawab petani itu.
Anggala lansung merogoh sakunya dan membayarnya dengan kepeng emas.
"Maaf, Den, saya tidak punya kembaliannya," ucap si petani.
"Ambillah, kembaliannya, Ki," jawab Anggala, "Saya hanya mau bertanya, taukah Aki di mana Bukit Bambu?" tanya Anggala.
"Tau, Nak," jawab petani, "ikuti jalan ini ke arah barat, begitu ketemu bukit, itulah Bukit Bambu," tambah petani.
"Baiklah, Ki, terima kasih petunjuknya," ucap Anggala sambil berjalan ke arah barat sesuai petunjuk dari petani itu.
"Tunggu, Nak," tahan si petani, ia memegang tangan Anggala dari belakang.
"Ada apa, Ki?" Anggala menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah si petani yang berusaha menahan langkahnya.
"Bahaya, Nak! Sekarang tempat itu banyak di datangi golongan hitam dan para perampok!" ujar si petani menjelaskan.
"Terima kasih, Ki. Atas kekhawatiran, Aki," ucap Anggala, "Tapi, saya harus ke sana, guru saya menyuruh ke sana."
"Baiklah, Nak. Aki tidak bisa menahanmu," kata si petani, "Jika kau selamat, mampirlah ke tempat aki, kampung aki di sebelah timur, tanya saja Aki Tarman, pada orang-orang di kampung."
"Baiklah, Ki, terima kasih, lain hari saya akan mampir ke tempat Aki, tapi sekarang saya harus menuju bukit bambu," ucap Anggala, ia memakai caping yang baru di belinya.
Setelah petani itu melapaskan pegangannya, Anggala melesat ke arah barat, petani itu terkejut. Ia baru sadar yang baru berbicara dengannya adalah seorang pendekar.
Petani itu melihat ke arah Anggala pergi,ia menghela napas, "Semoga dia selamat, sungguh baik anak itu," sambil berlalu pergi.
Anggala memperlambat larinya begitu merasa telah cukup jauh dari petani itu, tiba tiba ia mendengar sayup-sayup suara pertarungan.
Anggala memutuskan melihat pertarungan itu dari dekat, ia melompat ke atas pohon, lalu ia mendekat dengan melompat dari pohon ke pohon, setelah cukup dekat barulah ia berhenti dan memperhatikan pertarungan itu.
Tampak di bawah sana seorang gadis cantik berpakaian biru sedang di keroyok beberapa orang, tampak seorang yang tak ikut mengeroyok, orang itu bertubuh besar, kepala botak dan brewokan.
Tampak sang gadis dengan lincahnya menghadapi serbuan pedang si pengeroyok, sesekali ia malah dapat menyerang balik.
"Tinggi juga ilmu gadis itu," guman Anggala dalam hati, matanya tidak berkedip memperhatikan pertarungan di bawah sana.
"Hiyaaa...! "Hiyaaat...!"
Si gadis mengibaskan pedangnya ke arah pengeroyok, beberapa jurus kemudian ia bisa mengenai salah seorang pengeroyok.
Ting! Ting! Sret!
"Aakh...!" salah seorang pengeroyok, terpental dan meregang nyawa, melihat temannya tewas yang lain malah tambah ganas menyerang. Mereka jadi tidak terkontrol, itu membuat si gadis semakin mudah menghabisi mereka.
Set! Set!
Duak! Buk!
Si gadis berturut-turut mengenai sasaran, tendangannya mengenai dada salah seorang penyerang, berturut pedangnya berhasil menusuk dada yang lain.
Set! Sret!
"Aaakh.,"
Dua orang pengeroyok terpental jatuh tidak bangun lagi. Kini tinggal satu dari empat pengeroyok, karna tinggal sendiri, nyalinya berubah ciut, akhirnya lari tunggang langgang.
"Ha ha ha! Dasar pengecut!" tawa Anggala meledak, ia tidak sadar kalau lagi bersembunyi, sehingga ia ketahuan.
"Hei..! Pengintip di atas pohon. Turun!" teriak si gadis, walau tidak melihat Anggala yang di dalam rimbunya daun pohon itu.
"Aku..! Ha ha ha..!" Tiba tiba.
Jlek..!
Anggala sudah berada di bawah, dan tidak jauh dari si gadis berpakaian biru, sambil tertawa-tawa kecil. Anggala masih merasa lucu melihat musuh gadis itu lari tunggang-langgang tadi.
