"Syukurlah, akhirnya aku menemukan ruang tamunya." Batin Kaili senang lalu mendudukkan bokongnya di sebuah sofa.
"Ta-tapi, aku tidak mendengar suara orang yang berbincang. Astaga! Aku ini ada dimana!" Teriak Kaili tertahan.
"Apa disini ada orang!?" Tanya Kaili meraba-raba sofa disampingnya. "Sepertinya aku salah tempat, lebih baik aku menunggu disini saja—agar tidak semakin jauh tersesat." Ucap Kaili berusaha menenangkan dirinya.
Braaaakk!
Kaili begitu terkejut kala mendengar suara pintu yang ditutup paksa oleh seseorang dari luar sana.
"Siapa itu! Astaga, apa aku dikunci dari luar." Ujar Kaili panik, segera berdiri menuju suara pintu yang tertutup tadi.
"Tolong! Siapapun tolong buka pintunya! Toloooong!" Teriak Kaili berusaha menggedor pintu itu sekuat tenaga.
"Astaga, siapa yang tega melakukan ini padaku? Aku sama sekali tidak takut kegelapan. Tolong jangan mengunciku didalam sini!" Teriak Kaili hampir kahabisan suara karena kebanyakan berteriak.
"Lebih baik aku menenangkan diriku. Sepertinya tidak ada hasilnya bila aku terus berteriak. Apa yang harus aku lakukan!? Hufff ... Ruangan ini sepertinya sangat tertutup hingga minim sekali udara. Sepertinya AC-nya juga sengaja dimatikan, siapa yang tega melakukan ini padaku. Tuhan, Ayah, Ibu tolong lindungi aku. Ah, asmaku kambuh, Huffff ...." Ujar Kaili berperang dalam batinya, sambil terus mengatur napasnya.
***
"Kenapa Kaili lama sekali, bukankah seharusnya dia sudah kembali?" Tanya Nyonya Aeri khawatir.
"Iya, bukankah Kakakku terlalu lama. Sepertinya dia tersesat!" Saut Jia berpura-pura panik.
"Astaga Putriku!" Sambung Nyonya Howin menyaut akting Putrinya.
"Nupu, bukankah dia pergi bersamamu? Kenapa kau tidak kembali bersamanya?" Tanya Nyonya Aeri membentak.
"Maaf, Nyonya tadi—" Nupu itu berhenti berbicara kala mendapat tatapan tajam dari Presdir Lee.
"Tadi apa!?" Bentak Nyonya Aeri.
"Tadi, Nona Kaili meminta saya pergi lebih dulu. Dia bilang, dia masih lama, Nyonya." Jelas Nupu itu berbohong.
"Astaga, kau tau bagaimana kondisi menantuku! Kenapa kau meninggalkannya begitu saja!?" Bentak Nyonya Aeri membuat Nupu itu menundukkan wajahnya dalam.
"Kemana gadis buta itu pergi? Apa dia benar-benar tersesat?" Batin Presdir Lee dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatiran tanpa dia sadari.
"Ayo kita cari Putri saya, Nyonya. Saya sangat mengkhawatirkannya!" Ujar Nyonya Howin panik—tentu saja akting.
"Semua pengawal cari menantu saya sampai ketemu. Sayang, kamu ajak Nyonya Howin menuju toilet untuk mengecek apakah Kaili masih ada Disana. Lee, kau ikut ayah untuk mengecek cctv." Titah Tuan Shilin, semua pun langsung pergi menjalankan perintah dari Tuan Shilin.
***
"Aneh sekali, di cctv terlihat jelas hanya merekam ketika Kaili masuk kedalam toilet. Kemana rekaman setelahnya? Kenapa kau tidak menjalankan tugasmu dengan benar!" Bentak Tuan Shilin menarik kerah baju penjaga cctv di Mansionnya itu.
"Daddy tengalah, aku yakin dia masih berada di perkarangan rumah ini. Lebih baik kita segera mencarinya," seru Presdir Lee mencoba meredakan emosi Daddy-nya.
"Baiklah, Nak. Dan kau cepat selidiki kemana perginya rekaman itu. Bila ada yang meretas sistem, cari hingga ketemu. Aku tidak ingin ada penyusup di dekatku!" Ancamnya lalu pergi untuk mencari keberadaan menantu pilihannya.
"Sial! Kemana perginya gadis buta itu? Belum jadi Istriku saja dia sudah menyusahkan seisi rumah. Bagaimana bila dia menjadi Istriku kelak, apa dia akan menyusahkan satu negara," oceh Predir Lee terus memeriksa satu persatu kamar dan gudang dilantai satu. Hanya lantai satu, tidak mungkin Kaili tersesat hingga lantai 4 bukan?
Predir Lee terus mengumpat Kaili dalam hatinya. Tapi, dia tidak berhenti mencari keberadaan Kaili. Tidak sadarkah dia, bahwa sikapnya pedulinya saat ini sangat jelas terlihat. Lihatlah bagimana keringatnya mengucur hanya karena memikirkan gadis buta yang barusan tadi dia kerjai.
Braak!
