langit diselimuti oleh awan mendung hitam seakan memberi tanda sebentar lagi akan turun hujan lebat.
Risa perlahan membuka matanya yang masih terasa berat, ia memandang langit kamarnya yang berwarna putih gading.
"Apa yang terjadi padaku, kenapa kepalaku rasanya berat dan pusing?" ucap Risa berbicara sendiri.
Risa mencoba bangun dan duduk menyenderkan punggungnya bersandar pada bantal di atas ranjangnya.
Risa mengambil air putih diatas meja disamping tempat tidurnya, lalu meminumnya hingga tandas.
Cklik...
pintu terbuka dan Ibu Risa masuk kemamar Risa.
"Bagaimana keadaanmu, apa masih pusing?" ucap Ratih.
"iya bu kepala Risa berat dan pusing." jawab Risa.
"apa kamu sering merasa pusing?" ucap Ratih kembali.
"hampir satu minggu ini Risa mudah lelah dan pusing." jawab Risa jujur.
"kenapa tidak memberi tahu ibu, apa kau sengaja menyembunyikannya dari kami?" sahut sang Ayah yang mendengar jawaban Risa saat ia berjalan masuk kekamar risa.
"menyembunyikan Apa Risa hanya pusing dan lelah saja kalo istirahat juga pasti sembuh." ucap Risa.
"mungkin Risa tidak tau apa yang yang terjadi padanya yah." ucap Ratih.
Risa semakin bingung dengan ucapan ibunya.
Hermawan menatap Risa tajam.
"Bagaimana bisa kamu melakukan hubungan kotor tanpa ikatan pernikahan RISA!" ucap Hermawan dengan intonasi nada tinggi.
jebbbbb...
bagai ditancap dengan pisau, hati Risa sakit mendengar ucapan Ayahnya.
"RISA!" bentak Ayahnya karena Risa hanya diam.
"maafkan Risa Ayah." ucap Risa sambil mengeluarkan air mata membasahi pipinya.
mendengar sang anak meminta maaf, sudah bisa dipastikan Anaknya itu melakukan perbuatan haram itu dan membuat Hermawan sangat marah dengan Risa, tanpa sadar ia maju dan memukul sang anak.
plakkkk... plakkk...
dua tamparan mendarat di pipi mulus Risa.
"aku tidak pernah mendidikmu menjadi wanita pemuas ***** para lelaki kesepian." ucap Hermawan dengan suara bergetar.
"siapa yang melukannya padamu Risa?" ucap Ratih pada anaknya.
"Risa tidak kenal bu Siapa orang itu, semuanya terjadi begitu saja saat Risa tak sadarkan diri karena pengaruh obat bius, tanpa Risa sadari Orang itu menodai Risa." ucap Risa sambil menunduk.
ia pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Risa sadar saat laki-laki itu sudah memasukan miliknya, karena terasa sakit badan Risa seperti tak memiliki tenaga dan lemas, Risa tidak memiliki kekuatan untuk melawan, orang itu seperti sudah kesetanan tenaganya kuat sekali." jalas Risa.
"jadi kau tidak mengenal orang itu, bagaimana meminta pertanggung jawabannya?" ucap Hermawan.
"sebaiknya gugurkan janin itu." tambah Hermawan.
"iya nak turuti saja apa kata Ayah untuk saat ini, nanti kau bisa memiliki Anak apabila sudah menikah." bujuk sang Ibu.
"kau tidak perlu khawatir, ibu sudah lama ingin menjodohkanmu dengan anak dari sahabat ibu." tambah Ratih.
"Risa gak mau bu, hik hik hik." ucap Risa sambil terisak.
"ini semua demi masa depan dan kebaikkanmu Risa!" bentak Ayahnya.
"Ayahmu benar Risa, kamu masih kuliah masa depanmu masih panjang nak." ucap Ratih.
"Risa tetap tidak mau bu, anak ini tidak berdosa!" ucapnya sambil meneteskan air mata.
"Jika Ibu dan Ayah tidak menganggapnya cucu kalian, Risa Akan merawatnya sendiri." ucap Risa.