"Hei kau!" bentak si botak, "Jangan ikut campur. Ini urusanku dengan Bidadari Pencabut Nyawa!" ujarnya lantang.
"Aku, ikut campur. Tidak, tidak! Kau pun belum tentu mampu menghadapinya!" jawab Anggala, "Kecuali dia kalah baru berhadapan denganku! He he he!" tambahnya sambil tertawa kecil.
Anggala menggeser dan mengambil tempat di bawah sebatang pohon.
"Ayo, lanjutkan!" teriaknya.
"Kau, akan mati hari ini!" si botak menunjuk ke arah Bidadari Pencabut Nyawa, Ia memasang kuda kuda dan lansung menghunus golok besarnya.
Sret! Bet! Bet!
Suara golok itu memecah udara, saat si botak memainkan jurus-jurus goloknya, setelah itu ia lansung menyerang.
"Hiaaa......!"
Bet! Bet!
Tring!
Pedang dan golok mereka beradu di udara mereka saling menyerang dengan jurus andalan mereka, tidak lama Bidadari Pencabut Nyawa berhasil mendesak si botak, dan mendaratkan tendangannya di dadanya.
Duk!
Walau tubuhnya besar, begitu terkena tendangan Bidadari Pencabut Nyawa . Si Botak terlempar, ia beruasaha bangun. Namun darah telah keluar di sela-sela bibirnya, ia pun jatuh berlutut.
"Sebaiknya, kau pergi dari sini, jika kau masih ingin hidup!" bentak Bidadari Pencabut Nyawa. Merasa takkan menang lagi si botak pun akhirnya juga ambil langkah seribu.
"Hebat! Hebat!" puji Anggala, ia masih duduk di bawah pohon.
"Kau! Apa maumu? Apa kau juga ingin seperti mereka!" bentak Bidadari Pencabut Nyawa seraya mengacungkan pedangnya ke arah Anggala.
"Aku? Aku tidak mau bertarung denganmu!" jawab Anggala.
"Pergi dari sini!" bentak Bidadari Pencabut Nyawa, ia tampak serius dengan mata setajam mata elang.
"Baik, baiklah. Aku akan pergi," jawab Anggala, "Cantik-cantik, galak amat!" begitu habis berucap Anggala melesat ke arah pepohonan dengan begitu cepat bagai kilat.
Bidadari Pencabut Nyawa melongong, ia tidak menyangka laki-laki yang jadi penonton tadi bukan orang biasa.
"Cepat sekali gerakan orang itu, belum pernah aku melihat orang secepat itu," gumannya dalam hati, "kalau dia tadi menerima tantanganku. Aku takkan mampu menghadapinya."
Bidadari Pencabut Nyawa hendak beranjak ke dalam hutan ke arah Bukit Bambu.
Namun langkah Bidadari Pencabut Nyawa terhenti, ketika suara jejak kaki datang dari arah belakangnya.
"Ini dia yang kita cari!" teriak orang yang paling depan sambil menghentikan larinya. Orang itu bertubuh gempal dan berkepala botak, di belakangnya ada dua orang yang mengikuti.
Si botak tidak lain adalah si Kepala Besi dan dua orang di belakangnya, adalah Tangan Besi dan Tapak Besi.
Bidadari Pencabut Nyawa berdiri tegak menghadapi mereka, sambil bersiap-siap kalau musuh menyerangnya.
Anggala yang menjauh tadi tidak pergi meninggalkan tempat itu, ia melompat ke atas pohon, ia sempat melihat orang-orang yang berlari cukup cepat ke arah Bidadari Pencabut Nyawa tadi.
Anggala mengikuti dari atas pohon, karena ilmu peringan tubuhnya yang tinggi, sehingga suara gerakannya tidak di ketahui musuh.
Anggala memperhatikan dari kejauhan. Bidadari Pencabut Nyawa yang berhadapan dengan tiga dedengkot ilmu hitam itu.
Anggala tidak tau kalau musuh yang berada di hadapannya itu, adalah orang yang membuatnya jatuh ke jurang tiga belas tahun yang lalu.
Si Kepala Besi kini hanya berjarak tiga tombak di hadapan Bidadari Pencabut Nyawa.
"Sebaiknya kau serahkan pedang dan kipas Elang Perak itu," ujarnya, "Lalu layani kami secara bergiliran, kami akan membiarkanmu hidup lebih lama lagi!"
