Tak terasa tiga belas tahun sudah Anggala berada dilembah naga. Anggala tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa, tubuhnya berotot, kulitnya putih, tubuhnnya kekar, berotot dan tinggi, jika ada seorang gadis melihatnya tentu akan tergila gila melihat pemuda setampan Anggala.
Kini semua ilmu Pertapa Naga dan Pendekar Naga Sakti sebelumnya Lesmana, telah Anggala kuasai, dari jurus dasar, jurus inti, tenaga dalam, ilmu peringan tubuh. Semua telah sempurna ia pelajari, waktu perpisahan dengan kedua sang guru pun semakin dekat.
Malam itu di dalam pondok, tampak cahaya pelita menerangi ruangan, ketiga pendekar pun sedang berkumpul.
Mereka duduk di ruang tengah setelah makan malam, mereka biasanya berbincang bincang, namun malam ini terasa begitu sepi, mereka seperti larut dalam pikiran masing masing.
"Anggala!" Pertapa Naga memecah kesunyiaan.
"Saya kek," jawab Anggala.
"Berapa tahun sudah kau di lembah naga?" tanya sang kakek.
"Tiga belas tahun kek," jawab Anggala.
"Apa yang kau dapat selama di sini?" tanya sang kakek lagi.
"Banyak,kek," jawab Anggala, "Ilmu dunia dan ilmu Akhirat,!" lanjutnya singkat tapi padat.
"Kau benar, ilmu mengaji, ilmu tauhid, ilmu piqih, semua itu untuk akhiratmu, ilmu olah kanuragan, itu ilmu duniamu, hari ini genap tiga belas tahun kau di sini, ilmu tatanegara yang di ajarkan paman gurumu, itu bukan tak berguna,dulu kau ku temukan tak sadarkan diri,di bawa rajawali putih, itu mungkin bukan kebetulan," jelas sang kakek.
"Itu semua takdirmu,kau di takdirkan menjadi pendekar besar, pedang naga sakti berjodoh denganmu, pedang itu telah memilihmu jadi pewarisnya, jadi gunakan lah ia untuk membela yang lemah dan kebenaran,!"
"Kitab naga sakti itu pun di takdirkan bisa kau pelajari, kami bisa belajar ilmu tapak sakti karna kau,!"
"Sebenarnya ada kalung di dadamu hari itu,!" tambah sang kakek, sambil menyerahkan sebuah kalung, bertuliskan Anggala.
"Ya, Anggala,!" sambung Lesmana, "Mungkin kau adalah putra mahkota kerajaan Mandalika, anak dari sepupuku Jaksana, beliau sempat bercerita, bahwa putranya bernama Anggala lesmana, ia mengambil namaku diujung nama putranya.
"Dia menceritakan bahwa di lengan kiri putranya ada tato bergambar naga, dan d lengan kirimu ada tato bergambar naga, rasanya aku tak salah lagi, kau ini adalah keponakan sepupuku," tutur Lesmana.
"Bila kau turun gunung nanti, kembali lah dulu ke kerajaan mandalika, agar orang tuamu senang mengetahui putranya masih hidup," pinta Lesmana.
"Itu tugas pribadimu," lanjut pertapa naga, "Beberapa tahun lalu tepatnya dua puluh tahun lalu, aku pernah mengangkat murid dua orang, satu bernama rangga dan satunya bernama fathik, keduanya ku berikan kitab naga terbang dan naga hitam, mereka turun gunung lima belas tahun lalu, beberapa tahun kemudian ku dengar Rangga menghilang dari dunia persilatan, karna bertarung dengan tokoh nomor satu golongan hitam, Iblis Merah Pencabut Nyawa. Namun yang terjadi dengan Fhatik, dia tergoda harta, ia menjadi tokoh golongan hitam bergelar Pendekar Naga Hitam,"
"Kakek ingin kau mencarinya, dan merebut kitab naga hitam, yang telah ia salah gunakan, pamanmu Lesmana pernah bertarung dengannya, tapi karna dia di bantu Iblis Merah, paman mu terpaksa mundur, dan satu lagi cari tau keberadaan paman gurumu Rangga, si Pendekar Naga Terbang, jika kau ingin mempelajari ilmu Naga Terbang, kau bisa belajar darinya," tutur sang Pertapa Naga lagi.
"Tapi jangan lupa, pertama kau harus ke barat, ada seorang teman lama, meminta bantuan paman, beberapa hari yang lalu melalui telepati," pinta Lesmana, "Mereka bergelar Malaikat Pemarah, dan Bidadari Galak, paman dengar kabar mereka juga mempunyai seorang murid, bila nanti kau bertemu dengannya, katakan kau murid Lesmana si Pendekar Naga Sakti dari Lembah Naga," tambah Lesmana lagi.
"Mungkin hanya itu tugas yang terucap dari kami. Namun jangan lupa, rakyat kecil, orang yang lemah, adalah tugas kita membelanya, bila kau butuh bantuan, kau bisa menghubungi kami, melalui ilmu telepati yang telah kami ajarkan," tambah Lesmana lagi.