"kau ingin membuatku malu Risa dengan melahirkan seorang Anak tanpa suami?" ucap Hermawan dengan nada tinggi.
sang Ayah sudah sangat marah karena Risa tidak mau menurutinya.
"jika kau mempertahankan anak haram itu maka keluar dari rumah ini!" ucap Herwaman dengan Lantang.
"Ayah kasihan Risa, dia anak perempuan kita satu-satunya yah." ucap Ratih membujuk suaminya yang sedang marah agar tidak mengusir Risa dari rumah.
"biarkan saja, dia hanya akan membuat malu keluarga jika berada dirumah ini." ucap Hermawan.
"Risa sekali lagi Ayah minta gugurkan anak Haram itu!" ucap Hermawan.
"TIDAK AKAN KULAKUKAN." teriak Risa sambil menangis menahan sesak di dadanya.
"kau tidak menuruti perintah Ayah, itu artinya kau sudah tidak lagi menganggapku sebagai Ayahmu." ucap Hermawan.
"KELUAR DARI RUMAH INI SEKARANG JUGA, CEPAT!" teriak Hermawan kepada Risa.
"dan jangan bawa apapun yang ada dirumah ini termasuk uang dan ATM." tambah sang Ayah.
Risa mencoba bangkit dari ranjang, memohon balas kasihan ibunya dengan bersimpuh dibawah kaki ibunya.
"ibu tolong maafkan Risa." ucap Risa kepada Ratih ibunya.
Hermawan mendekati Risa lalu menyeret tubuh Risa tanpa balas kasihan.
"keluar dari rumah ini!" ucap Hermawan.
"Ayah kenapa harus mengusir Risa, kita kan bisa menyembuyikannya ikut Gio ke jerman." ucap Ratih.
"sampai kapan bu kita bisa menyembunyikannya, semua pasti akan terbungkar juga." ucap Hermawan.
"seseorang pasti dengan senang hati membuat beritanya untuk menghancurkan perusahaan Ayah." tambah Hermawan.
"lagi pula Risa pasti tidak lama keluar dari rumah ini, karena ia tidak memiliki uang untuk bertahan hidup." ujar sang Ayah.
"saat ia pulang dan meminta untuk tinggal disini maka saat itulah kita bisa memaksanya untuk mengugurkan janinnya." jelas Hermawan mengutaran tujuannya yang sebenarnya.
Risa keluar deri rumah hanya dengan membawa baju yang ia gunakan.
Risa terus menyusuri jalan tanpa henti, tiba-tiba perutnya berbunyi Risa mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya.
"bu permisi." ucap Risa pada seorang ibu yang menjual bakso gerobak dipinggir jalan.
"boleh saya minta air putih bu?" ucap Risa.
"tunggu sebentar mbak saya ambilkan, sebaikya duduk dulu." kata srorang ibu yang membantu suaminya menjual bakso.
Risa duduk di kursi plastik yang disediakan untuk pelanggan makan ditempat.
"ini air minumnya mbak." ucap ibu penjual bakso sambil menyerahkan air putih.
"terima kasih banyak bu." ucap Risa sambil menerima air putih yang dimintanya.
krueekkk... krueekkk...!
suara perut Risa terdengar oleh ibu penjual bakso.
"mbak Lapar?" tanya ibu penjual bakso ramah.
"iya bu, tapi Risa gak punya uang!" ucap Risa jujur.
"tunggu sebentar ya mbak jangan kemana-mana." ucap Ibu penjual bakso.
ibu penjual bakso itu terlihat berbicara kepada suaminya, setelah itu ia membuatkan semangkok bakso besar untuk Risa.
"dimakan sampai abis ya mbak." kata ibu penjual bakso itu pada Risa.
"tapi Risa gak ada uang untuk membayarnya bu?" ucap Risa.
"ini ga usah dibayar, mbak makan aja sampai habis." sahut ibu penjual bakso.
"terima kasih bu." ucap Risa.
Risa memakan baksonya dengan lahap hingga habis tak tersisa.