"Cih... Langkahi dulu mayatku baru bisa kau mengambil pedang dan kipas ini!" sahut Bidadari Pencabut Nyawa lantang.
Sret!
Bidadari Pencabut Nyawa mengeluarkan sebuah kipas dari balik bajunya dan membentangnya di depan dadanya, terlihat lukisan seekor elang berwarna perak pada daun kipas itu.
Di punggungnya tersemat pedang yang ia pakai bertarung tadi, di ujung gagangnya terlihat ukiran kepala elang yang juga berwarna perak.
"Biarkan aku menjajal ilmu Bidadari cantik ini, Kanda!" ujar si Tangan Besi sambil maju ke arah Bidadari Pencabut Nyawa, sehingga jarak mereka tinggal satu tombak lagi.
Melihat musuh yang mendekat Bidadari cantik itu mempersiapkan diri dengan kuda-kudanya, ia membentang tangan kirinya ke depan.
""Hmm...! Tak ku sangka gadis itu begitu cantik, tadi aku tidak sempat memperhatikanya, karna dia begitu galak padaku!" gumam Anggala dalam hati.
"Aku takkan membiarkan dia mati di hadapanku, bila dia terdesak nanti, aku akan membantunya," gumam Anggala seakan berbicara pada dirinya sendiri, sambil tetap bersembunyi di atas pohon, tidak jauh dari arena pertarungan.
"Majulah, kalau kau ingin mencoba kipasku ini!" tantang Bidadari Pencabut Nyawa.
"Baiklah, kalau itu maumu, Cantik!" bentak si Tangan Besi, ia lansung menyerang Bidadari Pencabut Nyawa.
Set! Set! Cring!
Kipas elang perak beradu dengan tangan si Tapak Besi, menimbulkan suara seperti dua besi yang sedang beradu.
Tapak Besi terjajar mundur kebelakang, karena tenaga dalamnya kalah tanding dengan tenaga dalam Bidadari Pencabut Nyawa.
Namun ia tidak mau malu di depan kakaknya, ia merangsek menyerang lagi.
Set! Set!
Sret!
"Aakh!" si Tapak Besi mengeluh terkena kibasan ujung kipas elang perak, bahu kanannya mengalir darah. Tampak di ujung kipas elang perak sebaris pisau kecil yang sangat tajam. Kesaktian kipas itu mampu melukai tubuh Tapak Besi yang kebal senjata itu.
Si Tapak Besi terjajar mundur, tangan kirinya memegang bahu kanannya yang terluka. Melihat saudaranya terluka, si Tangan Besi lansung menerjang ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
Wuk! Wuk!
Plak!
Kepalan tinju Tangan Besi mengenai daun kipas Elang Perak, Tapak Besi terjajar mundur, karena tenaga dalamnya juga masih di bawah tenaga dalam Bidadari Pencabut Nyawa.
Si Tapak Besi dan Tangan Besi langsung mengeroyok Bidadari Pencabut Nyawa, tapi mereka masih kalah tanding dengan ilmu gadis cantik itu, yang tidak lain adalah murid si mata wayang Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak.
Pertarungan berlansung sengit, Bidadari Pencabut Nyawa bagai penari bayangan, ia bergerak kesana kemari menapaki serangan musuhnya. Karena kipas sakti di tangannya ia masih berada di atas angin sampai saat ini.
Tidak lama Bidadari Pencabut Nyawa berhasil menerjang Tapak Besi yang serangan sedikit melambat, karena tangannya yang terluka.
Duk!
"Akgh!" Tapak Besi terlempar beberapa tombak ke belakang, tubuhnya menghantam sebatang pohon sebesar pohon kelapa.
Krak! Krek!
Bruummm!
Batang pohon itu patah dan lansung tumbang ke tanah, Si Tapak Besi lansung tidak sadarkan diri.
Sementara itu Anggala yang menjadi penonton pertarungan, hati pemuda itu dek-dekan, tangannya bergerak-gerak seakan ia ikut bertarung. Namun ia tetap bersembunyi di balik rimbunan daun pohon itu.
"Kurang ajar!" teriak si Kepala Besi melihat adik seperguruannya tidak sadarkan diri di hajar Bidadari Pencabut Nyawa.
Sring!
Wut! Wut!
