"masuklah Bara." ucap ustad Yusuf.
Bara melangkahkan kakinya masuk kerumah ustad Yusuf dan menuju ruang tamu, kemudia dia duduk disofa yang ada diruang tamu.
Yusuf yang mengikuti langkah Bara lalu berhenti.
"kamu mau minum apa Bara?" ucap ustad Yusuf menawarkan kepada tamunya.
"terserah kamu, yang pentig dingin." ucap Bara.
"dimana kaligrafi itu aku ingin melihatnya." tambah Bara.
"di kamar ibuku." ucap ustad Yusuf.
"baiklah aku akan kesana, sekalian menjenguk ibumu." ucap Bara sambil beranjak pergi menuju kamar Umi Salamah.
Yusuf yang melihat punggung Bara yang semakin menjauh, lalu melangkahkan kakinya kedapur untuk membuatkan mimuman dingin untuk Bara dan mengambil makanan untuk Abi.
"Assalamuaikum Umi." ucap Bara di depan pintu kamar Umi Salamah.
"wa alaikum salam nak Bara masuklah." ucap Umi Salamah.
Bara melangkahkan kakinya ke dalam kamar lalu mengulurkan tangannya kepada Umi setelah mendapat sambutan, ia mencium punggung tangan Umi Salamah dengan sopan.
"Bagaimana kabar Umi sekarang?" ucap Bara.
"Alhamdulillah sudah lebih baik nak Bara." kata Umi Salamah.
"siapa anak yang disamping Umi ini?" ucap Bara.
"oh dia murid Yusuf namanya Abi." ucap Umi Salamah.
"hallo om salam kenal nama saya Abimanyu Alfarizi." ucap Abi dengan sopan.
"salam kenal juga Abi nama Saya Bara." ucap Bara dengan hangat.
"Abi apa kamu yang membuat kaligrafi yang berbentuk burung merak dan burung gagak yang dikirimkan Yusuf padaku." ucap Bara.
"iya om Bara, aku hanya membutnya iseng-iseng saja sambil bermain mengunakan cat warna dan spidol." ucap Abi.
"boleh om lihat kaligrafi yang kamu buat itu nak Abi?" ucap Bara.
"itu di atas nakas (meja disamping tempat tidur) ucap Abi sambil menunjuk ke arah karton yang digulung lalu diletakan di atas nakas." ucap Abi.
Tanpa pikir panjang Bara langsung saja mengambil karton yang ditunjuk oleh Abi lalu membuka dengan tidak sabaran.
Bara meraba kaligrafi tersebut dengan mengunakan jari telunjuknya.
"ini sangat halus dan sempurna tanpa ada kesalahan, baik itu dalam hal penulisan hurufnya maupun bentuk gambarnya." ucap Bara serius.
"Abi, jika kamu membuat kaligrafi seperti ini kamu bisa menjadi miliarder cilik dalam sekejap, karena hasil karyamu ini bernilai seni sangat tinggi, harganya bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta tergantung tingkat kesulitan saat kau membuatnya." ucap Bara menjelaskan kepada Abi.
"berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk membuat satu kaligrafi seperti ini?" ucap Bara penasaran.
" lima menit." ucap Abi polos.
"jangan bercanda Abi, untuk mendapatkan hasil seperti ini paling singkat para seniman membuatnya dalam waktu 3 hari itupun belum tentu sehalus ini." ucap Bara.
"tapi itulah kenyataannya Bara, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Abi membuatnya bahkan aku tak dapat berpaling saat tangan kecilnya itu sangat lincah membuat kaligrafi tersebut." jelas Yusuf yang baru sampai dikamar Umi.
"Abi, maukah kamu membuatkan aku satu kaligrafi, aku akan mengikut sertakan kaligarafimu dalam ajang lomba IAC (International Art Competition) yang akan diselenggarakan dimesir 2 hari lagi." ucap Bara.
"apa keuntungan yang Abi dapatkan jika Abi membuatkan satu kaligrafi untuk om?" ucap Abi dengan mimik wajah acuh.
ummi dan Yusuf saling pandang lalu tersenyum penuh misteri.
Bara tampak berpikir, lalu kemudian.
"kamu boleh meminta hadiah pada saya, akan saya kabulkan!" sahut Bara setelah berpikir.
"apapun hadiah yang akan Abi minta?" ucap Abi.
"Ya apapun itu." sahut bara.
"anak kecil seperti Abi ini pasti akan meminta mainan mobil atau robot besar." pikir Bara.
"baiklah kaligrafi akan Abi buatkan dalam waktu 15 menit ikutlah denganku." ucap Abi.
"Abi makan dulu nak, kamu pasti lapar kan?" ucap Umi Salamah.
Yusuf meletakan nampan berisi makanan yang dibawanya untuk Abi.
"makanlah pelan-pelan Abi, maaf jika menunya hanya ada udang asam manis." ucap ustad Yusuf.
"tidak apa-apa ustad ini sudah lebih dari cukup." ucap Abi yang kemudian memakan makananan itu dengan lahap.
5 menit berlalu setelah selesai makan Abi ingin membawa piring kotornya dan mencuci ke dapur tetapi Umi melarangnya.
