Chapter 14 - Cerita Lama

"Apakah itu menjadi masalah untuk anda?" Clara bertanya balik, dia sudah belajar untuk menjadi pembicara hebat seperti Duke Wayne.

"Kukira kau sebelumnya mengatakan bahwa kau mencintai tunanganku. Tapi, apa kau bersama kakakku hanya untuk membalaskan kekesalanmu itu?"

Clara mendelik, meskipun tidak akan terlihat oleh Hellen. "Heh..." Kemudian ia tersenyum sinis. "Seharusnya anda menanyakan perihal ini kepada Duke Wayne saja."

"Ayah? Mengapa Ayah?" Hellen jadi tidak sabaran.

"Sudahlah, kehidupan saya ini tidak perlu anda ketahui terlalu dalam. Sungguh, anda akan menyesal jika mengoreknya terlalu dalam."

Dengan langkah agak cepat. Clara meninggalkan Hellen yang masih termenung. Perkataan Clara sebelumnya memang tepat sasaran. Hellen tidak perlu tahu tentang kejamnya dunia, Duke Wayne begitu akurat memperkirakannya.

Karena itulah, Hellen hanya bisa membanggakan dirinya sendiri sementara dalam hati merendahkan yang lain. Kegelapan hati manusia memang menakutkan.

Clara tak tahu kalau iris emas dari seseorang terus lekat kepadanya dengan menyiratkan kepiluan.

...****...

Di dalam kamar, Hellen memegang bunga yang sudah dikeringkan dan diawetkan untuk dijadikan sebagai penanda buku. Itu diberikan kepadanya dari seseorang yang selama ini menumpang di kediamannya.

Bunga itu lumayan langka dan hanya ada di wilayah tertentu. Hellen tahu dari mana bunga itu bisa didapat. Yang membuatnya ragu adalah alasan mengapa orang itu bisa mendapatkannya.

Hellen selama ini selalu menyimpan pemberian tersebut dengan hati-hati. Dia bahkan menempatkannya dalam sebuah kotak khusus. Hellen tak menggunakan benda itu sebagaimana fungsinya, dia lebih suka menyimpannya.

Karena itu adalah hadiah dari sahabat pertamanya.

Meskipun dia sudah tidak ingat lagi.

"Bagaimana bisa dia menjadi orang yang berbeda? Dia berubah-ubah dalam periode waktu tertentu. Aku tidak ingat bahwa dia seperti ini terakhir kali. Mungkinkah ada sesuatu?"

Hellen memandang lekat kotak indah berisi penanda buku dari bunga tersebut. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun ini sehingga si pemberi hadiah ini selalu berubah-ubah sikap dan sifatnya.

"Aku bertanya pada Kakak, namun Kakak bilang tidak tahu. Aku tidak bisa bertanya pada Ayah, bagaimana kalau Ayah curiga dengan pertanyaanku itu? Ayah tidak terkejut dengan perubahannya, tapi aku merasa kalau itu terlalu tiba-tiba. Sekarang dia sudah kembali lagi seperti dulu. Tetapi, aku merasa kami tidak akan bisa bersama lagi seperti dulu."

Dengan langkah lunglai, Hellen mendekat pada jendela yang disandingkan bersama gorden bercorak istimewa. Dia membuka gorden dan melihat langit malam terbentang sejauh mata memandang.

"Aku melihatmu yang dulu begitu menyedihkan. Kemudian menjelma menjadi begitu dingin, bahkan kau selalu menghindari Kakak. Mengapa bersikap seolah kau tidak mengenalku sebelumnya? Dan malah dekat dengan Kakak."

Angin sepoi-sepoi berhembus ketika jendela sudah terbuka.

"Dan sekarang? Kau bukannya menyenangkan, tapi malah terlihat konyol. Ada apa? Kenapa Ayah juga tak mau menjawabku?"

"Sekarang kita bersikap seolah tidak saling kenal. Lucu sekali."

Hellen juga sempat tak percaya jika mereka menyukai orang yang sama. Tapi melihat Clara yang tidak bereaksi barusan setelah bertemu Rovers, itu membuat kejanggalan tersendiri dalam hatinya.

"Dia sudah berbohong."

