Setelah membaca isi buku itu, Ling Yan lalu bersiap untuk melatih kekuatan fisiknya dengan cara berlari naik turun bukit sebanyak 100 kali setiap hari.
Di hari pertama Ling Yan berlari naik turun bukit, Ling Yan sangat merasa kesulitan hingga beberapa kali berhenti sejenak untuk beristirahat.
Satu minggu selanjutnya, Ling Yan sudah mulai terbiasa dengan latihan fisik yang ia lakukan setiap hari, bahkan ia mulai membawa beban seperti batu kerikil sebanyak 10 kilo untuk menambah beban pada latihannya.
Pada hari kesepuluh, Ling Yan yang hendak melakukan latihan fisiknya itu ditanyai oleh ayahnya.
"Yan'er, sebenarnya untuk apa kau membawa kerikil-kerikil itu setiap hari." Tanya Ling San pada putranya.
"Sebenarnya aku menggunakan kerikil-kerikil ini untuk beban latihan fisik yang aku lakukan di bukit ayah, aku berpikir daripada meningkatkan tenaga dalam yang sewaktu-waktu akan menghilang, lebih baik aku melatih kekuatan fisikku agar fondasi tubuhku menjadi kuat." Jawab Ling Yan.
Mendengar jawaban putranya membuat Ling San sedikit tertegun, ia lalu mengingat sebuah cerita dimana ada seorang pendekar hebat yang tidak bisa mengumpulkan tenaga dalam seperti Ling Yan dimasa lalu.
"Yan'er, dulu ada seorang pendekar yang memiliki masalah yang sama seperti yang kau alami, tetapi berkat tekad yang kuat dan terus berusaha pendekar itu mampu menjadi kuat dengan mengandalkan kekuatan fisik semata, ia bahkan bisa mengimbangi kekuatan seorang pendekar raja hanya dengan kekuatan fisiknya." Ucap Ling San menceritakan tentang pendekar itu.
Setelah mendengar cerita ayahnya, Ling Yan menjadi begitu bersemangat, pasalnya walaupun tidak dapat menerobos ke tingkat ke 4, namun masih ada harapan baginya untuk menjadi kuat dimasa depan walaupun hanya mengandalkan kekuatan fisik semata.
"Ayah, kalau begitu aku akan melanjutkan latihan fisikku di bukit, aku pasti akan berusaha keras agar bisa menjadi seorang pendekar yang sangat kuat dimasa depan." Ucapnya mantap.
"Baiklah Yan'er, ayah akan terus mendukungmu." Ucap Ling San tersenyum hangat pada putranya.
Sesampainya di bukit tempatnya berlatih, Ling Yan lalu memulai kembali latihannya yaitu memikul kerikil sambil berlari menaiki bukit sebanyak 100 kali.
Karena merasa beban yang ia bawa terasa ringan, Ling Yan lalu menambah beban itu sampai terasa lumayan berat.
Namun membawa beban sambil berlari menaiki bukit itu tidak semudah yang dibayangkan oleh Ling Yan, karena semakin lama ia berlari, semakin terasa berat pula beban yang ia bawa.
Akhirnya sinar matahari kini hampir berada di atas kepala, tetapi Ling Yan belum menyelesaikan latihannya, saat ini Ling Yan baru menyelesaikan 45 putaran dan belum mencapai setengahnya.
Panas matahari membuat Ling Yan sedikit haus, namun ia terus berlari dan tidak ingin berhenti sebelum menyelesaikan 100 putaran itu.
Tetapi pada saat ia baru mencapai putaran 86, ia mendadak pingsan dan jatuh karena kelelahan akibat terlalu memaksakan diri.
*****
Ling Haotian yang sedang merapikan rak buku di perpustakaan Klan Ling mendapati Ling Xuilan sedang mendekat kearahnya.
"Ayah, apakah aku boleh keluar untuk jalan-jalan sebentar." Tanya Ling Xuilan pada ayahnya.
Ling Xuilan terlihat sedang memegang sebuah keranjang makanan yang sepertinya akan diberikan untuk seseorang.
"Oh apakah makanan itu untuk ayah." Ling Haotian menanggapi perkataan putrinya dengan balik bertanya.
"Bukan, ini untuk kak Ling Yan u.." Ling Xuilan langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
"Hahaha ternyata dugaan ayah benar, kau memang menyukai anak tetua pertama." Goda Ling Haotian pada putrinya.
"Ayah!!!!" Ucapnya sambil menunduk karena malu.
Melihat tingkah putrinya yang malu, Haotian tidak lagi ingin menggodanya.
