Episode 4 ~ Flashback (2)

...☘️☘️☘️...

Perkataan Kak Ibel tadi benar-benar membuatku semakin gelisah dan ketakutan. Takut jika Mala benar-benar pergi meninggalkan aku dan anak-anak kami. Di satu sisi aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Mala dengan baik dan membuatnya terjatuh hingga pendarahan seperti ini. Namun semua ini telah terjadi dan aku tidak bisa mengubahnya walaupun hanya satu detik.

Aku hanya termenung, duduk bersama Mas Ammar dan Mas Sadha. Sementara Ayah, Ibu dan Kak Vanny pergi bersama Kak Ibel ke ruang bayi untuk melihat kedua anakku setelah selesai mengurus kepindahan Mala ke kamar rawat.

"Kamu harus kuat, Dik. Mala, dan yang paling terutama sekali anak-anak kamu. Mereka membutuhkan kamu yang harus tetap kuat. Mala butuh suaminya dan anak-anak kamu membutuhkan ayahnya. Pundakmu harus lebih kuat dari sebelumnya, Dhana." ujar Mas Ammar yang berusaha menenangkan hatiku.

"Mas Ammar benar, Dhana. Kamu harus kuat dan yakin kalau Mala pasti akan sembuh. Dia akan kembali lagi bersama kita." timpal Mas Sadha yang ikut menenangkan hatiku.

Air mataku tak henti-hentinya mengalir deras membasahi wajahku. Semua perkataan Mas Ammar dan Mas Sadha memang benar, tapi ketakutan yang menyelimuti hatiku tidak bisa hilang begitu saja.

"Dhana sangat takut, Mas. Dhana takut akan kehilangan Mala seperti Dhana kehilangan Adek. Dhana tidak bisa kuat lagi, jika harus mengalami hal yang serupa dengan kejadian di tujuh tahun yang lalu. Sudah cukup air mata ini mengalir deras karena Adek pergi, dan Dhana tidak akan sanggup untuk kehilangan Mala."

Pecah sudah tangisku karena mengingat kejadian yang sangat menyedihkan di dalam hidupku dan Mas Ammar langsung memeluk tubuhku dengan erat. Aku tidak bisa membohongi perasaanku saat ini. Rasa takut kehilangan yang sangat mendominasi sehingga aku tidak bisa mengendalikan perasaanku sendiri. Aku menangis di dalam dekapan Mas Ammar, beriringan dengan sentuhan lembut di kepalaku karena tangan Mas Sadha. Kedua masku itu berusaha keras untuk memberi kekuatan untukku yang lemah hati ini.

***

Empat tahun berlalu tapi Mala belum bangun juga dari masa komanya. Selama empat tahun, aku mengurus kedua anakku yang kini sudah menginjak usia empat tahun pula. Beruntung, aku benar-benar beruntung karena ada Ibu, Kak Ibel dan Kak Vanny yang ikut membantuku mengurus Damar dan Wulan.

Damar dan Wulan, itulah nama yang aku berikan pada anak kembarku. Selama empat tahun terakhir, aku memutuskan untuk fokus mengurus kedua anakku, menjadi ayah dan ibu secara bersamaan karena istriku masih koma. Sementara urusan Cafe sepenuhnya kuberikan pada manager kepercayaanku, Pak Dewa.

Aku, Damar dan Wulan sering datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Mala. Awalnya aku ingin membawa Mala pulang dan merawatnya di rumah saja. Namun keluargaku tidak setuju karena hal itu akan membahayakan nyawa Mala. Aku terpaksa harus menyetujuinya dan tetap membiarkan istriku berada di rumah sakit.

Suatu hari, aku diminta Mas Sadha untuk membawa Damar dan Wulan datang ke kantor lalu makan siang bersama karena hari itu Kak Vanny sempat mengantarkan banyak makanan ke kantor. Sementara hari itu, kebetulan Ibu sedang tidak ada di rumah karena membantuku mengurus Mala di rumah sakit dengan Ayah dan di rumah hanya ada Bi Iyah.

Beberapa bulan setelah aku menikah dengan Mala, Mas Ammar yang tadinya menetap di rumah Ayah dan Ibu, memilih untuk pindah ke rumahnya sendiri. Aku tidak bisa menghalangi Mas Ammar, sama seperti halnya Mas Sadha. Karena mereka sudah memiliki keluarga sendiri dan juga anak-anak. Walaupun aku sering membantah kalau kehidupan kami yang saat ini sudah terpisah, namun semua itu benar. Aku, Mas Ammar dan Mas Sadha sudah mempunyai kehidupan masing-masing.