Ingatan Hellen kembali pada saat Clara pulang bersama Kakaknya. Seharusnya dia sadar lebih awal, tidak ada sorot cinta di mata Clara ketika gadis itu mengatakan bahwa dia mencintai Rovers.

"Apakah mereka bukan orang yang sama?"

...****...

Clara mondar-mandir tak karuan di kamarnya dengan segala keluhan keluar dari mulutnya. Avrim hanya menatap dengan tenang Nonanya itu, sambil sesekali minum atau memakan buah yang sedang ia potong.

"Sialan! Bolehkah aku memukul kepala Pangeran Mahkota itu? Kalau boleh, haruskah aku pilih yang pelan atau super super menyakitkan. Kalau ditendang? Sshh... Itu akan ngilu bila dilakukan."

Sesekali Clara menggigit jemarinya sebab kapasitas otaknya mulai mencapai batas dan tidak bisa diajak untuk berpikir.

"Bagaimana festivalnya, Nona?" Avrim melanjutkan kembali aktivitas memotong buah-buahannya.

"Hm? Yah... tidak ada yang spesial. Hanya saja aku cukup terkejut dengan sesuatu."

"Apa itu?"

"Avrim, mengapa kau tidak pernah memberi tahuku tentang pertunangan Pangeran Mahkota dan Hellen Wayne? Jadinya aku malah salah paham dan berakhir diejek olehnya."

"Dia? Duke Muda?" Avrim memiringkan kepalanya bingung.

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang begitu kejam untuk menertawakan seorang gadis muda yang lemah lembut sepertiku?"

Senyum lembut terpatri di wajah penuh kerutan milik Avrim. Nonanya memang tidak menyadari bagaimana perasaan Duke Muda itu padanya. Tapi Avrim tidak ingin begitu mencampuri urusan tersebut. Itu privasi Nonanya bagaimanapun juga.

"Nona, semua lukisan yang Nona buat mau diapakan?" Avrim kembali ingat kalau sebelum Clara membuat kesepakatan dengan Duke. Dia begitu rajin melukis apa pun dan Avrim pun tak tahu apa itu.

"Ah, itu. Aku akan tetap menyimpannya. Lagi pula kamarku begitu gelap dan tanpa hiasan sedikitpun. Aku juga ingin setidaknya kamarku punya corak sendiri. Meskipun lukisan buatanku itu jelek."

"Siapa yang mengatakan itu kepada Nona? Lukisan Nona sangatlah indah. Saya juga keheranan karena baru tahu Nona bisa melukis seindah itu."

"Kau terlalu memujiku, Avrim."

"Dari mana Nona belajar melukis?"

"Yah... um... hanya aku hanya mencoba-coba saja. Beruntungnya aku, ternyata Avrim mengatakan bahwa lukisanku itu berseni."

"Begitu."

Hening melanda kamar Clara.

Clara Scoleths memang memiliki pengetahuan yang minim tentang menciptakan karya seni. Jadi ketika Avrim melihat hasil dari lukisanku, dia kaget, sebab Clara Scoleths  tidak pernah melukis sebelumnya.

"Apa Nona tidak ingin tidur? Ini sudah malam. Seorang gadis tidak boleh tidur malam-malam. Itu akan mengganggu kesehatan kulit Nona."

Kesehatan kulitku? Yang benar saja. Bahkan kulitku tidak boleh terpapar sinar matahari. Sekarang Avrim berbicara tentang menjaga kulit, mau dijaga bagaimana?

Clara menghampiri tempat tidur dan menyelimuti dirinya setelah mendapat posisi pas untuk tidur. Seperti biasa, Avrim akan meniup lilinnya dan keluar kamar Clara setelah Nonanya terlelap.

Avrim melangkah menuju kamarnya, mungkin dia akan mengirimkan surat lagi malam ini. Tentunya agar tidak terputus komunikasinya dengan Tuannya yang sebenarnya.

Untuk menghindari ada yang masuk tiba - tiba ke kamarnya. Avrim mengunci pintu, kemudian duduk dan mengambil lembaran kertas lain. Sebuah lembar kertas yang khusus dan hanya dimiliki oleh dirinya dan Tuannya.

Setelah mencatat dan seekor merpati datang, seperti biasa. Avrim akan mengikatkan pesan tersebut pada kaki burung. Dan burung tersebut akan mengantarkan pesannya pada Tuan yang ia panggil 'Yang Mulia'.

