.
.
Rumah kos yang Felix tempati, rata-rata anak kosnya menempati lantai dua dan tiga, lalu lantai satu ada ruang tamu dan ruang tengah, juga dapur... namun, ada satu kamar di lantai satu itu, dan Felix menempatinya.
Lantai dua dan tiga terdapat tiga kamar dan satu kamar mandi tiap lantai, tiap kamar biasanya di huni paling banyak tiga anak. Dan kamar yang Felix tempati punya kamar mandi pribadi di dalamnya.
Tentu saja hal itu membuat iri dengki dan kecurigaan.
Siapa si Felix ini? Kenapa menempati kamar itu? Tapi setelah melihat sendiri Felix terlihat akrab dengan yang punya kos, mereka mengira Felix kerabat mereka.
Tapi tetap saja, mereka jadi enggan mendekati Felix.
Mereka juga iri melihat Felix terlihat dekat dengan putri pemilik kos yang cantik jelita itu.
Sebenarnya, Felix merasa masa bodoh dengan mereka, dia sudah biasa dijauhi. Malah sendirian begini membuatnya lega, dia bisa melakukan apapun yang ia inginkan sendirian..
Ah, benarkah begitu??
Tidak juga.. dia merasa bosan, apalagi hari ini semuanya pergi ke sekolah, sementara Felix masih harus berdiam diri di kosan karena kepindahannya masih diurusi oleh Nana.
Karena itu, ia memutuskan untuk jalan-jalan
di sekitar sana, mungkin melihat calon sekolah barunya, karena jaraknya cukup dekat.
Dengan memakai celana training biasa dan hoodie abu-abu, Felix pun pergi untuk jalan-jalan sekalian mencari suasana baru. Hingga langkah kakinya sampai di depan gerbang calon sekolah barunya.
Mulut Felix terbuka lebar melihat bangunan sekolah itu.
Besar sekali dan terlihat seperti sekolahan mewah, Felix tidak akan heran jika yang sekolah disini anak-anak orang kaya semua... eh, tidak juga, karena Felix akan memasukinya.
Dibandingkan dengan sekolah lama, sekolah ini tiga kali lipat lebih besar dan luas.
Setelah puas berdiri tiga puluh detik di depan gerbang, diapun pergi dari sana. Namun setelah beberapa langkah, dia melihat beberapa siswa yang sepertinya telat, berusaha membujuk satpam untuk membukakan mereka pintu.
Felix geleng-geleng kepala melihat
mereka, padahal ini sudah setengah jam setelah bel masuk, kenapa mereka baru
datang? Felix tidak mengerti dengan mereka, padahal orangtua mereka sudah susah
mencari uang untuk menyekolahkan mereka, namun mereka malah seperti ini.
Tin tin
Felix berjengit saat sebuah mobil yang terlihat mewah berhenti di depan gerbang juga, lalu seorang siswa keluar dari sana, juga meminta satpam membuka gerbang untuknya.
Beda dengan saat bersama siswa yang lain, pak satpam langsung menurut dan membuka gerbangnya agar siswa dan mobil itu masuk.
Felix tersenyum pahit.
Sepertinya, menyenangkan punya orangtua kaya seperti itu bukan? Dengan uang, mereka bisa membeli segalanya, dan orang-orangpun tunduk dengannya.
Orang miskin dan kecil seperti Felix, tidak akan berdaya di hadapan uang-uang itu. Felix akan mengingat wajah dan penampilan anak kaya itu, agar nanti dia tidak memiliki masalah dengannya. Karena Felix tau, dia pasti kalah.
Langkah kaki membawa Felix ke taman
terdekat, taman yang sepi...
Lalu dia duduk di sebuah ayunan dan merenung.
Felix tau, dia tidak bisa terus seperti ini.. dia harus berubah dan memikirkan ke depannya harus bagaimana.
Tidak mungkin dia terus menempeli keluarganya Nana kan? Suatu saat Felix akan
tumbuh dan sudah harus bisa mengurus dirinya sendiri, harus punya penghasilan sendiri.
Tapi apa yang bisa ia lakukan?
Apa ketrampilan yang ia punya??
Apa kepintarannya bisa menghasilkan uang?
Apa ia harus berdagang?? Tapi itu juga butuh modal... oh, dia masih punya lima juta di rekening barunya bukan?
Bisakah ia membuat uang itu menjadi lebih banyak lagi?
Felix menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berharap dengan begitu otaknya bisa bekerja dengan baik.
“Huuhh tidak bisa, aku tidak bisa berpikir” gumam Felix, untungnya hanya ada dia seorang di taman ini, kalau tidak ia bisa dianggap orang gila.
Orang-orang sukses, mereka bisa sukses karena apa??
Rata-rata mereka memiliki ambisi dan mimpi bukan??
Masalahnya, Felix tidak memiliki keduanya, ambisi ataupun mimpi. Tapi dia tau, dia juga butuh uang... tapi apakah butuh uang saja cukup?? Tentu saja tidak.
