"Keluar kalian semua, jangan menjadi pengecut." Teriak salah satu dari prajurit itu.Tiba-tiba sebuah pisau terbang melesat dengan kecepatan tinggi dan berhasil mengoyak leher prajurit itu dan tewas seketika.
Ling Yan yang melihat kejadian itu secara langsung, sontak terperanjat kaget ketika tubuh prajurit itu tumbang ke tanah, sementara Zhu Qing dan Mu Qian hanya terdiam dengan tatapan mata yang kosong.
"Yang mulia, tuan putri, menunduk." Teriakan Ling Yan sontak membuat keduanya tersadar dan melakukan apa yang Ling Yan katakan, prajurit yang satu lagi juga melakukan hal yang sama.
Beberapa pisau terbang kembali melesat dari arah kiri dan kanan mereka, jika Ling Yan tidak memperingatkan untuk menunduk, mungkin mereka juga akan berakhir seperti prajurit yang tewas itu.
Kini muncul 5 orang dari balik kegelapan, terlihat kelimanya memakai topeng berwana merah darah dengan pedang dan beberapa pisau di pinggangnya.
"Yang mulia, tuan putri, mereka adalah perampok topeng darah, kami akan menahan mereka semua disini, pergilah untuk melaporkan ini kepada jenderal Wu." Ucap prajurit itu.
Zhu Qing dan Mu Qian yang mendengar perkataan prajurit itu sontak tersentak kaget dengan apa yang di katakan prajurit itu.
Pasalnya setahu mereka perampok topeng darah adalah perampok yang terkenal bengis dan tidak segan-segan membunuh korbannya saat melakukan aksinya.
Pihak kekaisaran bahkan sudah beberapa kali mengutus prajurit prajurit kuat untuk mengatasi mereka semua, namun tidak ada satupun yang pernah kembali.
"Baiklah." Ucap keduanya.
Tanpa pikir panjang Zhu Qing dan Mu Qian langsung berlari menuju tempat dimana rombongan mereka beristirahat, namun salah satu dari pria bertopeng merah darah itu langsung melesatkan 2 pisau terbang ke arah mereka berdua.
Prajurit yang tidak sempat bereaksi, hanya bisa terdiam saat melihat pisau terbang itu melesat menuju Zhu Qing dan Mu Qian, beruntung Ling Yan bereaksi dengan cepat dan menangkis kedua pisau itu dengan pedang darah apinya.
Langkah kaki Zhu Qing dan Mu Qian sempat terhenti karena terkejut, namun mereka segera melanjutkan langkahnya saat Ling Yan menyadarkan mereka.
"Bergegaslah tuan putri, kami akan menahan mereka." Ucap Ling Yan.
Kelima perampok topeng darah yang melihat aksi Ling Yan yang menangkis pisau terbang dengan pedangnya pun hanya bisa terkesima.
"Sial bocah itu lumayan juga, hey ini bukan waktunya untuk kagum pada bocah itu, kalian berempat urus prajurit itu aku akan mengurus bocah sialan ini." Ucap salah satu dari kelimanya yang ternyata adalah seorang pendekar perak bintang 2 sedangkan yang lainnya adalah pendekar perak bintang 1.
Ke empat dari perampok itu pun langsung menuruti perintah pemimpinnya, mereka langsung mengepung prajurit itu dan berhasil membuatnya terpojok.
Walaupun tingkatan keempat perampok topeng darah berada dibawah tingkat prajurit itu, akan tetapi tetap saja, jumlah juga menjadi penentu kemenangan dalam sebuah pertarungan.
Sementara itu di hadapan Ling Yan saat ini sedang berdiri seorang perampok topeng darah yang memiliki kekuatan pendekar perak bintang 2.
"Menyerahlah kau bocah, dan serahkan pedang merah mu itu, jika kau menyerah sekarang, aku akan membiarkanmu pergi, jika tidak kau akan merasakan kematian secara perlahan." Ucap pria dihadapan Ling Yan sambil tertawa menyeringai.
"Benarkah, kalau begitu aku memilih mati." Ucap Ling Yan yang langsung bergerak menyerang perampok itu.
Dengan sekuat tenaga ia mengayunkan pedangnya dan sontak pedang itu menyerap sedikit tenaga dalam yang Ling Yan miliki.
Karena Ling Yan sudah terlatih untuk menggunakan tenaga dalamnya saat berada di hutan kegelapan, Ling Yan sudah tidak ragu lagi untuk menggunakan pedang darah api, dan berkat kualitas tulang serigala angin juga latihan fisiknya selama ini, kekuatan Ling Yan saat ini setidaknya setara dengan kekuatan seorang pendekar perak bintang 7.