"Ini semakin mendekati akhirnya."

TBC

Jangan lupa like dan komen ^-^

So, see you in the next chapter~

Terpopuler

Comments

Yessi Kenzie

Yessi Kenzie

Apa jgn2 dah ada bbrp org yg berbeda yg masuk ke raga Clara?? Khan sifatnya berubah-ubah tu..

2022-10-11

0

Zulvianti

Zulvianti

akhhhh..... siapa sih orang di balik ini semua, apakah pemeran utama..... atau hanya perantara

2022-03-12

1

Nabilaaaa`

Nabilaaaa`

kayaknya status Clara tidak sesederhana itu🗿

2022-02-20

1

lihat semua
Episodes
1 Promosi Karya
2 PROLOG
3 Chapter 1 - Dunia Novel?
4 Chapter 2 - Bukan Sekedar Mimpi
5 Chapter 3 - Hendrick Wayne
6 Chapter 4 - Berita
7 Chapter 5 - Rahasia Enam Tahun Lalu
8 Chapter 6 - Rovers Artlenzt
9 Chapter 7 - Kacau
10 Chapter 8 - Petunjuk Mawar
11 Chapter 9 - Herbras I
12 Chapter 10 - Herbras II
13 Chapter 11 - Pengadilan Tinggi
14 Chapter 12 - Festival Musim Gugur
15 Chapter 13 - Mengikuti Alur Novel
16 Chapter 14 - Cerita Lama
17 Chapter 15 - Permintaan Duke Wayne
18 Chapter 16 - Pedang Melawan Pedang
19 Chapter 17 - Memori Hortensia I
20 Chapter 18 - Memori Hortensia II
21 Chapter 19 - Memori Hortensia III
22 Chapter 20 - Ceritanya T'lah Selesai
23 Chapter 21 - Makna Setangkai Mawar
24 Chapter 22 - Sebuah Rasa
25 Chapter 23 - Langkah Awal
26 Chapter 24 - Bentrok
27 Chapter 25 - Terus Berlanjut
28 Chapter 26. Kedatangan Rovers
29 Chapter 27 - Hari Hujan
30 Chapter 28 - Tak Seburuk Dahulu
31 Chapter 29 - Rentetan Masalah
32 Chapter 30 - Rumor yang Datang
33 Chapter 31 - Memulai Topik
34 Chapter 32 - Tentang Avrim
35 Chapter 33 - "Apa Kau Akan Kembali?"
36 Chapter 34 - Menuju Tanah Barat
37 Chapter 35 - Situasi Genting
38 Chapter 36 - Pangeran Mahkota
39 Chapter 37 - Terima Kasih
40 Chapter 38 - Raģe Cheltics I
41 Chapter 39 - Raģe Cheltics II
42 Chapter 40 - Wilayah Barat
43 Chapter 41 - Menyesuaikan Diri
44 Chapter 42 - Tiga Kondisi
45 Chapter 43 - Misteri yang Bermunculan
46 Chapter 44 - Jangan Lupakan Aku
47 Chapter 45 - Jatuh Cinta?
48 Chapter 46 - Hal yang Tak Bisa Direkayasa
49 Chapter 47 - Penyihir Pria di Masa Lampau
50 Chapter 48 - Menonton Teater
51 Chapter 49 - Sandiwara Dunia
52 Chapter 50 - Ruangan Dalam Ruangan
53 Chapter 51 - Menjadi Semakin Buram
54 Chapter 52 - Kuil Istana
55 Chapter 53 - Mengungkap Kebenaran
56 Chapter 54 - Arti 'Maaf' Di Hari Itu
57 Chapter 55 - Grein de'Lavoisiér
58 PLEASE BACA DULU...
59 Chapter 56 - Melepas Rindu
60 Chapter 57 - Mekarnya Anggrek & Layunya Mawar Biru
61 Chapter 58 - Duel
62 Chapter 59 - Surat Balasan ~Hari yang Begitu Tenang~
63 Chapter 60 - Senjata Kedua
64 Chapter 61 - Pergi Ke Wilayah Utara
65 Chapter 62 - Rasa Gelisah
66 Chapter 63 - Hari Besar
67 Chapter 64 - "Aku Akan Tetap Menerimamu Apa Adanya"
68 Chapter 65 - Wilayah Utara
69 Chapter 66 - Mengulang Sejarah
70 Chapter 67 - Kebetulan Yang Manis
71 Chapter 68 - Senjata Freesia I
