.
.
Karena berangkat melihat toko bersama Nana masih nanti jam sembilan, Felix bangun pagi-pagi untuk menyelesaikan misi harian seperti biasa. Karena hadiahnya uang terus, ia tidak pernah mendapat hadiah poin lagi, Felix ingin segera mengumpulkan poin agar semua level
dasarnya bisa naik ke level dua. Karena hanya dari misi harian dia dapat mengumpulkan poin.
Seperti biasa, ia memaksa Handika untuk ikut berolah raga dengannya, karena Felix tidak mau temannya itu punya tubuh yang lemah. Karena jika lemah, itu berarti mudah untuk dipermainkan orang, seperti dengan Fabian kemarin.
Setelah menyelesaikan misi harian, Felix masih memaksa temannya itu untuk tidak kembali tidur dan membantunya membuat brownies dan cookies. Meski mengeluh, Handika tetap menurut dan membantu Felix, dia takut Felix tidak membaginya kue karena tak mau membantu.
“Akhirnya.. ini sudah cookies terakhir?” tanya Handika, Dia sudah tiduran di sofa depan TV. Felix membuat sekotak brownies dan sekitar dua puluh cookies, sekarang cookies terakhir
sedang masuk oven, menunggu untuk matangnya.
“Iya, mandi dulu sana! Mau ikut liat toko gak?” perintah Felix.
“Apa gak usah ikut ya Lix? Capek banget nih.. lagian ini hari libur kenapa semangat banget sih?” keluh Handika untuk entah yang keberapa kalinya hari ini.
“Aku sekalian pengen beli baju baru nih, kata Kak Na boleh asal sama temen.. aku beliin baju juga deh” mendengar pernyataan Felix barusan, Handika seketika bangun dari tidurannya, matanya berbinar-binar menatap Felix yang berdiri di depannya “MAU!!”
Felix mendengus “Kalo dibeliin aja mau.. ya udah cepet mandi sana!”
Setelah itu Handikapun melesat menuju lantai dua tempat kamarnya berada, sementara Felix mengeluarkan cookies terakhir yang telah matang, lalu meletakkannya di atas meja.
Dia mencicipi cookies lain yang sudah tidak terlalu panas, setelah merasakannya dia merasa puas. Cookiesnya lembut dan pas dengan seleranya.
DRAP DRAP DRAP
Mendengar suara orang turun tangga dengan cepat tersebut, Felix keluar dari dapur, ia pikir itu Handika.. dia sudah mau memarahinya.
Tapi ternyata orang lain, Felix belum kenal siapa-siapa selain Handika, jadi Felix kembali berkutat di dapur.
Tak lama kemudian terdengar bunyi bel, orang itu membuka pintu kos.
Ternyata Ibu dan adik perempuannya yang masih kecil datang berkunjung.
Perasaan iri kembali menggerogoti hati Felix, tapi ya sudahlah.. sabar Lix.
Entah apa yang ada di pikiran Felix, tanpa pikir panjang dia membuatkan tiga cangkir teh hangat, lalu menyajikan tiga cookies dan tiga potong brownies pada mereka.
Teman kos yang belum Felix kenal menatap Felix tidak percaya, lalu dia bilang terima kasih, begitupun Ibunya dan adik kecilnya. Bahkan adik itu juga memuji Felix tampan segala.
Karena semua brownies dan cookies sudah ia masukkan kotak penyimpanan, dia kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap.
“Itu temen kosmu baik banget... dia bule ya?” samar-samar Felix mendengar suara Ibu teman kosnya itu membicarakan dirinya.
“Dia ponakan yang punya kos, baru aja pindah kemari, jadi Aji gak begitu kenal ma” jawab teman kos yang sekarang Felix tau namanya Aji ternyata.
“Ini dapet kue dari mana ya? Kok enak banget... coba tanyain dong Ji” kata mamanya Aji lagi
“Ngapain sih Ma.. gak enak sama Felix nya”
“Ih, mama kan mau belajar bikin kue seenak ini, jadi pengen tau beli di toko mana”
Perlahan senyum malu-malu muncul di wajah Felix, meski secara tidak langsung, mamanya Aji sedang memuji kue buatannya. Dan hal kecil itu entah mengapa membuatnya senang dan bangga dengan dirinya sendiri.
Apa dia jadi chef saja ya? Kali aja bisa sukses seperti Gordon Rusley, atau Chef Arjuna jurinya acara Mister Chef di TV yang terkenal itu. Yang Felix ketahui saat ini Chef Arjuna memiliki
restaurant bintang lima, yang sekali makan disana harus merogoh kocek dalam-dalam.
Pasti senang sekali bisa seperti dia kan??
Tok Tok Tok
Felix berjengit, terkejut dari lamunannya saat mendengar suara ketukan pintu kamarnya, segera saja ia buka pintunya dan melihat Aji berdiri disana, tersenyum canggung padanya.