Di rumah besar masa kecil kami itu kini hanya ada aku, Mala, Ibu dan Ayah. Ibu tidak mengizinkan aku untuk membeli rumah sendiri. Ya, aku menuruti permintaan Ibu karena menurutku siapa lagi yang akan mengurus Ayah dan Ibu selain aku. Bukan berarti Mas Ammar dan Mas Sadha tidak bisa mengurus Ibu dan Ayah. Sebagai anak Ayah dan Ibu, kami memutuskan untuk saling membantu satu sama lain untuk mengurus orang tua kami.

Aku, Damar dan Wulan pun berkunjung ke kantor Mas Sadha setelah singgah sebentar ke rumah sakit untuk melihat kondisi Mala. Damar dan Wulan sangat senang karena akan bertemu dengan paklik mereka yang sangat jarang main ke rumah. Saat kami berada di sana, aku dan Mas Sadha makan siang bersama. Mas Sadha juga ikut membantuku untuk menyuapi Damar, sedangkan aku asyik menyuapi Wulan.

Setelah kami selesai makan siang, aku berniat untuk mengajak Damar dan Wulan untuk jalan-jalan mengelilingi kantor paklik mereka yang besar itu. Mereka terlihat sangat senang dan ceria, berjalan denganku. Namun saat kami melewati sebuah mading, tiba-tiba saja Damar menghentikan langkahnya dan ingin melihat mading itu. Entah kenapa putraku itu ingin sekali melihat sesuatu yang ada di bagian atas mading sehingga aku harus menggendong tubuhnya. Lalu kulepaskan tangan putriku agar aku bisa menggendong Damar untuk menjangkau sesuatu yang ada di atas mading.

"Wulan..."

Tiba-tiba suara Mas Sadha terdengar sangat keras dari ujung koridor. Sontak aku langsung menurunkan tubuh Damar dan menggiring mataku ke arah putriku yang berdiri di ambang tangga, hendak berjalan dan turun.

"Wulan... Wulan... kembali Sayang!!!"

Putriku tidak merespon apa pun, dia terus saja bergerak mendekati tangga. Melihatnya yang berada hampir di ambang tangga, aku pun menghambur ke arahnya dan membawa Damar bersamaku.

"Wulan..."

Aku tersentak saat melihat putriku yang hampir terjun payung ke bawah tangga. Namun untung saja, Mas Sadha datang di waktu yang sangat tepat dan langsung meraih tubuh Wulan dengan sangat sigap.

"Sayang... kamu tidak apa-apa 'kan Nak?" tutur Mas Sadha seraya mengelus lembut wajah putriku dan aku melihatnya.

"Wulan... kamu tidak apa-apa 'kan Sayang? Kenapa kamu berjalan ke sini? Ini sangat berbahaya, Nak." ujarku yang berjongkok di antara Wulan dan Mas Sadha seraya tetap memegangi Damar.

"Kamu jangan ceroboh seperti ini, Dhana. Kalau Mas telat sedikit saja, Wulan bisa langsung jatuh ke bawah loh." ujar Mas Sadha yang sepertinya sedang memarahiku tapi terlihat lebih tenang.

"Maaf, Mas. Padahal dari jarak jauh Dhana sudah memanggil Wulan untuk kembali. Tapi sepertinya Wulan tidak merespon panggilan Dhana, Mas." jawabku yang baru menyadari keanehan di dalam diri putriku.

"Tidak merespon maksud kamu apa Dhana?" tanya Mas Sadha yang terlihat kebingungan.

"Akhir-akhir ini Dhana merasa ada yang aneh dengan Wulan, Mas. Dia tidak pernah memberi respon apa pun saat Dhana berusaha memanggilnya. Sangat berbeda dengan Damar. Saat Dhana memanggil Damar, dia merespon Dhana dengan cepat. Tapi Wulan tidak seperti Damar. Jika Dhana ingat-ingat, saat Ziel, Al, Syahal dan Syahil berusia empat tahun, mereka semua seperti Damar. Mereka merespon apa saja yang kita katakan walaupun itu hanya sekedar ocehan biasa anak balita. Bahkan Damar sudah bisa memanggil Dhana dengan panggilan Papi, sedangkan Wulan tidak, Mas."

Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk menepis rasa takutku dengan kondisi Wulan dan berusaha mencari jawaban dari Mas Sadha.

"Syahal dan Syahil memang seperti itu, Dhana. Bahkan saat usia mereka berjalan dua tahun, Syahal dan Syahil sudah bisa mengerti dengan apa yang Mas dan Vanny katakan. Mas sering melatih mereka untuk mengambil benda-benda aneh yang baru mereka kenali, dan mereka memberikan respon yang baik. Seharusnya di usia Wulan saat ini, dia sudah bisa memanggil kamu seperti kakaknya, Dhana." tutur Mas Sadha yang membuat hatiku semakin tidak enak.

"Tapi kenapa Wulan tidak ya Mas? Kejadian seperti ini sebenarnya sudah terjadi tiga kali saat di rumah. Wulan hampir jatuh, padahal Dhana berusaha untuk memanggilnya. Jika Dhana bandingkan, Damar yang mengalami hal yang hampir sama dengan Wulan malah langsung memberi respon. Contohnya saat Damar berjalan keluar pintu dan Dhana memanggilnya. Damar langsung merespon dan menghentikan langkahnya, bahkan dia menoleh ke arah Dhana."

Kegundahan hatiku semakin dalam dan membuat keringat dingin bercucuran di keningku seraya memperhatikan kedua anakku yang masih kecil. Mas Sadha yang masih berjongkok di sampingku meraih tangan Wulan.

"Wulan sayang... Wulan jangan bermain jauh-jauh dari Papi lagi ya. Mainnya dengan Mas Damar saja, jangan ke mana-mana. Wulan dengar Paklik 'kan Nak?" tutur Mas Sadha seraya mengelus sayang kepala putriku.

Mataku terus tertuju pada Wulan. Bahkan dari jarak yang sedekat itu dengan Mas Sadha, dia juga tidak memberikan respon apa pun. Putriku hanya diam dan tiba-tiba tangisnya pecah. Melihat Wulan menangis, aku dan Mas Sadha pun membawa Wulan dan Damar ke ruangan Mas Sadha untuk menenangkannya. Di dalam ruang kerja Mas Sadha, kubaringkan tubuh Wulan dan Damar yang sudah terlelap di atas sofa.

"Maaf ya, Mas. Dhana jadi merepotkan Mas Sadha seperti ini." ujarku yang tidak enak hati dengan mas tengahku itu.

"Ck! Kamu bicara apa sih, Dik. Ini kantor Mas, artinya kantor kamu juga. Jadi jangan bicara seperti itu lagi saat berhadapan dengan Mas. Mas tidak suka!!!" jawab Mas Sadha seraya menatapku dengan tajam.

Aku hanya tersenyum simpul. Sejak dulu sampai sekarang, baik Mas Sadha maupun Mas Ammar, sifat mereka masih sama dan aku sangat menyayangi mereka melebihi nyawaku sendiri.

"Dhana... apakah Mas boleh mengatakan sesuatu?" tanya Mas Sadha yang tiba-tiba.

"Apa Mas?"

"Tapi kamu jangan tersinggung ya, Dik. Mas hanya ingin menyarankan kamu untuk pergi ke suatu tempat, dan ini berkaitan dengan Wulan." tuturnya lagi yang terlihat hati-hati.

"Maksud Mas Sadha apa?"

Terlihat jelas sekali saat kulihat raut wajah Mas Sadha yang berubah menjadi sendu, matanya tertuju ke arah putriku yang tertidur di atas sofa. Aku terus memperhatikan sikap Mas Sadha yang terlihat aneh dan gelisah.

"Mas Sadha... ada apa Mas?"

"Sebaiknya kamu bawa Wulan ke dokter spesialis THT, Dhana. Mas khawatir kalau Wulan mempunyai kelainan di telinganya. Mas khawatir kalau putrimu tidak bisa mendengar dan tidak bisa berbicara seperti anak-anak lain pada umumnya, Dik." jawab Mas Sadha yang matanya masih ke arah Wulan.

Degh!

Perkataan Mas Sadha itu seakan menguatkan feeling-ku akhir-akhir ini. Seperti tanda, kalau Mas Sadha juga dapat merasakan apa yang tengah aku rasakan. Tapi aku memilih untuk menepis feeling burukku itu karena Wulan tidak mungkin cacat.

"Dhana... kamu baik-baik saja, Dik?" tanya Mas Sadha yang meraih bahuku sehingga lamunanku pun buyar seketika.