72 Chapter 69 - Senjata Freesia II
73 Chapter 70 - Senjata Freesia III
74 Chapter 71 - Senjata Freesia IV
75 Chapter 72 - Senjata Freesia V
76 Chapter 73 - Momen Sebelum Kepergian
77 Chapter 74 - Rencana Penculikan
78 Chapter 75 - Pelarian Penuh Darah
79 Chapter 76 - Rahasia Setiap Senjata
80 Chapter 77 - Wilayah Selatan
81 Chapter 78 - Pertanyaan Untuk Clara
82 Chapter 79 - Pertemuan Pertama
83 Chapter 80 - Badai Malam
84 Chapter 81. Sebuah Pengakuan
85 Chapter 82 - Tentang Mawar Biru
86 Chapter 83 - Hellebore Sebagai Kenangan
87 Chapter 84 - Tamu Dari Wilayah Selatan
88 Chapter 85 - Reuni Manis
89 Chapter 86 - Identitas Mereka
90 Chapter 87 - Valentina Harold
91 Chapter 88 - Benang Merah Dalam Cerita
92 Visual Character & Penjelasan Singkat
93 Chapter 89 - Jawaban Atas Keraguan
94 Chapter 90 - Cinta Itu Punya Rasa
95 Chapter 91 - Warna Dari Cinta
96 Chapter 92 - Permata Amethyst
97 Chapter 93 - Gagal Menyatakan
98 Chapter 94 - Hitam Artinya...
99 Chapter 95 - Sebelum Badai Menerjang
100 Chapter 96 - Tak Ada Lagi Hari Tenang
101 Chapter 97 - Kode Untuk Berperang
102 Chapter 98 - Pihak Netral
103 Chapter 99 - Mengembalikan Hadiah
104 Chapter 100 - Diskusi Kematian
105 Chapter 101 - Tugas Seorang Senjata
106 Chapter 102 - Duo
107 Chapter 103 - Dendam yang Terpendam
108 Chapter 104 - Kedamaian Abadi Bagi Muridku
109 Chapter 105 - Murid dan Guru
110 Chapter 106 - Zavius dan Utusan Dari Freesia
111 Chapter 107 - Hari Eksekusi
112 Chapter 108 - Menculik Seorang Pengantin
113 Chapter 109 - Awal Dari Dendam Raja Willem
114 Chapter 110 - Payung Hitam di Bawah Rintik Hujan
115 Chapter 111 - Masa Depan Nan Kelabu
116 Chapter 112 - Bala Bantuan
117 Chapter 113 - Kisah Kasih Tak Sampai
118 Chapter 114 - Simbol Kematian
119 Chapter 115 - Getaran Herbras
120 Chapter 116 - Perang Dalam Kabut
121 Chapter 117 - Adik & Kakak
122 Chapter 118 - Tak Terkendali
123 Chapter 119 - Luapan Sihir Hitam
124 Chapter 120 - Salam Perpisahan
125 Chapter 121 - Kenangan Dari Kehidupan Sebelumnya
126 Chapter 122 - Maafkan Aku T'lah Ingkar
127 Chapter 123 - Sang Antagonis
128 Chapter 124 - Sejarah Singkat Lavoisiér
129 Chapter 125 - Puncak Kemarahan
130 Chapter 126 - Namamu Ialah Bentuk Dari Janji
131 Chapter 127 - Reinkarnasi Adalah Rantai Pengekang
132 Chapter 128 - Menjadi Paling Kuasa Bukanlah Berkah Melainkan Kutukan
133 Chapter 129 - Tersemat Dua Pilihan
134 Chapter 130 - Kehancuran Herbras
135 Chapter 131 - Seberkas Cahaya Dalam Keputusasaan
136 Chapter 132 - Hidup Adalah Tentang Apa Yang Kau Pilih
137 Chapter 133 - Teori Akhir Dunia
138 Chapter 134 - Hari Bahagia
139 Chapter 135 - Karena Dia Berharga
140 Extra Part 1 - Yang Mencintai Takkan Melupakan
141 Extra Part 2 - Akhir yang Lebih Baik
142 Pengumuman & Promosi Novel Baru (MNEMONICS Ver~)
143 Spesial QnA
144 Special Chapter - Mirye: "Come Back To Me"
145 Pengumuman Novel Baru!
Episodes