TUK
“Awwwhh” Felix mengusap-usap kakinya
yang barusan seperti terkena lemparan suatu benda. Apa ada orang jahil yang melemparinya sesuat – hmm??
Felix memungut benda kotak pipih warna hitam dari bawah kakinya, membolak-balikkan benda itu dan menatapnya bingung.
Sebuah ponsel pintar?
Siapa yang melemparnya?
Felix menoleh kesana-kemari, tetap saja tak bisa menemukan siapapun di sekitarnya.
“Aneh..”
Ting!
Felix kembali terkejut saat ponsel itu menyala, tapi kemudian dahinya mengerut heran melihat tulisan dari dalam ponsel.
Selamat datang di sistem pembentukan pangeran tampan! Anda terpilih sebagai pangeran yang akan kami bentuk dan kami arahkan agar menjadi pangeran tampan yang sempurna!
Beberapa misi akan datang untuk menaikkan level anda!
Layar ponsel kembali gelap.
“Hah? Apa-apaan itu tadi??”
Apa ini semacam penipuan yang sering terjadi seperti menang undian berhadiah, lalu dia harus transfer uang begitu??
Tidak, Felix tidak akan tertipu dengan hal-hal konyol begitu.
“Terlalu cepat sepuluh tahun untuk menipuku! Dasar!”
Setelah meneriaki ponsel seperti itu, Felix merasa konyol... untung saja taman masih sepi.
Ting!
Nama: Felix
Umur: 17 tahun
LEVEL DASAR:
Level kekuatan 0
Level kecerdasan 1
Level kecepatan 0
Level penampilan 1
Selesaikan misi harian untuk menaikkan level!
MISI HARIAN:
Sit up 10x push up 10x squatjump 10x lari 100 meter
Hadiah: uang tunai sebesar 1 juta rupiah dan 10 poin untuk masing-masing level dasar
Mata Felix membelalak tidak percaya
melihat hadiah dari misi harian. Ini bohongkan? Tapi tidak ada keterangan Felix harus mentransfer uang untuk mengambil satu jutanya. Dan kenapa pula ponsel ini tau namanya?? Memang namanya singkat padat dan jelas, hanya Felix saja... tapi!! Bukankah itu sudah sangat aneh??
Kenapa pula ia terpilih menjadi apa tadi?? Pangeran??
Ini tidak masuk akal...
Tapi, Felix juga mau hadiah uangnya.
“Tunggu! Apa maksudnya level kekuatan dan kecepatanku nol?? Memangnya aku tidak punya kekuatan sama sekali? Memangnya aku tidak cepat?”
Tapi jika dipikir-pikir lagi, tidak salah juga sih.. kalau dia dalam sebuah game, pasti level kekuatan dan kecepatannya juga nol. Felix memang lemah... tapi paling tidak level dasar lain mendapat level satu.
“Baiklah, akan ku coba, karena misinya mudah.. tidak ada salahnya juga mencoba, kali aja benar mendapat satu juta, aku juga memang harus olah raga bukan?”
Hitung-hitung olah raga pagi lah.
Felix pun meletakkan ponsel temuannya
di ayunan, lalu mulai melakukan misinya satu persatu hingga lari memutari taman.
Setelah ia pikir sudah seratus meter dia berlari, diapun ambruk duduk di bawah ayunan.
Padahal hanya olah raga sedikit, dia langsung secapek ini... dia benar-benar lemah ternyata.
Ting!
Kembali Felix meraih ponsel temuannya tersebut, lalu terbengong melihat tulisan yang tertera disana.
Selamat!! Hadiah satu juta telah dikirim ke rekening anda, silahkan di periksa sendiri. Dan
masing-masing 10 poin untuk level dasar telah ditambahkan
Felix tidak membawa apapun kemari, termasuk ponselnya sendiri.. jadi, dia buru-buru bangkit dan kembali ke kosannya untuk melihat apakah ada pemberitahuan jika uangnya bertambah di
rekeningnya.
Setelah kembali ke kamarnya dan memeriksa satu pesan di ponsel bututnya, tangan Felixpun gemetaran.
“Ini bohongkan.. kenapa.. satu juta... benar-benar dikirim??”
Ternyata, ponsel pungut ini tidak membohonginya.
Tapi, apa ini nyata?? Felix masih belum bisa mempercayainya.
.
.
.
baca juga sistem kekayaan hukuman ❤
terimakasih 🤗❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 228 Episodes
Comments
٭ 𝕰𝖑𝖑𝖊 ٭ ᵉᶠ ᭄
Rezki anak sholeh itu felix, syukurin dan nikmatin jln hidupmu dlm kebaikan.
setelah itu nanti dgn sendirinya bertemu dgn keluarga mu.
2024-12-30
0
Sinaga Bakwaw
Author fokus 1 genre aja lah. yaitu "System". apalagi banyak karakter nya, lucu, penasaran, mewek. aksi tantangan, lengkaplah pokoknya. /Shy/
2025-03-25
0
Harman Loke
seeeeemaaaaaaaaaangaaaaaaaaattt teruuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusssssss Felix jangan ragu ragu dengan sistem pecaya saja
2025-02-19
0