"Mas Sadha mau 'kan menemani Dhana ke rumah sakit untuk menemui dokter THT dan memeriksa keadaan Wulan? Dhana tidak cukup kuat, kalau feeling Dhana dan feeling Mas itu benar-benar terjadi pada Wulan." jawabku yang sontak membuat Mas Sadha terhenyak.

"Jadi kamu juga merasakan apa yang Mas rasakan tentang putrimu?" tanyanya yang terperangah tak menyangka kalau aku juga mempunyai feeling itu.

"Isi pikiran kita sama, Mas. Jadi bagaimana? Mas mau 'kan menemani Dhana?" jawabku yang bertanya balik untuk memastikan kalau Mas Sadha benar-benar bisa menemaniku.

"Oke... Mas akan menemani kamu ke rumah sakit sekarang. Ayo!!! Lebih cepat lebih baik, Dik. Mas berharap kalau feeling kita ini salah tentang kondisi Wulan."

Aku tidak menyangka kalau Mas Sadha akan bergerak secepat ini dan langsung mendekat ke putriku yang masih terlelap. Kulihat Mas Sadha langsung menggendong tubuh Wulan dan berjalan keluar dari ruangan. Sementara aku yang masih terperangah di tempat, sadar seketika saat Damar memanggilku saat dia terbangun dan jari tangannya menunjuk ke arah Wulan yang sudah dibawa pergi oleh Mas Sadha keluar ruangan.

Bergegas, aku pun beranjak dan langsung meraih tubuh Damar untuk kugendong. Dengan langkah lebar, aku menyusul Mas Sadha yang sudah berdiri di depan lift.

Kulihat Mas Sadha yang berjalan cepat seraya menggendong putriku menuju mobilnya dan aku hanya mengikutinya dari belakang seraya menggendong Damar. Setelah kami masuk ke dalam mobil, Mas Sadha langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan panjang. Selama di perjalanan, kami hanya diam dan sesekali melihat ke arah Wulan di belakang yang duduk bersama Damar. Mataku mendadak panas saat melihat mereka tapi Mas Sadha selalu berusaha menenangkan hatiku.

"Wulan akan baik-baik saja, Dhana."

.

.

.

.

.