Kepala Besi menghunus golok besar di pinggangnya, tanpa pikir panjang ia lansung menyerang Bidadari Pencabut Nyawa.
Trang! Cring!
Golok besar Kepala Besi terus beradu dengan kipas elang perak, Bidadari Pencabut Nyawa terjajar mundur satu tombak ke belakang.
Di sela bibirnya tampak mengalir sedikit darah, wajah cantiknya meringis menahan sakit di dadanya. Tangan kiri gadis itu memegangi dada, pertanda ia mengalami luka dalam.
Melihat lawannya terluka, Kepala Besi menyerang lagi, sehingga Bidadari Pencabut Nyawa hanya mampu menghindar dari serangan musuhnya itu.
Tidak habis lima jurus ke depan, tinju kepala besi berhasil mengenai dada Bidadari Pencabut Nyawa, gadis itu terlempar mundur. Karena tenaga dalamnya yang cukup tinggi sehingga dadanya tidak jebol terkena pukulan kepala besi yang bertenaga dalam tinggi itu.
"Huakh..!"
Bidadari Pencabut Nyawa memuntahkan darah segar, pertanda luka dalamnya semakin parah, ia terhuyung ke belakang, namun ia masih berdiri.
"Matilah, kau..!" teriak Kepala Besi sambil melompat, sembari mengayunkan golok besarnya ke arah kepala Bidadari Pencabut Nyawa.
Kali ini Bidadari Pencabut Nyawa hanya pasrah karena menangkis pun akan sia-sia.
Tiba tiba sesosok bayangan menghadang, bayangan itu menangkis golok besar dengan tangannya.
Crang!
Golok besar Kepala Besi terpental, begitu mengenai tangan bayangan yang melindungi Bidadari cantik itu, tangan kanannya lansung melesat ke depan menghantam dada Kepala Besi.
Dess!
Kepala Besi terlempar ke bekakang, darah menyembur dari mulutnya.
"Huakh...!" Mulut Kepala Besi mengalir darah segar. Kepala Besi terluka dalam karena pukulan tapak yang mengenainya tadi. Kepala Besi terhuyung ke belakang, si Tangan Besi lansung memegangi sang kakak seperguruannya, hanya Tangan Besi yang belum mengalami luka dalam.
Bidadari Pencabut Nyawa membuka matanya perlahan, setelah mendengar suara seperti besi beradu dan suara pukulan.
Gadis itu melihat sosok baju abu-abu, biru berdiri di depanya, caping bambu di kepalanya rambut sebahu itu tampak rapi dari belakang. Bidadari Pencabut Nyawa baru menyadari orang yang menyelamatkannya, adalah orang yang di usirnya tadi.
Anggala menoleh ke belakang, "Bagaimana keadaanmu?" Anggala bertanya.
Bidadari Pencabut Nyawa tiba-tiba terhuyung ke samping, seakan mau jatuh,
Anggala sigap memegangi tangannya. Diam-diam Bidadari Pencabut Nyawa memperhatikan wajah di bawah caping bambu, matanya terbelalak melihat wajah penyelamatnya itu begitu tampan.
"Rupanya dia pendekar yang sangat tampan," pujinya di dalam hati, Bidadari cantik itu membiarkan Anggala memegangi lengan kirinya, agar ia tidak jatuh ke tanah.
Melihat ada peluang melarikan diri. Tangan Besi tanpa pikir panjang lagi lansung melarikan kedua saudara seperguruannya menyelamatkan diri.
Sedang Anggala tidak mempedulikan musuhnya, pemuda itu fokus pada Bidadari Pencabut Nyawa.
"Duduklah, aku akan mengobati, lukamu," kata Anggala sambil membantu Bidadari Pencabut Nyawa duduk di tanah, lalu ia merogoh saku di dalam bajunya.
Anggala mengeluarkan sebutir obat pemberian Pertapa Naga dan memberikannya pada Bidadari Pencabut Nyawa.
Gadis cantik itu menuruti kata-kata pemuda penyelamatnya itu, setelah memakan pil obat pemberian Anggala, gadis itu duduk bersemedi di tanah.
Anggala mengalirkan tenaga dalam melalui telapak tangannya ke arah bahu Bidadari Pencabut Nyawa, untuk mengobati luka dalam yang di derita gadis itu. Berkat bantuan obat dan bantuan tenaga dalam dari Anggala, tidak lama Bidadari Pencabut Nyawa bisa berdiri tanpa sempoyongan lagi.
