"Abi kau membuatku terlihat seperti orang bodoh." ucap Bara.
"kau benar Bara, otakmu itu hanya 1/3 nya dari otak Abi." tukas Yusuf sambil tertawa.
"hey Yusuf, kau itu seorang ustad jaga cara bicaramu nanti bisa ditiru oleh anak didikmu." sahut Bara yang tidak mau kalah.
"Om Bara, apakah Om Bara ingin kaligrafi yang Om minta cepat Abi buatkan?" ucap Abi.
"tentu saja Abi." jawab Bara.
"Berhentilah berdebat dengan pa ustad, lebih baik buatkan sesajen untuk menpercepat pembuatan kaligrafinya." ucap Abi.
"Sesajen apa maksudmu Abi?" sahut Bara bingung.
"siapkan peralatan melukisnya dan letakan didapur semuanya." ucap Abi.
"Baiklah akan kusiapkan, Abi tunggu saja disini." ucap Bara sambil melangkah pergi mengambil peralatan lukis.
"kenapa harus di dapur Abi?" ucap ustad Yusuf.
"karena Abi ingin mencari inspirasi." ucap Abi santai.
lima menit berlalu Bara datang dengan napas tak beraturan.
"Abi semuanya sudah siap!" seru Bara atusias.
"apa Om Bara ingin hasilnya lebih bagus dari kaligrafi yang pertama Abi buat?" ucap Abi.
"tentu saja Abi." ucap Bara.
"kalau begitu siapkanlah sesajennya seperti kentang goreng, potato wedges, dan juga jus apel, semua itu harus om Bara buat sendiri tidak boleh membeli yang sudah jadi." ucap Abi yang mempermainkan Bara.
"apa Aku harus membuatnya sendiri?" sahut Bara.
"iya, sambil menunggu Abi menyelesaikan kaligrafinya, akan lebih baik om bergerak aktif dari pada hanya menupang dagu sambil melihat Abi akan membuat om mengantuk." ucap Abi.
Umi Salamah dan usatd Yusuf menahan tawa mereka melihat kelakuan Abi yang mengerjai Bara dengan sangat cerdik.
"Abi benar Bara, sebaiknya kau membuatkan sesajen untuknya, karena dia perlu asupan vitamin untuk membuat sebuah karya yang bernilai seni tinggi." ucap Umi Salamah.
"Baiklah akan kubuatkan demi satu kaligrafi yang indah." kata Bara.
"itu bagus om Bara, yo kerjakanlah dengan hati gembira maka rasanya akan enak." ucap Abi.
setelah Bara pergi kedapur Umi Salamah ustad Yusuf memandang Abi sambil tertawa pelan.
"kenapa harus meminta sesajen padanya Abi, kenapa tidak membelinya saja sudah pasti rasanya enak?" ucap ustad Yusuf.
"karena Abi ingin memberikan pelajaran memasak kentang dan jika hasilnya memuaskan maka Abi akan menjadikan om Bara asisten Abi untuk membuat kue pesanan palanggan nanti." ucap Abi.
"nak Abi, kamu benar-benar pandai memanfaatkan situasi." ucap Umi Salamah.
"tentu saja Umi, Abi banyak belajar dari bunda." sahut Abi santai.
"ayo Abi kita lihat bagaimana Bara mengerjakan tugasnya?" ucap ustad Yusuf mengajak.
"siap pa ustazd, ayo." ucap Abi.
Abi dan ustad Yusuf berjalan menuju dapur, sesampainya disana Abi segera duduk disebuah kursi yang didepannya sudah tersedia peralatan melukis lengkap.
Yusuf menggeser satu kursi lalu duduk di samping Abi.
Dengan cekatan Abi mencampur cat warna, lalu mencelupkan kuas dan kemudian membuat sebuah lukisan dengan licah, tangan kecilnya terus bergerak mengikuti keingianan otaknya hingga waktu lima menit berlalu lukisan pun selesai dibuatnya.
Abi melukis Bara yang sedang memasak didapur.
setelah selesai satu lukisan Abi menganti dengan tempat lukis baru.
ia mengembil spidol berwana hitam dan merah lalu mengkolaborasikan keduanya, untuk membuat sebuah tulisan kaligrafi berbentuk dua orang laki-laki sedang sholat berjama'ah.
dalam waktu sepuluh menit kaligarfi itu selesai dengan bentuk yang sangat cantik dan rapi.
"kemarilah om Bara. apa kentang untukku sudah selesai?" ucap Abi.
"ini!" ucap Bara menyerahkan kentang goreng serta jus apel.
Abi meminum jus apelnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"apa ini jus apel?" ucap Abi.
"iya itu jus apel kenapa?" ucap Bara sedikit keras karena ia sedang membuat potato wedges.
"rasanya aneh." ucap Abi.