Happy Reading All 😇😇😇

Terpopuler

Comments

Senajudifa

Senajudifa

kasiannya bs jd wulan itu tuli, kutukan cinta dan mr.playboy mampir thotlr

2022-10-08

0

Senajudifa

Senajudifa

beh gmn ya koma selama 4 thn itu

2022-10-08

0

Your name

Your name

Pilihan tiap orang emang beda-beda

2021-12-13

2

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 ~ Aku, Wulan...
2 Episode 2 ~ Bukan Salah Papi
3 Episode 3 ~ Flashback
4 Episode 4 ~ Flashback (2)
5 Episode 5 ~ Flashback (3)
6 Episode 6 ~ Flashback (4)
7 Episode 7 ~ Keluh Kesah Damar
8 Episode 8 ~ Tamu Spesial
9 Episode 9 ~ Lembut, Seperti Sutra
10 Episode 10 ~ Amarah Aiziel
11 Episode 11 ~ Masih Kecewa
12 Episode 12 ~ Andaikan saja...
13 Episode 13 ~ Habis Kesabaran
14 Episode 14 ~ Nilai Ulangan Harian
15 Episode 15 ~ Darah Tinggi
16 Episode 16 ~ Niat Damar
17 Episode 17 ~ Bakat Terpendam Wulan
18 Episode 18 ~ Teringat Seseorang
19 Episode 19 ~ Aifa'al dan Syahil
20 Episode 20 ~ Aksi Budak Cinta
21 Episode 21 ~ Kebenaran Baru
22 Episode 22 ~ Siapa Zivana Sebenarnya
23 Episode 23 ~ Rewards Fantastis
24 Episode 24 ~ Lupa Waktu
25 Episode 25 ~ Hilang
26 Episode 26 ~ Lilitan Kain di Balkon
27 Episode 27 ~ Tersesat
28 Episode 28 ~ Naluri
29 Episode 29 ~ Ketoprak Yang Hilang
30 Episode 30 ~ Kesempatan
31 Episode 31 ~ Empat Mata
32 Episode 32 ~ Pulang
33 Episode 33 ~ One Step Closer
34 Episode 34 ~ Firasat
35 Episode 35 ~ Tabrak Lari
36 Episode 36 ~ Bertemu
37 Episode 37 ~ Hukum Cambuk
38 Episode 38 ~ Akhirnya Sadar
39 Episode 39 ~ Geram
40 Episode 40 ~ Kapten Oleng
41 Episode 41 ~ Salah Memilih Orang
42 Episode 42 ~ Apakah Ini Pertanda?
43 Episode 43 ~ Mabuk
44 Episode 44 ~ Partai Pelindung
45 Episode 45 ~ Kotak Buku Lama
46 Episode 46 ~ Kepingan Masa Lalu
47 Episode 47 ~ Memberitahu Papi
48 Episode 48 ~ Gelagat Aneh
49 Episode 49 ~ Brownies Coklat
50 Episode 50 ~ Gelap Mata Lagi
51 Episode 51 ~ Ayah dan Ibu Harus Tau!
52 Episode 52 ~ Dekapan Oma
53 Episode 53 ~ Yang Dirindukan, Datang!
54 Episode 54 ~ Keputusan Dhana
55 Episode 55 ~ Pembagian Raport
56 Episode 56 ~ Bertindak Adil
57 Episode 57 ~ Terkepung
58 Episode 58 ~ Kedatangan Orang Jauh
59 Episode 59 ~ Ide Yang Brilliant
60 Episode 60 ~ Si Kembar Belum Pulang
61 Episode 61 ~ Petunjuk Alat Pelacak
62 Episode 62 ~ Do'a Bapak Paruh Baya
63 Episode 63 ~ Rekaman CCTV
64 Episode 64 ~ Dituduh
65 Episode 65 ~ Kecurigaan Syahil
66 Episode 66 ~ Mempercayai Aifa'al
67 Episode 67 ~ Balada Wanita Dewasa
68 Episode 68 ~ Mata-mata
69 Episode 69 ~ Sakit Parah
70 Episode 70 ~ Kabar Dari Aifa'al
71 Episode 71 ~ Ikut Tertangkap
72 Episode 72 ~ Rencana Penyelamatan
73 Episode 73 ~ Jepitan Rambut
74 Visual dan Sedikit Kabar
75 Episode 74 ~ Terus Mengingkari
76 Episode 75 ~ Teringat Rencana Gibran
77 Episode 76 ~ Pria Asing di Basecamp
78 Episode 77 ~ Misi Berikutnya
79 Episode 78 ~ Kekejaman Bima
80 Episode 79 ~ Pikiran Buruk
81 Episode 80 ~ Nama Lainnya
82 Episode 81 ~ Pertumpahan Darah
83 Episode 82 ~ Licik dan Jahat
84 Episode 83 ~ Ada Bom!!!
85 Episode 84 ~ Rel Kereta Api
86 Episode 85 ~ Posisi Sulit
87 Episode 86 ~ Membentuk Grup
88 Episode 87 ~ Huufff...
89 Episode 88 ~ Tertembak
