.
.
Felix dan Handika sampai di kosan sekitar jam enam sore. Tadi di tokonya Nana, Felix sempat dimarahi karena main game sampai menghabiskan banyak koin, tapi berhenti marah dan luluh setelah tau Felix memenangkan semuanya dan memberinya dua boneka kelinci. Boneka lain dibawa Jini, tiga boneka kucing juga.. dia bilang akan memberinya langsung pada Lianna.
Setelahnya Felix memasak makan siang
dengan dibantu Nana dan Jini, kedua perempuan itu tak hentinya kagum dengan
kemampuan memasak Felix yang sudah seperti pro.
Mereka memasak beberapa makanan dan juga desserts, lalu memakannya sampai kenyang, bahkan beberapa puding tidak habis, jadi Jeanno membawanya pulang, katanya untuk diberikan pada nenek dan adiknya.. jadi Felix memberi puding itu untuknya.
Setelah itu merekapun pulang, dan Jini diantarkan oleh Jeanno, katanya rumah mereka searah.
Sampai kosan, barang-barang juga sudah sampai dan sudah dimasukkan ke kamar Felix. Handika sempat memberi pesan pada anak kos yang masih ada di kosan untuk menerimanya dan langsung membawanya ke kamar Felix.
Jadi sekarang kamar Felix penuh dengan paper bag, tapi Felix belum mau memeriksanya, dia hanya memberikan yang punya Handika saja lalu membiarkan sisanya. Untungnya Nana juga tidak menanyainya tentang baju tadi.
Kini Felix memilih berbaring di ranjang kecilnya, menatap langit-langit kamar hingga hampir terlelap jika saja dia tidak ingat ia memiliki hadiah yang katanya datang bersama pakaian.
Felix pun bangkit duduk, lalu kembali menatapi paper bagnya, ada salah satu paper bag yang asing di antaranya. Jadi Felix memilih untuk mengambil yang itu, paper bag ini tertutup rapat sekali, dan di paper bagnya ada tulisan ‘Prince Charming’ warna merah muda dengan
mahkota menghiasi huruf ‘P’.
Setelah dibuka, benar saja.. ada surat-surat apartemen yang semuanya sudah ditanda tangani.
Apartemen Bluepearl itu kalau tidak salah tidak jauh dari sini dan merupakan salah satu apartemen paling mewah dengan fasilitas mewah pula.
Felixpun meraih ponselnya dan mencari informasi apartemen itu di internet.
Unit yang berharga 10 miliyar itu termasuk unit yang paling bagus, memiliki tiga kamar mewah, kamar mandinya memiliki jacuzzi, pemandangannya juga indah... selain itu ada berbagai fasilitas juga disana seperti gym, skypool, restoran, bar, taman dengan jogging
track dan banyak lagi.
Felix pusing melihat semua informasi itu.. oh iya, Felix juga mendapat tempat parkir di dalam gedung. Tapi dia tidak punya apapun untuk diparkirkan.
Jika seperti ini.. dia jadi ingin cepat-cepat melihat apartemennya.
Mungkin besok?? Besok masih hari minggu.
Baiklah, dia akan memeriksa apartemennya sendirian besok.
Oh iya PR!!
Felix pun keluar dari laman internet untuk mengirim pesan pada Handika.
To: Handika
Han, ayo ngerjain PR
Beberapa saat kemudian Handika sudah turun membawa buku-bukunya dan menghampiri Felix yang sudah siap di ruang tamu.
“Baru juga pulang Lix.. belom mandi udah ngerjain PR aja” keluh Handika
“Mandi besok aja, masih ganteng ini” jawab Felix enteng, mendengar itu, Handikapun duduk di sebelah Felix.
“Haahh, semua cowok sama aja!”
“Situ juga cowok ya!” protes Felix.
“JADI KALIAN BELOM MANDI??!!” seseorang yang dari tadi menonton TV di ruang tengah meneriaki mereka, oh.. ternyata Aji.
“Hehe ada mas Aji” Felix
“Kamar mandinya antri mas, nanti aja lah” sahut Handika
Aji menatap mereka berdua jijik “Ganteng kalo gak mandi jadi ilang gantengnya”
Mendengar itu mereka berduapun berdiri “Sana mandi dulan Lix, kalo masih antri aku numpang kamar mandimu ya” kata Handika
“Oke” jawab Felix singkat.
“Mas titip buku kita ya!” Handika
“Hmm cepet mandi, Felix bau bawang” Aji
“Masa sih??” Felix pun segera masuk ke kamarnya dan buru-buru mandi.
