Lembah Naga tiga bulan kemudian,
Anggala telah berhasil menguasai sembilan bagian jurus Tapak sakti.
Sang guru dan kakek gurunya pun ikut belajar jurus tidak terkalahkan itu,
mereka belajar dari sang murid pintar didikan mereka sendiri.
Hurus yang selama bertahun-tahun tidak tersentuh itu kini di kuasai tiga pendekar nomor atas dunia persilatan, Anggala yang baru berusia tiga belas tahun, telah menguasai sembilan tahap dari kitab itu.
kini tinggallah, tingkat kesepuluh sampai tingkat dua belas, Pertapa Naga meminta Anggala mempelajari kitab jurus pedang sembilan naga legendaris miliknya.
Karena jurus ini adalah jurus andalan mereka melanglang buana di dunia persilatan, dengan jurus pedang naga mereka sulit di tandingi pendekar golongan hitam dan golongan putih.
Jurus pedang sembilan naga terdiri dari sembilan jurus awal, dan tiga jurus pamungkas, sewaktu Anggala kehilangan tenaga dalamnya, ia telah menguasai sembilan jurus awal.
Kini dengan tenaga dalamnya yang telah mencapai tingkat level lima puluh, ia akan mudah mempelajari jurus tingkat pamungkas itu, di tambah dengan ingatan dan keterampilannya yang luar biasa. Takkan ada kesulitan Anggala dalam mempelajari jurus-jurus itu.
Pagi di lembah naga tampak Anggala sedang berlatih jurus-jurus pedang,
sang guru mendekati Anggala yang sedang berlatih.
"Anggala kini saatnya kita melihat, apakah pedang pusaka ini memilihmu, menjadi pewarisnya atau tidak," kata Lesmana, tampak di tangannya sebuah pedang yang berukir begitu indah.
Gagangnya terdapat sekor kepala naga, yang mulut nya sedikit menganga, pelindung nya terdapat sepasang kepala rajawali yang berlawanan arah, dua kepala rajawali mengarah ke ujung pedang.
Sarungnya terdapat ukiran seekor naga emas, yang menghadap gagang pedang.
Lesmana tampak enteng membawanya, seakan pedang itu tidak berbobot.
Sring!
Lesmana menghunus pedang Naga Sakti dari sarungnya, ia mengibaskan ke kiri dan kekanan, terdengar bunyi pedang itu membelah udara.
Lesmana lalu menancapkan pedang itu di batu besar yang ada di dekatnya
Cring..!
Pedang itu menancap ke dalam batu keras itu, bagai menusuk batang pisang yang lembut.
"Anggala, cabutlah pedang naga ini," perintah Lesmana, ia menggeser memberi tempat pada Anggala.
"Tapi, Paman. Apa Anggala bisa mencabut pedang yang tertancap begitu dalam di batu itu?" tanya Anggala tampak ragu.
"Anggala, jika pedang naga sakti memilihmu, kau akan mampu mencabut pedang itu walau tanpa tenaga dalam. Tapi jika pedang naga sakti tidak memilihmu, walau Kau menggunakan tenaga dalam, kau tidak akan mampu mencabutnya. Cobalah," jelas Lesmana.
"Baik, Paman Guru," jawab Anggala, ia berjalan mendekati pedang yang tertancap hampir separuh ke dalam batu itu.
Anggala takut pedang itu susah di cabut, jadi ia mengerahkan tenaga dalamnya hampir separuh ke tangannya.
Srek!
Gubbrak!
Anggala jatuh terjelengkang karena tenaganya sendiri, sementara pedang naga sakti tampak tergenggam di tangan kanannya.
"Ha ha ha....!" Lesmana tertawa lepas melihat Anggala jatuh telentang di hadapannya. Lesmana juga senang, rupanya Anggala memang pilihan dari pusaka pedang naga sakti.
"Anggala, kau memang bocah pilihan, pedang yang tertancap di batu itu, seakan tidak berasa kau mencabutnya," kata Lesmana.
"Mulai hari ini pedang itu milikmu, dia takkan mencari lagi pemiliknya, dia akan selalu ada untuk menjagamu, dari serangan musuh, yang berniat jahat padamu," tambah Lesmana lagi.
"Kau akan menjadi pendekar naga sakti penerusku di dunia persilatan!" kata Lesmana sambil duduk di dekat Anggala yang telah bangun dari jatuhnya. Namun Anggala tetap duduk memperhatikan keindahan ukiran pedang itu.
"Paman, pedang ini begitu indah, siapa yang menempanya?" tanya Anggala penasaran.
