Berselang waktu berjalan, tiga tahun sudah Anggala tinggal di lembah naga, ia telah tumbuh menjadi calon Pendekar Naga Sakti selanjutnya.
Ilmu 'Sembilan Matahari Cakar Elang'. telah ia kuasai, ilmu peringan tubuhnya hampir mencapai lima puluh persen, tubuhnya tumbuh dengan tegap, begitu pun dengan ilmu tenaga dalamnya, meningkat pesat.
Apalagi Anggala telah meminum ramuan yang di buat Pertapa Naga, pil ramuan penyembuh dan penambah tenaga dalam.
Suatu pagi Anggala tampak sibuk memilih milih kitab yang ada di goa, tempat rak penyimpanan kitab-kitab ilmu silat si Pertapa Naga, tanpa sengaja kitab Tapak Sakti jatuh ke lantai goa.
Anggala mengambil kitab itu, ia melihat judulnya, dan ia pun jadi penasaran,ia membuka lembar pertama kitab itu.
Di situ terdapat jurus-jurus dasar ilmu tapak sakti, Anggala dengan cermat membacanya dan menanamkannya ke dalam ingatannaya,
Semua itu tidak di sadari dua Pendekar Sakti yang ada di lembah naga ini,mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing pagi ini.
Anggala yang tidak tau apa yang akan terjadi terus membaca dengan cermat dan mempatri dalam ingatannya.
Setelah selesai membaca jurus dasar kitab Tapak Sakti itu Anggala berlari ke arah tepi danau di mana tempat ia sering berlatih sendiri mau pun bersama kedua gurunya.
Anggala mulai mempraktekkan jurus-jurus dasar ilmu 'Tapak Sakti'. dalam beberapa gerakan Anggala kecil merasakan kelainan pada tubuhnya, namun ia terus mencoba jurus-jurus dasar itu.
Tiba tiba..
"Hhuaakh.!" Anggala memuntahkan darah segar, tubuhnya sempoyongan lalu ambruk ke tanah. Anggala pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Pendekar Naga Sakti Lesmana, pagi ini telah siap dengan hidangan paginya. Seperti biasa Lesmana berjalan ke beranda pondoknya dan memanggil Anggala dan Pertapa Sakti.
"Anggala..! Guru..! Makanan sudah siap, ayo, kita makan.!" seru Lesmana memakai ilmu pengirim suara, namun hanya pertapa sakti yang sibuk di kebunnya yang menyahuti panggilan Lesmana tersebut.
"Ya, Lesmana sebentar!" sahut orang tua itu, tidak lama kemudian Pertapa Naga pun telah sampai di depan pondok dengan ilmu lari cepat nya.
"Mana, Anggala?" tanya Pertapa Naga.
"Itulah, Guru, biasanya bocah itu tidak pernah tidak menjawab panggilan saya?" jawab lesmana pula, mereka tampak kebingungan kemana Anggala tiba tiba menghilang.
"Baiklah, Kau cari dia di dekat danau, aku akan mencarinya ke goa, mungkin dia terlalu pokus dengan pelajarannya," kata Pertapa Naga.
"Baik, Guru.!" jawab Lesmana, mereka pun melesat bagai kilat ke arah tujuan masing masing. Begitu sampai di tepi danau tempat di mana Anggala berlatih silat.
Lesmana sangat terkejut melihat Anggala tergeletak tidak sadarkan diri, Lesmana cepat memeriksa keadaan di sekitar, namun tidak ada tanda-tanda tempat itu di masuki musuh.
Lembah Naga telah di pagari dengan kekuatan ghaib oleh Pertapa Naga, tidak mungkin ada pendekar yang bisa masuk kecuali di beri izin Pertapa sakti itu. Begitu Lesmana mendekat, ia melihat bekas darah di tanah.
"Apa yang terjadi?" gumam Pendekar Naga Sakti dalam hati,
"Tidak mungkin tempat ini di masuki orang lain," gumam Lesmana dalam hati, ia pun lansung membopong tubuh Anggala dan melesat kembali ke pondok.
"Guru, Anggala sudah saya temukan, ia tidak sadarkan diri di tepi danau, ia terluka dalam seperti terkena pukulan tenaga dalam!" Lesmana mengirim telepati, berbicara jarak jauh dengan sang guru.
"Baik! aku kembali," jawab Pertapa Naga yang mencari Anggala di goa, ia lansung tiba di depan pondok dengan ilmu pemindah raga miliknya, ilmu ini jarang di gunakan Pertapa Naga.
