"kemarilah nak duduklah di samping Umi." ucap Salamah.
Abi pun menuruti duduk dikasur disamping Umi Salamah.
Umi Salamah mengusap lembut rambut Abi.
"nak Abi maukah kamu sering-sering main kemari, Umi tidak punya teman jika Yusuf sedang bekerja, Umi ingin punya teman ngobrol tapi Yusuf masih saja tidak mau menikah untuk memberi Umi cucu." ucap Umi Salamah berkeluh kesah pada Abi.
"mungkin pa ustad Yusuf belum dipertemukan dengan jodohnya Umi." ucap Abi seperti orang dewasa.
Umi Salamah mengerutkan keningnya.
"berapa umurmu nak Abi?" ucap Umi Salamah.
"7 tahun 6 bulan, kenapa Umi?" ucap Abi.
"Yusuf coba kamu ambil peralatan doktermu bawa kemari!" seru Umi Salamah memerintah yusuf.
"untuk apa Umi?" ucap ustad Yusuf.
"bawa saja nanti kau akan tahu sendiri." ucap Umi Salamah.
lima menit berlalu ustad Yusuf sudah kembali membawa peralatan dokternya.
"ini Umi." ucap ustad Yusuf menyerahkan sebuah tas kecil yang berisi peralatan dokter miliknya.
Ummi salamah, membuka tas kecil itu lalu mengeluarkan satu persatu isi didalamnya, sambil mengeluarkan Umi menyebutkan satu persatu nama-nama peralatan itu, setelah selesai ia melirik dengan ekor matanya ke arah Abi.
"nak Abi coba kamu sebutkan semua nama peralatan dokter ini?" ucap Umi Salamah.
Abi menyebutkan satu persatu nama peralatan dokter milik Yusuf dengan fasih dan benar.
raut wajah ustad Yusuf terkejut, ia benar-benar seperti orang bodoh mulutnya menganga.
"Yusuf, tutup mulutmu." ucap Umi Salamah.
"i-iya ummi." jawab ustad Yusuf gagu.
"Ambil buku-buku kedokteran milikmu dan berikan pada Abi!" seru Umi Salamah kembali memerintah yusuf.
Yusuf segera berlalu pergi ke ruang perpustakaan mini dirumahnya, untuk mengambil buku yang dimaksud Ibunya.
setelah mendapatkan buku yang ia cari, kemudia ustad Yusuf kembali lagi pada Abi dan Ibunya yang masih berada di atas ranjang.
"ini Umi bukunya." ucap Yusuf sambil meletakan buku yang ia bawa ke kasur disamping Ibunya.
"Abi, jika kamu ada waktu luangkanlah untuk membaca dasar-dasar ilmu kedokteran ini, suatu hari pasti berguna untukmu." ucap Umi Salamah sambil menyerahkan sebuah buku tebal yang berisi tentang dasar-dasar ilmu kedokteran.
"baik Umi nanti akan Abi membacanya." ucap Abi.
Yusuf mengambil ponselnya lalu memfoto kaligrafi yang tadi dibuat oleh Abi, setelah itu ia mengirimkan hasil fotonya melalui pesan whatshap pada temannya yang merupakan seorang seniman muda.
belum sempat Yusuf memasukan ponselnya ke saku, ponselnya itu berbunyi.
"assalamualaikum Bara." ucap ustad Yusuf berbicara kepada seseorang melalui sambungan ponsel miliknya.
"wa alaikum salam Yusuf." ucap Bara.
"foto kaligrafi yang kamu kirimkan sangat bagus, diamana kamu mendapatkannya?" ucap Bara langsung pada intinya.
"seorang murid didikku yang membuatnya." jawab ustad Yusuf.
"muridmu? maksudmu seorang anak kecil?" ucap Bara.
"Ya, anak berusia 6 tahun." ucap ustad Yusuf.
"aku akan kerumahmu, apa kamu ada di rumah sekarang?" ucap Bara.
"untuk apa?" tanya Yusuf bingung.
"aku harus melihat dengan mata kepalaku langsung karya kaligrafi itu." ucap Bara.
"baiklah, terserah padamu saja Bara." ucap ustad Yusuf.
"oke aku meluncur kesana sekarang." ucap Bara lalu mematikan sambungan ponselnya.
"kebiasanmu Bara tidak pernah berubah." gumam Yusuf
"ada apa Yusuf?" tanya Umi Salamah yang mendengar sang anak bergumam sendiri.
"Bara tadi melihat gambar kaligrafi yang Yusuf kirimkan padanya, sepertinya ia tertarik maka dari itu dia ingin melihat secara langsung kemari." jelas ustad Yusuf kepada Ibunya.
"apa kamu berniat menjual kaligrafi buatan Abi ini?" selidik Umi Salamah.
"tidak Umi, aku mengirimkan gambar kepada Bara karena dia seorang seniman jadi dia pasti tahu figura yang cocok untuk tulisan kaligrafi ini, aku hanya memintanya untuk membuatkan figuranya saja." jawab ustad Yusuf.
"ambilkan pulpen dan kertas cek di laci lemari disana." ucap Umi Salamah memerintah Yusuf sambil menunjuk sebuah lemari dikamarnya.
"ini Umi." ucap Yusuf.
Umi Salamah menuliskan nominal angka dan memberikan tanda tangan pada cek itu.
