Setelah membaca, izinkan cinta dan jemari kalian untuk mendukung karya ini dengan LIKE, KOMENTAR, VOTE juga HADIAH. Mari sama-sama saling mendukung 🤗.
Apresiasi kalian sangat berarti bagiku. Follow juga instagramku @Senjahari2412 untuk info-info seputar cerita yang kutulis. Silakan follow dengan ikhlas. Thank you ❤.
With love
Senjahari_ID24
Selamat membaca.
🌻🌻🌻🌻🌻
BAB 1b
Mercedes-benz E-Class E 200 warna hitam terparkir manis di area parkir RS Siloam. Seorang wanita yang memakai blus warna navy berbahan lace bersiap membuka pintu untuk turun.
"Kamu ingat 'kan, harus pulang jam berapa?"
Itulah kalimat yang menyembur dari mulut Juna dengan intonasi menekan begitu Anggi melepas seatbelt. Bukannya basa-basi mengandung perhatian yang lumrah terucap dari para suami untuk istrinya, melainkan lebih pada ultimatum sebagai peringatan.
Anggi merotasikan manik matanya jengah. "Ya, ya, ya, Pak Suami. Hamba sangat amat ingat kapan harus kembali ke sangkar emasmu!"
"Bagus. Karena jika tidak, kamu sudah tahu konsekuensinya bukan? Hukuman sepanjang malam menantimu!" tegas Juna mengintimidasi.
Anggi mengangguk. Bergidik ngeri ketika Juna menyebutkan kalimat 'hukuman sepanjang malam'. Anggi pernah mengalaminya saat tidak sengaja pulang terlalu larut beberapa minggu lalu, lupa waktu lantaran asyik bercengkerama dengan teman juga sahabat.
Kala itu Anggi pulang pukul sembilan malam, sementara Juna sudah membuat peraturan yang tak bisa diganggu gugat yaitu di pukul tujuh malam adalah batas waktu paling akhir dirinya berada di luar rumah.
Kemurkaan langsung menyambut begitu ia memasuki pintu kediaman mewah Juna, dan kamar utama menjadi saksi bagaimana Juna menghukumnya kasar semalaman tanpa ampun, tanpa kelembutan.
Alhasil raganya remuk redam disertai hatinya juga. Bagaimana tidak, setiap kali Juna meleburkan diri dengannya, nama wanita lain lah yang didesahkan mulut pria itu.
Anggi menarik tuas pintu bermaksud membukanya. Tanpa aba-aba Juna menarik tengkuknya membuat Anggi gelagapan hampir kehabisan napas. Berusaha mendorong tubuh Juna ingin mengelak dan tentu saja itu hanya lah perbuatan sia-sia. Sampai kapan pun tenaganya takkan sebanding dengan si pria tak sabaran yang tengah mencerup bibirnya memaksakan kehendak.
"Mas Juna apa-apaan sih! Lipstikku jadi rusak!" Anggi mendengus sebal seraya menilik tampilannya di kaca spion dalam setelah Juna melepaskan cekalan di tengkuknya. Rongga dadanya kembang kempis dilanda kaget juga emosi.
"Justru aku sengaja membersihkannya. Kamu lebih cocok tanpa lipstik, Istriku." Juna menyeringai miring dibarengi tatapan kurang ajar. "Atau jangan-jangan kamu berniat tebar pesona di rumah sakit!" tuduhnya seenak jidat.
"Ngawur! Aku ke sini buat jenguk ibu, bukan mau jual diri!" serunya kesal tak habis pikir, lalu mengambil tisu untuk menyeka bibir.
"Ingat posisimu, Anggi. Kamu adalah milikku! Bahkan kamu sudah hilang kepemilikan atas dirimu sendiri ketika keluargamu menyodorkanmu sebagai kompensasi. Jadi, jangan macam-macam dan membuat ulah yang bisa merusak reputasiku. Camkan itu!"
Anggi hanya mengangguk tipis walaupun dadanya terasa berdentam nyeri setiap kali Juna menyinggung hal itu. Tak ingin berlama-lama berkonfrontasi, ia memilih untuk segera turun. Membanting kencang pintu mobil mewah yang mengantarnya dan berderap memasuki rumah sakit.
Raut sinis menyambut Anggi begitu pintu ruang perawatan didorong. Ayu sang kakak bersedekap memasang mimik tak bersahabat.
"Mentang-mentang sudah jadi nyonya besar, datang terlambat semaunya! Pasti kamu enak-enakan santai di rumah kan? Sementara aku jadi penunggu!"
Anggi menyugar rambut sebahunya. Menarik napas dan mengembuskannya perlahan demi meredam gejolak kemarahan, tak ingin mencemari kedamaian rumah sakit dengan pertengkaran antar saudara. Tidak Juna tidak kakaknya semuanya hobi membully batinnya.
"Bukankah Mbak sendiri yang memilih untuk menunggui Ibu? Kalau sudah tidak sanggup, aku akan menyewa orang untuk mendampingi, daripada memberatkan Mbak." Anggi menjawab dengan tenang, nada bicaranya pun riuh rendah.
Ayu kelabakan. Kalau Anggi menyewa orang lain, habislah sudah alasannya untuk memerah rupiah dari adiknya ini yang bersuamikan seorang miliarder di dunia textile tanah air.
"Eh, siapa bilang. Tidak usah! Tadi itu Mbak cuma menegur keterlambatanmu, kenapa jadi merembet ke hal lain?" protesnya ngotot.
"Aku hanya memberi usulan," sambar Anggi kemudian.
"Pokoknya tidak usah! Ya sudah giliranmu sana. Mbak sudah telat, ada janji kencan," ujar Ayu sembari meraih tas lalu menyodorkan telapak tangan. "Bagi uang. Aku butuh ongkos taksi," pintanya tak tahu malu.
Anggi yang tak ingin beradu mulut merogoh tas dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan. Tanpa ucapan terima kasih, Ayu menyambar lembaran rupiah, juga tanpa berpamitan bergegas pergi dari sana dengan mata berbinar.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 186 Episodes
Comments
Vivo Smart
kasian anggi
2024-05-23
0
Mutyanti Ummu Al Ghozi
berasa naik rollercoaster 😁
2023-11-02
0
Mutyanti Ummu Al Ghozi
ya ampun
habis baca Dr Wira yg penuh kasih sayang ke istrinya
ini malah mulutnya tajam bgt ke pisau
2023-11-02
0