"bu Risa masuklah." ucap usatd Yusuf sembil melangkah menghampiri Abi dan Risa yang berada di depan pintu.
"bunda Abi mau pamitan dulu sama Umi." ucap Abi sambil melangkah masuk menuju kamar Umi Salamah.
Yusuf dan Risa mengikuti langkah Abi dari belakang.
"Umi, maafkan Abi jika mengganggu waktu istirahat Umi, Abi hanya ingin memperkenalkan bunda dan berpamitan pulang." ucap Abi menjelaskan maksud kedatangannya.
"iya tidak apa-apa, nak Abi tidak menganggu Umi sama sekali, Umi senang nak Abi ada disini, rumah ini terasa ramai dengan adanya Abi disini." ucap Umi Salamah sambil tersenyum.
"perkenalkan ini bunda Abi." ucap Abi memperkenalkan orang yang telah melahirkannya.
"nama saya Clarisa Oktaviani, panggil saja Risa Umi." ucap Risa sopan.
"namamu sangat cantik seperti orangnya." puji Umi Salamah.
Risa hanya menanggapi dengan tersipu malu.
"tidak perlu malu bunda, karena wajah bunda memanglah cantik terlebih lagi hatinya." ucap Abi sambil terseyum bangga.
"Abi jangan membuat bunda merasa terbang." ucap Risa.
"memang Abi ingin membuat bunda terbang, agar bunda bisa meraih bintang dilangit." ucap Abi seperti bersajak.
"tidak perlu Abi, cukup Abi terus berada disisi bunda, itu saja sudah membuat bunda sudah sangat bahagia." ucap Risa.
"itu perlu bunda karena kita tidak tahukan apa yang akan kita hadapi diluar sana, bukankah bunda sering mengtakannya kepada Abi." ucap Abi.
"bunda adalah pahlawan bagi Abi, karena bundalah Abi bisa terlahir kedunia ini, karena Abi pula kuliah bunda harus terputus, karena Abi pula bunda diusir oleh kakek dari rumah, karna Abi pula bunda harus berjuang mencari nafkah sendiri dan oleh sebab itu maka Abi akan membantu bunda mengapai kembali cita-cita bunda." ucap Abi.
"Abi tak usah kamu pikirkan itu, bunda ikhlas menjalaninya." ucap Risa.
"bunda memang ikhlas, tapi Abi tidak Akan membiarkan orang-orang diluar sana menghina dan merendahkan bunda hanya karena sebuah kesalahan melahirkan seorang anak yang dianggap haram, maka dari itu biarkan anak harammu ini membuat mereka membuka lebar-lebar mata mereka dan tidak lagi memandang kita dengan sebelah mata." ucap Abi.
Umi Salamah dan Risa meneteskan air matanya mendengar Abi berbicara seperti seorang pria dewasa yang sangat menyayangi ibunya.
"Risa-Abi kemarilah, jika orang tua nak Risa mengusir nak Risa karena malu akan kesalahan yang tidak disengaja terjadi, maka anggaplah saya sebagai ibu kamu dan nenek untuk Abi." ucap Umi Salamah.
"Abi jika kamu ingin merasakan kasih sayang seorang Ayah maka anggaplah anak Umi yaitu Yusuf sebagai ayahmu." tambah Umi Salamah.
"Yusuf barikanlah kasih sayangmu kepada Abi, ia berhak mendapatkannya." ucap Umi Salamah.
"tak perlu Umi memintanya, karena Yusuf memang ingin mengangkat Abi sebagai Anak Yusuf." ucap Ustad Yusuf.
"kemarilah Abi." ucap ustad Yusuf sambil merentangkan kedua tangannya.
"Abi akan kesana tapi jangan mencium bibir Abi okey?" ucap Abi sambil melangkah maju dengan sangat perlahan ke arah ustad Yusuf.
Risa dan Umi Salamah justru tertawa melihat tingkah Abi.
Yusuf dengan cepat maju lalu mengangkat Abi kedalam gendongannya.
"pa ustad jagan cabuli Abi ya, Abi masih kecil" ucap Abi polos.
Yusuf mengedip-ngedipkan sebelah matanya kepada Abi.
"aku bukan perempuan tapi aku anak kecil dibawah umur." ucap Abi sambil memalingkan wajahnya.
"badanmu memang kecil tapi otakmu sudah dewasa Abi." ucap ustad Yusuf.
"bunda, apa Abi boleh ikut om Bara pergi ke mesir untuk ikut lomba melukis disana?" ucap Abi.
"ke mesir? Om Bara siapa?" sahut Risa.
"Bara itu teman saya bu Risa, dia seorang seniman muda, dia sangat tertarik setelah melihat hasil karya seni yang di buat oleh Abi, sehingga dia berniat untuk membawa Abi ikut lomba dan pameran di mesir, saya Akan menemani Abi kesana sebagai walinya jelas." ucap ustad Yusuf.