"biarkan saja disitu, tidak apa-apa Abi nanti Umi bisa membersihkan piring itu." ucap Umi Salamah.
"tapi Umi, Abi sudah diberi makanan disini, rasanya tidak sopan jika piring kotornya orang lain yang membersihkannya." ucap Abi.
"tidak apa ayo kita membuat kaligrafi untukku." ucap Bara penuh semangat.
"aku harus membersihkan piring kotorku sendiri, setelah itu baru akan membutkan kaligrafi untukmu om." ucap Abi.
"biar pa ustad aja yang membawa piring kotornya kedapur Abi." ucap ustad Yusuf.
"Abi ikut." ucap Abi lalu beranjak pergi mengikuti ustad Yusuf.
setelah sampai didapur Yusuf meletakan piring dan gelas kotor itu ke tempat pencucian piring.
"pa ustad, bisakah pa ustad menolongku menaikan Abi ke atas kursi, Abi ingin mencuci tangan yang kotor sehabis makan." ucap Abi.
"Baiklah tunggu saja disini pa ustad akan mengambilkan kursi dulu untukmu Abi." ucap ustad Yusuf.
setelah mendapatkan kursi kayu dimeja makan, Yusuf segera membawa dan meletakan kursi tersebut didepan Abi.
Yusuf lalu mengangkat tubuh Abi keatas kursi, Abi dengan segera membuka air kran lalu mencuci tangannya, Abi juga mencuci piring dan gelas kotor yang ada disana.
"Abi kenapa harus mencucinya, pa ustad bisa saja mencucinya nanti." ucap ustad Yusuf.
"tidak apa-apa pa ustad, hanya ini yang bisa Abi lakukan sebagai ucapan terima kasi karena sudah memberikan makanan yang enak untuk Abi mengisi perut." ucap Abi sambil tersenyum manis.
"tolong turunkan Abi kebawah." ucap Abi.
Yusuf segera menurunkan Abi dari kursi.
"terima kasih pa ustazd." ucap Abi.
"sama-sama Abi" ucap ustad Yusuf.
"ayo Abi kita temui Bara." tambah ustad Yusuf.
"ayo pa ustad." ucap Abi lalu melangkahkan kakinya mengikuti ustad Yusuf dari belakang.
Yusuf membalikan badannya lalu kedua tangannya dengan segera mengangkat badan kecil Abi kedalam kedongannya.
Abi yang kaget atas perlakuan Yusuf.
"apa yang pa ustad lakukan?" ucap Abi.
"Abi bisa jalan sendiri, walau kecil badan Abi berat." tambah Abi dengan mimik wajah anak kecil yang lucu.
"kata siapa Abi berat, menurut pa ustad, Abi itu tidak berat, apa lagi saat melihat wajah Abi yang lucu seperti ini beratnya tidak terasa sama sekali." ucap ustad Yusuf tersenyum bercanda sambil mengangkat Abi.
mata Abi menatap tajam ustad Yusuf.
Yusuf yang ditatap Abi menghentikan langkahnya lalu tanpa aba-aba ia mencium pipi kanan Abi dengan gemas.
"pa ustad Yusuf turunkan Abi." teriak Abi dengan nada cempreng.
Yusuf justru tertawa menanggapi ucapan Abi ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar Umi.
sesampainya dikamar Umi ustad Yusuf segera menurunkan Abi ke atas pangkuan Umi Salamah.
Umi Salamah menerima Abi dalam pangkuannya dengan senang hati.
Abi kembali menatap tajam ustad Yusuf.
Yusuf hanya menanggapi tatapan Abi dengan senyum manis.
"Umi maafkan Abi ya jika badan Abi berat." ucap Abi.
"tidak apa Abi Umi senang bisa memelukmu." ucap Umi Salamah.
"sebaiknya Umi nikahkan segera ustad yusuf agar ia tidak mencabuli anak kecil sepertiku." ucap Abi sambil melirik Ustad Yusuf dengan ekor matanya.
"Yusuf apa yang kamu lakukan pada Abi?" ucap Umi Salamah.
"Umi, Yusuf tidak mencabulinya, hanya mencium pipi kanannya saja karena gemas dengan sikap dewasanya." ucap ustad Yusuf menjelaskan dengan wajah serius.
"tetap saja Umi dia mencium laki-laki kecil dibawah umur." ucap Abi sambil memainkan jari tangannya.
"Abi kapan kaligrafi untukku kamu buatkan?" ucap Bara dengan tidak sabaran.
"sabar om Bara, orang sabar itu rezekinya Besar." sahut Abi.
"apa hubungannya rezeki besar dengan Sabar?" ucap Bara.
"tentu ada om Bara, coba om bara mengerjakan sebuah lukisan dengan penuh kesabaran dan ketelitian maka hasilnya akan lebih memuaskan bukan, ketika hasilnya memuaskan maka harga yang om Bara tawarkan kepada pelanggan tentunya tinggi, Benar tidak?" tanya Abi diakhir penjelasannya.
"good Abi." ucap ustad Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Warniati Bochari
begitu dewasa
2022-06-06
1
Neangdary Fred Rining
mantap
2022-05-17
1
Ziana hanafelly
ahh thoor dr pertama baca ga ada visual nya
2022-04-20
0