Adnan Jack Davidson adalah orang kepercayaan Dimas Anggara, Dimas memanggilnya dengan sebutan nama Adnan, meski Adnan pernah meminta dimas untuk memanggilnya Jack.
"aku ingin memanggilmu Adnan agar berbeda dengan yang lain, itu panggilan khusus ku kepada orang kepercayaanku." ucap Dimas kepada Jack.
Jack yang melihat Vania berhasil mendekati Hermawan tampak tersenyum puas, ia bahkan mengacungkan jempolnya kepada Vania saat melewatinya.
"tidak salah Dimas mempercayakan tugas ini padamu Vania." monolog Jack.
semantara Vania duduk disamping Hermawan yang sedang duduk disebuah sofa.
"Hermawan, apa kau memiliki masalah hingga kau datang ketempat ini?" tanya Vania.
"oh aku hanya sedang tidak ingin pulang kerumah saat ini!" ucap Hermawan.
"bolehkah aku memijat tubuhmu?" ucap Vania hati-hati.
"lakukanlah." jawab Hermawan.
Vania mulai memijat pundak Hermawan.
"enak sekali Vania, andai saja setiap pulang istriku memijatku seperti ini aku pasti betah dirumah." ucap Hermawan yang sedang keenakan dipijat Vania.
"kalau begitu mengapa kau tak memintanya untuk memijat tubuhmu." ucap Vania.
"hah, aku muak dengannya setiap pulang kerja bukannya disambut dengan senyuman ramah dia malah menanyakan terus-terusan tentang anak perempuannya yang telah ku usir dari rumah!" ucap Hermawan tanpa sadar menceritakan masalah keluarganya pada Vania.
"kau pasti memiliki alasan yang kuat untuk mengusirnya, jika dia tidak melakukan kesalahan yang besar tidak mungkin kau mengusirnya dari rumah, benar begitukan?" ucap Vania sambil memancing Hermawan menceritakan masalah rumah tangganya.
"kau benar anak itu hanya akan mencoreng nama baikku jika kubiarkan berada dirumahku, bahkan jika kolega bisnisku tahu bisa saja mereka menjadikan masalah itu untuk mempermalukanku." ucap Hermawan.
"Apa masalah yang anakmu hadapi itu tidak bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan?" sahut Vania.
"tidak bisa, karena aib itu tidak akan bisa ditutupi terlalu lama." ucap Hermawan.
"sebagai seorang Ayah kau pasti sangat kecewa, aku mengerti posisimu Hermawan." ucap Vania dengan lembut.
"ya aku sangat kecewa, terlebih lagi aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk biaya sekolah hingga kuliahnya, bukannya berterima kasih, dia justru membuatku malu dengan melakukan perbuatan hina, aku memberikan pendidikan agar dia pintar bisa membedakan baik dan buruk." ucap Hermawan.
"apa kau hanya memiliki satu anak saja?" ucap Vania mengorek tentang kehidupan Hermawan.
"tidak, aku juga punya anak laki-laki namun sekarang juga tidak mau pulang ke indonesia, karena dia juga menyalahkanku atas kepergian kakaknya." ucap Hermawan sambil meminum minuman yang diracik oleh Vania tadi dan sudah diantarkan oleh pelayan ke room tempatnya duduk sekarang.
"itu artinya kau memiliki dua orang anak?" ucap Vania.
"iya, anak laki-laki yang sekarang berlagak tidak mau menerima uang pemberianku lagi, ia justru memilih menjadi pelayan disebuah hotel berbintang untuk membiayai kuliahnya sendiri, aku ingin melihatnya sampai kapan ia bisa bertahan tanpa bantuanku." ucap Hermawan.
"apa kau tidak kasihan dengan mereka berdua, terutama anak perempuanmu itu, bagaimana jika dia menjadi korban untuk memuaskan hasrat para lelaki yang tak bertanggung jawab." ucap Vania.
"karena itulah aku mengusirnya, dia menjadikan rahimnya sebagai tempat tumbuhnya bibit dari para lelaki yang tak bertanggung jawab itu." ucap Hermawan.
"bagaimana jika anakmu tidak bersalah dia hanya jadi korban saja?" pancing Vania.
"korban? itu kecil sekali kemungkinannya, hanya 10 sampai 20 persen." ucap Hermawan sinis.
"tapi bagaimana jika anakmu termasuk di 10 pesen tersebut, apa kau tetap tidak mau memberi maaf padanya?" ucap Vania.
"Aku sudah memberi penawaran padanya untuk menggugurkan janin itu, tetapi dia bersikeras mempertahankan darah daging dari lelaki yang dia sendiri tidak tahu siapa nama dan tempat tinggalnya." ucap Hermawan
"lalu karena dia tidak menurutimu kau mengusirnya?" ucap Vania.
"bukan hanya mengusirnya, aku juga sudah tak lagi menganggapnya sebagai anakku,
darah dagingku tidak mungkin melakukan perbutan keji seperti itu." ucap Hermawan sok suci.
