setibanya Gio dikamarnya.
"Gio mending kita gantian deh mandi, sejam lagi flimnya di mulai." ucap Arya.
"lu duluan aja sana cepatan." jawab Gio.
"ehh lo pada mau makan dirumah gue atau mau makan di luar?" tanya Gio
"diluar aja deh, iya gak Arya?" jawab Joko
"bebas, dimana aja deh gue ngikut aja." ucap Arya
40 menit berlalu semua sudah siap untuk pergi ke mall.
"bentar gue liat kakak gue dulu ya?" ucap Gio.
"oke." sahut kedua teman Gio.
Gio melangkahkan kakinya menuju kamar Risa dilihatnya pintu masih terbuka.
"bu?" ucap Gio menyapa ibunya.
"Gio, kenapa nak?" ucap Ratih.
"Gio mau pamit ke mall bu, mau nonton ke bioskop sama Arya dan Joko." ucap Gio sambil berjalan mendekati tempat Risa berbaring.
"ya sudah berangkat saja, tapi hati-hati jangan terlalu malam pulangnya." ucap Ratih.
"baik bu, kak Risa belum sadar-sadar juga bu, kenapa tidak dibawa kerumah sakit bu?" ucap Gio.
"Ayah sudah menelpon dokter Martha sebentar lagi sampai, biar diperiksa dulu sama dokter Martha, jika nanti kadaanya mengharuskan Risa dirawat kerumah sakit kami akan bawa." jalas Ratih.
"Jika kak Risa dibawa ke rumah sakit kasih tau Gio ya bu!" ucap Gio.
"iya nak, sudah sana cepat berangkat nanti keburu habis flimnya." ucap Ratih.
"bye bu, Gio pergi dulu ya." ucap Gio sambil melangkah pergi keluar kamar kakaknya.
"yuk." ucap Gio ajaknya pada kedua temannya.
Joko dan Arya mengikuti Gio dari belakang.
"mbuk Asih!" seru Gio yang melihat mbuk Asih hendak naik tangga mengantar makanan untuk Risa.
"ada apa den Gio?" ucap mbuk Asih.
"mbuk nanti kalo terjadi sesuatu dangan kak Risa, tolong telpon saya ya, ini nomor ponsel saya." ucap Gio mengasihkan kartu namanya.
"baik den kalo begitu saya ke atas dulu." jawab mbuk Asih.
"lu khawatir amat sama saudara lu?" ucap Arya.
"ya iyalah dia kan Kakak gue, wajar dong gue perhatiaan." sahut Gio.
"sebenarnya perasaan gue gak enak!" lanjut Gio.
"gak akan terjadi apa-apa sama kakak lu Gio, gue yakin kakak lu akan baik-baik saja." ucap Joko mencoba menenangkan perasaan Gio.
"iya, Gio mungkin itu cuman perasaan khawatir lu yang berlebihan terhadap saudara lu." ucap Arya.
"karena kakak lu tidak pernah sakit sampai pingsan beginikan sebelumnya?" tambah Arya.
"ya semoga saja tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan." ucap Gio.
"Amin." jawab Arya dan Joko serempak.
mereka bertiga segera pergi ke mall untuk mencari makan terlebih dahulu baru Akan masuk ke bioskop.
flashback off#
beralih masa sekarang, disebuah panti Asuhan harapan Kasih bunda.
"Abi, apa Abi yakin ini bisa jadi?" ucap Risa.
"yakinlah bunda, abi sudah meperhitungkan takarannya dengan benar?" ucap Abi.
"kalo enak nanti kita akan jual ya bunda?" ucap Abi dengan raut wajah penuh harap.
"kamu kasih apa nama kuenya nanti Abi." ucap Risa.
"namanya brownis ubi kukus bunda." ucap Abi.
"Abi juga mau buat roti dari kentang." ucap Abi dengan wajah serius.
wajah serius yang di tunjukan Abi pada Risa, justru membuat sang bunda tersenyum manis.
"kamu itu masih kecil nak, wajah seriusmu justru terlihat menggemaskan dimata bunda." ucap Risa sambil tersenyum manis.
melihat bundanya tidak serius menanggapi ucapannya, membuat Abi menatap tajam ke mata sang bunda.
Risa yang ditatap tajam oleh sang putra pun mengerti, jika saat ini putranya sedang benar-benar serius.