90 Episode 89 ~ Rasa Bersalah
91 Episode 90 ~ Peringatan Keras
92 Episode 91 ~ Sindrom PTSD
93 Episode 92 ~ Sketsa Rahasia
94 Episode 93 ~ Bram CS Zivana
95 Episode 94 ~ Butuh Waktu
96 Episode 95 ~ Ingin Menyusul Dhina
97 Episode 96 ~ Tidak Ditutupi Lagi
98 Episode 97 ~ Tingkah Pasutri Absurd
99 Episode 98 ~ Terselip Kisah Pilu
100 Episode 99 ~ Harus Berpencar
101 Episode 100 ~ Hancur!!!
102 Episode 101 ~ Memohon
103 Episode 102 ~ Berita Pagi
104 Episode 103 ~ Masih Sama
105 Episode 104 ~ Psikoterapi
106 Episode 105 ~ Tegarlah!!!
107 Episode 106 ~ Imam dan Dhina
108 Episode 107 ~ Video Terakhir
109 Episode 108 ~ Imam Pamit
110 Episode 109 ~ Kunjungan Dimas
111 Episode 110 ~ Kecanggihan Teknologi
112 Episode 111 ~ Luka Tak Kasat Mata
113 Episode 112 ~ Ingin Ke Makam
114 Episode 113 ~ Mimpi kah?
115 Episode 114 ~ Tiger VC Black Moon
116 Episode 115 ~ Yasinan dan Teror (Spesial)
117 Episode 116 ~ Isi Kotak Teror
118 Episode 117 ~ Masuk Sekolah Lagi
119 Episode 118 ~ Kekecewaan Hati
120 Episode 119 ~ Keluhan Black Moon
121 Episode 120 ~ Menolong Wanita Asing
122 Episode 121 ~ Air Mata Penyesalan
123 Episode 122 ~ Namanya Rumi
124 Episode 123 ~ Kalah Cepat
125 Episode 124 ~ Ketulusan Sosok Ibu
126 Episode 125 ~ Berusaha Menyadarkan
127 Episode 126 ~ Pelukan Terhangat
128 Episode 127 ~ Suapan Mami
129 Episode 128 ~ Makan Malam Spesial
130 Episode 129 ~ Anak Muda vc Orang Tua
131 Episode 130 ~ Pencarian
132 Episode 131 ~ Cara Bersyukur
133 Episode 132 ~ Sensitive
134 Episode 133 ~ Jebakan
135 Episode 134 ~ Pukulan Dendam
136 Episode 135 ~ Terluka
137 Episode 136 ~ Mobil di Depan Gerbang
138 Episode 137 ~ Penjelasan
139 Episode 138 ~ Terjebak Sendiri
140 Episode 139 ~ Kertas Kuning
141 Episode 140 ~ Permohonan Rumi
142 Episode 141 ~ Tekad Bram
143 Episode 142 ~ Menyampaikan Pesan
144 Episode 143 ~ Cip
145 Episode 144 ~ Bagi Tugas
146 Episode 145 ~ Iblis Berwujud Manusia
147 Episode 146 ~ Aksi Diam-diam
148 Episode 147 ~ Gedung Kosong
149 Episode 148 ~ Takdir Gadis Bisu
150 Episode 149 ~ Headshot
151 Episode 150 ~ Niat Baik Dhana
152 Episode 151 ~ Acara Perpisahan
153 Episode 152 ~ Acara Perpisahan 2
154 Surat Cinta Author
155 Season 2 {Episode 1 ~ Perjalanan Baru}
156 Season 2 {Episode 2 ~ Trauma Damar}
157 Season 2 {Episode 3 ~ Datang Kembali}
158 Season 2 {Episode 4 ~ Hari yang Baru}
159 Season 2 {Episode 5 ~ Tak Terkendali}
160 Season 2 {Episode 6 ~ Ancaman Lagi}
161 Season 2 {Episode 7 ~ Toko Buku}
162 Season 2 {Episode 8 ~ Arahan Hati}
163 Season 2 {Episode 9 ~ Kacau}
164 Season 2 {Episode 10 ~ Berebut Salah}
165 Season 2 {Episode 11 ~ Sumpah Bima}
166 Season 2 {Episode 12 ~ Masih Berusaha}
167 Season 2 {Episode 13 ~ Berita Baru}
168 Season 2 {Episode 14 ~ CCTV Tersembunyi}
169 Season 2 {Episode 15 ~ Pagi-pagi}
170 Season 2 {Episode 16 ~ Bimbingan}
171 Season 2 {Episode 17 ~ Bertemu}
172 Seaaon 2 {Episode 18 ~ Gejala Aneh}
173 Visual Tokoh Season 2
174 Season 2 {Episode 19 ~ Drop}
175 Season 2 {Episode 20 ~ Takut Terulang}
176 Season 2 {Episode 21 ~ Penyakit Langka}
177 Season 2 {Episode 22 ~ Frustasi}
178 Season 2 {Episode 23 ~ Ujian}
179 Season 2 {Episede 24 ~ Penuh Emosional}
Episodes

