tok... tok... tok!
"masuklah." jawab Ratih tanpa semangat.
"bu makanlah, ini saya buatkan bubur manado." kata mbuk Asih lembut.
"tidak mbuk saya sedang tidak selera makan." jawab Ratih lesu.
"tapi ibu belum makan apa-apa sejak tadi pagi." sahut mbuk Asih.
"saat ini yang saya mau cuma melihat kedua anak saya mbuk, saya kangen mereka." ucap Ratih.
"andai mbuk tahu dimana non Risa, pasti mbuk dengan senang hati mengantarkan ibu untuk bertemu non Risa." ucap mbuk Asih.
"mbuk, selama ini kan mbuk sering ke pasar, apa mbuk tak pernah sama sekali bertemu Risa?" ucap Ratih.
"tidak pernah bu, mungkin saat ini non Risa berada dikota lain." ucap mbuk Asih.
Ratih menitikan bulir bening dari kedua matanya.
"aduh maaf bu, mbuk membuat ibu tambah sedih." ucap mbuk Asih dengan raut wajah menyesal.
"tidak apa mbuk, mungkin ini pelajaran bagi saya bahwa harta yang kami miliki, nama baik keluarga yang kami jaga serta perusahan besar yang dipimpin oleh suami saya tak ada artinya tanpa kehadiran anak-anak." ucap Ratih dengan penuh sesal.
"untuk siapa mencari uang jika bukan untuk anak-anak, untuk apa memiliki segala rupa perhiasan dunia jika tanpa anak dan untuk apa saya terlahir menjadi wanita jika tidak ada satupun anak saya yang mau tinggal bersama saya, rasanya saya gagal menjadi seorang ibu untuk anak-anak saya." tambah Ratih jelasnya.
"suami saya hanya sibuk mencari harta dunia, bahkan saat saya sakit seperti ini dia masih saja mementingkan bisnisnya." ucap Ratih.
"bahkan mungkin jika saya tiada pun ia tak akan bersedih hati, uang yang dia berikan pada saya memang banyak mbuk, tapi itu semua tidak bisa mengobati rasa rindu saya pada Risa dan gio." ucap Ratih menceritakan keluh kesahnya pada pembantu rumah tangganya.
"Bukankah den Gio kuliah di jerman bu." tanya mbuk Asih hati-hati.
"ia mbuk, Gio memang tinggal di jerman tapi ia tak lagi tinggal bersama tantenya lagi disana, terakhir saya dengar Gio bekerja jadi pelayan di hotel untuk membayar biaya kuliahnya sendiri, Gio tidak lagi mau menerima uang dari kami karena rasa kecewanya terhadap kami yang mengusir kakaknya tanpa memberi tahu telebih dahulu masalah yang di hadapi kakaknya, sebagai seorang adik dari rahim yang sama dan satu keluarga, Gio merasa dirinya tidak di anggap oleh kami." curhat Ratih.
"den Gio juga tak mau bertemu ibu lagi begitu?" ucap mbuk Asih.
"iya Mbuk." ucap Ratih dengan sayu.
"jangan mudah patah semangat bu, seorang anak tidak mungkin lupa dengan darah yang mengalir didalam dirinya, apalagi non Risa yang mbuk kenal sejak bayi orangnya mudah memaafkan bu." ucap mbuk Asih.
"Apa benar risa bisa memaafkan saya mbuk?" ucap Ratih.
"ya bu, mbuk yakin non Risa sudah memaafkan ibu." ucap mbuk Asih.
wajah Ratih yang awalnya sedih sedikit senang mendengar bahwa Risa memaafkannya.
"mbuk Asih, apa saya bisa minta tolong, saat mbuk pergi kepasar tolong untuk tanyakan pada beberapa pedagang di pasar siapa tahu ada yang pernah melihat Risa, ambillah satu foto Risa dialbum foto yang ada laci lemari itu mbuk." ucap Ratih sambil menunjuk sebuah lemari kayu di sudut ruangan kamarnya.
"iya bu bisa, besok mbuk akan kepasar dan bertanya kepada para pedagang dipasar." ujar mbuk Asih dengan penuh antusias.
"jika ada yang tau dimana Risa berada tolong beri tahu saya ya mbuk." ucap Ratih.
"baik nyonya, saya akan berusaha mencari non Risa sampai ketemu!" ucap mbuk Asih.
"kalau begitu mbuk ambil foto non Risa dulu bu, sehabis itu mbuk mau ke dapur lagi untuk membikinkan makanan untuk bapak, sebentar lagi beliau pulang." ucap mbuk Asih
"mbuk apa setiap pulang kerja suami saya makan dirumah?" ucap Ratih.