"lukisan? apa Abi bisa melukis?" ucap Risa kaget.
"sebentar biar saya ambilkan " ucap ustad Yusuf kemudian berlalu pergi membawa Abi dalam gendongannya.
setelah mengambil lukisan dan kaligrafi yang telah selesai dibuat Abi didapur, lantas keduanya kembali ke kamar Umi Salamah.
"ini bunda." Ucap Abi sambil menyerahkan dua buah gulungan kertas.
Risa menerimanya dan membuka keduanya setelah melihat isinya Risa kaget.
"apa ini Abi yang buat?" ucap Risa yang bingung.
"iya bunda, Abi yang membuatnya." jawab Abi polos.
"siapa yang mengajarimu?" sahut Risa Lagi.
"tidak ada, Abi bisa dengan sendirinya, Abi membuatnya sesuai perintah otak Abi." jelas Abi apa adanya.
"mungkin jiwa seni Abi berasal dari keluaraga ibu Risa." ucap Umi Salamah.
"ibu saya memang seorang seniman katanya sewaktu masih muda, tetapi semenjak menikahi ayah saya dia tak lagi mengembangkan jiwa seninya, karena dilarang oleh ayah saya." jelas Risa sambil mengingat wajah ibunya saat melukis dirinya sewaktu kecil berdiri diantara hamparan rumput ilalang.
"itu artinya darah seniman memang mengalir didalam diri Abi, kita tidak bisa menyangkalnya, hal yang wajar jika Abi bisa dengan sendirinya tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu." ucap Umi Salamah.
"Biarkanlah Abi ikut serta lomba itu agar dia bisa mendapat pengalaman baru." tambah Umi Salamah.
"Ya baiklah akan saya izinkan Abi mengikuti lomba itu, hanya saja kamu tidak boleh jauh dari ustad Yusuf, jangan keluyuran di tempat yang belum pernah kamu datangi karena ibu khawatir nak." ucap Risa.
"siap bunda, Abi janji akan bersikap baik selama disana." ucap Abi kegirangan karena diizinkan pergi.
"turunkan Abi pa ustad, Abi mau memeluk bunda." ucap Abi.
Yusuf segera menurunkan Abi dari gendongannya.
setelah turun dari gendongan Ustad Yusuf, Abi berlari memeluk Risa dan mencium pipi bundanya dengan gemas.
"Abi sudah ayo kita pulang, badan Abi sudah bau keringat." ucap Risa sambil memencet hidungnya.
Abi mencibirkan mulutnya kedepan seperti bebek.
"mulutmu persis seperti mulut bebek yang sedang makan." ucap Risa bercandain Abi.
"mulutmu seperti Bebek?" ucap aabi menirukan sang bunda lalu berpindah ke pangkuan Umi Salamah.
"Umi, Abi pulang dulu ya, nanti Abi akan main lagi kemari." ucap Abi.
"iya nak Abi, kalau nak Abi ingin menginap disini juga boleh, Umi dengan senang hati berbagi tempat tidur." ucap Umi Salamah.
"baiklah Umi, nanti Abibakan menginap setelah....?" ucap Abi terhenti sembari melirik ke Arah ustad Yusuf dan bundanya.
"setelah apa?" ucap Risa dan Yusuf bersamaan.
"ciyee barengan jawabnya kompak amat." uca Abi.
"apa masalahnya?" ucap keduanya kembali bersamaan.
"sehati ne yee, suka bilang bos tak usah seperti anak kucing dan anak ayam!" ledek Abi.
muka Risa dan ustad Yusuf bersemu merah karena malu.
"haahahah." kata Abi yang senang sekali melihat wajah malu ustad Yusuf dan bundanya.
"Abi hanya bercanda tidak perlu malu bagitu." ucap Abi.
"jika kalian sama-sama suka Umi merestuinya bersama Abi, ia kan nak Abi?" sahut Umi Salamah.
"ia, Umi benar Abi juga memberikan restu." ucap Abi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"yuk Abi kita pulang, kasihan bu Laila sudah merindukan ocehan Abi." ucap Risa memotong.
"ummi, pa Ustad Risa sama Abi pamit pulang dulu" ucap Risa sopan.
Abi mencium punggung tangan Umi salamah dan ustad Yusuf, lalu kemudian mengikuti langkah bundanya berjalan menuju pintu depan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
yonahaku
saya lebih setuju sama ustadz yusuf daripada ayah kandungnya tidak baik
2022-09-11
1
Nora Eliza
risa sama ustadz yusuf terus, gak perlu sama ayah kandungnya abi
2022-01-29
2
Har Tini
lanjutt
2022-01-28
1