"jadi kau tidak mencarinya ketika anakmu tak pulang-pulang hingga membuat istrimu terus menyalahkanmu." ucap Vania.
"aku terlalu sibuk, pekerjaanku sangat banyak, aku sudah pernah menyuruh orang untuk mencarinya dalam waktu seminggu, orang itu tidak mendapatkan apapun jadi aku menghentikan pencarian karena hanya membuang-buang uangku saja." ucap Hermawan.
Vania tersenyum miring mendengar penjelasan Hemawan.
"sepertinya lelaki paruh baya ini benar-benar sangat sayang dengan uangnya." ucap Vania dalam hati.
"aku sekarang merasa sangat senang, karena setiap bulan uangku hanya keluar untuk merawat istriku, sedangkan kedua anakku tak lagi membutuhkan uang dariku." ucap Hermawan.
"jadi istrimu sakit?" sahut Vania.
"dia hanya menyiksa dirinya sendiri dengan terus memikirkan anak-anaknya yang tidak tahu terima kasih itu." ucao Hermawan.
"apa kau tidak kasihan dengan istrimu, bukankah dia orang yang kau cintai?" ucap Vania.
"Cinta? semua itu sudah lama tak lagi kurasakan, dia tidak pernah lagi memasak dan memperhatikanku, dia cuma sibuk dengan pikirannya sendiri." ujar Hermawan semakin mengeluarkan semua keluh kesahnya pada orang yang baru saja ia kenal.
"mas, apa aku boleh memesan makanan?" ucap Vania.
"pesanlah apapun yang kau inginkan." ucap Hermawan royal.
"baiklah, terima kasih mas." ucap Vania berbisik ditelinga Hermawan dengan suara lembutnya.
Hermawan menegang mendengar suara lembut Vania.
Vania berlalu pergi dari room tersebut ia melangkahkan kakinya ke Bar.
"Jack!" seru Vania.
Jack yang dipanggil menoleh ke arah Vania.
"ada apa, Van?" sahut Jack.
"akan ku kirimkan rekaman pembicaraanku dengannya." ucap Vania
"ada baiknya jika kau membelikan ku alat penyadap suara untuk memantau pria tua itu." ucap Vania.
"nanti akan aku tanyakan pada Dimas." jawab Jack.
"buku menunya?" ucap Vania kepada bartender.
"silahkan." ucap bartender itu menyerahkan buku menu pada Vania.
setelah memesan beberapa makanan mahal Vania menyerahkan kertas pesanannya pada pelayan yang ada di dekat bar tersebut.
"Jack sepertinya aku perlu wktu 1sampai 2 jam lagi, jika kau ingin pulang tak apa aku bisa pulang naik taxi nanti." ucap Vania
"baiklah aku akan pulang duluan jika terjadi sesuatu hubungilah aku." ucap Jack.
"iya." sahut Vania.
lalu dia mendekat kepada jack sambil mencium pipi kiri dan kanan Jack dengan penuh kelembutan kemudian berbisik di telinga jack.
"terima kasih untuk malam ini." ucap Vania dengan suara lembutnya.
"Vania kau membuatku merinding!" ucap Jack.
"hahhahahahhaha merinding apa berdiri." goda Vania.
Jack hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"aku pikir kau tak menyukai wanita." goda Vania.
"Aku pria normal Van." ucap Jack datar.
"jika begitu carilah pasanganmu agar kau bisa menyalurkan bakat terpendammu." ucap Vania memancing.
Jack mengerucutkan bibirnya lalu pergi dari bar itu.
"aku pikir dia lelaki yang mudah untuk di taklukan, ternyata aku salah." ucap Vania dalam hati.
semantara Vania kembali lagi masuk ke room tempat Hermawan berada.
Vania kembali duduk disamping Hermawan.
"sudah kau memesan makananmu?" ucap Hermawan.
"ya, mereka akan mengantarkannya kemari" sahut Vania
"Vania Apa kau mau bermain denganku?" ucap Hermawan mengajak Vania untuk mantap-mantap.
"berapa kau membayarku jika aku bisa memuaskanmu?" ucap Vania lembut.
"berapapun yang kau mau akan kubayar." sahut Hermawan sudah berkabut.
sertinya lelaki tua ini sudah lama sekali tidak menyalurkan Bakatnya, hingga hanya dengan aku berbisik saja sudah membuatnya penuh kabut gairah." ucap Vania dalam hati.
"Aku tidak mau melakukannya disini?" ucap Vania.
"katakan dimana tempat yang kau inginkan?" sahut Hermawan.
"Hotel yang paling mewah dan berbintang dikota ini." jawab Vania dengan suara manja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Mini Soegiharto
kenal Vania miskin dia
2022-07-07
2
Wirda Lubis
Hermawan orang kaya bodoh hasil kekayaan dari mencuri
2022-07-01
1
Herni
ternyata bp nya risa itu orang jahat & bejat
ntar miskin dah tuh
2022-03-02
1