Beberapa Hari kemudian, menjelang keberangkatan Bara, Abi, dan Yusuf ke mesir.
di sebuah rumah yang sederhana, nyaman, dan adem, terdengar suara yang ramai oleh penghuni rumah tersebut.
"ini yang terakhir adalah kue untuk oma, dibiarkan disini aja atau di pindahkan ke tempat lain oma?" ucap Abi.
"biarkan saja dimeja itu nanti, biar bi Irah yang memindahkannya." sahut Umi Salamah.
"Abi-Yusuf lanjutkan saja siap-siap sebentar lagi Bara pasti datang kemari." tambah Umi Salamah.
Risa mendekati sang putra lalu menurunkannya dari kursi.
"Abi ini ibu bawakan beberapa baju di dalam tas." ucap Risa
"dikamar Umi sudah ada koper kecil untuk Abi, masukan saja baju Abi kedalamnya nak Risa." ucap Umi Salamah.
"iya bunda kemarin ustad Yusuf sudah membelikan koper kecil untuk Abi." ucap Abi dengan wajah gembira.
Risa melirik Ustad Yusuf dan yang di liriknya hanya terseyum ke arah Risa.
"nak Risa selama Abi dan Yusuf pergi maukah nak Risa tinggal bersama Umi di rumah ini?" ucap Umi Salamah penuh harap.
"temanilah oma bunda." ucap Abi.
"baiklah Bunda akan menemani Umi disini." ucap Risa.
"Abi ingat pesan bunda ya nak, jangan merepotkan ustad Yusuf." ucap Risa mengingatkan anaknya.
"Bunda tenang saja Abi tidak akan merepotkan." ucap Abi sambil tersenyum manis.
Hari ini adalah hari keberangkatan Abi, ustad Yusuf, dan Bara ke mesir.
karena pekerjaan Abi sudah selesai Umi, Risa, dan Abi melangkahkan kaki mereka bersama menuju kamar Umi Salamah.
sesampainya disana, Abi membuka kopernya lalu memasukan sebagian baju yang dibawa sang bunda dari panti.
"Umi-bunda bagaimana jika kita berfoto bersama sebelum Abi pergi?" ucap Abi meminta.
Umi Salamah dan Risa saling lirik lalu mengangguk bersamaan.
"Abi akan berada ditengah." ucap Abi antusias.
"jika kita bertiga berfoto bersama lalu siapa yang memfotokan kita?" ucap Risa.
tak... tak... tak... suara langkah kaki seseorang semakin terdengar mendekat ke kamar Umi Salamah.
ketiga terdiam menanti orang yang melangkahkan kakinya kekamar tersebut.
berharap orang itu bisa mereka mintai pertolongan.
"Assamualaikum Umi." ucap sebuah suara laki-laki seumuran dengan Yusuf.
"wa alaikum salam." ucap ketiga orang yang ada di kamar Umi Salamah hampir bersamaan.
"kompak banget jawabnya." ucap Bara.
"nak Bara kebetulan ada disini, Umi minta tolong fotokan kami bertiga." ucap Umi Salamah meminta bantuan.
"foto bertiga dimana?" ucap Bara.
"dikamar ini om Bara, sebelum pergi Abi mau foto dulu sama Umi dan bunda." ucap Abi.
"Abi kamu ini kayak mau pergi jauh aja, pakai minta difoto segala buat kenangan." ucap Bara.
"kita memang akan pergi jauh om Bara, coba saja kalau jalan kaki enggak akan sampai hanya dalam waktu satu hari." ucap Abi serius.
"kau memang benar Abi, ayo cepat merapat biar om fotokan." ucap Bara.
ketiga dengan cepat mengambil posisi masing-masing.
"1... 2... 3...!" ucap Bara menhitung sebelum mengambil gambar mereka bertiga.
click...! mereka bertiga berfoto bersama.
Yusuf berjalan dengan membawa kopernya ke kamar Umi Salamah.
empat orang yang ada di kamar itu tidak menyadari ada yang datang, karena mereka asik mengatur gaya berfoto yang bagus.
"ehmmm!" suara Yusuf berdaham agar mereka segera menghentikan aktivitas mereka.
"Yusuf kenapa lu ganggu aja?" ucap Bara sambil menenggukan kepalanya ke arah Yusuf.
"apa aku boleh ikut berfoto?" ucap ustad Yusuf.
"iya tentu saja boleh nak, inikan foto bersama." ucap Umi Salamah
Yusuf kemudian ikut berfoto bersama sambil tersenyum bahagia dengan menggendong Abi.
selesai mereka berfoto-foto ustad Yusuf mengajak Bara keruang tamu.
sesampai diruang tamu keduanya duduk di sofa.
"apa kau ingin minum Bara?" ucap ustad Yusuf.