"aneh dari mana, aku sudah membuatnya dari buah Apel segar." protes Bara ia tidak terima jus buatannya di katakan aneh oleh anak kecil.
"Yusuf coba kamu minum jus yang ku buat itu, rasa enak kan?" ucap Bara.
Yusuf pun meminum jus yang ada di gelas Abi.
"ini bukan jus Bara, ini ampas buah apel." ucap ustad Yusuf.
"aku membuat buahnya lalu kenapa kalian mengatakan hanya rasa ampas?" ucap Bara sambil menggaruk tengguk belakangnya yang tidak gatal.
"Karena om Bara memblendernya beserta kulitnya, lalu setelah selesai langsung memasukannya kegelas dan menyajikannya." ucap Abi.
"jus apel itu akan lebih enak jika diambil sarinya saja, dengan menggunakan blender khusus yang memisahkan antara sari buah, kulit, serta ampasnya." jelas Abi.
"kentang gorang yang om Bara buat juga tidak enak rasanya, karna om Bara tidak memberikan bumbu sebelum menggorengnya." tambah Abi.
"bagaimana dengan ini?" ucap Bara meletakan potato wedges didekat Abi.
"yang ini rasanya Asin om Bara." jawab Abi sambil mengunyah potato wedges.
"ini lukisan dan kaligrafinya sudah selesai." ucap Abi.
"ini menakjubkan Abi, ini diluar perkiraanku!" ucap Bara sangat senang sambil tersenyum.
"jadi Abi boleh meminta hadiahnya sekarang?" kata Abi.
"apa yang Abi mau akan om berikan." sahut Bara.
"sebuah ruko berserta dengan isinya yang berada dipinggir jalan." ucap Abi.
"ruko, untuk apa anak sekecil kamu meminta ruko?" ucap Bara.
"untuk menjual kue hasil buatanku bersama bundaku." ucap Abi.
"aku memiliki ruko yang tidak ku gunakan didekat rumah sakit islam tapi tempatnya masih kosong tidak ada satu perabotan pun didalamnya, listrik pun sudah lama mati pasti disana sangat kotor karena sudah lama kosong." ucap Bara.
"akan ku berikan padamu jika kamu mau ikut denganku ke mesir, kita akan mengikuti pameran dan lomba lukis disana." ucap Bara
"jika kamu membawanya maka aku juga harus kau bawa?" sahut usatd Yusuf.
"untuk apa membawa sertamu hanya merepotkanku saja." ucap Bara.
"tentu saja untuk menjaga muridku, aku tidak ingin kau mengambil keuntungan darinya!" ucap ustad Yusuf.
"oh ya ampun Yusuf, aku tidak akan tega memanfaatkan anak kecil." ujar Bara.
"aku tidak mau tahu, jika kamu membawanya maka kamu juga harus membawa serta aku." ucap Yusuf.
"Yusuf, kau hanya akan mengacaukan rencanaku." gumam Bara.
"Ya aku memang akan mengacaukan rencamu yang ingin menjadikan Abi sebagai alat untukmu menumpuk uang." ucap ustad Yusuf.
"ahhhhhhhhkkkk baiklah aku akan mengajakmu ikut juga." ucap Bara kesal.
"Abi harus meminta izin dulu pada bunda." ucap Abi.
"bunda pasti akan memberi izin jika ustad ikut." ucap ustad Yusuf.
"Ya sudah, aku akan pulang dulu untuk membuatkan figura lukisan dan kaligrafi ini." ucap Bara.
"ukur saja dulu om Bara, Abi belum selesai memberikan sentuhan akhirnya." ucap Abi.
"kamu benar Abi, ustad lihat ada beberapa titik huruf yang tertinggal." balas ustad Yusuf yang mengerti maksud Abi tidak mengiizinkan Bara membawa pulang kaligrafi beserta lukisannya.
"hemm baiklah besok aku akan kemari untuk membawa figuranya." ucap Bara.
"itu bagus Bara sudah sana pergi, buatlah figura yang bagus." usir ustad Yusuf.
"aku akan pergi walaupun tidak kamu usir." ucap Bara sambil menatap Yusuf tajam.
Bara melangkahkan kakinya pergi dari rumah ustad Yusuf.
sepuluh menit kemudian berlalu.
ting tong suara bel dirumah ustad Yusuf berbunyi.
"itu pasti bunda!" ucap Abi antusias sambil berlari kearah pintu.
"Abi jangan berlari nanti jatuh." ucap ustad Yusuf.
klik pintu rumah ustad Yusuf dibuka oleh Abi.
"Abi." ucap Risa senang melihat putra semata wayangnya dihadapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Erma Wahyuni
semoga abi ketemu sama ayahnya
2022-04-06
1
Nitayus
cerita nya bagus thor...tetep semangat y
2022-01-30
5
Nora Eliza
bundanya abi sama ustadz yusuf aja
2022-01-29
1