"Hahaha! Xui'er, jika kau memang menyukai Ling Yan itu tidak masalah, ayah tidak akan melarang mu jika kau ingin memiliki hubungan dengannya, ayah juga tidak akan mempermasalahkan tentang bakat atau apapun itu, tetapi yang terpenting adalah asalkan putriku bisa bahagia bersama orang yang ia sukai." Ucap Haotian.
Mendengar perkataan ayahnya Ling Xuilan masih menunduk karena masih malu dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya tadi.
"Xui'er, apakah kau tidak jadi pergi menemui kak Ling Yan mu itu." Goda Ling Haotian lagi.
"Ayah menyebalkan." Mendengar perkataan ayahnya wajah Ling Xuilan makin memerah karena malu, ia lalu berteriak dan keluar dari perpustakaan menuju kediaman Ling Yan.
Sepeninggal putrinya, Ling Haotian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam.
"Dasar anak bodoh. Ling Yan, aku harap kau bisa menjaga putriku dimasa depan." Gumamnya.
Ling Xuilan kini berjalan menuju kediaman Ling Yan dengan membawa keranjang makanan sebelumnya.
Tetapi sesampainya di sana ia tidak menemukan Ling Yan dah hanya mendapati tetua pertama sedang melatih teknik bertarungnya di halaman rumahnya.
Merasakan kedatangan Ling Xuilan, Ling San menghentikan kegiatannya berlatihnya dan menyapa anak perempuan itu.
"Selamat pagi Xui'er, apa yang membuatmu datang kemari, apakah kau butuh sesuatu. Oh iya, bagaimana kabar ayahmu." Tanya Ling San pada gadis cilik itu.
"Ayahku baik-baik saja paman, dia ada di perpustakaan sakte, apakah kak Ling Yan ada di rumah." Tanya Ling Xuilan.
"Oh kau mencari Ling Yan, kebetulan dia belum pulang, tadi dia bilang dia ingin berlatih di bukit, tapi entah kenapa dia belum pulang, mungkin dia sedang berbaring di atas pohon besar itu." Jawab Ling San yang mengetahui kebiasaan putranya itu.
"Oh kalau begitu aku akan menyusulnya saja ke bukit paman, aku pamit dulu." Ucapnya dengan sopan dan berlalu menuju bukit tempat Ling Yan berlatih.
Ling San yang melihat kepergian Ling Xuilan merasa bingung karena berpikir bahwa keranjang makanan yang ia bawa adalah untuknya.
"Aku pikir makanan yang ia bawa akan ia berikan padaku, sepertinya itu untuk Ling Yan, hahaha ternyata anakku juga memiliki penggemar rahasia hehehe." Ucap Ling San yang terkekeh.
Sesampainya di bukit, Ling Xuilan tidak menemukan Ling Yan sedang berbaring di pohon besar, sebaliknya ia menemukan Ling Yan sedang pingsan didekat beban yang ia pakai untuk melatih kekuatan fisiknya.
*****
Setelah pingsan beberapa saat, Ling Yan merasa ada sesuatu yang dingin menempel di kepalanya dan merasa ada seseorang yang mencoba membangunkannya.
Samar-samar ia mendengar suara seperti seorang wanita yang sedang memanggil namanya.
"Kak Ling Yan, Kak Ling Yan sadarlah." Seperti itulah suara yang terdengar di telinganya.
Perlahan Ling Yan mulai membuka kedua matanya, samar-samar terlihat seperti wajah seorang wanita sedang memangku kepalanya dan mencoba membangunkannya.
Setelah beberapa saat akhirnya Ling Yan tersadar dari pingsan dan mendapati Ling Xuilan sedang berada di depannya.
Melihat Ling Xuilan berada di hadapannya membuat Ling Yan kaget dan langsung melompat kesamping dengan perasaan sedikit canggung.
"Xui, apa yang sedang kau lakukan disini." Tanya Ling Yan.
"Sebenarnya tadi aku datang ke rumah kak Ling Yan untuk membawakan cemilan, tapi paman Ling San bilang kak Ling Yan sedang berada di sini untuk berlatih, jadi aku menyusul kak Ling Yan kesini dan menemukan kak Ling Yan pingsan disana." Jawab Ling Xuilan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
abu fadhilah
Alur ceritanya sangat menarik, penyusunan kalimatnya juga sangat apik, penempatan tanda baca yg tepat, semoga utk capter² selanjutnya semakin menarik.
2024-08-29
0
Eka Marlley
p
2024-08-05
0
Pudji Purwanto
teruuuusssss
2024-07-06
2