Bara yang muncul tiba-tiba merusak suasana.
"iya, maaf Bara." ucap ustad Yusuf.
"ayo Abi kamu sudah siap kan? Mang Dadang (supir pribadi ustad Yusuf) pasti sudah menunggu kita." ucap ustad Yusuf.
"Abi sudah siap pa Ustad ayo!" ajak Abi.
"sepatunya kok gak dipakai Abi?" ucap ustad Yusuf yang melihat ke arah kaki Abi.
"hehe." ucap Abi nyengir.
"maaf pa ustad, nanti Akan Abi pakai setelah sampai didepan pintu rumah." ucap Abi.
"kenapa tidak di pakai sekarang?" sahut Bara bingung.
"Abi tidak mau mengotori lantai rumah pa ustad." ucap Abi polos.
"nak Abi pakai saja sepatunya, nanti ustad Yusuf gendong sampai mobil." ucap Umi Salamah.
"sepatu sudah Abi taruh didepan pintu rumah." ucap Abi sambil tersenyum manis.
"sudahlah ayo kita berangkat, lanjutkan saja mengobrolnya di mobil, kita hanya akan membuang waktu saja kalau terus ngobrol disini." ucap Bara yang sudah tidak sabaran.
"tumben benar om Bara." ucap Abi.
ustad Yusuf tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Abi.
"huft." ucap Bara mendengus lalu melangkahkan kakinya terlebih dahulu keluar kamar Umi salamah.
"gak boleh seperti itu Abi terhadap orang yang lebih tua." ucap Risa menasihati sang putra.
"iya maaf bunda, Abi hanya bercanda." ucap Abi cemberut.
"Yusuf, Umi dan Risa ikut ya mengantar kalian sampai ke bandara." ucap Umi salamah sambil beranjak dari duduknya.
"iya Umi, Yusuf justru senang." ucap ustad Yusuf.
Abi digendong oleh ustad Yusuf berjalan keluar sedangkan Risa berjalan membawa koper milik Abi dan ustad Yusuf dibelakangnya.
Umi Salamah tersenyum manis, senang memikirkan pernikahan sang putra dengan Risa.
kakinya melangkah keluar kamar ikut mengantar anak serta calon cucunya kebandara.
setelah sampai ke depan pintu, ustad Yusuf meminta tolong kepada Bara untuk megambilkan sepatu Abi yang terletak di rak sepatu dekat pintu depan dan membawakannya masuk kedalam mobil.
mereka semua lalu menaiki mobil berwarna putih milik ustad Yusuf, Bara duduk didepan di samping Mang Dadang.
kemudian Mang Dadang segera menjalankan mobil dengan kecepatan sedang menuju bandara.
tak membutuhkan waktu lama, mereka semua sampai ke bandara dengan selamat.
"Abi apa kamu ingin membeli minum?" tanya ustad Yusuf.
"ia pa ustad, Abi haus mau minum." ucap Abi.
ustad Yusuf segera membeli tiga botol air mineral di mini market yang ada di bandara itu.
beberapa waktu kemudian ustad Yusuf, Abi, dan Bara segera berjalan menuju pesawat setelah berpamitan pada Umi dan Risa karena panggilan penumpang dengan tujuan mesir sudah di umumkan.
setalah pesawat lepas landas Umi salamah dan Risa segera melangkahkan kaki mereka menuju mobil untuk segara pulang.
didalam sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang Risa dan Umi Salamah nampak sedang mengobrol saling mengakrabkan diri.
"nak Risa ingin pernikahan seperti apa?" ucap Umi Salamah disela obrolan mereka.
"pernikahan yang sederhana saja Umi yang terpenting adalah sah dimata hukum dan agama." sahut Risa.
"tak salah kamu menjatuhkan pilihanmu Yusuf, Risa memanglah gadis yang baik, dia tidak materialistis seperti kebayakan wanita muda saat ini." ucap Umi Salamah dalam hatinya.
"nak Risa, sebelum menikah kamu berhak tahu apa pekerjaan Yusuf, Umi akan menceritakannya." ucap Umi Salamah.
"baiklah Umi, saya akan mendengarkannya." ucap Risa.
Yusuf bukanlah seorang ustad pendakwah, dia hanya mengajarkan ilmu agama disebuah Tk Al-Qur'an seperti yang sudah nak Risa ketahui sebelumnya, selain itu Yusuf juga seorang dokter disebuah rumah sakit swasta di kota ini.