"Pedang itu diukir lansung oleh naga pertapa yang ada di dalam danau ini," tutur Lesmana mulai bercerita.
"Di dalam danau ini tinggal sepasang naga yang bertapa, mereka berteman dengan kakek gurumu Pertapa Naga, dulu beliau masih muda. Beliaulah yang berhasil menaklukkan naga-naga itu, beliau Akhirnya berteman dengan naga-naga itu,"
"Kenapa dengan naga-naga itu, Paman Guru?" tanya Anggala menyela.
"Naga-naga pertapa itu mencari orang yang sanggup mengalahkan mereka, dengan hadiah sebuah mustika naga, banyak pendekar yang mencobanya.
Tapi tidak ada yang mampu mengalahkan mereka, selain kakek gurumu," jawab Lesmana.
"Lalu mustika itu ditempa kakek guru jadi pedang ini?" tanya Anggala, Anggala mengambil sarung pedang itu di tangan Lesmana, paman gurunya.
"Tidak, kakek gurumu meminta naga-naga itu membuatkan sebuah pedang untuknya dari mustika itu, sang naga menyanggupinya, tapi butuh waktu lama, karna mereka tidak menempahnya dengan api, jadi mereka minta waktu pada kakek gurumu selama tiga tahun,"
"Lama sekali, Paman Guru?" tanya Anggala lagi.
"Ya, cukup lama tapi seperti yang kau lihat, pedang naga sakti begitu sempurna, untuk sebuah pedang. Kesaktiannya belum ada tandingannya, tidak semua orang sanggup memegang pedang naga sakti, dia akan menyedot habis tenaga orang yang memegangnya, jangankan memainkannya, mereka takkan sanggup mengangkat pedang naga sakti," jelas Lesmana.
"Tapi, Paman Guru. Saya merasa pedang ini begitu ringan, walau saya tidak memakai tenaga dalam" Anggala menimang-nimang pedang itu dengan sarungnya.
"Itu karena Pedang Naga Sakti telah memilihmmu, Anggala," kata Lesmana sambil menepuk-epuk pundak Anggala dengan lembut.
"Coba kau mainkan jurus-jurus pedang sembilan naga tingkat satu sampai sembilan dengan pedang naga sakti," pinta Lesmana.
"Baik, Paman Guru," jawab Anggala, tampak wajah cerah Anggala karena kesenangan, ia pun menghunus pedang naga dengan perlahan, lalu mulai memainkam jurus-jurus sembilan pedang naga.
"Hup! Hup...! Hiaaa.......! Hia.......!" suara Anggala memecah keheningan, pedang naga sakti meliuk-liuk indah di tangannya.
"Alirkan tenaga dalammu dan pakai ilmu peringan tubuhmu!" seru sang guru.
"Baik, Paman Guru!" jawab Anggala. Lalu ia meningkatkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya, tiba tiba pedang naga sakti bersinar putih, pedang itu merespon tenaga dalam yang di alirkan Anggala.
Anggala melompat dengan ilmu peringan tubuh nya ke arah danau.
Jlep.! jlep.!
Kaki Anggala menapak di atas air dengan begitu ringan. Bagai sebuah kapas, ia terus memainkan jurus pedangnya. Sementara sang guru memperhatikan dari pinggiran danau.
Anggala bergerak semakin cepat, bila di lihat dengan mata biasa, takkan terlihat jelas lagi, Lesmana terpaksa memakai ilmu 'Mata Malaikat'.miliknya, ilmu ini juga telah di kuasai Anggala.
"Anggala.! Gabungkan jurus pedangmu dengan jurus delapan langkah malaikat!"
seru Lesmana dari pingir danau.
"Baik, Paman Guru!" sahut Anggala tanpa berhenti, ia menggabungkan jurusnya, sehingga air danau itu jadi berombak seperti terkena angin kencang.
Cukup lama Anggala berlatih di atas danau itu, namun sampai saat ini ia belum basah terkena air. Tidak lama Anggala pun melesat ke arah sang guru, ia telah selesai memainkan sembilan tingkat jurus sembilan naga.
"Untuk hari ini cukup dulu Anggala, mari kita istirahat!" ajak Lesmana, "Mungkin kakek gurumu telah lelah menunggu kita, kau begitu lama di atas danau tadi," kata Lesmana, ia memegang pundak Anggala sambil berjalan ke arah pondok, di mana Pertapa Naga telah menunggu mereka untuk makan bersama.
.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Ir Syanda
Apakah ada pendekar golongan abu-abu?
2023-02-08
1
Pink Blossom
setajam itu mata pedang'y
2023-01-31
1
🥑⃟Serina
selamat ya Anggala
2023-01-31
0