di sebuah perusahan bernama Erlangga Cintra Medika (ECM) seorang laki-laki berusia 37 tahun sedang duduk di kursi kebesarannya sambil memijat kepalanya menggunakan tangannya.
Hermawan sepertinya lebih memilih kehilangan anaknya dari pada perusahannya, baiklah untuk saat ini akan kuberikan kau kebahagiaan jadi nikmatilah.
"Adnan datanglah keruanganku sekarang aku ada tugas untukmu." ucap seseorang melalui sambungan telpon.
tok... tok... tok..!
"iya masuklah!" ucap Dimas Anggara.
Andnan membuka pintu perlahan lalu melangkahkan kakinya masuk menghadap atasanannya.
"apa yang bisa saya bantu bos?" ucap Adnan datar.
"Adnan kau buatlah Hermawan bahagia, biarkan dia senang setelah ia terbuai baru kita mulai permainannya." ucap Dimas.
Adnan mengerutkan keningnya menyimak ucapan sang bos.
"baiklah, tapi sebelum aku mengerjakan perintah bos alangkah lebih baik jika bos mau menceritakan permasalahan bos dengan lelaki yang bernama Hermawan itu." ucap Adnan.
Dimas melototkan matanya dengan tajam ke arah Adnan.
"Sabar bos bukan saya ingin ikut campur permasalah bos, tapi saya perlu tahu agar saya lebih mudah mengatur jebakan untuk Hermawan itu." ucap Adnan.
"akan aku ceritakan padamu!" ucap Dimas ketus.
"dulu Hermawan itu seorang supir pribadi Ayahku, aku masih ingat betul Ayahku percaya sekali dengan Hermawan, karena menurut Ayah hermawan itu orang jujur dan pekerja keras orang tuaku bahkan sering sekali menitipkan rumah besar kami kepadanya untuk dia jaga saat kami sekeluarga berlibur ke luar kota, 8 tahun lamanya ia menjadi supir pribadi Ayah membuatnya dan Ayah tidak lagi seperti supir dan majikan melainkan bagaikan teman, Ayah sering sekali meminta pendapatnya jika ada masalah yang ia hadapi baik itu masalah rumah tangga maupun masalah pekerjaan, Hermawan selalu memberikan saran dan solusi yang baik untuknya, Ayahku begitu bangga dengan supirnya tersebut." ucap Dimas.
"suatu hari Ayah meminta Hermawan mengantarkannya ke bandara karena dia ada pekerjaan bisnis ke luar kota, tiba-tiba dijalan tol mobil yang Hermawan kendarai ditabrak oleh sebuah mobil truk membawa alat berat, keduanya pun terluka parah hingga harus dilarikan kerumah sakit, sayangnya Ayah menghembuskan nafas terakhirnya sebelum sampai kerumah sakit." tambah Dimas.
"ibu yang mendapat berita kematian Ayah secara mendadak berlari dari lantai 3 seperti orang kesetanan, ia terus berlari walaupun lantai masih basah karena baru selesai di pel, ia tidak perduli hingga sampai di dekat tangga, dia kemudian tergelincir jatuh dari tangga sampai ke lantai bawah dangan luka dikepala, tangan, serta kakinya yang patah, seminggu setelah kepergian ayah lalu ibu ikut menyusulnya, tinggal aku seorang diri yang masih berusia 14 tahun, karena kepergian Ayah dan Ibu, sedari kecil aku tinggal di panti asuhan, pengacara Ayah terpaksa menyerahkan sementara perusahan kepada Hermawan selaku orang kepercayaan Ayah sewaktu masih hidup." ujar Dimas menjelaskan.
"akupun tidak keberataan, karena selama aku mengenal Hermawan dia itu orangnya baik dan jujur, saat itu usia ku masih 14 tahun aku belum mengerti bagaimana mengelola perusahan, jadi saat itu aku hanya fokus kepada pendidikanku agar nanti aku bisa mengelola perusahan yang Ayahku wariskan kepadaku." kata Dimas.
"setelah aku lulus SMA, Hermawan mengirimku keluar negeri untuk kuliah, aku pun mengikuti keingianannya." ucap Dimas lagi.
"4 tahun berlalu, aku kembali ke indonesia saat menginjakan kakiku kembali ke rumah orang tuaku, aku di usir oleh satpam yang bekerja disana, aku pikir satpam itu mengusirku karena dia tidak tahu siapa aku, jadi aku putuskan untuk menunggu Hermawan pulang dari kantor dan saat mobil Hemawan berhenti didepan pagar rumah orang tuaku akupun menghampirinya, satpam yang menjaga rumah itu kembali mengusirku dan megatakan pada majikannya jika aku mengaku sebagai anak pemilik rumah." jelas Dimas kepada Adnan.
"barilah dia ini lalu suruh pergi, sekarang banyak sekali orang yang mengaku-ngaku pewaris tunggal perusahan yang ku pimpin." ucap Hermawan memberikan uang Rp.200 ribu pada satpamnya untuk diberikan kepada Dimas.
"om Hermawan ini aku Dimas Erlangga!" seru Dimas.