Updated 145 Episodes

1
Promosi Karya
2
PROLOG
3
Chapter 1 - Dunia Novel?
4
Chapter 2 - Bukan Sekedar Mimpi
5
Chapter 3 - Hendrick Wayne
6
Chapter 4 - Berita
7
Chapter 5 - Rahasia Enam Tahun Lalu
8
Chapter 6 - Rovers Artlenzt
9
Chapter 7 - Kacau
10
Chapter 8 - Petunjuk Mawar
11
Chapter 9 - Herbras I
12
Chapter 10 - Herbras II
13
Chapter 11 - Pengadilan Tinggi
14
Chapter 12 - Festival Musim Gugur
15
Chapter 13 - Mengikuti Alur Novel
16
Chapter 14 - Cerita Lama
17
Chapter 15 - Permintaan Duke Wayne
18
Chapter 16 - Pedang Melawan Pedang
19
Chapter 17 - Memori Hortensia I
20
Chapter 18 - Memori Hortensia II
21
Chapter 19 - Memori Hortensia III
22
Chapter 20 - Ceritanya T'lah Selesai
23
Chapter 21 - Makna Setangkai Mawar
24
Chapter 22 - Sebuah Rasa
25
Chapter 23 - Langkah Awal
26
Chapter 24 - Bentrok
27
Chapter 25 - Terus Berlanjut
28
Chapter 26. Kedatangan Rovers
29
Chapter 27 - Hari Hujan
30
Chapter 28 - Tak Seburuk Dahulu
31
Chapter 29 - Rentetan Masalah
32
Chapter 30 - Rumor yang Datang
33
Chapter 31 - Memulai Topik
34
Chapter 32 - Tentang Avrim
35
Chapter 33 - "Apa Kau Akan Kembali?"
36
Chapter 34 - Menuju Tanah Barat
37
Chapter 35 - Situasi Genting
38
Chapter 36 - Pangeran Mahkota
39
Chapter 37 - Terima Kasih
40
Chapter 38 - Raģe Cheltics I
41
Chapter 39 - Raģe Cheltics II
42
Chapter 40 - Wilayah Barat
43
Chapter 41 - Menyesuaikan Diri
44
Chapter 42 - Tiga Kondisi
45
Chapter 43 - Misteri yang Bermunculan
46
Chapter 44 - Jangan Lupakan Aku
47
Chapter 45 - Jatuh Cinta?
48
Chapter 46 - Hal yang Tak Bisa Direkayasa
49
Chapter 47 - Penyihir Pria di Masa Lampau
50
Chapter 48 - Menonton Teater
51
Chapter 49 - Sandiwara Dunia
52
Chapter 50 - Ruangan Dalam Ruangan
53
Chapter 51 - Menjadi Semakin Buram
54
Chapter 52 - Kuil Istana
55
Chapter 53 - Mengungkap Kebenaran
56
Chapter 54 - Arti 'Maaf' Di Hari Itu
57
Chapter 55 - Grein de'Lavoisiér
58
PLEASE BACA DULU...
59
Chapter 56 - Melepas Rindu
60
Chapter 57 - Mekarnya Anggrek & Layunya Mawar Biru
61
Chapter 58 - Duel
62
Chapter 59 - Surat Balasan ~Hari yang Begitu Tenang~
63
Chapter 60 - Senjata Kedua
64
Chapter 61 - Pergi Ke Wilayah Utara
65
Chapter 62 - Rasa Gelisah
66
Chapter 63 - Hari Besar
67
Chapter 64 - "Aku Akan Tetap Menerimamu Apa Adanya"
68
Chapter 65 - Wilayah Utara
69
Chapter 66 - Mengulang Sejarah
70
Chapter 67 - Kebetulan Yang Manis
71
Chapter 68 - Senjata Freesia I
72
Chapter 69 - Senjata Freesia II
73
Chapter 70 - Senjata Freesia III
74
Chapter 71 - Senjata Freesia IV
75
Chapter 72 - Senjata Freesia V
76
Chapter 73 - Momen Sebelum Kepergian
77
Chapter 74 - Rencana Penculikan
78
Chapter 75 - Pelarian Penuh Darah
79
