"Bukan begitu hanya saja aku kaget dengan pengeluaran sebegitu banyak dari black cardku." ucap Hermawan.
"sudahlah mas ini kunci mobilnya, dan semua pakaian yang kubeli ada didalam mobil itu." ucap Vania merajuk.
"aku baru tahu kau seperhitungan itu terhadap uangmu, lalu untuk apa kau mencari uang setiap hari, jika hanya untuk kau tumpuk dalam sebuah kartu, kapan kau menikmatinya, ingat Hermawan kau itu tidak hidup abadi, suatu hari kau akan meninggalkan dunia ini beserta uangmu, sebelum itu tiba sebaiknya kau menikmati dulu hasil kerja kerasmu, jika kau tidak ingin orang lain yang menikmatinya setelah kau tiada, lagi pula jika kau meninggal, jasadmu bukan diditimbun dengan UANG kau akan tetap di timbun dengan TANAH." ucap Vania sengaja menekan agar pria tua itu percaya padanya.
"selagi kau bisa, maka nikmatilah itu." ucap Vania memberi nasihat.
"Aku hanya kasihan melihatmu malam itu, wajahmu nampak kusut tidak terurus, kau seperti pria tua yang malang menyimpan beban hidupmu sendiri, aku hanya berusaha membatumu menyenangkan dirimu, tak ku sangka kau bahkan sagat perhitungan dengan uang yang hanya sedikit ku minta dari black card milikmu." tambah Vania.
"dengan wajah cantikku, aku bahkan bisa mendapatkan laki-laki yang muda dan bahkan lebih tampan dan kaya darimu untuk menemaniku malam itu, tapi aku justru memilihmu karena rasa peduliku terhadap sesama." ucap Vania.
"kau lihat ini Hermawan." ucap Vania sambil menyerahkan beberapa foto bersama CEO perusahan besar dan yang lebih membuat Hernawan terkejut adalah Vania melayani anak dari ratu inggris.
"kau lihatlah dengan matamu, jam terbangku ku sudah sangat tinggi, aku bahkan mendapatkan apartement mewah berserta isinya lengkap dengan tas sepatu serta pakaian yang harganya fantastis di inggris sebagai imbalan jasaku untuk satu malam." ucap Vania.
Vania menatap ke arah Hermawan yang masih melihat foto-fotonya bersama CEO perusahaan besar di negeri tetangga, tak bisa dipungkiri ekspresi wajah terkejut dan terkadang melotot melihat foto CEO yang mungkin ia kenal sudah pernah menghabiskan malamnya bersama Vania.
Vania kembali melanjutkan, ia sengaja membuat Hemawan terus menerus terpojok Agar lelaki itu tidak merendahkannya karena pekerjaannya sebagai wanita pemuas *****.
"ini ambilah kunci mobilnya aku tak membutuhkannya lagi, aku akan mencari pemuda kaya pemilik perusahan besar di indonesia ini, yang mau menghabiskan malamnya bersamaku, aku akan meminta sebuah pulau lengkap dengan villanya untuk menjadi tempat tinggalku dan aku akan memuaskannya setiap ia membutuhkan ku, aku yakin dia tidak akan menolak memberikannya padaku karena dia akan mendapatkan kenikmatan yang tiada tara dari setiap permainanku." ucap Vania sombong.
mendengar Vania akan mencari lelaki lain membuat Hermawan kalang kabut ada rasa tak rela jika tubuh Vania di jamah oleh pria lain selain dirinya,
"kalau aku melepasnya sekarang, mungkin aku tak akan mendapatkan orang yang mampu membuatku menjerit nikmat seperti kemaren." ucap Hermawan dalam hati.
"aku pergi dulu, akan ku pastikan ini pertemuan terakhir kita, carilah wanita lain untuk melayanimu secara cuma-cuma." ucap Vania sambil meletakan kunci mobil di atas meja lalu berlalu pergi.
sebelum tangan Vania mencapai gagang pintu, tiba-tiba sebuah suara menghentikannya.
"Vania maafkan aku, aku tidak bermakud membuatmu tersinggung, ambilah kembali kunci mobil ini aku ikhlas memberikannya untukmu dan aku juga akan menambahkannya dengan mengirimkan satu set perhisan berlian ke apartement tempat tinggalmu nanti." ucap Hermawan.
Vania menyunggingkan senyumnya sebulum ia berbalik.