Karena terlalu meremehkan bocah di hadapannya, perampok itu hanya menggunakan sedikit kekuatannya untuk menahan serangan yang di lancarkan oleh Ling Yan.
Ia tidak menyangka bahwa kecerobohan yang ia lakukan ternyata akan membawa malah petaka bagi dirinya, dan saat ia mencoba menahan serangan Ling Yan dan pedang mereka bertemu, pedang Ling Yan berhasil membuat pedang milik perampok topeng darah itu patah dan juga mengoyak tubuhnya hingga membuatnya tewas seketika.
Pemimpin perampok topeng darah itu tidak pernah menyangka bahwa di akhir hidupnya ia akan terbunuh karena meremehkan seorang anak kecil yang ternyata adalah dewa kematiannya.
Karena sudah terbiasa melakukan pertarungan hidup dan mati saat dirinya berada di hutan kegelapan, Ling Yan sudah tidak bergidik ngeri lagi dengan pemandangan perampok yang tewas mengenaskan di depannya.
Sementara itu keempat rekan dari perampok topeng darah yang Ling Yan bunuh masih tidak menyadari apa yang telah terjadi pada pemimpin mereka.
Mereka baru sadar saat Ling Yan tiba-tiba menusuk salah satu dari perampok itu dari belakang tepat pada saat mereka akan menebas kepala prajurit yang mereka keroyok.
Serangan Ling Yan yang tiba-tiba tidak sempat membuat keempat perampok itu bereaksi dan berujung pada kematian salah satu dari mereka.
"Ah bocah ini, bagaimana bisa?" Ucap salah satu dari ketiganya sambil melompat menjauh mundur kebelakang.
"Ketua!!" Teriak mereka bertiga serempak saat melihat keadaan ketua mereka yang sudah terbaring dan tewas dengan bersimbah darah.
Sementara itu prajurit yang tadinya sudah pasrah dengan takdirnya kini memiliki sedikit harapan saat Ling Yan berhasil membunuh salah satu ah bukan tapi 2 dari kelima perampok topeng darah itu.
Tetapi ada sesuatu yang mengganjal pikiran prajurit itu, yaitu raut wajah Ling Yan yang biasa saja setelah membunuh 2 orang perampok, ia berpikir bocah di depannya ini seperti bukan manusia pada umumnya.
Karena bahkan saat ia masih seumuran dengan bocah di depannya, melihat darah dari ayam hutan yang disembelih saja ia sudah bergidik ngeri.
"Bocah ini cukup berbahaya, kita tidak boleh lengah, ayo kita serang bersama sama." Ajak salah satu perampok itu.
"Teknik Sayatan pedang api." Teriak ketiganya sambil bergerak maju menyerang Ling Yan.
Dengan cepat, jarak mereka bertiga sudah sangat dekat dengan Ling Yan dan prajurit itu, namun tanpa mereka sadari Ling Yan ternyata sudah menunggu mereka menyerang bersama-sama.
Ling Yan lalu menyimpan pedangnya lalu memusatkan tenaga dalam yang ia miliki pada kedua tinjunya.
"Teknik Seribu pukulan api." Teriak Ling Yan sambil mengeluarkan seribu aura tinju api berwarna biru mengarah pada ke tiga perampok topeng darah itu.
Salah satu dari perampok yang menyadari bahaya sedang mengarah pada mereka mencoba menghindari serangan Ling Yan itu, namun naas usaha yang ia lakukan sia-sia, karena ia tidak sempat menghindar dan ketiganya pun mati dengan keadaan tubuh yang hancur serta darah yang bersimbah kemana-mana.
*****
Sementara itu, Zhu Qing dan Mu Qian yang kini sudah sampai di tenda, langsung melaporkan bahwa mereka diserang oleh lima perampok topeng darah, dan saat ini Ling Yan dan prajurit sebelumnya sedang menahan mereka.
Jenderal Wu yang mendengar itu langsung memerintahkan prajuritnya untuk meningkatkan penjagaan dan bergerak bersama beberapa prajurit lain menuju tempat yang ditujukan oleh Zhu Qing dan Mu Qian.
Akan tetapi sesampainya di tempat itu, ia hanya melihat pemandangan yang begitu mengerikan di depan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Iskandar Yunaeni
belumkuat anget
2024-11-16
0
Egi Afrizan
pertanyaan nya itu jarak nya berapa jauh dari tenda sampe ga kedengaran ana suara ribut?ada kali ya dari indo sampe jepang?bodoh
2024-06-15
5
Ryan Sutardjo
Ling yan Mantap kau seorang Pendekar
2024-06-04
1