"baiklah Abi maafkan bunda." ucap Risa dengan wajah penuh sesal.
Abi tidak menjawab, ia justru terlihat serius menatap jam tangannya sambil berhitung mundur.
5,4,3,2,1 ia berlari ke Arah kompor gas di dapur diikuti oleh Risa dibelakangnya.
"matikan apinya dan angkat kuenya!" sery Abi kepada ibunya.
Risa menuruti apa yang di katakan anaknya.
setelah kuenya di angkat dari kukusan, Risa meletakan kue itu di atas meja.
"bunda naikan Abi kekursi Abi mau liat?" ucap Abi tak sabaran.
"iya Abi baiklah." ucap Risa sambil membantu Abi naik ke atas kursi.
setelah berada diatas kursi Abi menusuk kue yang ia buat menggunakan lidi, untuk memastikan kue matang dengan merata.
"hmmmmm." ucap Abi sambil menganggukan kepalanya.
"bunda tolong pindahkan ke piring kaca itu." ucap Abi sambil menunjuk sebuah piring kaca yang ada di rak piring.
Risa pun kembali menuruti sang putra tercinta.
setelah diletakan dipiring, Abi kemudian memotong kue itu membentuk persegi empat kecil lalu meletakannya ke piring kecil yang ada di meja itu, dia kemudian mengambil satu iris kecil kuenya dan memasukan kedalam mulut kecilnya.
Risa sedari tadi terus melihat ke arah sang putra dengan seksama, seperti halnya saat ini dia tidak berkedip melihat sang putra memakan kue sambil mengunyah pelan kue yang ada di mulutnya, Abi bahkan memejamkan matanya entah dia mencari kekurangan atau menikmati kue buatannya itu.
sepersekian detik kemudian Abi membuka matanya lalu berucap.
"kue ini enak menurut selera Abi, manis pas dan tidak bikin yang makan jadi enek setelahnya." ungkap Abi dengan ekspresi serius.
"cobalah bunda?" ucap Abi lagi.
lalu sang bunda memasukan kue buatan Abi kemulutnya.
"kamu benar Abi, rasa enak sekali!" ucap Risa.
"ibu heran, bagaimana kamu bisa membuat kue ini dengan hasil yang memuaskan hanya dengan satu kali percobaan?" ucap Risa dengan wajah heran.
"aku menggunakan otakku untuk berpikir memperhitungkan segalanya sebelum mencobanya!" ucap Abi.
"kemungkinan gagal dalam pembuatan kue ini hanya berkisar 7 persen saja, maka dari itu Abi sangat bersemangat dengan banyaknya variasi kue yang kita tawarkan Akan semakin banyak pula peluang untuk kita menjadi sukses bunda." jelas Abi kepada sang Ibu.
"coba bunda pikir jika si A tidak suka brownis kukus coklat belum tentu si A juga tidak suka dengan brownis Ubi yang Abi buat ini." tambah Abi menjelaskan.
"Abi otakmu mu itu terbuat dari apa, hingga kamu bisa berpikir sejauh itu, kau seperti orang dewasa nak." ucap Risa gemes sambil mengacak rambut sang putra kecilnya.
"ya ya ya ya itu karena otak Abi tidaklah kecil seperti orang nya hehe." sahut Abi sambil terkekeh.
"ayo bunda potonglah separu untuk kita bagikan kepada anak panti disini, sisanya kita potong kecil-kecil lalu di bungkus sebagai tester, nanti Abi bagikan kepada teman-teman Abi." ucap Abi.
Risa pun memotong kue itu menjadi dua bagian dan tak lupa dia juga memotong kecil-kecil kue yang akan dijadikan sebagai tester.
"terima kasih bunda Abi yang manis." ucap Abi.
"ibu akan bagikan kue ini kepada anak-anak dipanti." ucap Risa sambil membawa separu kue buatan Abi.
"lakukanlah bunda, semoga rezeki kita berkah berkat doa anak-anak panti." ucap Abi.
lagi-lagi Risa dibuat tercengang mendengar ucapan sang putra tercintanya.
"anakku cerdas." ucap Risa sambil berjalan membawa kue yang akan ia bagikan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Audrey Chanel
papanya abi pinter ini...turunannya sih ky nya
2022-07-06
1
miella
Omg..aq bacanya ikut bahagia😄
2022-02-19
1
Nora Eliza
abi jenius
2022-01-29
2