"maaf Hermawan ini sudah keputusanku, karena kau sudah membuatku kecewa dengan ucapanmu, sama saja kau menganggapku sebagai wanita ****** yang tak pantas untuk dibayar dengan harga tinggi." ucap Vania.
"Vania sekali lagi maafkan aku, begini saja kau pilihlah sendiri perhiasan yang kau inginkan aku akan membelikannya untukmu." tawar Hermawan merayu.
"baiklah, aku beri satu kesempatan jika kau membuatku kecewa maka aku akan pergi meninggalkanmu." ucap Vania.
Vania lalu mengambil kunci mobil itu kembali dan berlalu pergi meninggalkan Hermawan yang masih mematung tak bereaksi.
berpindah tempat, sementara dirumah ustad Yusuf.
"Bibi, Abi tinggal sebentar ya mau mandi dulu, nanti jika alarm hp ini berbunyi bibi buka tutup kukusannya dan tusuk menggunakan lidi, jika tidak ada yang lengket dilidi itu artinya kuenya sudah matang jangan lupa matikan kompornya dan angkat keluarkan kuenya ya." ucap Abi.
"Baik den Abi." ucap Bibi.
"nanti biar Umi yang pantau kerja Bibi." ucap Umi Salamah yang entah kapan sudah berada didapur.
"ehh Umi, maaf Abi enggak lihat ada Umi." ucap Abi sopan.
"Abi ayo cepat mandi sana, sebenar lagi bundamu pasti datang." ucap Umi Salamah.
"iya Umi, Abi tinggal mandi dulu ya." ucap Abi.
"iya Abi mandilah yang bersih." ucap Umi Salamah.
"siap Umi." ucap Abi lalu melangkahkan kakinya kekamar mandi.
15 menit kemudian Abi sudah siap dengan setelan baju mahal, dia terlihat sangat menawan, tak bisa di pungkiri jika wajah Abi sangatlah tampan baju yang kemaren sempat dibelikan oleh Yusuf untuknya tampak sangat pas dibadan kecil Abi.
Yusuf yang baru keluar dari kamarnya melihat Abi berjalan menuju dapur ia lantas mengikutinya dari belakang.
"apa sudah matang Bibi?" ucap Abi pada pembantu rumah tangga Umi Salamah.
"sudah den, ini sudah bibi lakukan semua perintah den Abi." ucap Bibi Irah (pembantu dirumah Umi Salamah)
"terima kasih Bibi, biar Abi cek lagi." ucap Abi.
ting... tong... suara bel dirumah ustad Yusuf berbunyi.
"biar Bibi yang bukain pintu den." ucap Bibi Irah sambil berlalu pergi menuju pintu depan.
"pa ustad bisa bantu Abi naik ke atas kursi ini." ucap Abi.
"tentu saja, mari Ustad bantu." ucap ustad Yusuf lalu mengangkat badan kecil Abi naik ke atas kursi.
Abi dengan cepat menusukan lidi pada kue tersebut.
"ini sudah matang." gumam Abi.
"duh jagoan kecil Umi tambah ganteng aja semakin hari." ucap Umi Salamah memuji Abi.
"Oma bukan Abinya yang ganteng tapi bajunya terlalu mahal, Abi jadi merasa sayang memakainya takut rusak." ucap Abi polos.
"kok Umi di panggil Oma? sejak kapan?" ucap ustad Yusuf.
"Umi yang minta, katanya biar beneran jadi Cucu, ya sejak hari ini lah." ucap Abi dengan wajah dibuat imut.
Risa yang melihat sang putra sangat tampan dengan setelan baju yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Abi kamu pakai baju siapa itu nak?" ucap Risa.
"ini baju dibelikan pa ustad bunda, Abi sudah menolak tapi ustad tetap maksa, masih ada 5 lembar lagi bunda yang belum Abi pakai." ucap Abi memberi tahu sang bunda.
"Pa ustad terima kasih atas kebaikan pa ustad, Abi memang tidak punya baju bagus untuk di bawa untuk bepergian jauh, nanti saya ganti uangnya." ucap Risa.
"tak perlu sungkan bu Risa, saya sudah pernah bilang jika saya sudah menganggap Abi seperti anak saya sendiri." ucap ustad Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Indri Atmini
makin suka ceritanya 👍👍👍
2022-06-22
1
Alfiana CErbik CErbik
kok gak ada certa tentang ayahnya abi thor
2022-05-07
0
Nora Eliza
abi is the best
2022-01-29
1