Updated 179 Episodes

1
Episode 1 ~ Aku, Wulan...
2
Episode 2 ~ Bukan Salah Papi
3
Episode 3 ~ Flashback
4
Episode 4 ~ Flashback (2)
5
Episode 5 ~ Flashback (3)
6
Episode 6 ~ Flashback (4)
7
Episode 7 ~ Keluh Kesah Damar
8
Episode 8 ~ Tamu Spesial
9
Episode 9 ~ Lembut, Seperti Sutra
10
Episode 10 ~ Amarah Aiziel
11
Episode 11 ~ Masih Kecewa
12
Episode 12 ~ Andaikan saja...
13
Episode 13 ~ Habis Kesabaran
14
Episode 14 ~ Nilai Ulangan Harian
15
Episode 15 ~ Darah Tinggi
16
Episode 16 ~ Niat Damar
17
Episode 17 ~ Bakat Terpendam Wulan
18
Episode 18 ~ Teringat Seseorang
19
Episode 19 ~ Aifa'al dan Syahil
20
Episode 20 ~ Aksi Budak Cinta
21
Episode 21 ~ Kebenaran Baru
22
Episode 22 ~ Siapa Zivana Sebenarnya
23
Episode 23 ~ Rewards Fantastis
24
Episode 24 ~ Lupa Waktu
25
Episode 25 ~ Hilang
26
Episode 26 ~ Lilitan Kain di Balkon
27
Episode 27 ~ Tersesat
28
Episode 28 ~ Naluri
29
Episode 29 ~ Ketoprak Yang Hilang
30
Episode 30 ~ Kesempatan
31
Episode 31 ~ Empat Mata
32
Episode 32 ~ Pulang
33
Episode 33 ~ One Step Closer
34
Episode 34 ~ Firasat
35
Episode 35 ~ Tabrak Lari
36
Episode 36 ~ Bertemu
37
Episode 37 ~ Hukum Cambuk
38
Episode 38 ~ Akhirnya Sadar
39
Episode 39 ~ Geram
40
Episode 40 ~ Kapten Oleng
41
Episode 41 ~ Salah Memilih Orang
42
Episode 42 ~ Apakah Ini Pertanda?
43
Episode 43 ~ Mabuk
44
Episode 44 ~ Partai Pelindung
45
Episode 45 ~ Kotak Buku Lama
46
Episode 46 ~ Kepingan Masa Lalu
47
Episode 47 ~ Memberitahu Papi
48
Episode 48 ~ Gelagat Aneh
49
Episode 49 ~ Brownies Coklat
50
Episode 50 ~ Gelap Mata Lagi
51
Episode 51 ~ Ayah dan Ibu Harus Tau!
52
Episode 52 ~ Dekapan Oma
53
Episode 53 ~ Yang Dirindukan, Datang!
54
Episode 54 ~ Keputusan Dhana
55
Episode 55 ~ Pembagian Raport
56
Episode 56 ~ Bertindak Adil
57
Episode 57 ~ Terkepung
58
Episode 58 ~ Kedatangan Orang Jauh
59
Episode 59 ~ Ide Yang Brilliant
60
Episode 60 ~ Si Kembar Belum Pulang
61
Episode 61 ~ Petunjuk Alat Pelacak
62
Episode 62 ~ Do'a Bapak Paruh Baya
63
Episode 63 ~ Rekaman CCTV
64
Episode 64 ~ Dituduh
65
Episode 65 ~ Kecurigaan Syahil
66
Episode 66 ~ Mempercayai Aifa'al
67
Episode 67 ~ Balada Wanita Dewasa
68
Episode 68 ~ Mata-mata
69
Episode 69 ~ Sakit Parah
70
Episode 70 ~ Kabar Dari Aifa'al
71
Episode 71 ~ Ikut Tertangkap
72
Episode 72 ~ Rencana Penyelamatan
73
Episode 73 ~ Jepitan Rambut
74
Visual dan Sedikit Kabar
75
Episode 74 ~ Terus Mengingkari
76
Episode 75 ~ Teringat Rencana Gibran
77
Episode 76 ~ Pria Asing di Basecamp
78
Episode 77 ~ Misi Berikutnya
79
Episode 78 ~ Kekejaman Bima
80
Episode 79 ~ Pikiran Buruk
81
Episode 80 ~ Nama Lainnya
82
Episode 81 ~ Pertumpahan Darah
83
Episode 82 ~ Licik dan Jahat
84
Episode 83 ~ Ada Bom!!!
85
Episode 84 ~ Rel Kereta Api
86
Episode 85 ~ Posisi Sulit
87
Episode 86 ~ Membentuk Grup
88
Episode 87 ~ Huufff...
89
Episode 88 ~ Tertembak
90
Episode 89 ~ Rasa Bersalah
91
Episode 90 ~ Peringatan Keras
92
Episode 91 ~ Sindrom PTSD
93
Episode 92 ~ Sketsa Rahasia
94
Episode 93 ~ Bram CS Zivana
95
Episode 94 ~ Butuh Waktu
96