"Sejak kapan pintu ruang kerja lamaku terkunci. Bukankah sudah menjadi ruangan tidak ditunggu. Apa jangan-jangan, gadis buta itu berada didalam!" Oceh Presdir Lee mencoba mendobrak paksa ruang kerjanya yang lama. Ruangan itu sudah lama tidak lagi menjadi ruangannya. AC didalam yang rusak, diperburuk dengan suhu udara yang sering tak menentu—membuat Lee pindah dari ruangan itu.
Braaaak!!!
Akhirnya ruangan itu terbuka, Presdir Lee Panik seketika kala melihat Kaili terbaring lemah tak berdaya di lantai berdebu itu.
"Astaga, gadis buta ini!" Teriak Presdir Lee langsung langsung mengangkat tubuh Kaili dan dia bawa keluar dari ruangan itu.
"Apa dia Asma?" Ucapnya panik.
Krrakk!
Presdir Lee langsung bertindak dengan sengaja merobek baju bagian atas Kaili yang terlihat sangat ketat—hingga menampakkan separuh gundukkan Kaili yang menyembul.
Huffff ....
Menarik napas panjang, lalu memberikannya ke Kaili lewat mulutnya langsung.
Entah sudah berapa kali Presdir Lee mengulang terus dan terus.
"Lee, astaga apa yang kau lakukan pada Kaili?" Bentak Nyonya Aeri yang datang seorang diri.
Presdir Lee tidak menghiraukan pertanyaan Mommy-nya. Dia terus mengambil napas panjang lalu mentransfernya ke mulut Kaili.
"Asataga, Kaili Sayang!" Seru Nyonya Aeri yang panik karena baru memahami apa yang telah terjadi.
"Bagaimana, Sayang. Apa Kaili sudah sadar?" Tanya Nyonya Aeri khawatir ketika melihat Putranya menghentikan tindakannya.
"Sepertinya buruk, Mommy. Aku akan bawa dia ke kamar lebih dulu. Mommy cepat hubungi Dokter Ling." Titah Presdir Lee sambil melepas Jas-nya lalu menutup bagian atas tubuh Kaili. Kemudian mengangkat perlahan tubuh Kaili menuju kamar tamu yang masih berada di lantai dasar.
Tanpa disadari, Presdir Lee terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi Kaili. Apakah benih-benih cinta tumbuh secepat itu di hatinya.
"Kak Lee tidak pernah telihat se-khawatir itu padaku, maupun kekasihnya si Yuki jerapah itu!" Umpat Yeji yang terlihat begitu cemburu atas apa yang barusan dilihatnya.
"Bagimana keadaan Putri saya, Dokter?" Tanya Nyonya Howin, seperti biasa dia masih berpura-pura panik.
"Nona Kaili baik-baik saja, Nyonya. Sebentar lagi dia akan segera sadar." Jawab Dokter Ling ramah.
"Syukurlah, Kak bangunlah kak. Aku sangat mengkhawatirkan Kakak," ujar Jia tentu saja juga ikut berakting.
Uhuuk, Uhuukk
Batuk Kaili lalu langsung tersadar.
"Aku ada dimana? Tolong, tolong!" Teriak Kaili ketakutan.
"Sayang, tenganglah sayang. Ada Ibu disini, Ibu tidak akan membiarkanmu jauh lagi." Seru Nyonya Howin memeluk erat Kaili.
"Kaili takut, Bu. Disana tidak ada udara," ucap Kaili dengan tangisnya.
"Tenanglah, Sayang. Sekarang kamu sudah aman." Ujar Nyonya Aeri juga ikut menenangkan Kaili.
"Huffff ... Syukurlah gadis buta ini baik-baik saja. Astaga, apa yang telah aku lakukan?" Batin Predir Lee yang baru manyadari bagaimana upayanya saat menyelamatkan Kaili.
"Karena Kaili sudah sadar. Kami akan segera pamit pulang." Izin Nyonya Howin sebenarnya tidak tega meninggalkan Mansion mewah itu.
"Tetaplah disini dulu, Nyonya Howin." Saut Tuan Besar Shilin.
"Benar, Nyonya Howin. Ini sudah sangat larut. Kasihan Kaili kalau pulang sekarang juga, sepertinya dia masih sangat panik dan ketakutan. Bagaimana kalau malam ini, kalian bertiga menginap disini saja dulu." Tawar Nyonya Aeri ramah.
"Baiklah, kalau Nyonya memaksa," jawab Nyonya Howin menyetujui tanpa penolakan tarik ulur.
"Kalau begitu, mari saya antar ke kamar tamu lainnya. Kita tinggalkan Kaili, biarkan dia beristirahat." Saut Nyonya Aeri mengajak semuanya untuk keluar dari kamar Kaili.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 81 Episodes
Comments
Nur Lizza
kerjaan siap yg mengunci anna di ruNgn.smg yg bt kai trkunci ketemu
2023-04-09
0
Dimas Prayuga
lanjut.
2021-11-08
0
Aprilia***
ap mungkin yeji yg ngunciin Kaili oh my good jangan sampai adik KK it yg nantinya aniaya kalili kasian 😢😢😢
2021-10-26
5