"Terima kasih, Tuan telah menyelamatkan nyawa, saya," ucap Bidadari Pencabut Nyawa, "Maafkan kesalahan saya, yang tadi mengusir dan menantang Tuan bertarung!" tambahnya.
"Tidak apa-apa, itu biasa terjadi bagi orang yang belum saling kenal," jawab Anggala sambil tersenyum, ia mencari tempat duduk di bawah sebatang pohon.
Lalu Anggala melepas caping dari kepalanya, terlihat wajah tampannya, ia tersenyum ke arah Bidadari Pencabut Nyawa.
"Oh, iya. Saya belum memperkenalkan diri," kata Anggala tanpa menggeser tempat duduknya.
"Nama saya, Anggala, saya di perintahkan oleh guru saya datang ke Bukit Bambu, katanya ada seorang teman lamanya butuh bantuan?" ucapnya lagi.
"Nama saya Wulan Ayu, panggil saja Wulan," Bidadari Pencabut Nyawa memperkenalkan diri, ia duduk di rerumputan, matanya terus memandangi wajah Anggala, begitu Anggala melihat ke arahnya. Gadis cantik itu tersipu malu dan memalingkan pandangannya.
"Siapa gurumu?" tanya Wulan Ayu, sambil melihat ke arah Anggala.
"Guruku, namanya Lesmana," jawab Anggala, "Dia bergelar Pendekar Naga Sakti," Anggala menjelaskan.
"Saya pernah mendengar nama itu, dari kedua guru saya," jawab Wulan Ayu.
"Siapa teman yang dia suruh bantu?" tanya Wulan, Ayu, "Mungkin saya kenal, karna yang tinggal di Bukit Bambu hanya saya, dan kedua guru saya," lanjutnya lagi.
"Guru saya bilang temannya itu bergelar Malaikat Pemarah dan Bidadari Galak," sahut Anggala.
"Itu guru saya!" jawab Wulan Ayu.
"Ayo kita ke pondok kami, saya akan perkenalkan tuan pendekar dengan kedua guru saya," kata Wulan Ayu seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Jangan panggil saya tuan, panggil saja Anggala," jawab Anggala sembari berdiri lalu berjalan di samping Wulan Ayu.
"Kenapa para tokoh hitam itu memberimu gelar Bidadari Pencabut Nyawa?" tanya Angala tanpa menghentikan langkahnya.
"Mungkin karena dalam beberapa purnama ini banyak orang-orang jahat itu yang mati di tanganku ,tak sedikit pula yang melarikan diri!" jawab Wulan Ayu.
"Apakah karna pedang dan kipas itu?"
"Ya, semua orang-orang dunia persilatan itu, berniat merebut kipas dan pedang ini!" jawab Wulan Ayu lagi.
"Sebenarnya aku tidak ingin membunuh mereka, tapi apa boleh buat semua itu untuk membela diri!" kata Wulan Ayu terdengar sedih, "Sedangkan aku hanya seorang diri, tidak punya teman," lanjutnya lirih.
"Kedua guruku di racuni musuhnya, jadi tidak ada yang membantuku sampai kau datang menyelamatkanku tadi!".
Matanya berbinar karna sedih, namun ia sadar ia tak boleh menangis, apalagi di depan orang yang baru ia kenal, walau ada rasa suka begitu melihat wajah tampan pemuda itu.
"Kau, boleh menceritakan padaku semua keluhan dan masalahmu," ucap Anggala,
rasa simpati dan rasa suka Anggala bercampur aduk, tanpa ia sadari tangan kirinya menyentuh tangan kanan Wulan Ayu.
Wulan Ayu juga tidak menyadari tangan mereka telah saling menggenggam erat, mereka berjalan ke arah Bukit Bambu, berpegangan tangan.
Wulan Ayu melihat ke arah wajah Anggala dan tersenyum, tanpa mereka sadari mereka saling pandang dan membalas senyuman.
.
.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Sofyan Muchtar
wajahnya oriental nih, bukan wajah Melayu
2023-09-18
0
Ir Syanda
Saya juga berharap demikian kek ... tapi karena ini novel action jadi tidak mungkin lancar2 saja ...
2023-02-15
1
🥑⃟Serina
cantik bet, tp ayangku jg cantik
2023-02-08
0