selama 2 jam Vania melayani hasrat terpendam pria itu dan saat ini Hermawan sudah terkapar diatas kasur disebuah hotel berbintang tanpa sehelai benang menutupi tubuhnya.
Vania yang melihatnya menarik sudut bibir menjadi sebuah senyuman.
"ternyata hanya begini saja kau sudah tumbang tak berdanya, aku bahkan belum mencapai puncaknya." ucap Vania dalam hatinya.
"apa obat yang kumasukan ke dalam minumannya terlalu banyak hingga dia benar-benar berhalusinasi tinggi dan cepat lelah." ucap Vania berbicara sendiri.
"tidak sia-sia aku membawa obat itu dari negaraku, sekarang saatnya aku meminta bayaranku sebelum pengaruh obatnya habis." tamba Vania.
"mas Hermawan bagunlah mas." ucap Vania sambil menepuk lengan Hermawan.
"hmmmm badanku sudah lelah sayang, kita bisa melakukannya besok pagi lagi." ucap Hermawaan merancau.
"mas aku mau membersihkan diriku dan mengganti pakaianku yang telah rusak olehmu, bisakah aku pulang dulu besok aku akan kembali lagi." ucap Vania.
"kenpa tidak tidur bersamaku disini sayang?" sahut Hermawan yang masih memejamkan matanya.
"aku ingin tidur disini tapi rasanya tak nyaman jika tidur menggunakan pakaian yang sudah rusak begini." ucap Vania.
"sebaiknya aku pulang malam ini saja mas, jika aku pulang besok mungkin akan banyak yang menertawakanku karena bajuku robek dima-mana mas." kata Vania masih bersikeras dengan keinginannya.
"oh iya mas, bolehkah aku meminta bayaranku kau sudah berjanji akan membayar berapapun kepadaku?" ucap Vania.
"tapi aku tidak membawa uang cash saat ini sayang." ucap Hermawan.
"sini kartu kredit kamu mas?" ucap Vania.
"aku hanya akan menggunakannya untuk membeli beberapa barang yang ku butuhkan saja, uangmu tidak akan habis hanya untuk membeli beberapa barang itu." ucap Vania melancarkan aksinya.
"ambilah didalam dompetku belilah pakaian serta apapun yang kau inginkan, besok kembalikanlah padaku." ucap Hermawan.
"terima kasih mas." ucap Vania sambil belalu untuk mengambil kartu kredit milik Hermawan.
"hemmh." sahut Hermawan kembali melanjutkan tidurnya yang telah terngaggu oleh Vania.
setelah mendapatkan black card milik Hermawan lalu Vania mendekatinya.
"aku pulang dulu ya mas, besok akan ku kembalikan kartu kredit milikmu ini." ucap Vania sambil belalu mengambil tasnya lalu pergi dari hotel tersebut.
keesokan harinya Vania berbelanja pakaian disebuah mall terbesar yang ada dikota itu, tak lupa ia juga membeli sebuah mobil honda jazz keluaran terbaru.
setah selesai ia kembali kehotel tempat Hermawan menginap.
Vania membuka pintu kamar yang kemarin malam ia tinggalkan.
klik... suara pintu kamar terbuka.
Vania melihat sekeliling dan melihat Hermawan yang masih saja tertidur dikasur king size yang ada di kamar tersebut.
"mas bagunlah, apa kau tidak pergi ke kantor?" ucap Vania.
merasa ada suara yang membagunkannya, Hemawan perlahan membuka matanya dan ketika matanya sudah terbuka sempurna, ia mendapati wajah Cantik Vania yang sedang terseyum manis kepadanya.
"jam berapa sekarang?" ucap Hermawan dengan suara khas bagun tidur.
"jam setengah sebelas mas." ucap Vania menjawab dengan ramah.
"setengah sebelas! itu artinya sudah siang?" gumam Hermawan.
"apa kau tidak pergi ke kantor mas?" ucap Vania.
"tentu saja aku akan kekantor, karena aku tidak mempercayakan siapapun untuk menggantikan posisiku, walau hanya sementara." ucap Hermawan.
"pergilah dan ini back card milikmu aku sudah selesai menggunakannya." ucap Vania.
"aku pamit dulu mas, jika kau perlu aku ini kartu namaku." ucap Vania sambil menyerahkan kartu namanya dan tersenyum manis.
"Terima kasih Vania." ucap Hermawan.
Vania berlalu pergi dari kamar hotel berbintang itu menuju ke apartementnya.
dia mengebut dijalan raya menggunakan mobil honda jazz yang baru saja dibelinya menggunakan uang Hermawan.
drttt... drttt... ponsel Vania sedang bergetar
"hello tuan Dimas Anggara yang terhormat." ucap Vania.