"Satu lagi hidup ini jangan pernah melupakan penciptamu yaitu Allah yang maha besar, bila kau dalam masalah mintalah pertolongannya," sela Pertapa Naga sambil memegang pundak Anggala.
"Baik paman, kakek guru pesan kalian takkan saya lupakan. Semua pengajaran paman dan kakek, adalah pedoman hidup saya," jawab Anggala, hatinya sedih harus berpisah dengan mereka yang merawatnya dari umur lima tahun, hingga saat ini.
"Baiklah Anggala, mari kita tidur, besok pagi, adalah hari yang baru untukmu," ucap Lesmana berbinar, terlihat ia agak sedih akan berpisah dengan murid satu-satunya itu.
Pagi yang cerah matahari bersinar di upuk timur, Anggala pagi-pagi sekali sudah mandi, pagi ini ia akan meninggalkan lembah naga,dan memulai petualangan dalam hidupnya.
Kakek Pertapa Naga dan Sang guru pagi ini telah selesai memasak, mereka menyiapkan bekal, untuk dibawa Anggala dalam perjalanannya.
Lesmana membungkus pedang naga sakti, dengan kain putih dan memberinya tali, untuk di sematkan dipundak Anggala.
Setelah mereka selesai sarapan pagi, Anggala bersiap siap untuk berangkat, pedang naga sakti telah terselempang di punggungnya, buntilan makan siang, telah siap, baju baru pemberian sang guru telah dipakainya.
Baju panjang berwarna abu abu, di bagian dalam, jubah biru tanpa lengan di bagian luar,
ikat kepala berwarna biru, mengikat rambutnya.
Anggala tampak lebih tampan dari biasanya, dengan pakaian itu ia begitu cerah, secerah mentari pada pagi ini.
"Anggala, panggilah Rajawali putih, dia akan menemanimu sampai ke barat, bila kau memerlukannya, kau tinggal memanggilnya lagi,!" kata sang guru lesmana.
Suit...! suit..........!"
Anggala bersiul dengan lantang, tak lama tampak seekor burung raksasa menukik tajam ke arah mereka.
"Aak..!" "aak.....,!" "iiik.....!"
Rajawali menyapa ketiga tuannya, sambil turun di hadapan mereka bertiga,rajawali menyodorkan kepala ke arah pertapa naga, lalu ke arah Lesmana, terakhir, baru kearah Anggala, rajawali mengangguk angguk tiga kali lalu diam.
"Rajawali," ujar Lesmana, "Mulai hari ini, tuanmu adalah Anggala, patuhilah dia, seperti kau mematuhi kami,!" kata lesmana kepada rajawali putih.
"Aaak...,!" "Aaak...,!" rajawali mengangguk angguk, karna ia mengerti apa yang di katakan Lesmana.
"Anggala, mulai hari ini julukanmu adalah Pendekar Naga Sakti," kata sang guru.
"Namun dengan gelar itu banyak yang berpikir dua kali bertarung denganmu, dan akan banyak pula yang akan menantangmu!" tambahnya lagi.
"Satu pesan terakhir kakek padamu!" tambah Pertapa Naga, "Jangan pernah sombong dengan ilmu yang Kau miliki, karna di atas langit,masih ada langit,!" pesan sang kakek. Anggala hanya mengangguk lemah, "Baik Kek," jawabnya.
"Pergilah cucuku, bila kau rindu kembalilah kesini, kami kan selalu ada di sini," tambahnya lirih, karna menahan sedih.
"Pesan kakek, di luar sana jangan terlalu kaku, seperti di sini, kalau tidak para gadis akan takut padamu," seloroh Pertapa Naga, menutupi kesedihan nya sambil tertawa kecil.
Anggala memeluk sang kakek lalu menyalaminya, lalu sang guru juga di peluk,dan di salaminya, barulah ia beranjak dengan langkah pelan ke arah rajawali, yang dari tadi menunggunya.
"Selamat tinggal paman Guru. Selamat tinggal kakek guru, do'akan Anggala selamat selalu dalam perjanan, setelah semua selesai,Anggala akan kembali ke lembah naga," ucapnya sambil menepuk leher rajawali dengan pelan.
"Ayo rajawali," perintah Anggala. Setelah ia duduk dileher rajawali.
"Aaak.....!" rajawali menjawab, sambil melesat ke udara bagai anak panah lepas dari busurnya.
Lesmana dan pertapa naga masih berdiri di sana, sampai Anggala benar benar hilang dari pandangan mereka.
.
Bersambung..
Like,vote dan komen ya
Terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Putra Al - Bantani
salam dari "pendekar dari gunung toba"
2023-10-13
0
Ir Syanda
Wao paket komlit sis ...
2023-02-15
0
🥑⃟Serina
josss
2023-02-08
0