“It.. itu.. Felix.. boleh nanya dimana kamu beli kuenya gak??” tanya Aji.
“Oh, mas Aji kan? Itu.. sebenernya aku buat sendiri mas, kalo mas mau nanti aku kasih resepnya” kata Felix
“Serius Lix? Boleh deh.. minta resepnya ya, buat mama”
Setelahnya Felix mencari kertas dan pena, lalu mulai menuliskan resep brownies dan cookies persis seperti yang ia lakukan tadi dengan Handika. Meski sebenarnya Felix menggunakan resep dari internet, namun mungkin karena skillnya, Felix mengubah beberapa cara dari
resep itu karena ia pikir resepnya masih kurang pas.
“Ini mas, udah aku tulis merek bahan yang aku pake juga.. semoga membantu ya”
Aji menerimanya dengan senang hati “Wah, makasih ya Lix, gak nyangka kamu baik dan pinter masak.. cita-cita kamu jadi chef ya?”
Felix tertawa canggung “Gi.. gitu deh, hehe”
“Ya udah ya, maaf ganggu, sekali lagi makasih”
“Sama sama”
Jadi chef ya?? Entahlah, bisa dipikir nanti.. tapi, itu tidak buruk juga.
Syukurlah karena hal ini, Felix jadi kenal satu orang lagi di kos ini, semoga setelah ini anak yang lain juga mau menerimanya.
Tapi, kenapa mereka berpikir Felix ini ponakannya Mama Ina? Felix tidak mengerti, tapi biarkan saja lah.
***
Nana, Felix dan Handika sudah sampai di toko yang Nana beli.
Tokonya bagus dan tempatnya juga strategis, memiliki dua lantai dan terlihat sederhana. Karena ada beberapa pohon yang ditanam di sekitarnya jadi tempat itu terasa sejuk.
“Gimana? Bagus gak menurut kalian?” tanya Nana, refleks kedua remaja itu mengangguk sambil masih bengong menatapi calon cafe mereka.
“Kok kak Na bisa langsung dapet tempat sestrategis ini? Pasti mahal ya sewanya?” tanya Handika, mendengar itu Nana tertawa “Ya ampun Han.. bisa-bisanya kamu pikir aku nyewa tempat ini, haha lucu banget kamu”
Handika menoleh bigung pada Nana, tapi kemudian dia mengingat kembali obrolannya dengan Danny dan Lianna kemarin di rumah sakit.
“Oh iya.. kan Kak Na putri investor terke – eh? Jadi om Riko itu investor terkenal dong??” Handika shock lagi, Nana hanya tertawa melihatnya.
“Tapi kok kalian tau sih?” tanya Nana setelah puas menertawai Handika.
“Dikasih tau Danny sama Lianna” jawab Handika enteng.
Nana mengangguk “Oh Danny – tunggu! Kok kenal Lianna?? Maksudnya Lianna mana nih?” ganti Nana yang kaget. Kalau Danny sih oke lah mereka satu sekolah, tapi Lianna??
“Lianna Vedinand kak, kami ketemu di rumah sakit kemarin” jawab Felix, Nana sudah ingin bertanya kenapa mereka ke rumah sakit segala, namun Felix buru-buru menambahkan “Kita kesana nganterin Danny, dan juga nonton pertunjukan pianonya Lianna.. karena itu kita kenal dia juga, ya kan Han?” Felix menyenggol rusuk Handika.
Handika yang mengerti situasi langsung mengangguk cepat.
Nana sebenarnya masih curiga, tapi dia lepas masalah ini dulu, yang penting sekarang adalah cafe.
“Ayo kita masuk liat-liat cafenya” ajak Nana
Tin tin!
Melihat sebuah mobil mewah datang, lalu
parkir begitu saja di dekat mobil Nana, ekspresi Nana yang tadinya ceria sekarang berubah suram. Menurut Felix, sepertinya nana tau siapa pemilik mobil tersebut, dilihat dari ekspresinya.
Nana memberikan kunci toko pada Handika yang kebetulan tepat di sebelah Nana “Buka tokonya” perintah Nana singkat, tanpa mengatakan apapun Handika langsung mengerjakan perintah itu.
Sementara Felix masih berdiri di tempatnya
tidak jauh dari posisi Nana, dia penasaran dengan siapa pemilik mobil itu hingga membuat Nana terlihat tidak senang begitu.
Saat akhirnya pintu mobil terbuka, sesosok pria tampan muncul dari dalamnya.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
MulyoJati Putro JagadJenar
. .. .....ye
2025-01-07
0
Driyanto Kriswan
Selalu ada orang baik diganggu orang usil berhati dekil berotak secuil upil. Hi ha.
2024-09-25
0
Mamat Stone
ketemu rival
2023-09-17
7