"pergilah nak, aku tidak kenal siapa kamu." ucap Hermawa.
'kau tidak mengenaliku om Hermawan?" ucap Dimas.
ia tidak menjawab hanya mengibaskan tangannya menyuruhku pergi.
"ini pergilah dari sini." ucap satpam yang menjaga rumah itu sambil melempar uang 200 ribu ke wajah Dimas.
"ia kembali mengusirku untuk yang kesekian kalinya." ucap Dimas.
"aku tidak berputus asa, keesokan harinya aku datang kembali menemui Hermawan, dan lagi-lagi ia mengusirku, kejadian seperti itu terus belangsung hingga 5 kali." ucap Dimas.
"kemudian aku pun meninggalkan rumah itu untuk mencari tempat tinggal semantara, waktu aku pergi ke ATM untuk mengambil uang, mataku tidak dapat berkedip kala melihat saldo ku kosong." ucap Dimas.
"Hermawan kau keterlaluan teryata kau bukan tidak mengenaliku tapi kau sengaja melakukan ini padaku!" ucap Dimas bergumam sendiri.
"aku harus mencari pekerjaan untukku bertahan hidup, aku harus mengambil kembali semua harta dan perusahaan milik kedua orang tuaku, itulah tekatku Adnan." ucap Dimas kepada Adnan menceritakan kejadian masa lalunya beberapa tahun silam.
Adnan yang mendengarkan cerita masa lalu Dimas menganggukan kepalanya tanda ia mengerti.
"jika seperti itu permasalahannya sebaiknya kita mencari seseorang untuk menjadi boneka kita, seorang wanita cantik mungkin bisa kita banyar untuk merayu Hermawan lalu setelah dia terbuai, kita bisa dengan perlahan meminta wanita itu untuk merampas kembali harta milik bos." ucap Adnan memberikan idenya.
"kau sangat pandai Adnan tidak sia-sia aku menceritakan permasalahan keluargaku padamu." ucap Dimas.
"bagaimana dengan Defvan bos?" ucap Adnan.
"biarkan saja untuk saat ini putriku juga sudah berangsur-angsur pulih dari depresinya." ucap Dimas.
"Adnan, cobalah kau bersikap manis dengan putriku, kau itu seorang laki-laki bukan?" tambah Dimas.
"ya Aku memang laki-laki, lalu apa hubungan dengan bersikap manis pada putrimu bos?" ucap Adnan.
"siapa tahu Talia dapat semakin cepat pulih dari depresinya karena ulah Defvan." ucap Dimas.
"jika ada waktu Akan ku coba." jawab Adnan datar.
kembali kecerita utama, dirumah ustad Yusuf.
"Abi, bolehkah pa ustad perlihatkan hasil karyamu ini pada Umi (ibu Yusuf)?" ucap ustad Yusuf.
"ya boleh pa ustad." ucap Abi.
"ayoo Abi sekalian pa ustad kenalkan Abi dengan orang tua pa ustad." ucap ustad Yusuf.
Abi dan ustazd yusuf berjalan beriringan menuju sebuah kamar dirumah ustad Yusuf.
tok... tok... tok...!
"masuklah" ucap seseorang dari dalam kamar.
Yusuf masuk kekamar orang tuanya.
"Umi, apa Umi sedang istrahat?" ucap ustad Yusuf.
"ada apa yusuf." ucap Umi.
"lihatlah ini Umi apa Umi menyukainya?" ucap Yusuf memperlihatkan kaligrafi buatan Abi.
Mata coklat milik Umi berbinar bahagia melihat kaligrafi yang indah nan elok didepan matanya.
"dimana kamu mendapatkan ini nak, ini sangat bagus belikanlah piguranya dan pasang dikamar Umi." ucap Umi.
"murid Yusuf yang membuatnya Umi." ucap ustad Yusuf.
"Abi kemarilah nak, perkenalkan ini Umi beliau adalah ibu pak ustad." ucap ustad Yusuf.
Abi dengan perlahan mendekati Umi yang berada di atas ranjang, lalu abi mengulurkan tangannya memberi salam dan memperkenalkan dirinya pada Umi dengan sopan.
"karyamu sangat indah nak." ucap Umi.
"terima kasih bu." jawab Abi ramah.
"apa Ayahmu seorang seniman?" ucap Umi Salamah.
"Abi tidak tahu bu, karena Abi tidak memiliki Ayah, Abi hanya punya ibu saja." ucap Abi polos.
Umi Salamah melihat ke arah Yusuf meminta penjelasan.
"yusuf juga tidak tahu Umi, karena yusuf tidak pernah menanyakan hal pribadi kepada Ibunya Abi." ucap ustad Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Retno
ayah abi seniman x y thor
2022-08-27
0
Retno
mungkin ayah abi yg jebak dimas y thor karena dendam sama orang tua risa
2022-08-27
0
Anin 💝💋
o ternyata gtu to Risa jadi korban jg karna keserakahan bpkny,mudh2an di Defvan lebih tajir dri musuh bpkny Risa
2022-03-22
2