"gimana mbak enak?" ucap Ibu penjual bakso pada Risa.
"enak bu, enak banget." ujar Risa.
"Panggil saja saya bu Nengsih." ucap Ibu penjual bakso itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Risa bu." ucap Risa memperkenalkan dirinya balik.
"mbak risa mau kemana kok malam-malam jalan kaki sendiri?" ucap bu Nengsih.
"saya juga gak tau bu Nengsih orang tua saya mengusir saya dari rumah." ucap Risa.
"Astagfirullah, maaf mbak Risa jika pertayaan saya salah." ucap bu Nengsih.
"Gak papa bu Nengsih." ucap Risa.
sekarang masih jam 8 malam, bagaimana kalo mbak Risa bantu ibu nganter bakso pesanan pelanggan ke meja-meja dan mengangkat piring kotornya, nanti ibu kasih uang biar bisa buat mbak risa makan." ucap bu Nengsih menawarkan pekerjaan kepada Risa.
"iya bu Risa mau, terima kasih banyak bu." ucap Risa sambil tersenyum.
"nah gitu dong senyum kan cantik." kata bu Nengsih.
tak terasa malam semakin larut jam sudah menunjukan angka 10 malam bakso ibu Nengsih juga sudah habis semua.
mbak Risa ini uangnya ucap ibu Nengsih yang memberikan uang 100 ribu.
"maaf ya mbak saya cuman bisa ngasih segini." ucap bu Nengsih.
"tidak apa bu ini juga sudah lebih dari cukup buat makan Risa besok." ucap Risa.
"oh iya ini ada nasi bungkus tadi ibu belikan buat mbak Risa makan malam." kata bu Nengsih.
"sekali lagi terima kasih bu Nengsih." ucap Risa.
"sama-sama mbak risa." ucap bu Nengsih.
"Risa pamit ya bu." ucap Risa.
"iya mbak Risa hati-hati ya." sahut bu Nengsih.
Risa berjalan terus tanpa lelah ia mencari tempat untuk bisa tidur malam ini.
rintik-rintik hujan mulai membasahi baju Risa, ia mempercepat langkahnya lalu dari kejauhan ia melihat sebuah moshola.
"sebaiknya aku istrahat disana." ucap Risa.
Risa kemudian sampai dimoshola itu, lalu dia mencuci kakinya yang kotor serta membasuh wajahnya.
tepat jam 12 malam Risa masih belum tidur hujan masih tak kunjung reda.
"Bagaimana ini, apa aku boleh tidur di moshola ini?" gumam Risa bertanya pada diri sendiri.
Risa membuka bungkus nasi yang diberi ibu Nengsih lalu memakannya dengan lahap, karena tidak ada gelas Risa meminum air kran menggunakan tangannya.
jam menunjukan jam 4.30 pagi Risa tebagun karna mendengar suara Azan di moshola itu.
-------------------------++++++-----------------------------
Tujuh Tahun Kemudian.
Seorang anak Laki-laki bernama Abimanyu Alfarizi membantu ibunya membuat kue brownis kukus.
"bunda boleh tidak sore ini Abi ikut ibu jualan, abi janji akan duduk manis di samping ibu." ucap Abimanyu merayu ibunya.
Risa yang mendengar anaknya merayunya hanya tersenyum kecut.
"Bunda boleh kan?" tanya Abi lagi
"iya boleh" ucap Risa.
"terima kasih bunda." ucap Abi
"Abi harus buat kue buatan bunda habis tak tersisa, agar bunda bisa menabung lebih banyak." ucap Risa.
Abimanyu memang baru berusia 6 tahun, tapi otaknya sengat cerdas dan sangat memahami orang lain (rasa empati dan simpatinya sangat tinggi) itulah yang bembuat Risa merasa sangat beruntung memiliki Abi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 272 Episodes
Comments
Wulan Dari
ll
2022-05-29
0
Mutiara Azzura
masih nyimak thor
2022-05-25
0
Erma Wahyuni
aku baru gabung thor🙏
2022-04-06
0