"dokter?" ucap Risa kaget karena ia tak pernah melihat Yusuf menggunakan seragam seorang dokter.
"ya Yusuf memang seorang dokter, dia hanya mengambil praktik pagi jam 11.00 sampai 13.00 siang itu pun hanya 5 hari dalam seminggu sisanya ia habiskan untuk memberikan ilmu agama yang ia miliki kepada anak-anak taman sekolah TK Al-Qur'an, kadang dia juga sering menyibukan dirinya meracik obat-obatan di laboratorium rahasia miliknya.
"meracik obat-obatan?" ucap Risa.
"ia nak, dulu Yusuf setelah selesai memondok jadi santri dia mendapatkan bea siswa kuliah jurusan ilmu kedokteran dan dia juga ahli dalam meracik formula obat-obatan." jelas Umi Salamah.
"Umi pernah bertanya kenapa ia tak melanjutkan S2, jawaban Yusuf karena ia ingin menolong banyak pasien dirumah sakit tempatnya bekerja yang terkendala uang untuk membeli obat yang mahal." ucap Umi Salamah.
"Yusuf menceritakan pada Umi saat itu ada seorang anak perempuan yang terkena penyakit LUPUS dari keluarga yang kurang mampu, pihak rumah sakit hanya memberi penanganan sesuai biaya yang keluarga pasien miliki, sedangkan untuk obat-obatan yang harus ditebus oleh pasien sangat mahal, Yusuf menawarkan bantuannya kepada kelurga tersebut selama 5 bulan Yusuf terus memberi perawatan kepada anak perempuan itu, Yusuf berusaha mencari tahu obat-obatan yang bisa melawan penyakit anak itu, akan tetapi yang maha kuasa berhendak lain, anak itu menghembuskan nafas terakhirnya." ucap Umi Salamah masih bercerita.
"sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada malam itu, anak perempuan itu mengatakan kepada Yusuf, kenapa dokter harus mencari obat untukku, kenapa tidak membuatnya saja, hasilnya akan lebih bagus jika kita membuatnya sendiri bukan, anak perempuan itu berbicara kepada Yusuf dengan suara yang lemah." ucap Umi Salamah.
"hati Yusuf pun tersentuh mendengar permintaan seorang anak yang terbaring lemah didepannya, sejak saat dia gagal menyelamatkan anak perempuan itu, Yusuf bertekad mempelajari berbagai macam jenis obat-obatan dari herbal sampai kimia dia pelajari sendiri melalui buku, disamping dasarnya dia adalah lulusan terbaik ilmu kedokteran." lanjut Umi Salamah bercerita tentang putranya itu.
"belajar sendiri, kenapa tidak melanjutkan S2?" sahut Risa.
"katanya dia hanya ingin bekerja." ucap Umi Salamah.
tak terasa perjalan mereka sudah sampai balik pulang kerumah Umi Salamah.
"Risa mau pamit pulang kepanti asuhan dulu Umi." ucap Risa.
"silahkan nak, tapi apa tidak sebaiknya kamu istrihat dulu di rumah Umi, kita makan bersama dulu, nak Risa mau kan menemani Umi makan?" ajak Umi Salamah.
"baiklah Umi." ucap Risa karena dia juga merasa lapar dan mau sekalian membereskan dapur Umi yang tadi sempat dipakai Abi untuk membuat kue.
"ayo masuk dulu nak Risa." ucap Umi Salamah mempersilahkan masuk tamunya.
"iya Umi." ucap Risa.
keduanya keluar dari mobil kemudian masuk kedalam rumah Umi Salamah.
"tak usah sungkan-sungkan nak Risa, anggap saja rumah sendiri." ucap Umi Salamah.
Risa hanya diam dan tersenyum kepada Umi Salamah yang sudah baik terhadapnya.
"nanti setelah menikah dengan Yusuf tinggal saja disini, Umi merasa kesepian tinggal dirumah besar ini."
"kalo itu terserah mas Yusuf saja Umi, jika mas Yusuf mengajak Risa dan Abi tinggal disini maka Risa akan mengikutinya." sahut Risa sopan kepada calon mertuanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Wahyu Suroso
saya kok pikir ayah kandungnya mlh ustad yusuf ya banyak kemiripan sih
2024-10-19
0
Al^Grizzly🐨
iya bagus itu..dr pada mengharap yg tdak kunjung datng mencari.
2024-01-29
1
yonahaku
semoga berjodoh dengan pak ustadz Yusuf dan tidak diganggu ayah kandung Abimanyu
2022-09-11
1