Pertapa Naga lansung masuk dan memeriksa keadaan Anggala, ia menarik napas lalu berkata. "Tenaga dalamnya lumpuh, luka dalamnya bisa kita obati, namun untuk beberapa tahun ini dia takkan bisa melatih tenaga dalam dulu," ujarnya.
"Kelihatannya dia sudah mempelajari jurus yang merusak aliran tenaga dalamnya, semua kitab yang ada di goa, tidak ada yang merusak aliran tenaga dalam, kecuali satu," tambahnya, kening tuanya mangerut pertanda ia berpikir.
"Kitab tapak sakti!" sentak Pertapa Naga, "Bocah ini mempelajari jurus dasar ilmu Tapak Sakti itu," tambahnya lagi.
"Beruntung tulangnya bagus, sehingga ia tak mengalami kelumpuhan tenaga dalam selamanya,"
"Jadi kita harus Bagaimana guru?" tanya Lesmana sambil mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Anggala.
"Lihat respon tubuhnya, luka dalamnya dalamnya begitu cepat sembuh, kita harus menunggu ia pulih kembali," ujar Pertapa Naga.
Setelah selasai mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Anggala, Pendekar Naga Sakti Lesmana, merebahkan kembali tubuh Anggala dan bergeser duduk di samping sang guru si Pertapa Naga.
"Jadi guru, Anggala tak bisa belajar ilmu kanuragan dulu?" tanya Lesmana.
"Tidak untuk jurus-jurus luar, Anggala hanya kehilangan ilmu dalamnya saja," jawab sang pertapa.
"Untuk sementara jangan ajarkan ia jurus jurus yang mengandung tenaga dalam dulu," tambahnya.
"Ajarkan saja ia jurus-jurus pedang, dengan begitu ia akan asik, tidak mengingat jurus-jurus yang mengandung tenaga dalam," ujar Pertapa Naga lagi.
"Baik, Guru, Guru makanan sudah siap, sebaiknya kita makan sambil menunggu Anggala siuman!" ajak Lesmana.
"Baiklah, ayo. Aku pun sudah lapar," jawab Pertapa Naga sambil tersenyum, mereka beranjak ke arah dapur meninggalkan Anggala yang belum sadarkan diri.
Beberapa jam kemudian Anggala telah siuman, kedua gurunya terlihat masih berbincang bincang santai.
"Kau sudah bangun, Nak?" Pertapa Naga mendekati Anggala. "Apa yang terjadi, Anggala?" tanya Pertapa Naga seakan ia tidak tau apa yang di lakukan Anggala.
"Saya mempelajari jurus dasar ilmu Tapak Sakti, Kek," jawab Anggala polos, tidak ada kebohongan dalam perkataannya.
"Kau kehilangan tenaga dalammu," kata Pertapa Naga, "Untuk sementara kau belum bisa belajar jurus-jurus naga, tapi kau bisa belajar jurus-jurus pedang," tambah si Pertapa Naga lagi.
"Anggala, lain kali jangan kau pelajari lagi jurus dasar, ilmu -Tapak Sakti itu," tambah Lesmana yang duduk tidak jauh darinya dan Pertapa Naga.
"Baik, Paman Guru," jawab Anggala, sambil mengangguk.
"Maafkan, Anggala. Kakek, Paman Guru," ucap Anggala.
"Tidak apa-apa, Nak. Kau tidak salah, kakek lupa memberi tahumu, jika kitab 'Tapak Sakti itu berbahaya untuk di pelajari," jawab Pertapa Naga sambil tersenyum.
Anggala tampak memegangi perutnya yang mulai terasa keroncongan.
"Pergilah makan, kami sudah duluan waktu kau pingsan tadi," kata Pertapa Naga.
"Baik, Kek," jawab Anggala, ia pun pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan itu.
.
.
Bersambung.......
Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman.
Like, Koment, Hadiah dan Votenya. Yang paling berarti adalah Rating dari teman-teman pembaca.
Terima kasih banyak.
Mampir ya ke Chat Story author yang ini, lagi ikutan kontes menulis, mohon bantuannya..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 371 Episodes
Comments
Andi Tole
tidak semua ilmu yg dipelajari sesuai dengan badan kita
2024-05-25
0
batik mida
kirain mau langsung BSA tanpa epek samping,,eh ternyata seperti itu,,sama ajj,,mau jdi jagoan terpaksa di tunda dulu,,wkwk
2023-06-13
0
Nengmela 😘
Semangat
2023-02-15
0