"tidak usah Yusuf, apa ada yang ingin kau tanyakan?" ucap Bara.
"ya, aku ingin menanyakan berapa hari pameran disana berlangsung dan untuk lomba itu berapa banyak hadiah yang mereka janjikan?" ucap Yusuf.
"ini undangannya, semua dijelaskan kertas itu!" ucap Bara sambil menyerahkan undangan pameran.
"satu lagi, Abi tidak mau masuk dalam pemberitaan apapun jika dia berhasil menjadi juara." ucap ustad Yusuf.
"itu bisa di atur." ucap Bara.
"baiklah aku percayakan padamu." ucap ustad Yusuf dengan aura mengintimidasi.
semantara itu saat ini Risa sedang mengobrol pada Umi Salamah dan Abi.
"Umi terima kasih Umi sudah menganggap Abi sebagai Cucu Umi." ucap Risa.
Abi pantas mendapatkannya nak termasuk kasih sayang ayah." sahut Umi Salamah memancing.
"Apa kamu tidak ingin menikah dan membiarkan Abi mendapatkan Kasih sayang seorang Ayah?" tambah Umi Salamah.
Risa hanya diam tidak menjawab.
"jawablah Risa pikirkan anakmu jangan turuti egomu." nasihat Umi Salamah pada Risa.
"Risa mau saja menikah, hanya saja Risa takut tidak ada yang mau menikahi dan menerima Risa yang sudah punya anak tanpa suami." ucap Risa sambil menunduk.
"ustad Yusuf mau bunda menerima Abi dan bunda, waktu itu Abi membereskan alat lukis didapur, pa ustad Yusuf pernah bilang ke Abi kalau ustad akan membuat hidup Abi dan bunda lebih baik dari sebelumnya, dan ingin membantu Abi serta Bunda untuk menggapai cita-cita, itu janji yang ustad ucapkan kepada Abi." ucap Abi jujur.
Umi Salamah tersenyum mendengar ucapan polos Abi.
"itu artinya Yusuf sudah menjatuhkan pilihannya pada Ibu dan anak ini." ucap Umi Salamah dalam hati.
"bagaimana Risa apa kamu mau hidup bersama Yusuf." ucap Umi Salamah.
deg... deg...
jantung Risa berdetak lebih cepat mendengar permintaan dari ibu Yusuf tersebut.
"aku serahkah jawabannya pada Abi, semua terserah padanya!" ucap Risa.
"Abi sih mau ustad Yusuf jadi Ayah Abi, tapi apa bunda mau Ustad Yusuf jadi suami bunda, jangan menggantungkan jawaban kepada orang lain bunda, sesuaikan dengan keinginan hati bunda." ucap Abi bijak.
"Abi benar nak Risa, ikutilah kata Hatimu Umi tidak akan memaksamu pikirkanlah terlebih dahulu." ucap Umi Salamah.
"Risa bersedia jadi menantu Umi!" ucap Risa setelah terdiam beberapa saat hingga kata itupun lulus terucap dari bibirnya.
ustad Yusuf berjalan ke kamar Umi ingin mengajak Abi untuk segera berangkat, mendengar sebagian ucapan Risa tapi hanya satu kalimat yang jelas dia dengar ustad Yusuf pun penasaran.
"bersedia apa bu Risa?" ucap ustad Yusuf ketika sampai didepan pintu kamar Umi Salamah yang terbuka.
"bersedia menikah dengan pa Ustad." ucap Abi gembira.
Yusuf menghentikan langkahnya, dia melihat ke arah Umi Salamah dan Abi secara bergantian untuk mencari kebohongan dimata keduanya, tapi dia tidak menemukannya.
"Yusuf apa kamu mau nenikahi Risa?" ucap Umi Salamah yang mengerti tatapan sang Anak.
Yusuf terdiam tapi matanya melirik kearah Risa yang menunduk malu.
"Yusuf bersedia menikahi Risa, Umi." ucap ustad Yusuf.
"alhamdulilah akhirnya Abi akan punya ayah!" seru Abi senang.
muka Risa dan Yusuf memerah karena malu.
"Umi lihatlah muka pa ustad seperti cabe merah." ucap Abi.
Umi Salamah dan Abi melihat muka keduanya lalu tersenyum senang.
"kanapa lama sekali Yusuf, kita bisa telat berangkat naik pesawat." ucap Bara sambil berjalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Cata Leya
big No
bnci bgt jodohny risa si ustad haehhh
lol..gmpgn bgt trnyata si risa..dh gatel kali yaa
2023-02-27
0
yoyoh nurohmah
kpn abi dipertemukan dgn ayah biologisnya...
2022-10-01
0
Warniati Bochari
setuju kalo Risa menikah dg ustadz Yusuf
2022-06-07
0