"enggak bu, hanya sesekali saja bu." mbuk Asih menjawab dengan jujur.
"mungkin dia juga merasa sepi makan sendiri, suasana di meja makan tak seperti dahulu lagi." ucap Ratih dengan mata menatap ke arah dinding, seakan ia melihat gambaran mereka makan bersama sambil mengobrol dan sesekali tertawa bersama.
sementara....
disuatu tempat yang berbeda, Gio juga melakukan hal yang sama menatap foto sang kaka yang sedang tersenyum, Gio juga menyesali ketidak hadirannya dirumah saat sang ayah mengusir kakak kandungnya itu.
sudah tak terhitung kata maaf, yang Gio ucapkan kepada foto kakak perempuannya tersebut.
"Gio benar-benar menyesal ka, kenapa sore itu Gio masih juga pergi ke bioskop bersama teman Gio, padahal kaka belum sadar dari pingsan!" ucap Gio sambil mengingat kembali dua teman SMP nya mengajak ke mall.
flashback on#
"non Risa!" teriak mbuk Asih keget saat hendak turun ke bawah, ia justru melihat anak majikannya terkapar didepan pintu kamarnya dengan mata tertutup.
Gio yang letak kamarnya bersebelahan dengan kamar sang kakak sontak kaget mendengar teriakan mbuk Asih memanggil nama Risa.
"lu berdua lanjutin aja gue mau lihat keluar sebentar." ucap Gio sambil berlalu pergi keluar kamar.
sesampainya didepan kamar, Gio melihat ke Arah mbuk Asih yang sedang memanggil-manggil nama kakanya.
"Ada apa mbuk?" ucap Gio.
"den Gio sepertinya non Risa pingsan mukanya pucat sekali." ucap mbuk Asih.
Gio melihat kewajah sang Kakak perempuannya yang memang terlihat pucat sekali.
"ya sudah mbuk Ambilkan kompres, biar Gio yang kasih tahu ibu dan Ayah." ucap Gio.
"Baik den." ucap mbuk Asih segera beranjak untuk mengambil kain kompres dan air hangat didapur.
Gio memanggil kedua temannya untuk membantunya mengangkat kakaknya ke kasur dikamar kakaknya.
"Joko, Arya bantuin gue sini." ucap Gio memanggil kedua temannya.
Arya dan Joko segera menghampiri Gio.
"kenapa dengan kakak lu?" tanya Arya.
"udah gak usah banyak tanya dulu, bantuin gue mindahin kak Risa ke kamarnya." jawab Gio.
tanpa banyak kata keduanya segera membantu Gio mengangkat tubuh Risa yang tak sadarkan diri kekamarnya.
setelah mengangkat Risa ke kamarnya, Gio menghubungi kedua orang tuanya.
mbuk Asih berjalan kekamar Risa dengan langkah terburu-buru.
"ini den Gio kain kompres sama air hangatnya!" ucap mbuk Asih.
"terima kasih mbuk, taruh saja disitu." jawab Gio.
"mbuk, tolong buatin makanan kesukaan kak Risa ya, biar nanti pas sadar kak Risa bisa makan." ucap Gio.
setelah meletakan kain kompres serta air hangat, mbuk Asih kembali lagi ke dapur untuk memasak sesuai perintah Gio.
15 menit berlalu ortang tua Gio dan Risa datang dengan langkah terburu-buru masuk kekamar putri mereka.
"Apa yang terjadi Gio, kenapa bisa seperti ini?" tanya sang Ayah pada putranya.
"Gio juga gak tau yah, mbuk Asih yang menemukan ka Risa pingsan di depan kamarnya." ucap Gio.
"ayah sebaiknya panggil dokter dulu, jika keadaannya parah kita akan membawanya kerumah sakit." ucap Ratih.
"baiklah Ayah akan menelpon dokter keluarga kita." ucap Hermawan sambil mengeluarkan ponsel dari saku celanya.
merasa kedua orang tua sudah ada dan cepat bertindak, Gio mengajak kedua temannya kembali kekamarnya.
"sebagai orang tua ayah dan ibu pasti lebih memahami dan mengerti harus berbuat apa kepada anaknya yang sedang sakit." ujar Gio dalam hatinya.
Gio pergi melangkahkan kakinya menuju kamarnya, walau dia sebenarnya juga khawatir dengan keadaan kakaknya yang tiba-tiba tak sadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Jesica Adryanna
kebanyakan flashback di tengah cerita
2022-05-30
2
Nora Eliza
keluarga memang selalu yg terpenting
2022-01-29
1
Trisna Tris
lanjut Thor...
2021-12-31
1