"Abi apa uang 7 juta cukup untuk harga kaligrafi yang kamu buat nak?" ucap Umi Salamah dengan suara lembut.
"ambil saja untuk Umi tidak usah dibayar, anggap saja itu hadiah dari Abi." ucap Abi.
"tidak nak, karyamu ini bernilai seni sangat tinggi Umi tidak bisa menerimanya secara cuma-cuma." ucap Umi Salamah.
Abi terdiam sejenak nampak berpikir menimbang-nimbang sesuatu kemudian ia pun kembali berucap.
"jika Umi tidak menerimanya secara cuma-cuma maka izinkanlah Abi meminjam dapur Umi dirumah ini selama 3 hari untuk membuatkan kue pasanan pelanggan bunda." ucap Abi memberi penawaran.
"anak ini benar-benar luar biasa, diusianya yang masih tergolong anak-anak sudah pandai bernegosiasi." ucap Umi Salamah berbicara dalam hati.
"baiklah jika kamu ingin memakai dapur dirumah ini silahkan saja pakai sesuka hatimu nak." ucap Umi Salamah sambil tersenyum manis.
"memangnya kue apa yang ibumu buat?" tambah Umi Salamah bertanya.
"brownis kukus Umi, untuk saat ini jumlah produksi kami masih kecil karena kami harus memasarkan sendiri hasil olahan kami itu." ucap Abi berbicara dengan mimik wajah serius.
"dimana Abi dan bunda biasa menjualnya?" tanya Umi Salamah.
"di depan sekolah tempat ustad Yusuf mengajar Umi." ucap Abi.
"apa Abi perlu modal?" ucap Umi Salamah.
"iya Umi bukan hanya itu saja, kami juga perlu toko untuk memasarkan dan menjual produk yang kami buat." ucap Abi.
"Umi bisa memberikan modalnya Abi, berapa yang Abi butuhkan saat ini?" ucap Umi Salamah memancing Abi.
"tidak usah Umi, akan lebih baik merintisnya dulu dari kecil seperti ini agar nanti bisa menghargai nilai sebuah kesabaran dan kerja keras seseorang di kemudian hari." ucap Abi bijak.
Yusuf kembali menganga mendengar ucapan Abi.
Umi Salamah tersenyum mendengar jawaban Abi.
"Abi, kenapa Abi lebih memilih meminjam dapur dirumah saya dari pada diberikan uang? padahal dengan uang Abi bahkan bisa memiliki dapur dan rumah secara bersamaan?" ucap Umi Salamah seperti memberikan soal ujian kepada Abi.
"karena yang lebih Abi butuhkan saat ini adalah dapur untuk membuatkan kue pesanan para pelanggan." jawab Abi dengan sangat polos.
"bukankah Abi bisa membuatnya dirumah Abi?" ucap Umi Salamah dengan hati-hati.
"Abi tidak memiliki rumah, Abi tinggal dipanti asuhan bersama bunda sejak kecil." ucap Abi.
"selama tiga hari kedepan mungkin bunda akan sibuk membantu ibu panti mengadakan pegajian untuk mendoakan anak yang hari ini meninggal, karena Abi sudah menerima pesanan jadi tidak enak Abi membatalkannya secara sepihak, mau tidak mau Abi mencari tempat untuk bisa membuat kue pesanan mereka." jelas Abi.
"selain itu Abi juga menghargai kepercayaan pelanggan kepada Abi." tambah Abi.
"kamu benar-benar pintar nak, bundamu pasti bangga memiliki seorang anak seperti kamu." ucap Umi Salamah.
"bunda pernah mengatakan jika Abi itu seperti berlian yang sangat berharga dihidupnya, maka dari itu Abi ingin menunjukan sedikit kilau berliannya." ucap Abi.
"jika bundamu mengibaratkan kamu seperti berlian maka Umi akan mengibaratkan kamu permata hati yang tak ternilai harganya." ucap Umi Salamah.
"terima kasih Umi" ucap Abi.
"apa kamu lapar Abi, biar ustad Yusuf pesankan makanan, Abi mau makan apa?" ucap ustad Yusuf.
"tidak usah pa ustad Abi bisa makan apa saja yang ada, tidak perlu mencari yang tidak ada." ucap Abi.
"tunggu disini sebentar ya Abi, pa ustad akan melihat kedapur makanan apa yang ada disana." ucap ustad Yusuf.
"iya pa ustad." ucap Abi.
ting tong, suara bel rumah ustad Yusuf berbunyi.
Yusuf yang ingin melangkah kedapur berbalik arah menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
setelah pintu terbuka tampak seorang laki-laki seumuran Yusuf tersenyum padanya.
Bersambung....
Jika kalian menyukai novel ini, tinggalkan like dan komentar yaa !!! jangan lupa juga untuk follow kami, silahkan kirim kritik dan saran kalian di kolom komentar agar penulis dapat selalu berkembang lebih bijak kedepannya terima kasih ^ ~ ^
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Eti nurlaela
pintar banget dan sabarnya anak sholeh..
2022-12-11
0
Yusmiati Pratiwi
karya yang indah thor....
2022-12-03
0
ꪶꫝMeitha.V.Aꪶꫝ
Subhanallah, tabarakallah bahagia nya punya anak kaya Abi gini...
2022-09-19
0