Chapter 76 - Rahasia Setiap Senjata
80
Chapter 77 - Wilayah Selatan
81
Chapter 78 - Pertanyaan Untuk Clara
82
Chapter 79 - Pertemuan Pertama
83
Chapter 80 - Badai Malam
84
Chapter 81. Sebuah Pengakuan
85
Chapter 82 - Tentang Mawar Biru
86
Chapter 83 - Hellebore Sebagai Kenangan
87
Chapter 84 - Tamu Dari Wilayah Selatan
88
Chapter 85 - Reuni Manis
89
Chapter 86 - Identitas Mereka
90
Chapter 87 - Valentina Harold
91
Chapter 88 - Benang Merah Dalam Cerita
92
Visual Character & Penjelasan Singkat
93
Chapter 89 - Jawaban Atas Keraguan
94
Chapter 90 - Cinta Itu Punya Rasa
95
Chapter 91 - Warna Dari Cinta
96
Chapter 92 - Permata Amethyst
97
Chapter 93 - Gagal Menyatakan
98
Chapter 94 - Hitam Artinya...
99
Chapter 95 - Sebelum Badai Menerjang
100
Chapter 96 - Tak Ada Lagi Hari Tenang
101
Chapter 97 - Kode Untuk Berperang
102
Chapter 98 - Pihak Netral
103
Chapter 99 - Mengembalikan Hadiah
104
Chapter 100 - Diskusi Kematian
105
Chapter 101 - Tugas Seorang Senjata
106
Chapter 102 - Duo
107
Chapter 103 - Dendam yang Terpendam
108
Chapter 104 - Kedamaian Abadi Bagi Muridku
109
Chapter 105 - Murid dan Guru
110
Chapter 106 - Zavius dan Utusan Dari Freesia
111
Chapter 107 - Hari Eksekusi
112
Chapter 108 - Menculik Seorang Pengantin
113
Chapter 109 - Awal Dari Dendam Raja Willem
114
Chapter 110 - Payung Hitam di Bawah Rintik Hujan
115
Chapter 111 - Masa Depan Nan Kelabu
116
Chapter 112 - Bala Bantuan
117
Chapter 113 - Kisah Kasih Tak Sampai
118
Chapter 114 - Simbol Kematian
119
Chapter 115 - Getaran Herbras
120
Chapter 116 - Perang Dalam Kabut
121
Chapter 117 - Adik & Kakak
122
Chapter 118 - Tak Terkendali
123
Chapter 119 - Luapan Sihir Hitam
124
Chapter 120 - Salam Perpisahan
125
Chapter 121 - Kenangan Dari Kehidupan Sebelumnya
126
Chapter 122 - Maafkan Aku T'lah Ingkar
127
Chapter 123 - Sang Antagonis
128
Chapter 124 - Sejarah Singkat Lavoisiér
129
Chapter 125 - Puncak Kemarahan
130
Chapter 126 - Namamu Ialah Bentuk Dari Janji
131
Chapter 127 - Reinkarnasi Adalah Rantai Pengekang
132
Chapter 128 - Menjadi Paling Kuasa Bukanlah Berkah Melainkan Kutukan
133
Chapter 129 - Tersemat Dua Pilihan
134
Chapter 130 - Kehancuran Herbras
135
Chapter 131 - Seberkas Cahaya Dalam Keputusasaan
136
Chapter 132 - Hidup Adalah Tentang Apa Yang Kau Pilih
137
Chapter 133 - Teori Akhir Dunia
138
Chapter 134 - Hari Bahagia
139
Chapter 135 - Karena Dia Berharga
140
Extra Part 1 - Yang Mencintai Takkan Melupakan
141
Extra Part 2 - Akhir yang Lebih Baik
142
Pengumuman & Promosi Novel Baru (MNEMONICS Ver~)
143
Spesial QnA
144
Special Chapter - Mirye: "Come Back To Me"
145
Pengumuman Novel Baru!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!