"hallo Vania bagaimana, apa kau sudah bertemu dengan pria tua itu?" sahut Dimas.
"iya, aku sudah bertemu dengannya dan menggunakan uangnya untuk membeli mobil baru." ucap Vania memberi tahu Dimas.
"Vania apa yang kau lakukan, dia bisa saja tak lagi mau bertemu denganmu jangan bertindak gegabah Vania!" ucap Dimas diseberang sambungan ponselnya.
"tak perlu risau Dimas, laki-laki seperti Hermawan itu pasti akan menemuiku lagi, dia sangat menyayangi uangnya karena itu dia akan menemuiku lagi." ucap Vania.
"tunggulah paling lambat nanti malam aku akan mengirimkan rekaman percakapanku denganya." ucap Vania dengan penuh percaya diri.
"kau yakin?" ucap Dimas.
"aku sangat yakin Dimas." ucap Vania.
"apa Jack sudah mengirimkan Rekamanku dengan Hermawan saat di club?" ucap Vania.
"ya aku sudah mendengarnya." ucap Dimas
"ingat Vania, aku membawamu untuk mengambil kembali harta orang tuaku, jagan gegabah dalam bertindak!" ucap Dimas mengingatkan Vania kembali.
"kau tenang saja, percayakan semuanya kepadaku." ucap Vania.
"Baiklah ku harap kau memberikan kabar baik untuk ku nanti, sekarang aku ada pekerjaan lain yang menunggu." ucap Dimas.
setelah mengakhiri panggilannya dengan Dimas, kemudian Vania keluar dari mobilnya setelah sampai di apartementnya.
ting, sebuah pesan masuk diponsel Vania.
Vania membukanya dan membaca isinya.
"Vania apa yang kamu lakukan dengan kartu kredit milikku dengan uang sebanyak itu, datanglah ke club malam ini aku ingin berbicara denganmu?" isi pesan Hermawan.
"Baiklah mas Hermawan, aku akan datang jam barapa?" tulis Vania membalas pesan Hermawan.
ting, sebuah pesan baru kembali masuk di ponsel Vania.
"nanti akan ku beri tahu ketika aku sudah berada di club." isi pesan balasan dari Hermawan.
detik, menit, dan jam belalu dengan cepat, malam pun telah tiba.
disebuah room Vip club ternama, nampak dua orang sedang berbicara serius.
"Vania apa yang kau beli hingga memerlukan uang sebanyak itu dari kartu kredit milikku?" ucap Hermawan.
"beberapa pasang pakaian, serta membeli apa yang ku inginkan yaitu sebuah mobil." ucap Vania santai.
"mobil, untuk apa kau membeli mobil?" ucap Hermawan.
"tentu saja untuk ku pakai, aku masih belum memiliki mobil, jadi aku rasa aku perlu memilikinya, lagi pula uangmu tidak akan habis hanya untuk membeli mobil kan? ucap Vania ketus.
"tetap saja itu pengeluaran yang cukup besar Vania" ucap Hermawan kesal.
"hey mas Hermawan, kau marah padaku Hanya karena aku membeli sebuah mobil, pengeluaran segitu sudah biasa bagi pengusaha sepertimu ini." ucap Vania.
"jika pengeluaran itu untuk sesuatu yang berguna dan berhubungan dengan pekerjaan tidak masalah bagiku." sahut Hermawan masih dengan nada kesal.
"apa kamu lupa, jika sebelum aku mememuaskanmu kau mengatakan akan membayarku berapapun yang aku mau?" Vania mencoba mengingatkan kembali janji Hermawan yang ia ucapkan kemarin malam.
"iya aku ingat." sahut Hermawan singkat.
"nah itulah bayaran yang ku minta, sebuah mobil serta beberapa lembar pakaian." ucap Vania.
"Hermawan aku sudah memuaskanmu dengan permainanku, sampai kau tak lagi kuat untuk bangun, aku rasa kerja kerasku pantas dihargai dengan sebuah mobil." ucap Vania.
"mas Hermawan apa kau tidak ikhlas membayarku, akan ku kembalikan mobil serta pakaian kepadamu, hanya uang seharga mobil saja kau tidak mau memberikannya padaku, padahal aku sudah mau tidur dan melayani ***** birahimu." ucap Vania sambil memainkan peran play victimnya dengan air mata rubahnya.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Wirda Lubis
lanjut
2022-07-01
1
Nora Eliza
kuras semua hartanya vania
2022-01-29
3
Har Tini
lanjut kan akting mu vania
2022-01-28
2