Episode 95 ~ Ingin Menyusul Dhina
97
Episode 96 ~ Tidak Ditutupi Lagi
98
Episode 97 ~ Tingkah Pasutri Absurd
99
Episode 98 ~ Terselip Kisah Pilu
100
Episode 99 ~ Harus Berpencar
101
Episode 100 ~ Hancur!!!
102
Episode 101 ~ Memohon
103
Episode 102 ~ Berita Pagi
104
Episode 103 ~ Masih Sama
105
Episode 104 ~ Psikoterapi
106
Episode 105 ~ Tegarlah!!!
107
Episode 106 ~ Imam dan Dhina
108
Episode 107 ~ Video Terakhir
109
Episode 108 ~ Imam Pamit
110
Episode 109 ~ Kunjungan Dimas
111
Episode 110 ~ Kecanggihan Teknologi
112
Episode 111 ~ Luka Tak Kasat Mata
113
Episode 112 ~ Ingin Ke Makam
114
Episode 113 ~ Mimpi kah?
115
Episode 114 ~ Tiger VC Black Moon
116
Episode 115 ~ Yasinan dan Teror (Spesial)
117
Episode 116 ~ Isi Kotak Teror
118
Episode 117 ~ Masuk Sekolah Lagi
119
Episode 118 ~ Kekecewaan Hati
120
Episode 119 ~ Keluhan Black Moon
121
Episode 120 ~ Menolong Wanita Asing
122
Episode 121 ~ Air Mata Penyesalan
123
Episode 122 ~ Namanya Rumi
124
Episode 123 ~ Kalah Cepat
125
Episode 124 ~ Ketulusan Sosok Ibu
126
Episode 125 ~ Berusaha Menyadarkan
127
Episode 126 ~ Pelukan Terhangat
128
Episode 127 ~ Suapan Mami
129
Episode 128 ~ Makan Malam Spesial
130
Episode 129 ~ Anak Muda vc Orang Tua
131
Episode 130 ~ Pencarian
132
Episode 131 ~ Cara Bersyukur
133
Episode 132 ~ Sensitive
134
Episode 133 ~ Jebakan
135
Episode 134 ~ Pukulan Dendam
136
Episode 135 ~ Terluka
137
Episode 136 ~ Mobil di Depan Gerbang
138
Episode 137 ~ Penjelasan
139
Episode 138 ~ Terjebak Sendiri
140
Episode 139 ~ Kertas Kuning
141
Episode 140 ~ Permohonan Rumi
142
Episode 141 ~ Tekad Bram
143
Episode 142 ~ Menyampaikan Pesan
144
Episode 143 ~ Cip
145
Episode 144 ~ Bagi Tugas
146
Episode 145 ~ Iblis Berwujud Manusia
147
Episode 146 ~ Aksi Diam-diam
148
Episode 147 ~ Gedung Kosong
149
Episode 148 ~ Takdir Gadis Bisu
150
Episode 149 ~ Headshot
151
Episode 150 ~ Niat Baik Dhana
152
Episode 151 ~ Acara Perpisahan
153
Episode 152 ~ Acara Perpisahan 2
154
Surat Cinta Author
155
Season 2 {Episode 1 ~ Perjalanan Baru}
156
Season 2 {Episode 2 ~ Trauma Damar}
157
Season 2 {Episode 3 ~ Datang Kembali}
158
Season 2 {Episode 4 ~ Hari yang Baru}
159
Season 2 {Episode 5 ~ Tak Terkendali}
160
Season 2 {Episode 6 ~ Ancaman Lagi}
161
Season 2 {Episode 7 ~ Toko Buku}
162
Season 2 {Episode 8 ~ Arahan Hati}
163
Season 2 {Episode 9 ~ Kacau}
164
Season 2 {Episode 10 ~ Berebut Salah}
165
Season 2 {Episode 11 ~ Sumpah Bima}
166
Season 2 {Episode 12 ~ Masih Berusaha}
167
Season 2 {Episode 13 ~ Berita Baru}
168
Season 2 {Episode 14 ~ CCTV Tersembunyi}
169
Season 2 {Episode 15 ~ Pagi-pagi}
170
Season 2 {Episode 16 ~ Bimbingan}
171
Season 2 {Episode 17 ~ Bertemu}
172
Seaaon 2 {Episode 18 ~ Gejala Aneh}
173
Visual Tokoh Season 2
174
Season 2 {Episode 19 ~ Drop}
175
Season 2 {Episode 20 ~ Takut Terulang}
176
Season 2 {Episode 21 ~ Penyakit Langka}
177
Season 2 {Episode 22 ~ Frustasi}
178
Season 2 {Episode 23 ~ Ujian}
179
Season 2 {Episede 24 ~ Penuh Emosional}

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!