‘Masa aku bau bawang sih? Padahal tadi ada Jini..’ keluh Felix dalam hati
***
Keesokan harinya setelah menyelesaikan misi harian bersama Handika, Felix tidak pergi ke rumah Nana seperti biasanya karena Handika mengeluh ingin makan nasi pecel.
“Lix buatin pecel ya..” pinta Handika.
“Kamu pikir kita punya bahan-bahannya apa? Kita harus beli sayuran dulu, terus kacang –”
“Kalo pengen pecel beli aja di warung buk Min, udah enak.. murah pula” sahut seseorang yang baru mengambil minuman dingin dari dapur, menyela perkataan Felix.
Felix menoleh pada Handika, Handika yang mengerti Felix belum mengenal orang ini pun mengenalkan mereka “Oh kenalin Lix, ini Ferdi.. anak IPS”
“Aku paling ganteng di kelas IPS Lix kalo belom tau” sahut Ferdi
“Fitnah! Orang yang paling ganteng anak IPS itu Fabian” bantah Handika
“Belain temen dikit dong Han! Gak asik nih” Ferdi “Kalo dibandingin sama dia sih aku angkat tangan” lanjutnya.
Felix hanya tersenyum mendengar mereka membicarakan Fabian, baru saja dia sedikit melupakan si Fabian, Handika malah mengingatkan.
Lagian Handika ini udah tau habis dipukulin suruhannya Fabian, masih aja dibela ganteng. Felix tidak mengerti lagi dengan kerja otak Handika.. tapi, yah.. mungkin dia hanya terlalu jujur.
“Tapi itu tadi boleh juga, beli pecel di warung buk Min, aku penasaran” kata Felix
“Traktir ya Lix” pinta Handika dengan tidak tau malunya, kalo malu bukan Handika namanya.
Tapi karena Felix memiliki uang banyak, jadi tidak masalah, mentraktir teman adalah hal kecil baginya.. apalagi hanya sepiring pecel.
“Beres, aku yang traktir” Felix menunjukkan jempolnya.
“Aku juga ya?” sahut Ferdi
“Kayaknya aku denger traktiran tadi” Aji yang baru datang dari lantai atas.
“Iya mas Aji, aku bakal nraktir makan pecel” jawab Felix
“WOY BANGUN SEMUANYA, FELIX NRAKTIR
PECEL!!”
Felixpun terkejut “Ma.. mas Aji..”
PUK
Handika menepuk bahu Felix dengan dramatis “Kamu banyak uangnya Lix, sekali-kali beramal pada sesama, biar makin banyak uangnya, semangat teman!”
Dan begitulah, pagi ini Felix mentraktir sepuluh anak yang masih ada di kos untuk sarapan nasi pecel. Ditambah Felix dan Handika berarti dua belas anak.
Benar kata Ferdi, nasi pecel di warung ini rasanya enak sekali, sepiring pecel harganya sepuluh ribu sudah dengan tambahan tahu tempe dan perkedel jagung, kalo mau peyek juga gratis.
Yang punya warung, Buk Min senang sekali semua anak kosan kemari untuk sarapan, bahkan ada yang nambah juga. Felix hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka.. bisa-bisanya sepiring masih tidak cukup juga.
Warung ini tidak jauh dari kosan mereka atau sekolah mereka, dan bukan di pinggir jalanan juga, tapi di depan rumah Buk Min sendiri. Tempatnya bersih dan cukup asri karena rumah Buk Min ada banyak pohon dan bunganya.
Dari yang Felix lihat selama beberapa hari disini, warung ini cukup ramai pelanggan, apalagi setiap pagi di hari kerja atau jam makan siang. Yang dijual juga bukan cuma pecel, ada nasi uduk, nasi kuning, dan mie ayam.
Ting!
Di tengah asyik makan, suara notif sistem muncul begitu saja.
Bisa-bisanya ada misi di saat tengah sarapan begini.
----
MISI KHUSUS:
Membantu pemilik warung yang kesusahan!
Hadiah: uang tunai sebesar 100 juta dan 50 poin bebas
Felix jadi bersemangat melihat hadiah poin bebas disana, akhirnya ada hadiah poin juga! Kalau begini besok mungkin dia sudah bisa naik level dua setelah mengerjakan misi harian untuk besok.
Eh, tapi... memang Buk Min sedang kesusahan ya??
Felix mendongak dari ponselnya, menatap Buk Min yang sedang mengangkat telfon, Felix fokus untuk mendengarkan percakapan Buk Min di telfon.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
MulyoJati Putro JagadJenar
semangat 45 bantu yang membutuhkan 💪💪💪
2025-01-07
0
Harman Loke
seeeeemaaaaaaaaaangaaaaaaaaattt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss
2025-02-19
0
Mamat Stone
waktunya beraksi 😁
2023-09-17
7